#TrenSosial: Bakar 'pelaku begal', gagalnya penegakan hukum?

Sumber gambar, AFP GETTY IMAGES
Aksi pembakaran yang dilakukan warga terhadap 'pelaku begal' di Pondok Aren, Tangerang, menunjukan "lemahnya kemampuan penegak hukum" mengatasi kasus kriminal yang meresahkan warga, menurut seorang kriminolog.
Dalam akun Facebook resminya, Divisi Humas Mabes Polri menjelaskan bahwa peristiwa main hakim sendiri ini terjadi pada Selasa (24/02) dinihari.
"Seorang pelaku begal sepeda motor tewas dibakar massa setelah tertangkap warga. Warga yang kesal dan marah dengan ulah pelaku yang meresahkan itu kemudian membakar hidup-hidup satu pelaku yang tertangkap, sementara tiga pelaku lainnya berhasil kabur."
Sejumlah foto-foto 'aksi pembakaran' itu kemudian tersebar luas di media sosial, menimbulkan reaksi beragam dari para pengguna.

Sumber gambar, AFP GETTY IMAGES
"Semenjak era reformasi kita melihat banyak sekali kasus penghakiman oleh massa, ini mencerminkan melemahnya kemampuan penegak hukum untuk membuat kesan bahwa hukum ditegakkan," kata pakar kriminologi Muhammad Mustofa kepada BBC Indonesia.
"Mereka (warga) merasa lebih efektif jika mereka yang menghukum dari pada diserahkan pada polisi."
Menurut Mustofa, polisi harus melakukan perbaikan menyeluruh untuk mengatasi masalah kriminalitas, agar main hakim sendiri tak lagi dilakukan. "Perilaku itu akan hilang sendirinya jika polisi berbenah."
Meresahkan
Sejumlah laporan media dalam beberapa bulan terakhir mengindikasikan maraknya aksi begal, atau modus perampokan motor di tempat sepi dan gelap, di sejumlah daerah termasuk Depok dan Tangerang.
Menanggapi aksi main hakim sendiri, pengguna media memberikan reaksi yang beragam, "Wih hukum rimba sudah diterapkan menghadapi begal motor," tulis akun @muhammad_ixan di Twitter.
"Di sana ISIS bakar orang, di sini orang bakar begal, sama kok...dramanya aja yang beda," tulis akun @tidvrberjalan.
Sementara Intan Malakian melalui akun @tanmalk mengatakan, "Di Indramayu juga lagi musim begal. Tapi tidak sampai bakar hidup-hidup begitu. Iyalah, jarang tertangkap. Polisinya tidak tau ngapain."

Sumber gambar, TWITTER
Warga Depok, Dimas Novita Sari, 24, mengatakan aksi begal memang sudah sangat meresahkan dalam tiga bulan terakhir. "Was-was, yang tadinya pede banget pulang malam, sekarang mikir berkali lipat. Kalau bisa pulang lebih cepat, ya cepat deh enggak nunggu malam."
"Jalanan sekarang juga lebih sepi dibanding sebelum ada kejadian begal."













