Krisis Siprus menguatkan mata uang Asia

Beberapa mata uang di kawasan Asia Pasifik terus menguat di tengah ketidakpastian tentang perkembangan krisis di Siprus yang memukul mata uang euro.
Pemerintah Siprus pada hari Selasa (19/03) <link type="page"><caption> mengkaji ulang usulan penerapan</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/03/130319_siprus_pajak_bank.shtml" platform="highweb"/></link> <link type="page"><caption> pajak deposito yang kontroversial</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/03/130319_siprus_pajak_bank.shtml" platform="highweb"/></link> dari Uni Eropa dan IMF sebagai syarat untuk bantuan keuangan.
Penolakan itu menimbulkan kekhawatiran akan ambruknya dua bank terbesar Siprus yang mendorong para investor menjauh dari euro untuk pindah ke aset yang dianggap lebih aman.
Akibatnya mata uang yen, dolar Australia maupun dolar Amerika Serikat menguat terhadap euro.
Dalam perdagangan Rabu 20 Maret, mata uang yen sempat menguat 1,4% dengan nilai hampir 122,22 yen untuk satu euro.
Sementara dolar Australia mencapai nilai tertinggi atas euro selama 10 pekan dengan S$1,24 untuk satu euro.
Sedangkan dolar AS pada hari sebelumnya sempat mencapai nilai tertinggi dalam waktu empat bulan dengan tingkat US$1,2843.
Bank masih tutup
Para pengamat mengatakan investor mengkhawatirkan kelanjutan krisis Siprus dalam beberapa hari mendatang, khususnya jika persyaratan yang ketat diberlakukan untuk mendapat paket bantuan.
"Hal itu akan membuat kotak Pandora terbuka lebar," kata Mike Moran dari Standard Chartered.
Moran menambahkan bahwa dengan ketidakpastian yang membayangi krisis Siprus maka besar kemungkinan mata uang euro akan terus melemah.
Uni Eropa dan IMF sebelumnya meminta the IMF untuk menerapkan pajak atas deposito <link type="page"><caption> guna mendapatkan bantuan sebesar 10 miliar euro</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/03/130316_siprus_dana_bantuan.shtml" platform="highweb"/></link> atau sekitar US$13 miliar.
Langkah itu sempat membuat para nasabah berlomba-lomba menarik uang mereka sebelum pemerintah meninjau kembali persyaratan itu.
Bank-bank di Siprus masih diperintahkan untuk tutup hingga Kamis 21 Maret di tengah kekhawatiran para nasabah menarik uangnya.









