Bom rakitan meledak di Tanah Abang

Sumber gambar, ging ginanjar
Sedikitnya empat orang cedera akibat sebuah ledakan di permukiman padat penduduk di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (08/04) sore waktu setempat.
Ledakan terjadi di dalam sebuah rumah bedeng dari papan dan tripleks di sudut sebuah lapangan di belakang Gang Kayu Mati, Jalan Jatibunder, Tanah Abang, sekitar pukul 15.00 WIB.
Kepada BBC Indonesia, juru bicara kepolisian Jakarta, Kombes Martinus Sitompul mengatakan ledakan berasal dari sebuah peranti rakitan yang diyakini meletus secara tidak sengaja.
"Ini tergolong bom mekanik, karena tidak ditemukan peranti bom elektronik seperti detonator, kabel, atau batere," jelas Martinus Sitompul.
"Bom jenis ini meledak jika dibanting, ditekan, atau disulut dengan api."

Sumber gambar, ging ginanjar
Di lokasi, polisi menemukan bubuk biru dan serpihan paku. Beragam cakram padat dan buku turut didapati. Kini, polisi tengah memeriksa alat-alat bukti tersebut.
Disebutkannya, empat orang yang berada di rumah itu mengalami luka, salah satu di antaranya cukup berat.
Martinus mengaku belum saatnya untuk menarik kesimpulan apakah keempat orang itu adalah orang-orang yang merakit peledak.
Rumah kosong
Menurut para tetangga di sekitar rumah, para korban bernama Asep, Ferry, Bogel, dan SUro atau oleh warga dikenal juga sebagai Roso.
Mereka berusia di kisaran 40-an hingga 60-an tahun. Salah satu korban, yaitu Roso, dikenal sebagai tukang kayu berusia 60-an tahun. Sementara Ferry, sekitar 40 tahunan, memiliki sebuah bengkel di Gang Kayu Mati itu.
Rahma, 38 tahun, mengatakan kepada Ging Ginanjar dari BBC, keempatnya bukan merupakan keluarga, sudah tinggal bertahun-tahun di kawasan itu, di rumah terpisah. Salah seorang, Ferry, kendati memiliki sebuah bengkel pertukangan, namun tinggal di Kebon Jeruk.
"Mereka punya isteri dan anak, yang bergaul biasa saja dengan yang lain," kata Rahma.
Tempat tinggal Suro alias Roso dan Bogel bersebelahan di rumah-rumah kayu dua lantai di gang itu, persis di belokan ke arah lapangan kosong, yang di sudutnya terdapat rumah yang menjadi lokasi meledaknya bom itu.
Sehari-hari, akses ke dalam lapangan itu sering ditutup pagar yang tidak dikunci.

Sumber gambar, gingginanjar
"Anak-anak sering bermain di situ, dan kalaua da keramaian, ya dilakukan di lapangan itu," jelas Rahma pula.
Namun di ujung lapangan, terlindung dari perhatian orang, terdapat rumah kosong yang cukup luas, dari kayu, tripleks dan kaca. Di sana Bogel, Suro atau Roso, Gerry dan Asep bertemu sesekali. Hingga ledakan terjadi, Rabu sore itu.
Sejauh ini, polisi masih menyelidiki apakah ledakan berkaitan dengan kelompok-kelompok teroris.
Bom rakitan
Taufik Andrie, analis terorisme dari Yayasan Prasasti Perdamaian, mengatakan aparat perlu menganalisa serpihan paku-paku yang bertebaran dekat lokasi ledakan.
“Karena, paku-paku biasanya dimasukkan dalam bom rakitan berbahan ledak rendah untuk melukai orang,” ujarnya.
Saat ditanya apakah ada indikasi bahwa sejumlah kelompok berupaya menghadirkan kembali aksi teror di Indonesia, Taufik mengaku bukti-bukti yang mengarah ke sana terlalu sedikit.
“Sejauh ini, kasus-kasusnya masih skala kecil belum menunjukkan tindakan dalam skala besar. Saya pribadi tidak terlalu khawatir. Namun, kita tetap perlu waspada,” tutupnya.
Ledakan di Depok
Sebelum peristiwa di Tanah Abang, insiden ledakan terjadi di lantai dua pusat perbelanjaan ITC Depok, pada 23 Februari lalu. Ledakan berasal dari sebuah paket berisi empat detonator, empat kontainer.

Sumber gambar, AFP
Belakangan, Tito Karnavian yang pernah menjabat sebagai kepala Detasemen Khusus 88 Anti-Teror, mengatakan keempat kontainer itu sejatinya dirancang untuk menghasilkan gas klorida. Dalam jumlah kecil gas itu akan mengganggu pernafasan. Namun dalam jumlah besar gas itu akan mematikan.
Namun, dari empat kontainer, hanya dua yang meledak sehingga tidak terjadi percampuran kimia yang menghasilkan gas klorida.
Ledakan itu, kata Tito, ialah <link type="page"><caption> serangan bom kimia pertama di Indonesia</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/03/150325_isis_indonesia_kimia" platform="highweb"/></link>.
“Dan serangan bom itu merupakan signature atau kekhasan kelompok ISIS di Suriah,” kata Tito.









