Eksekusi mati jadi topik pembicaraan warga Cilacap

- Penulis, Hugo Bachega
- Peranan, Reporter, BBC Brasil
Jika tembok-tembok ini bisa berbicara, mereka pasti mereka akan membahas satu topik: eksekusi.
Mungkin itu terdengar ganjil - dan memang ganjil.
Tampaknya eksekusi menjadi satu dan satu-satunya bahan pembicaraan di Cilacap, sebuah kota pelabuhan kecil yang menjadi pusat perhatian dunia karena dekat dengan Pulau Nusakambangan.
Penjara ini digambarkan sebagai Alcatraz versi Indonesia, sebuah kompleks penjara dengan penjagaan sangat ketat di mana ratusan terpidana kasus perdagangan narkoba, pembunuhan dan kriminal lainnya ditahan.
Di sana, para terpidana mati akan dieksekusi oleh regu tembak.
Laporan menyebutkan lebih dari 130 terpidana menunggu hukuman mati di Indonesia, dan sepuluh orang yang akan menjalani hukuman mati dalam waktu dekat, sembilan di antara mereka adalah warga asing.
Merekalah yang membuat keluarga, pengacara dan para wartawan datang ke kota yang berjarak 270km di timur Jakarta.
Sambil merokok dan minum segelas bir di sebuah hotel, seorang anggota keluarga dari salah satu terpidana mengangkat bahunya ketika telepon selularnya berbunyi karena ada sebuah pesan dari seorang reporter.
"Ada satu yang hanya ingin melihat darah. Dan semua yang kami inginkan adalah untuk menyelamatkan nyawa," katanya.
"Kami menghabiskan waktu di sini. Dan hanya ini yang kami bicarakan," kata anggota keluarga terpidana, yang menghindari terlalu banyak mengatakan kata 'eksekusi'.
Di sekitar kami adalah kelompok reporter dan pengacara dan seorang penyanyi dengan suara berisik yang pasti akan mendapatkan tepuk tangan jika dia tetap diam.

Saya diberitahu bahwa hotel-hotel besar di Cilacap telah penuh dipesan selama beberapa hari menjelang eksekusi.
Kehadiran media mungkin menganggu bagi sebagian besar orang tetapi banyak keluarga terpidana yakin liputan pers yang besar akan bermanfaat bagi mereka.
"Merupakan sebuah keuntungan untuk mendapatkan perhatian media," kata seorang pengacara yang bekerja dengan salah seorang terpidana kepada saya.
"Tetapi ini sebuah mimpi buruk untuk menghabiskan waktu di sini. Tidak ada yang dapat dilakukan".
Dia bukan yang pertama kali mengeluh mengenai kota ini dan juga makanannya.
"Saya hanya makan KFC di sini", kata dia. Kami pun tertawa.
Menangkap momentum

Ibu Sukirman, 52 tahun, penuh dengan senyum. Toko miliknya yang berada di pelabuhan Nusakambangan menjual semua kebutuhan dari air mineral sampai BBM di botol.
"Biasanya usaha di sini sepi. Tetapi Alhamdulillah kota ini banyak dikunjungi dan penjualan juga meningkat".
Senin sampai Kamis, biasanya menjadi hari yang sibuk, kata dia, ketika pengunjung yang mendapatkan izin pergi ke penjara.
Otoritas imigrasi juga sangat sibuk, mengecek paspor dan visa. Mereka telah mendeportasi jurnalis yang bekerja dengan visa turis di sini.
Pengecekan dokumen kepada tim kami tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama.
Di luar toko ibu Sukirman, sejumlah truk satelit dan camera mengarah corong ke pintu gerbang pelabuhan. Di bawah pepohonan, kru TV menghabiskan waktu dengan bermain kartu dan minum kopi.
Dan, iya, seluruh pembicaraan di sini adalah tentang eksekusi.
"Saya sangat lelah," kata seorang reporter dari Indonesia kepada saya, setelah empat hari menunggu di pelabuhan.
Ini bukan hanya menjadi berita utama bagi pers lokal. Media Australia juga meliput semua detail peristiwa, terutama Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, pemimpin kelompok 'Bali Nine' telah dibawa ke Nusakambangan.
Warga negara Brasil, Prancis, Nigeria, Ghana dan Filipina juga berada dalam daftar yang akan dieksekusi.
Dukunganbesar
Ibu Santi, 26 tahun, juga mencoba peluang usaha dengan membuka toko baru-baru ini.
"Ada kesempatan untuk mendapatkan uang. Tempat ini padat pengunjung".
Ketika ditanya mengenai eksekusi dia mengatakan itu merupakan sebuah 'keputusan yang bijak'. Itu mencegah orang untuk menghancurkan masa depan generasi muda.
Pendapat ini diyakini banyak orang di Indonesia, dan hukuman mati bagi pelaku perdagangan narkoba tampaknya mendapatkan dukungan yang besar dari masyarakat.

Presiden Joko Widodo telah menolak permohonan grasi dari terpidana pelaku perdagangan narkoba dan berulang kali menyatakan negaranya menghadapi keadaan darurat karena narkoba.
Indonesia memiliki hukuman berat bagi para pelaku perdagangan narkoba di dunia. Dan mulai kembali melakukan eksekusi pada 2013 setelah empat tahun moratorium.
Pada Januari lalu, enam orang pedagang narkoba- termasuk lima warga asing - dieksekusi.
Nusakambangan telah dijuluki sebagai 'Pulau Kematian' tetapi juga populer dengan kawasan pantai dan hutannya.
"Ini merupakan sebuah tempat yang indah," kata asisten reporter kami setelah menghabiskan waktu beberapa jam di sana pada Minggu lalu.
Saya tidak dapat ke sana. Seorang petugas di Cilacap mengatakan kepada saya bahwa orang asing tidak diizinkan karena adanya pembangunan di sisi lain pulau itu.
Otoritas masih akan mengumumkan kapan -dan jika terjadi- eksekusi putaran kedua akan dilakukan di Nusakambangan.
Sampai itu terjadi, tidak diragukan lagi apa yang dibicarakan di Cilacap.









