Di Jamaika, buah sukun jadi makanan serba guna yang tahan cuaca ekstrem

buah sukun

Sumber gambar, Alamy

    • Penulis, Susan B. Clark
    • Peranan, BBC Travel

Di tengah semakin parahnya cuaca ekstrem, masyarakat Jamaika mulai melirik pada sumber makanan lokal yang dapat diandalkan, yaitu sukun yang padat nutrisi dan serbaguna.

Tercium aroma manis dari buah mangga dan markisa yang matang di pohon di tengah udata Jamaika yang lembab.

Asap mengepul dari api unggun, yang di atasnya terdapat sukun hijau utuh sedang dipanggang di samping panci yang mendidih dengan kuah – sup gurih yang terbuat dari santan, tomat, rempah-rempah, dan makarel.

Sebuah meja di dekatnya dipenuhi nampan berisi irisan sukun panggang dan ikan kakap merah. Ada juga kue dan roti gulung yang terbuat dari tepung, dari pohon sukun.

Makanan-makanan itu disiapkan untuk sekelompok ahli botani internasional, yang mengunjungi Paroki Portland di timur laut Jamaika untuk mempelajari pentingnya sejarah, budaya, dan ekonomi dari pohon sukun.

Sukun adalah makanan yang murah dan bergizi bagi para budak Afrika yang bekerja di perkebunan gula milik Inggris. Awalnya, sukun dibawa ke Jamaika dari Kepulauan Pasifik oleh HMS Bounty pada tahun 1794.

Pohon-pohon sukun tumbuh dengan cepat dan menghasilkan buah dalam satu tahun penanaman, menghasilkan 200 hingga 400 buah per tahun, seukuran jeruk bali besar atau semangka kecil.

Sukun mengandung sembilan asam amino esensial dan merupakan sumber serat, protein, serta beberapa mineral dan vitamin yang baik.

Berabad-abad sejak diperkenalkan, pohon sukun melimpah di seluruh Jamaika, dan buah ini telah menjadi makanan pokok masakan negara tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir sukun semakin diminati sebagai pilihan yang bergizi dan serbaguna, serta memberikan manfaat kesehatan dan ekonomi.

Ketika masyarakat mencari sumber pangan yang lebih berkelanjutan, lokal, dan sehat – terutama yang tahan terhadap cuaca ekstrem (pohon sukun yang rusak akibat badai dapat tumbuh kembali), sukunlah jawabannya.

Biasanya sukun dimakan sebagai lauk dan dijadikan sayur, tetapi sukun juga paling sering dipanggang, dikupas, dan diiris. Rasanya agak manis, dengan kualitas kenyal seperti roti (sesuai dengan namanya).

Teksturnya yang lembut dan bertepung mirip dengan sayuran umbi-umbian seperti kentang atau singkong.

buah sukun di pohon

Sumber gambar, Getty Images

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Caroline de Lisser adalah pecinta sukun yang tinggal di Teluk Montego dan saat ini sedang mengerjakan buku masak resep sukun.

Dia menjelaskan, "Semua orang Jamaika menyukai sukun, dan praktis ada pohon di setiap halaman. Bagi saya, rasanya seperti kacang kastanya panggang yang sangat lembut dipadukan dengan roti yang enak."

Cynthia, biasa dipanggil, membuka restoran eponymous-nya di Pantai Winnifred di Paroki Portland pada 26 tahun lalu dan telah menyajikan sukun sejak hari pertama.

“Sukun itu seperti nasi atau kentang, bisa dipanggang, direbus, atau digoreng,” jelasnya. “Kita bahkan bisa membuat kue dan minuman dari sukun.”

Cynthia menyadari peningkatan popularitas buah ini dalam beberapa tahun terakhir. “Bisa dimakan dengan daging apa saja dan tanpa daging,” jelasnya.

Di dapur terbukanya di tepi pantai, Cynthia memanggang sukun utuh di atas api terbuka selama sekitar 20 menit, hingga pisau dapat dengan mudah menembus sukunnya.

Setelah mengeluarkannya dari api, dia mengupas kulitnya dengan pisau besar, membuat lubang, dan memotong sisa daging menjadi irisan. Sepotong sukun hangat yang baru dipanggang adalah suguhan camilan yang lezat.

“Cara favorit saya adalah dengan memanggangnya dan membuatnya secara alami [tanpa ditambah apapun]. Rasanya sangat enak, manis, dan menggugah selera.”

Sukun dipanggang di atas api kayu tradisional.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Sukun dipanggang di atas api kayu tradisional.

Namun, Cynthia biasanya menyajikan sukun panggang sebagai pelengkap hidangan lainnya. “Salah satu hidangan favorit kami di Jamaika adalah ackee (buah kecil berwarna kemerahan yang dimakan seperti sayur) dan ikan asin dengan sukun,” katanya.

“Saya [juga] menyajikan sukun dengan ayam goreng, kari ayam, kari lobster, dengan makanan tradisional Jamaika, ikan goreng, dan escovitch (ikan goreng yang dimarinasi dengan cuka)”.

Sukun juga bisa diolah menjadi tepung, sehingga menjadi alternatif bebas gluten untuk dipanggang.

Karlene Johnson menggunakan tepung tersebut di toko rotinya yang bernama Something Country, di luar Kingston.

Camilannya meliputi bulla (makanan ringan seperti kue yang dibuat dengan molase), bammies (roti pipih yang berasal dari masyarakat adat Taíno di pulau itu) dan kue oatmeal.

“Secara historis, sukun itu penting,” ujarnya. “Secara budaya, setiap warga Jamaika dapat mengidentifikasinya sebagai bagian dari pengalaman gastronomi mereka.

Baca juga:

Secara ekonomi, Jamaika mendapat manfaat dari penjualan buah mentah dan produk olahan lainnya secara lokal dan internasional.”

Meskipun terdapat banyak sukun, ikan, dan produk segar lainnya yang tersedia di pulau tersebut, sebagian besar makanan yang dikonsumsi di Jamaika diimpor, menurut laporan tahun 2022 dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO).

Hal ini telah menciptakan kerawanan pangan dan inflasi harga; badai mengganggu pengiriman, dan kekeringan serta banjir di tempat lain di dunia menaikkan harga.

Menurut Organisasi Meteorologi Dunia, Karibia telah mengalami peningkatan badai hebat sebesar 25% sejak 1980, seiring dengan kenaikan suhu dan permukaan laut.

Selain itu, menurut laporan FAO, sebagian besar makanan impor tersebut diproses, sehingga menyebabkan peningkatan masalah kesehatan seperti hipertensi dan diabetes.

Makanan tradisional Jamaika yang menggunakan sukun.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Makanan tradisional Jamaika yang menggunakan sukun.

Ketika pandemi Covid mengganggu rantai pasokan di seluruh dunia, masyarakat Jamaika mengalami kekurangan pangan.

“Covid adalah peringatan besar. Kita tidak cukup menanam pangan kita sendiri di sini di Jamaika; banyak yang diimpor,” kata de Lisser.

“Selama masa Covid, kami mulai menanam pangan lagi. Dan sukun adalah sumber makanan yang luar biasa. Bagi saya, ini adalah pohon kehidupan. Saya menyukainya.”

Mary dan Michael McLaughlin dibesarkan di Jamaika dan mendirikan Trees That Feed Foundation pada 2018 dengan misi menanam pohon yang bisa menghasilkan bahan makanan untuk manusia, menciptakan lapangan kerja, dan bermanfaat bagi lingkungan.

Sejak awal berdirinya, yayasan ini telah mendonasikan sekitar 90.000 pohon sukun di Jamaika kepada ribuan petani. “Pohon ini sehat, makanan yang dihasilkan bergizi, dan ramah iklim,” kata Mary.

“Sukun dapat mengurangi ketergantungan negara terhadap pangan impor yang mahal dan mengarah pada pembangunan ekonomi berkelanjutan.” Sumbangan pohon yang diberikan oleh yayasan meningkat dua kali lipat selama masa Covid, seiring masyarakat mencari sumber pangan yang lebih berkelanjutan.

Sukun panggang disajikan dengan sayuran.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Sukun panggang disajikan dengan sayuran.

Ketika masyarakat Jamaika beralih fokus ke makanan lokal dan berkelanjutan, potensi pertumbuhan ekonomi negara tersebut meningkat. Sukun paling baik dipanggang saat hampir matang, dan cepat rusak setelah dipetik.

Secara historis, sukun segar belum menjadi kandidat yang baik untuk diekspor karena umur simpannya pendek.

Namun, sukun panggang dalam kemasan bisa menjadi solusi bagi masyarakat Jamaika yang tidak memiliki ruang untuk memanggang dengan api terbuka atau waktu untuk memanggang, mengupas, dan menyiapkan sukun dari awal, serta memungkinkan pengunjung dan penggemar di luar negeri untuk membuat ulang hidangan sukun favorit mereka di rumah.

Anda sekarang dapat membeli tepung sukun, keripik sukun, kerupuk sukun, campuran kue, dan bahkan vodka sukun di Jamaika, di seluruh Karibia, dan secara online.

Karena sukun serbaguna, de Lisser telah bereksperimen dengan cara yang tidak terlalu tradisional dalam menggunakannya.

“Saya mengukus sisa sukun panggang dan memblendernya dengan santan, bubuk kakao, dan sirup maple, lalu membuat mousse coklat dengan tekstur yang luar biasa,” ujarnya. “Saya berhasil membuat kue wortel, kue coklat, dan kue buah.”

World’s Table BBC.com mengubah cara berpikir dunia tentang makanan, dari masa lalu, sekarang, dan masa depan.

Versi bahasa Inggris dari artikel ini yang berjudul Breadfruit: The Caribbean's hurricane-resistant food dapat Anda baca di BBC Travel.