Bila mahasiswa Budha, Katolik ikut aktivitas Ramadan

Sumber gambar, Universitas Ma Chung
Sebanyak 40 orang mahasiswa Katolik, Kristen, Budha, serta Hindu mengikuti aktivitas Ramadan di sebuah pesantren di kota Malang, Jawa Timur.
Mereka tinggal dengan keluarga Muslimdengan harapan dapat memperkuat toleransi.
Selama dua hari, para mahasiswa itu menginap dan mengikuti aktivitas para santri saat Ramadan, seperti mengaji, sahur dan buka puasa.
Di sebuah siang, sembilan mahasiswa non-muslim duduk bersila di dalam masjid Pesantren Sabilurrosyad, Malang.
Mereka meriung berbaur dengan para santri, menyimak dan mendengarkan pengajian.
Mahasiswa Universitas Machung Malang, Yofranny Winardi, yang beragama Katolik, mengaku tertarik mengikuti acara itu untuk lebih mengenal agama Islam.
“Sore itu ikut mengaji jam empat, sampai buka puasa bersama. Makan bareng di baki, satu baki orang empat, lima secara bareng-bareng (bersama)," kata Yofranny Winardi kepada kontributor BBC Indonesia di Malang, Jawa Timur, Eko Widianto.
Ikut sahur bersama
Walaupun tidak mengerti isi Kitab suci al-Quran, mereka mengaku bisa merasakan langsung kehidupan para santri.
Tidur beralas karpet, satu ruangan diisi delapan orang serta makan bersama dalam satu wadah.
Selama ini, Yofranny kerap bertanya kenapa ada sebagian kecil umat Islam yang bersikap ekstrem dan berbuat kekerasan.

Sumber gambar, Univesitas Ma Chung
"Setelah ada penjelasan dari Pak Ustad, saya jadi ngerti,” aku Yofranny yang mengaku belajar mengenakan sarung selama acara itu.
Yofranny dan kawan-kawan diajak mengenal serangkaian ibadah selama bulan puasa, mulai membangunkan mereka untuk sahur bersama hingga mengajak dan mengenalkan mereka salat berjamah, salat tarawih dan bertadarus.
“Kalau mau ikut sahur, ya kita ajak. Kalau ternyata gak kuat bangun ya kita biarkan saja," kata David Darissalam, salah-seorang santri yang mendampingi para mahasiswa non-Muslim tersebut.
"Ternyata banyak yang tak terbiasa, karena memang tak pernah melakukan,” katanya, kemudian terkekeh.
Peka isu toleransi
David mengatakan kegiatan selama dua hari itu bukanlah kegiatan dialog yang pertama. Dari beberapa kali pertemuan itu, dia meyakini peserta dialog akan makin memahami pentingnya saling menghormati.
"Toh ternyata pada akhirnya semua kita memang punya keyakinan masing-masing tapi harus saling menghormati,” ujar David.
Dialog lintas iman ini awalnya merupakan program pengembangan karakter Universitas Ma Chung, Malang, bernama OBOR (Orientation Based On Reflection).

Sumber gambar, Universitas Ma Chung
Rutin diselenggarakan setahun dua kali dan pada tahun kedua acara ini melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi bekerja sama dengan kelompok Gusdurian Malang.
Pendamping mahasiswa, Purnomo, berharap setelah mengikuti program ini mahasiswa lebih peka terhadap isu toleransi.
“Ingin mengetahui seluk beluk dari agama masing-masing, kerukunan antar umat beragama... Toleransi 'kan saling menghormati. Tadi sudah dijelaskan pak ustadz untuk toleransi itu dasarnya iman,” kata Purnomo.
Setelah kembali ke komunitas masing-masing, mereka diharapkan tetap menjalin komunikasi demi merawat keberagaman dan saling menjaga toleransi.















