Keluarga korban AirAsia dukung kelanjutan pencarian

Kapal Crest Onyx milik SKK Migas bersiaga di perairan Selat Karimata guna menampung badan pesawat AirAsia QZ 8501.
Keterangan gambar, Kapal Crest Onyx milik SKK Migas bersiaga di perairan Selat Karimata guna menampung badan pesawat AirAsia QZ 8501.

Keputusan Badan SAR Nasional untuk melanjutkan operasi pencarian korban pesawat AirAsia QZ 8501 mendapat sambutan baik dari keluarga korban. Sebelumnya, mereka resah karena ada wacana operasi akan dihentikan.

Salah satunya adalah Dwi Yanto, ayah dari penumpang <link type="page"><caption> Bima Adi Wicaksono</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/01/150101_bima_stefani_airasia" platform="highweb"/></link>. Ia berharap bisa memakamkan jenazah anak keduanya.

"Saya sebagai anggota keluarga korban masih sangat mengharap jika pemerintah masih mencari korban yang belum ditemukan sampai ketemu, walaupun dalam bentuk bagaimana korban itu wujudnya, saya akan terima. Saya mohon dilanjutkan upaya pencarian, itu harapan saya," kata Dwi Yanto.

Bima Adi Wicaksono berusia 31 tahun. Penerbangan ke Singapura pada 28 Desember 2014 adalah perjalanan pertamanya ke luar negeri.
Keterangan gambar, Bima Adi Wicaksono berusia 31 tahun. Penerbangan ke Singapura pada 28 Desember 2014 adalah perjalanan pertamanya ke luar negeri.

Hal senada diutarakan oleh adik kandung <link type="page"><caption> Kapten Pilot Irianto</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/12/141229_bapak_pilot_irianto" platform="highweb"/></link>.

"Kami berdoa Basarnas mampu temukan korban yang lain karena keluarga yang lain kan masih berharap," kata adik kandung Irianto, Bayu Arga.

Bagi keluarga, sang pilot merupakan sosok yang penuh perhatian dan sayang keluarga.

"Dia tinggal di Sidoarjo sedangkan kami di Jogja dan setiap dia pulang, begitu masuk pagar sudah tampak wajahnya saking rindunya sama kami adik-adiknya dan selalu minta dibuatkan ayam goreng," kenang Bayu.

"Apa pun wujud kakak saya nanti, keluarga akan menerima," ujarnya

Kapten Pilot Irianto dikenal sebagai penerbang berpengalaman.
Keterangan gambar, Kapten Pilot Irianto dikenal sebagai penerbang berpengalaman.

Resah

Sebelumnya, baik Dwi Yanto maupun Bayu Arga merasa resah lantaran ada pernyataan dari Panglima TNI Jenderal Moeldoko bahwa <link type="page"><caption> pencarian korban dihentikan</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/01/150127_airasia_hentikan_pencarian" platform="highweb"/></link>.

"Anak saya kan belum ditemukan, saya resahlah. Resahnya statement dari Presiden yang waktu di bandara [Juanda, Surabaya] kalau pencarian akan dilaksanakan tanpa batas waktu tapi tahu-tahu pas satu bulan sudah dihentikan. Mengapa kok sampai dihentikan? Padahal jumlah korban yang belum diketemukan masih buanyak sekali melebihi dari jumlah yang sudah ditemukan," kata Dwi kepada jurnalis BBC, Pinta Karana.

Adik kandung pilot Irianto, Bayu Arga, pun mengaku kecewa bila operasi pencarian dihentikan.

"Kecewa karena kakak saya kan belum ketemu, padahal kemarin sudah tampak badan pesawat. Tapi kami paham pencarian sudah satu bulan," kata Bayu.

Dalam konferensi pers di kantor Basarnas di Jakarta, Rabu (28/01), Kepala Badan SAR Nasional, Marsekal Madya Bambang Soelistyo, memastikan <link type="page"><caption> operasi pencarian korban pesawat AirAsia QZ 8501 di perairan Selat Karimata akan dilanjutkan</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/01/150128_basarnas_airasia_lanjut" platform="highweb"/></link> selambatnya mulai Sabtu (31/01).

Menurutnya, pihak keluarga korban sudah memahami akan kondisi tersebut.