TNI AL bantah berpihak dalam kasus 'perampasan kapal'

Sumber gambar, Getty
- Penulis, Isyana Artharini
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
TNI AL membantah telah berpihak dalam aksi dugaan perampasan kapal kargo Sally Fortune di galangan kapal PT Bandar Abadi di kawasan Tanjung Uncang, Batam, Kepulauan Riau.
Juru bicara TNI AL, Laksamana Pertama M Zainudin, kepada BBC Indonesia, Senin (21/9) mengatakan, bahwa wajar jika personel TNI ada di pelabuhan.
"Mungkin ada pihak yang minta bantuan. Walaupun pihak itu minta bantuan, sejauh mana dilihat dulu permasalahannya. Kalau itu tidak berkaitan dengan kita, tentu kita tidak akan ikut campur di dalamnya," kata Zainudin.
Dalam peristiwa yang terjadi Jumat (18/09) siang, puluhan pria "dengan seragam loreng dan bersenjata" datang ke galangan kapal milik PT Bandar Abadi di Batam, dan sempat melepaskan tembakan yang membuat orang-orang ketakutan dan mencari perlindungan.
Menurut Direktur PT Bandar Abadi Maslina Simanjuntak kepada pada BBC Indonesia, Senin (21/9), "kejadiannya jam 13.45 WIB, perusahaan sedang sepi karena istirahat dua jam untuk salat Jumat".
'Loreng'
Petugas keamanan di lokasi menyebutkan ada tiga kapal tunda yang tiba-tiba berada di sekitar kapal kargo Sally Fortune milik PT Bina Usaha Maritim Indonesia.
Melihat tiga kapal tersebut, satpam pun menelepon kantor dan sekitar 50-an karyawan langsung datang ke lokasi tempat kapal Sally Fortune berada.
Lalu terdengar tembakan.

Sumber gambar, Getty
"Kita pas dengar tembakan bersenjata, kita buru-buru turun ke bawah, melihat kejadiannya, kok bisa ada tembakan. Ternyata (mereka) sudah mau tarik kapalnya," kata Maslina.
Maslina mengatakan dirinya mendengar ada tiga tembakan yang dilepas ke udara. Selain itu, gerombolan berseragam loreng dan bersenjata juga memperingatkan agar karyawan jangan mendekat.
"Tali tambat (kapal) diikat di tempat kita, security kita berusaha serobot-serobotan, lempar-lemparan dengan orang berbaju loreng itu," kata Maslina.
Di setiap kapal tunda, selain kru kapal itu sendiri, ada orang-orang berbaju loreng dan kru kapal Sally Fortune. Orang-orang berbaju loreng itu juga menaiki kapal Sally Fortune. Pria-pria di kapal inilah yang kemudian melepas tembakan peringatan ke udara.
PT Bandar Abadi kini melaporkan insiden tersebut ke Polresta Batam dan Kepala Syahbandar. Perusahaan mempertanyakan kenapa kapal bisa dilepas begitu saja. Menurut Maslina, syahbandar menilai kapal tersebut sudah bisa berlayar.

Sumber gambar, AFP
Kapal Sally Fortune sudah berada 14 bulan dalam galangan milik PT Bandar Abadi karena pemilik kapal menunggak pembayaran Rp8 miliar untuk biaya perbaikan yang sudah selesai dilakukan.
Saat ini, kedua perusahaan tersebut sedang bersengketa secara perdata melalui jalur hukum di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Tembakan ke udara
Jubir TNI AL Zainudin menepis laporan soal tembakan yang dilepas oleh pria berbaju loreng dalam peristiwa itu.
"Saya belum mendengar tentang tembakan. TNI tidak akan semudah itu mengeluarkan amunisi dari senjatanya, kalau tidak ada sesuatu yang membahayakan atau mungkin membela sesuatu. Kita dalami dulu, sejauh ini, seperti apa laporan dari prajurit yang saat itu (di lapangan)."
Terhadap keberadaan personel TNI di lokasi, Zainudin mengatakan kalau hanya mengamankan sesaat sebelum ditangani polisi, itu boleh-boleh saja.
"Supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lebih jauh lagi, setelah itu diberikan ke pihak yang memiliki kewenangan itu tadi, dalam hal ini adalah polisi," kata Zainudin.
"Namun laporan yang saya terima itu sampai saat ini, TNI AL tidak terlibat dengan siapa-siapa dan tidak ada kewenangan memang. Tapi jika TNI dimintai bantuan, ya pasti datang," katanya.
Zainudin juga membantah bahwa peristiwa ini adalah bukti personel TNI digunakan sebagai jasa keamanan yang dibayar.
"Tidak ada, kalau masalah centeng, bodyguard. Di sana mereka bertugas," ujarnya.
Sebelumnya, Komandan Batalion Marinir 10/Satria Bhumi Yudha Mayor Nioko Budi mengatakan enam anggotanya hadir di lokasi saat kejadian dan bertugas secara resmi. Dia mengatakan bahwa bawahannya hanya membantu aparat dari instansi lain untuk melakukan pengamanan.
Jasa keamanan
Namun peneliti Imparsial Bhatara Ibnu Reza mengatakan bahwa kejadian ini mungkin menunjukkan bahwa masalahnya adalah persoalan jasa keamanan.
Alasannya, "Tugas TNI tidak boleh mem-back up dalam hal ini, karena polisi sudah ada. Keterlibatan TNI harus dipertanyakan sebagai apa? Back up pun tidak boleh. Kapasitas TNI tidak bisa bergerak sendiri. Sekarang atas dasar apa, batalion bergerak untuk membebaskan kapal. Apakah pembebasan kapal itu dari teroris?"

Sumber gambar, Getty
Jika ini adalah kasus hukum, maka menurut Bharata, sudah ada instansi lain yang bisa menangani.
<link type="page"><caption> Sebelumnya, pada September 2014, di Batam</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/09/140922_tnibrimob" platform="highweb"/></link>, empat anggota TNI menjadi korban penembakan yang dilakukan oleh seorang anggota Brimob yang tengah menggerebek gudang penyimpanan BBM ilegal.
Anggota TNI <link type="page"><caption> belakangan diketahui tengah menjaga</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/10/141014_investigasi_bentrok_polisi_tni_batam" platform="highweb"/></link> gudang tersebut.









