Jenazah TKI tewas di Hong Kong diberangkatkan di tengah Badai Kujira

Dua staf KJRI Hong Kong menyaksikan penyegelan peti kargo berisi peti jenazah Wiji Astutik Supardi untuk dikirim pulang.

Sumber gambar, Valentina Djaslim

Keterangan gambar, Dua staf KJRI Hong Kong menyaksikan penyegelan peti kargo berisi peti jenazah Wiji Astutik Supardi untuk dikirim pulang.

Jenazah Wiji Astutik Supardi, TKI korban pembunuhan di Hong Kong, akhirnya tetap berangkatkan ke kampung halamannya di tengah ancaman Badai Tropis Kujira yang sedang mengamuk di wilayah selatan China dan Laut China Selatan.

Jenazah diberangkatkan dengan layanan kargo pesawat Cathay CX 781 dari Bandara Chek Lap Kok, Hong Kong, pada Selasa, (23/6/2015) pukul 3.35 sore waktu setempat. Staf KJRI Hong Kong yang menjadi pengantar, Agustaf Illias, terbang sebagai penumpang biasa di pesawat komersial tersebut.

Pesawat itu dijadwalkan tiba di Bandara Juanda, Surabaya sekitar pukul 19.00 WIB. Agustaf dari KJRI akan langsung mengantar jenazah ke keluarga Wiji Astutik di Desa Krajan, Bantur, Kabupaten Malang.

Namun tak terlihat seorang pun WNI teman mendiang atau keluarga saat upacara penyegelan jenazah, yang dilakukan pagi hari di Rumah Duka Universal Parlour di daerah Hung Hom.

Rinda, adik kandung Wiji yang bekerja sebagai TKI di Taiwan, berangkat pulang langsung dari Taipei, Taiwan, ke kampung halamannya sejak Sabtu, (20/6/2005). Rinda menolak tawaran turut mengantar jenazah kakaknya dengan alasan tiket pulang telah dibelikan agen tenaga kerjanya.

Jenazah Wiji <link type="page"><caption> ditemukan terbungkus kasur</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150609_indonesia_wni_hongkong" platform="highweb"/></link> dan digeletakkan di trotoar di jalan Changsa daerah Mong Kok, Hong Kong, pada Senin, (8/6/2015) sekitar pukul 10.44 pagi. Hasil otopsi tim dokter dari Kwai Chung Moratory memperkirakan mantan TKI berumur 37 tahun ini telah meninggal sejak 7 Juni 2015.

Sebuah aksi kaum buruh migran Indonesia di Hong Kong

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Sebuah aksi kaum buruh migran Indonesia di Hong Kong

Dilaporkan kontributor BBC Indonesia di Hongkong, Valentina Djaslim, meski jenazah telah diotopsi hampir 2 minggu yang lalu, Pemerintah Hong Kong tidak mencantumkan alasan penyebab kematian yang biasanya tertulis jelas di akta kematian seseorang.

Hal ini berbeda dengan akta kematian S<link type="page"><caption> umarti Ningsih, 25 tahun, dan Seneng Mujiasih, 30 tahun</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/11/141111_repatriasi_jenazah_wni" platform="highweb"/></link>, dua WNI yang jadi korban pembunuhan di Wan Chai, Hong Kong, pada akhir tahun lalu. Akta kematian keduanya menyebutkan putusnya urat di leher sebagai penyebab kematian.

Pekan lalu, polisi Hong Kong telah <link type="page"><caption> menangkap kekasih Wiji asal Pakistan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150613_indonesia_wiji_kekasih" platform="highweb"/></link> yang berinisial WF, 30 tahun, sebagai tersangka utama. Pria itu ditangkap saat mencoba melarikan diri ke Shenzen, China Daratan, dengan menumpang kapal ferry di daerah perbatasan Tuen Mun, Hong Kong. Bersama WF juga ditangkap seorang pria India berinisial SK, 22 tahun, dengan tuduhan mencoba membantu WF melarikan diri.

Hanya dua hari setelah penangkapannya sebagai tersangka, Polisi Hong Kong membawa WF kembali ke jalan Changsa untuk reka perkara. Pria Pakistan tersebut tampak membawa-bawa sebuah boneka berukuran manusia yang digulung ke dalam kasur lalu membuangnya ke trotoar tempat jenazah Wiji ditemukan.

Namun belum ada pengakuan WF sebagai pelaku pembunuhan Wiji. Pria Pakistan ini hanya mengaku telah menampar pipi serta menendangi tubuh ibu seorang putri tersebut.

Konsul Muda Bidang Konsuler Elvis Napitulu dari KJRI Hong Kong, bertanggungjawab sebagai saksi saat petugas rumah duka memasukkan peti jenazah berisi tubuh Wiji ke kotak kargo, lalu menyegelnya dengan timah panas. Peti kargo tersebut hanya boleh dibuka oleh keluarga mendiang setibanya di kampung halaman.