Ekonomi tumbuh sedikit di bawah target

Perekonomian Indonesia pada kuartal pertama tahun ini tumbuh 6,02% atau sedikit berada di bawah estimasi berbagai kalangan analis sebesar 6,1%.
Data Badan Pusat Statistik yang dirilis, Senin (06/05), menunjukan pertumbuhan ekonomi Indonesia berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) naik 6,02% dari Rp633,2 triliun pada kuartal pertama tahun lalu menjadi Rp671,3 triliun.
Pertumbuhan ini didukung oleh hampir semua sektor, kecuali sektor pertambangan dan penggalian yang turun sebesar 0,43%.
Sementara pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 9,98%, diikuti sektor keuangan, real estat, dan jasa perusahaan sebesar 8,35%.
Menurut ekonom Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih, melesetnya estimasi disebabkan belum adanya perbaikan dari sisi ekspor sehingga membuat necara perdagangan defisit.
Data BPS mencatat transaksi perdagangan kuartal satu 2013, defisit sekitar US$67,5 juta. Hal tersebut berbanding terbalik dengan kuartal satu 2012 yang mencatat surplus US$2,7 miliar.
"Penurunan ekspor lebih dipengaruhi faktor luar, yaitu perlambatan ekonomi dunia. Ini cukup mengkhawatirkan karena sisi impor, dalam tiga bulan terakhir, masih cenderung kuat walau sedikit tertahan," katanya kepada Christine Franciska dari BBC Indonesia, Senin (06/05).
Pada saat yang sama beberapa indikator lain dianggap bisa menahan pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 6%.
Dari sisi investasi misalnya, Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) mencatat kenaikan investasi sebesar 30,6% menjadi Rp93 triiun. "Konsumsi juga masih terpantau stabil," sambung Lana.
Bisa turun lagi
Pada kuartal kedua mendatang, Lana memperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa melambat ke level 5,8% jika ekspor - khususnya barang modal - tidak menunjukkan kenaikan berarti.
"Ada kekhawatiran investasi akan turun karena sejak Oktober tahun lalu, ekspor barang modal selalu turun. Penurunan ekspor barang modal ini biasanya akan dirasakan pada enam bulan ke depan," tambah Lana.
Sementara itu, isu penaikan harga bahan bakar minyak juga membuat berbagai kalangan menaikkan harga sehingga laju konsumsi diperkirakan juga melambat.
Namun Lana masih optimistis pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun tetap mencapai 6,2% hingga 6,3%.
"Pada kuartal ketiga konsumsi diharapkan naik sehingga dapat mengangkat pertumbuhan."
Pekan lalu, lembaga pemeringkat Standard & Poor's menurunkan prospek peringkat ekonomi Indonesia dari positif menjadi stabil dengan peringkat BB+.
Penurunan peringkat tersebut memicu penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan melemahnya nilai tukar rupiah.









