Profil Jamaah Islamiyah

Jamaah Islamiyah, JI, sejak lama dituduh berada di balik serangkaian serangan bom di Indonesia.
Serangan paling mematikan adalah ledakan bom yang hampir bersamaan di dua klub malam di Bali tanggal 12 Oktober 2002, 202 orang tewas dan 88 diantaranya adalah warga Australia.
JI, atau sel-sel yang berafiliasi dengan kelompok ini, juga dituduh terlibat dalam sejumlah serangan dengan sasaran Kristed di Indonesia Timur, serangan bom bunuh diri di depan gedung kedutaan besar Australia bulan September 2004 dan serangan serupa ke hotel JW Marriott Jakarta bulan Agustus 2003.
Sebelum serangan tahun 2009 ke hotel Ritz Carlton, Jakarta, JI diperkirakan dalam keadaan berantakan setelah sejumlah pemimpin mereka ditangkap atau tewas.
Namun para pengamat keamanan dan pejabat Indonesia memperingatkan bahwa keberadaan jaringan di propinsi Aceh bisa menjadi indikasi kebangkitan militansi.
Tujuan JI

JI -yang berarti Organisasi Keislaman- dilaporkan dibentuk di Malaysia di akhir tahun 1980an oleh sekelompok kaum ekstrimis Indonesia yang mengasingkan diri.
Jaringan kelompok ini berkembang menjadi sel-sel yang tersebar di kepulauan Indonesia, Malaysia, FIlipina, Singapura dan Thailand. Sel-sel yang lebih kecil kemungkinan ada di wilayah lain Asia Tenggara.
Tujuan kelompok ini adalah mendirikan satu negara Islam di Indonesia dan wilayah lain Asia Tenggara.
Di tahun-tahun awal pembentukannya JI menyarankan pengunaan jalan damai dalam mencapai tujuan itu, namun pada pertengahan tahun 1990 an kelompok ini mulai mengambil jalan mempergunakan kekerasan.
Menurut David Wright-Neville dari Universitas Monash, Australia, militansi ini terbentuk sebagian karena kontak antara tokoh-tokoh JI dan personel al-Qaeda yang berada di Afghanistan ketika itu
Dibawah pengaruh al-Qaeda, JI mulai yakin bahwa tujuannya hanya bisa dicapai lewat "perang suci".
Sementara itu, sejumlah besar anggota JI tidak suka dengan banyaknya umat Muslim yang tidak bersalah menjadi korban dalam serangan-serangan bom di Indonesia.
Para pengamat keamanan di Indonesia mengatakan kelompok ini kemudian terpecah menjadi dua faksi besar: pelaku pemboman dan pengkotbah yang berusaha membawa kelompok ini mempergunakan senjata kotbah sebagai senjata utama.
Selain perpecahan internal ini, JI juga mendapat tekanan dari badan anti terorisme Indonesia, yang sringkali bekerja sama dengan negara lain seperti Amerika Serikat, Australia dan negara-negara Asia Tenggara lain.
Kekosongan pimpinan
Tekanan ini menyebabkan sejumlah tokoh utama JI tewas atau ditahan dan lebih dari 200 tersangka anggota JI ditangkap.

Abu Bakar Ba'syir, yang dituduh sebagai pemimpin spritual JI, ditahan dengan dakwaan ringan terkait serangan bom Bali tahun 2002, namun dia kemudian dibebaskan.
Kepala urusan logistik JI Riduan Isamuddin, yang juga dikenal dengan nama Hambali, ditangkap di Thailand dan sekarang ditahan di Teluk Guantanamo.
Pembuat bom senior JI Fathur Rahman al Ghozi, tewas di tangan polisi Filipina tahun 2003 dan pakar pembuat bom Azahari bin Husin tewas ditembak dalam operasi penggerebekan tempat persembunyian teroris di Jawa Timur tahun 2005.
Bulan September 2009, pihak berwenang Indonesia membenarkan kematian Noordin Mohamed Top, anggota JI asal Malaysia.
Pakar forensik Australia menuduh Noordin Top terlibat dalam serangan ke hotel Marriott tahun 2003 dan kedutaan besar Australia tahun 2004. Dia diperkirakan mengambil alih posisi operasional dan logistik yang kosong setelah pejabat sebelumnya tewas atau ditangkap.
Pada bulan Februari dan Maret 2009 sejumlah tersangka militan ditangkap dalam serangkaian operasi di pegunungan Aceh, dan pihak berwenang mengatakan kelompok yang kemungkinan memiliki hubungan dengan JI memiliki tempat latihan di sana.
Penangkapan itu diikuti dengan penembakan Dulmatin, tersangka pelaku serangan bom Bali terakhir yang diketahui, pada tanggal 9 Maret 2009.
Namun para pengamat kemunculan satu sel di Aceh bisa berarti kelompok-kelompok teroris mulai kembali muncul di Indonesia.
Sydney Jones dari ICG mengatakan kelompok Aceh tampaknya merupakan kombinasi berbagai kelompok militan termasuk JI, yang bersatu karena rasa frustasi akibat tidak ada aksi yang terjadi.
"Mereka lebih radikal, dan tampaknya menganggap diri mereka sebagai al-Qaeda Indonesia,2 ujarnya.
Pengamat lain mengatakan JI terbukti bisa bertahan dengan memanfaatkan perasaan yang secara umum ada bahwa Muslim Asia Timur menjadi korban dari konspirasi anti Islam yang dipimpin oleh Amerika dan didukung sekutu seperti Inggris dan Australia.
Pada bulan Mei 2009 ICG memperingatkan bahwa kaum ekstrimis memiliki kemampuan mengubah pegiat yang damai menjadi militan.
Hubungan al-Qaeda
Meski hubungan antara Ji dan al-Qaeda berawal sekitar 15 tahun lalu, masih ada bukti kuat yang mendukung pernyataan bahwa JI adalah "sayap al-Qaeda di Asia Tenggara," ujar Wright-Neville.
Kehadiran kaum militan Asia Tenggara secara bersamaan di kamp-kamp al-Qaeda di Afghanistan yang menyebabkan terjadi hubungan pribadi antara JI dan kelompok-kelompok Islamis garis keras Asia Tenggara.
Kelompok itu antara lain Fron Pembebasan Islam Moro, gerakan yang memperjuangkan negara Muslim di Filipina Selatan, dan sejumlah kelompok Indonesia, Malaysia dan Thailand.
Namun bukti yang ada mengisyaratkan bahwa meski sebagian personal JI terinspirasi oleh tokoh global seperti Osama bin Laden, kelompok-kelompo Asia Tenggara tetap berbeda secara organisasi dan operasi.









