Pertumbuhan penerbangan 'timbulkan masalah keselamatan'
- Penulis, Sri Lestari
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
- Waktu membaca: 2 menit
Tabrakan pesawat di Bandara Halim Perdanakusuma menunjukkan masih ada masalah dalam infrastruktur bandara di Indonesia, kapastitas yang berlebihan, dan standar keselamatan.
Dan masalah itu menjadi sorotan di tengah-tengah pertumbuhan industri penerbangan di Indonesia.
Pengamat penerbangan Chappy Hakim mengatakan Bandara Halim Perdanakusuma yang merupakan pangkalan udara milik TNI AU itu dianggap tidak memenuhi standar untuk melayani penerbangan sipil karena hanya memiliki satu landasan dan daya tampung parkir terbatas.
Oleh karena itu, dia mengkhawatirkan tabrakan pesawat Batik Air dan TransNusa di Bandara Halim Perdanakusuma yang terjadi Senin malam, sangat mungkin terulang lagi karena pembukaan bandara tidak dibarengi dengan pengembangan infrastruktur.
- <link type="page"><caption> Batik Air akan tunggu hasil penyelidikan KNKT</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/04/160404_indonesia_batik_air.shtml" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> KNKT selidiki tabrakan pesawat di Bandara Halim Perdanakusuma</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/04/160404_indonesia_pesawat_tabrakan_halim.shtml" platform="highweb"/></link>
“Memang potensi kecelakaan sangat besar kalau kesemrawutan Cengkareng dipindahkan ke Halim begitu saja. Halim yang basic design-nya untuk tidak penerbangan komersial, runway-nya cuma satu, taxi way tidak ada, apron-nya sempit. Di sana sudah ada beberapa skuadron udara dan pesawat terbang teknik ditambah dengan penerbangan komersial ke Halim. Kalau dengan perencanaan dan persiapan it’s ok no problem bisa saja,” jelas Chappy.

Sumber gambar, AFP
Bandara Halim Perdanaksuma sebelumnya hanya digunakan sebagai pangkalan TNI Angkatan Udara, penerbangan VIP dan juga pesawat carter.
Pengoperasian Bandara Halim Perdanakusuma untuk penerbangan pesawat komersil pada awal 2014 lalu untuk mengurangi beban Bandara Sukarno Hatta yang sudah melebihi kapasitas seiring dengan pertumbuhan industri penerbangan di Indonesia yang terus meningkat.
Industri meningkat
Menurut Asosiasi Transportasi Udara Internasional IATA, potensi industri penerbangan Indonesia sangat besar dan pada 2034 diperkirakan masuk dalam daftar enam besar untuk perjalanan udara, dengan jumlah penumpang mencapai 270 juta dari dan di dalam negara tersebut.
Peningkatan bisnis dirasakan langsung oleh salah satu maskapai penerbangan Citilink yang memulai bisnis pada 2012 lalu, seperti dijelaskan Wakil Presiden Komunikasi Citilink, Beni Butar Butar.
"Kita mulai dengan sembilan pesawat pada 2012 dan pada 2015-2016 itu sudah 37 pesawat dengan jumlah penumpang pada tahun lalu mencapai 10 juta," jelas Beni.
Dan Beni mengharapkan pertumbuhan industri itu seharusnya diikuti dengan pengembangan insfrastuktur untuk mengurangi kepadatan.
"Tetapi keterbatasan lahan itu sulit, jadi yang perlu ditingkatkan adalah kualitas dari bnadara sendiri apakah bisa 24 jam dibuka dan juga harus ada kesiapan personel, teknologi serta sistem navigasi yang dapat bekerja selama 24 jam," jelas Beni.
Bangun 15 bandara

Sumber gambar, Getty
Pemerintah Indonesia mengakui pembangunan infrastruktur untuk mendukung industri penerbangan sangat lambat dibandingkan pertumbuhan pasarnya.
Meski demikian juru bicara Kementerian Perhubungan JA Barata mengatakan keselamatan penumpang merupakan prioritas utama -termasuk bandara di Jakarta- sehingga tidak sampai kelebihan kapastitas.
“Kalau kapasitas yang ada pasti disesuaikan dengan kebutuhan bandara sendiri. Tidak pernah kita mengupayakan sesuatu itu dengan membuat kegunaannya menjadi tidak memenuhi persyaratan keselamatan, mungkin kalau dibilang over capacity adalah yang dimaksud tuntutan makin banyak makin besar, bukan berarti satu bandara penggunaannya melebihi ketentuan keselamatan yang ada,” jelas Barata.
Menurut Barata untuk mengurangi beban bandara di Jakarta, mulai tahun ini pemerintah akan membangun 15 bandara dan salah satunya adalah Bandara Kertajati di Majalengka Jawa Barat.
Bandara Kertajati dirancang memiliki desian panjang landasan 3.000 meter dan lebar maksimum 60 meter.
Selain itu, menurut Barata, selain pembangunan bandara baru di berbagai pelosok, juga dilakukan pengembangan bandara sehingga dapat didarati pesawat besar agar bisa mengangkut penumpang yang lebih banyak dan beroperasi selama 24 jam.









