Yang muda yang bersuara dalam Pilkada Serentak

Afdal, Feby dan Hans, pemuda-pemudi yang semangat mencoblos pada pilkada tahun ini.
Keterangan gambar, Afdal, Feby dan Hans, pemuda-pemudi yang semangat mencoblos pada pilkada tahun ini.

Pilkada serentak secara nasional pada 9 Desember ini menjadi momen bersejarah bagi Indonesia.

Meskipun secara umum lebih sepi dibandingkan pemilu presiden 2014 lalu, para pemuda dari berbagai penjuru negeri, ternyata semangat memberikan suaranya.

Sejumlah pemilih muda menyampaikan alasan ikut mencoblos atau terlibat dalam proses pemilihan kepala daerah serentak karena berbagai alasan. Berikut penjelasan mereka kepada Wartawan BBC Indonesia Rafki Hidayat.

Afdal Rizky “Ini bentuk sumbangsih saya kepada negara”

TPS 07, Kelurahan Pakan Labuah, Bukittinggi, Sumatra Barat

Afdal: "Sebagai pemuda, saya merasa terpanggil."

Sumber gambar, Afdhal Rizki

Keterangan gambar, Afdal: "Sebagai pemuda, saya merasa terpanggil."

Ini bukan kali pertama Afdal Rizky, pemuda asal Kelurahan Pakan Labuah, Kecamatan Aur Birugo 13, Kota Bukittinggi, Sumatra Barat, menjadi petugas pemungutan suara (PPS) di daerahnya. Sebelumnya, Afdal, menjadi PPS saat pemilu presiden 2014 lalu.

“Saya sebagai pemuda merasa terpanggil. Ini bentuk sumbangsih saya kepada negara. Soalnya selama ini saya lihat, aneh, keterlibatan pemuda sedikit sekali,” ungkapnya kepada BBC Indonesia.

Meskipun begitu, Afdal bahagia dengan aturan baru yang dikeluarkan Komisi Pemilihan Umum.

“Jadi, yang pernah jadi panitia pilkada periode sebelumnya, nggak boleh lagi jadi panitia yang sekarang. Karena yang lama berkurang, yang muda mulai muncul.”

Meskipun hari Rabu adalah ‘hari pasar’ bagi masayarakat di Kota Bukittinggi, Afdal bahagia, karena yang datang ke TPS, ternyata tetap banyak.

“Dari 100% yang terdaftar, biasanya yang datang nyoblos itu 70%, tetapi sekarang, masih setengah jam jelang penutupan, sudah 65% yang nyoblos. Alasannya karena yang dipilih putra daerah sendiri. Jadi, orang bersemangat,” tutur Afdal.

Feby Grace ingin Medan yang lebih baik

TPS 12, Kelurahan Cinta Damai, Kecamatan Medan Helvetia, Medan, Sumut

Feby: "Sepi, karena media kita jarang mengangkat konten lokal".

Sumber gambar, Feby Grace

Keterangan gambar, Feby: "Sepi, karena media kita jarang mengangkat konten lokal".

Feby Grace bersemangat untuk memberikan hak pilih dalam pilkada wali kota Medan karena dia melihat banyak hal yang seharusnya bisa diperbaiki di ibu kota Sumatra Utara itu.

“Soalnya di Medan banyak jalan rusak, banjir, listrik dan air sering mati, jadi itu-itu terus masalahnya. Bahkan yang soal jalan, kok di Medan bisa jalan nggak diperbaiki,” kata Feby beberapa saat setelah mencoblos.

Perhatian dan harapannya agar Medan memiliki pemimpin yang lebih baik, serta profesinya sebagai mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi, juga telah membuat Feby selama beberapa minggu terkahir, menjadi pembawa acara dialog dan debat calon wali kota Medan, yang diadakan oleh KPU setempat.

Namun, ketika tadi sampai di TPS, Feby kecewa melihat minimnya antusiasme masyarakat, terutama kaum muda.

“Dibandingkan pilpres tahun lalu, ini sepi banget. Ini kurang seksi bagi mereka.”

Feby menilai, ini karena publik Medan kurang mendapat informasi terkait pilkada dan calon pemimpin kota mereka.

“Media kita kan jarang yang angkat konten lokal. Kita kan Jakarta sentris banget. Sementara media cetak lokal, jarang dikonsumsi masyarakat sini. Semua hal yang terjadi di lokal orang kurang notice. Orang sini lebih tahu tentang apa yang dikerjakan di Jakarta, dibandingkan di Medan,” ungkapnya.

Henricus Hans antusias ‘karena Jokowi'

TPS 21, Kelurahan Sumber, Surakarta, Jawa Tengah

Hans: "Di Solo, pilkada sama ramainya dengan pilpres".

Sumber gambar, Henricus

Keterangan gambar, Hans: "Di Solo, pilkada sama ramainya dengan pilpres".

Mencoblos dalam pilkada bukan hal baru bagi Hans. Sebelumnya, saat Joko Widodo menjadi calon wali kota, dia juga memberikan suara di TPS.

Namun, yang membuatnya semakin senang, meskipun Jokowi tidak lagi di Surakarta, ternyata masyarakat masih antusias datang ke TPS.

“Bagus, orang tetap ramai, banyak. Nggak jauh beda, malah sama dengan ramainya pilpres,” ungkapnya kepada BBC Indonesia.

Menurutnya, antusiasme tetap tinggi di sana karena ada calon yang dianggap mumpuni.

“Lebih karena faktor calonnya. Mau gimana-gimana, salah satu calon sudah kerja bareng Jokowi. Orang tetap berharap, apa yang sekarang sudah bagus, agar tidak berubah,” ungkapnya.