Kiat dorong pemilih muda tidak golput

Sumber gambar, AFP
Sekitar 190 juta warga negara Indonesia terdaftar dalam pemilihan presiden Indonesia 9 Juli.
Dari jumlah tersebut, 30% merupakan pemilih muda berusia 17 hingga 30 tahun.
Agar kaum muda aktif berpartisipasi dalam pemilu presiden 2014, Pingkan Irwin bersama temannya membuat gerakan Ayo Vote.
Melalui acara-acara di kampus, pusat perbelanjaan dan website, <italic>Ayo Vote</italic> ingin agar kaum muda mendapatkan pengetahuan yang memadai mengenai pemilu dan tidak menjadi <link type="page"><caption> golongan putih</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/07/140707_golput_haram_mui.shtml" platform="highweb"/></link> atau kerap disebut golput.
Melihat dari banyaknya kaum muda yang meminta formulir A5 karena hendak memilih bukan di tempat mereka terdaftar, Pingkan pun optimistis jumlah pemilih muda pada pemilu presiden lebih banyak dibandingkan ketika pemilu legislatif yang lalu.
"Karena kandidatnya hanya dua. Jadi sangat, sangat memudahkan sih sebenarnya untuk para pemilih cari rekam jejak untuk mengenal para kandidatnya.
"Kalau untuk pileg itu mungkin juga terlalu kompleks, partainya ada 12, kandidat yang maju juga sangat banyak ada 100-an di setiap dapil. Dan di situ tingkat kesadarannya lebih rendah dari pilpres.
"Untuk pilpres ini, tingkat kesadaran memang sudah lebih baik dan kandidatnya juga sudah lebih dikenal dan rata-rata para pemilih sudah menentukan pilihan. Kalau pun belum menentukan pilihannya, mereka juga udah kenal dengan kedua kandidatnya," kata Pingkan kepada wartawan BBC Indonesia Rizki Washarti.

Sumber gambar, Getty
Pilih Prabowo
Hal senada diungkap Dwiko Patriotti, 18 tahun, yang merupakan pemilih pemula.
Pada pemilu legislatif April lalu, ia tidak memilih lantaran merasa tidak kenal dengan para calon legislatif.
Namun untuk pemilu presiden dia berniat memilih untuk pertama kalinya karena merasa menemukan sosok kandidat yang tepat.
"Aku milih Prabowo karena menurutku <link type="page"><caption> Prabowo</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/laporan_khusus/2014/06/140626_lapsus_pilpres_profil_prabowo.shtml" platform="highweb"/></link> adalah pribadi yang tegas dan berwibawa. Dan juga, dibanding dengan Jokowi, Prabowo itu sudah mempunyai jam terbang," ujar Dwiko.
Pilih Jokowi
Seperti Dwiko Patriotti, sejumlah mahasiswa di Papua juga menyatakan akan menggunakan hak pilih mereka untuk pemilu presiden.
Salah satunya adalah Sila Wonsiwor, mahasiswi Geografi Universitas Cendrawasih.
"Yang caleg-caleg kan, kita lihat kan tidak ada Jokowi. Kalau <link type="page"><caption> Jokowi</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/laporan_khusus/2014/06/140626_lapsus_pilpres_profil_jokowi.shtml" platform="highweb"/></link> tidak ikut, kita tidak akan memilih. Ada satu slogan gitu, tertulis bahwa orang Papua batal golput karena Jokowi," ujar Sila.
Sekitar 60 juta orang pemilih dalam pemilu presiden merupakan kaum muda, sedangkan sekitar 29 juta orang merupakan pemilih pemula.









