Pemerintah minta penghapusan KRL ekonomi ditunda

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa meminta PT KAI mempertimbangkan kemampuan ekonomi masyarakat dalam membeli tiket kereta api terkait rencana penghapusan KRL ekonomi.
“Buat saya bukan kelasnya, kelas ekonomi atau bukan. Tapi tarif itu mencerminkan kemampuan masyarakat kita membayar (tiket kereta api),” kata Menko Perekonomian Hatta Radjasa, Rabu (27/03), menanggapi rencana PT Kereta Api Indonesia menghapus Kereta Listrik ekonomi.
"Itu harus dipikirkan," tandasnya.
Kementerian Perhubungan sebelumnya telah meminta agar PT KAI menunda penghapusan kereta rel listrik, karena pertimbangan kemampuan ekonomi masyarakat.
Direktur Jenderal Perkeretapian Kemenhub Tundjung Inderawan, Selasa (26/03), kepada media menyatakan, sebaiknya KRL ekonomi tidak dihapus sampai sistem e-ticketing terpadu selesai pada Juli 2013 nanti.
"Jika KRL ekonomi harus dihapus karena pertimbangan bisnis, monggo saja, tetapi jangan sekarang," kata Tundjung.
Sebelumnya, PT KAI menyatakan akan menghapus operasi KRL ekonomi untuk jalur Serpong dan Bekasi mulai 1 April 2013, karena alasan keamanan dan kenyamanan bagi penumpang.
Rencana ini sempat ditolak ribuan orang pengguna KRL ekonomi, melalui aksi pendudukan jalur lintasan kereta di Stasiun Bekasi, Senin (25/03) lalu.
Mereka berencana menggelar unjuk rasa susulan jika PT KAI tetap menghapus KRL ekonomi.
'Mogok ya diperbaiki'
Awal pekan ini, Direktur Utama PT KAI Commuter Jakarta, Tri Handoyo, menyatakan, penghapusan KRL ekonomi dilakukan untuk meminimalkan gangguan perjalanan KRL.

Menurutnya, berdasarkan catatan sepanjang tahun 2012 terjadi 1.228 pembatalan perjalanan KRL ekonomi, karena rangkaian kereta mengalami kerusakan, sehingga berdampak pada terganggunya 4.217 perjalanan KRL.
Menanggapi laporan tentang persoalan yang sering dialami KRL ekonomi yang sering mogok, Hatta Radjasa justru mempertanyakannya.
"Hati-hati kalau mengatakan karena sering mogok, maka (KRL ekonomi) ditiadakan. Bukan soal itu. (Dan) kalau mogok ya diperbaiki," kata Hatta.
Dalam berbagai kesempatan, Direktur Utama PT KAI Commuter Jakarta, Tri Handoyo, mengatakan, PT KAI Daerah Operasi (Daops) 1 dan pusat perawatan KRL Balai Yasa Manggarai mengalami kesulitan untuk melakukan perbaikan pada KRL ekobomi yang selama ini beroperasi, karena suku cadang tidak tersedia lagi.
Tiap hari Kereta Jabodetabek mengangkut sekitar 450 ribu penumpang. Dengan sejumlah penambahan jalur dan ratusan gerbong baru, tahun 2014 ditargetkan moda transportasi masal ini dapat mengangkut 1,2juta penumpang per hari.
Adapun tiket KRL ekonomi berkisar antara Rp1.500 dan Rp2.000, sementara tiket Commuter Line (CL) mencapai antara Rp8.000 dan Rp8.500 untuk rute Jabodetabek.









