KPU belum pastikan nasib WNI di Hong Kong

Sumber gambar, AFP
Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum bisa memastikan apakah ratusan Warga Negara Indonesia (WNI) di Hong Kong, yang tidak sempat menggunakan hak pilih mereka dalam pemilihan presiden pada Minggu (06/07), akan diberi kesempatan mencoblos.
"Secara umum mungkin nanti Pak Sigit dan Pak Juri yang menjelaskan lebih lanjut tentang itu. Tapi yang bisa kita pastikan bahwa aktivitas pemilu yang dilakukan oleh teman-teman penyelenggara semuanya, itu pasti sesuai koridor perundangan, koridor yang memang ada dalam peraturan kami," jelas Komisioner KPU Ferry Rizki Kurniansyah di Jakarta, Senin (07/07).
Pemilihan presiden di Hong Kong hari Minggu (06/07) dihadiri oleh Komisioner KPU Sigit Pamungkas dan Juri Ardiantoro.
Hadir pula ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum Muhammad.
Kecewa
Pada pilpres di Hong Kong, ratusan WNI kecewa lantaran tidak sempat memberikan suara mereka.
Salah satunya adalah Suwartini. Perempuan yang sudah tujuh tahun bekerja di <link type="page"><caption> Hong Kong</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/multimedia/2014/07/140702_pilpres_pilpres_hongkong.shtml" platform="highweb"/></link> tersebut ingin sekali menggunakan hak suaranya. Namun keinginannya tersebut tidak tercapai.
"Sampai sana (tempat pemungutan suara) jam tiga. Antreannya masih panjang banget, masih banyak orang yang ngantre. Meskipun saya dapat surat panggilan, panggilan pemilih untuk mencoblos, tapi saya harus tetap mengisi formulir lagi mengenai alamatlah, inilah, tetek bengekgitu.
"Dan prosesnya tidak segampang yang kita pikirkan. Padahal kan pemilih banyak, seharusnya panitia memberi sarana yang lebih memudahkan kita memilih. Pelayanannya pun agak lemot," kata Suwartini.
Mekanisme rumit
Bariyah, anggota tim pemantau pemilu independen dari Migrant Care mengatakan mekanisme pemilihan yang rumit membuat banyak warga negara Indonesia tidak sempat memilih.
"PPLN (Panitia Pemilihan Luar Negeri) di Hong Kong itu bisa mengantisipasi karena membludaknya pemilih sudah terjadi sejak pagi. Akan tetapi dari pagi hingga sore ini tidak ada upaya antisipasi ataupun sedikit mempermudah proses di TPS. Ketika, misalkan, sudah deadline pukul 17.00 (TPS) prosesnya justru mudah.
"Jadi teman-teman yang punya undangan, barcode-nya hanya perlu di-scan. Kemudian teman-teman yang tidak punya undangan hanya perlu mengisi formulir kemudian langsung diverifikasi petugas dan bisa langsung ke TPS. Padahal, sejak pagi, calon pemilih harus melalui antrean database, cek formulir, dan didaftar petugas,'' ujar Bariyah kepada wartawan BBC Indonesia Rizki Washarti.









