Mengapa Asia gagal di Piala Dunia 2014?

Sumber gambar, Getty
Kekalahan Korea Selatan 0-1 dari Belgia di babak penyisihan Grup H, Jumat (26/06) dini hari, merupakan laga terakhir perwakilan Asia di Piala Dunia 2014.
Wakil benua Asia, yaitu Iran, Jepang, Australia dan belakangan Korsel, tidak ada satu pun yang lolos ke perempat final.
Yang menyedihkan, keempat negara itu tidak pernah menang dalam semua laganya selama penyisihan grup Piala Dunia Brasil.
Korea Selatan telah tampil pada sembilan piala dunia, sejak Piala Dunia 1954 di Swiss, dan merupakan contoh sukses orang-orang Asia di wilayah timur.
Tetapi Korsel saat ini tak mampu mengulang kejayaan saat tampil sebagai tuan rumah bersama Jepang di Piala Dunia 2002, ketika mereka mampu mencapai semi final.
Nasib serupa juga dialami Jepang, yang pencapaian tertingginya adalah lolos ke perempat final di Piala Dunia 2002 dan 2010 lalu, serta Australia yang mampu melangkah ke putaran 16 besar di Piala Dunia 2006.
Semi final Piala Dunia 2002
Empat tahun lalu, di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, Korsel dan Jepang mampu lolos ke perempat final, tetapi langkahnya terhenti di kaki Uruguay dan Paraguay.
Pelatih tim Korsel, Hong Myung-bo, yang menjadi kapten tim ketika mereka mencapai semi final di Piala Dunia 2002, mengatakan, sepak bola Asia saat ini berada dalam "masa transisi".

Sumber gambar, Getty

Sumber gambar, Getty
Para periode transisi ini, menurutnya, ditandai kemunculan pemain-pemain Asia yang berkembang pesat, tetapi tim nasional di masing-masing negara belum menikmati hasilnya.
"Saya berpikir, setiap tim bermain dengan gaya berbeda, tetapi secara keseluruhan ada banyak kekurangan pada tim-tim Asia," kata Mong Myung-bo, melalui seorang penerjemah, seperti dilaporkan Kantor berita AP di Brasil.
"Kami belum mencapai standar ... kami tidak cukup baik," katanya lebih lanjut.
Belum berdampak masif
Di luar penampilan timnas Korsel yang mendunia sejak belasan tahun silam, negara-negara Asia tidak memiliki pengalaman sukses di tingkat dunia.
Sejumlah kecil pemain Asia telah tampil di liga top Eropa, tetapi ini tidak berdampak secara masif di seluruh pelosok Asia, seperti yang dialami Eropa, Amerika Latin dan Afrika.

Sumber gambar, AFP
Kurangnya kompetisi tingkat tinggi di Asia juga ikut berkontribusi pada penurunan peringkat mereka di FIFA, dan terus menurun dalam setahun terakhir.
Iran, misalnya, berada di urutan 43 saat menjelang piala dunia digelar, sementara Australia di urutan 62 yang merupakan urutan terendah dibanding peserta piala dunia lainnya.
Usai dikalahkan Belgia, pelatih Korsel Mong Myung-bo akhirnya mengakui, bahwa nyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan negara-negara Asia untuk mengejar ketertinggalan dari Eropa dan Amerika Latin.
"Kita perlu bekerja keras untuk menjadi tim yang lebih baik. Tapi kami harus realistis, saat ini kami belum sebaik tim-tim Eropa atau Amerika Selatan," katanya.









