Bermain lompat karet hingga gobak sodor di GBK – Permainan tradisional jadi ajang nostalgia sekaligus soroti kebutuhan ruang terbuka hijau

Salah satu anggota Komunitas Bermain main lompat karet di Parkir Timur, Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (11/07)

Sumber gambar, Dicky Kurniawan

Keterangan gambar, Salah satu anggota Komunitas Bermain main lompat karet di Parkir Timur, Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (11/07)
Waktu membaca: 13 menit

Melalui permainan tradisional yang rutin diselenggarakan di Gelora Bung Karno, warga Kota Jakarta dan sekitarnya bisa bernostalgia. Tak hanya itu, permainan tersebut membuktikan keberadaan ruang terbuka hijau dibutuhkan warga sebagai sarana penunjang kebahagiaan di tengah hiruk pikuk dan sumpeknya kawasan urban.

"Bisa, bisa, bisa!" suara sejumlah orang serempak terdengar dari sudut Parkir Timur, kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Jumat (11/07).

Mereka menyemangati seorang anggota kelompoknya yang tengah mengambil ancang-ancang melompati bentangan karet di hadapannya. Targetnya, pemain tidak boleh mengenai karet ketika lompat melewatinya.

Penuh konsentrasi, Lusiana M. Torr (39) berlari dan melompat melampaui karet setinggi 80 cm tanpa menyenggolnya. Sebagian anggota kelompok sontak bertepuk tangan meriah.

"Ini permainan saya pas kecil. Bisa dibilang jago lah dulu main karet," ucap Lulu, sapaan akrab Lusiana kepada wartawan Riana A Ibrahim yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Seorang perempuan sedang bermain lompat karet

Sumber gambar, Dicky Kurniawan

Keterangan gambar, Permainan lompat karet menjadi favorit anggota Komunitas Bermain yang berkegiatan tiap Jumat malam di Parkir Timur, Gelora Bung Karno, Jakarta

Selain mengulik memori masa kecil, Lulu rupanya punya misi lain bergabung bersama puluhan orang baru di Komunitas Bermain yang rutin melakukan kegiatan setiap Jumat malam di area GBK.

"Ingin gaul sama anak. Istilahnya bonding. Sekaligus membantu anak saya untuk bisa bersosialisasi," tutur Lulu.

Lulu dan putrinya, Sophia Torr (15), memanfaatkan moda transportasi kereta rel listrik dari Jurang Mangu di Tangerang Selatan menuju Palmerah, Jakarta. Dari Palmerah, keduanya berjalan kaki sampai areal GBK.

"Setelah ikut ini, hubunganku dengan Mama jadi lebih baik. Bisa bersenang-senang bersama. Bisa punya waktu untuk ngobrol juga. Biasanya kami sering berantem," ungkap Sophia.

Fajriyah Nur Mutmainnah Arsy (22) juga selalu meluangkan waktu Jumat malam selepas bekerja dari kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, untuk mampir bermain. Sudah sejak 2024, ia rutin hadir meski harus pulang malam ke rumahnya di wilayah Marunda, Jakarta Utara

"Benar-benar melepas stres. Bebannya lepas semua, apalagi di sini ketemu orang baru yang enggak tahu latar belakang kita. Kayak masa kecil aja, enggak cuma permainannya, tapi interaksinya juga. Pas kecil, kita kan welcomeaja main sama anak kecil yang enggak kita kenal, enggak saling menghakimi. Ini juga begitu. Main aja," tutur Muti.

Sosiolog UGM, Oki Rahadianto Sutopo berpandangan konteks kembali ramainya permainan masa kecil ini bukan semata-mata nostalgia.

Menurut Oki, fenomena ini terjadi karena "kebutuhan sense of collectivity karena tingginya kompetisi dan individualisme di kehidupan perkotaan".

Bagaimana Komunitas Bermain bermula?

Komunitas Bermain yang digagas Akihiko Akira bersama Iqbal sejak Agustus 2024 ini berawal dari sebuah unggahan di Tik Tok.

Kiko, panggilan Akihiko Akira, mengunggah dirinya ikut bergabung dengan orang-orang di GBK yang sedang bermain lompat karet.

"Aku suka banget dulu main lompat karet saat kecil. Waktu itu, ada yang main bareng, aku ikutan dan posting. Ternyata masuk FYP. Setelah itu, kepikiran untuk bikin komunitas. Jadi, kalau yang dibilang pertama main karet di GBK, bukan aku. Tapi untuk komunitasnya, iya," jelas Kiko.

Dua orang sedang melakukan suit

Sumber gambar, Dicky Kurniawan

Keterangan gambar, Suit monopoli merupakan salah satu permainan yang dimainkan oleh Komunitas Bermain tiap Jumat malam di Parkir Timur, Gelora Bung Karno, Jakarta.

Dari hanya sekitar 10 orang, lama-kelamaan komunitas ini disambangi banyak orang yang berkunjung ke GBK.

Saat ini, sekitar 3.146 orang yang tergabung di Komunitas Bermain mengacu pada jumlah anggota grup di Telegram. Aplikasi pesan instan ini diaktifkan untuk memberikan informasi kegiatan yang akan dilaksanakan dan berkoordinasi sesama anggota.

Semua orang bisa dengan mudah ke dalam grup. Setelah bergabung, anggota baru diminta menyebutkan nama, asal domisili, dan tujuan ikut komunitas. Dari situ, mereka bisa berinteraksi bahkan mencari teman yang satu domisili atau lokasi kerjanya berdekatan untuk berangkat bersama ke GBK di hari Jumat.

"Enggak harus masuk grup juga. Lagi di GBK, terus mau langsung ikutan main juga boleh banget. Kami enggak membatasi dan ini gratis. Kami tidak pungut biaya apapun. Tapi memang semakin banyak orang, permainannya dicari yang bisa dimainkan bersama," jelas Kiko.

Empat orang perempuan sedang bermain bekel

Sumber gambar, Dicky Kurniawan

Keterangan gambar, Permainan bekel juga dimainkan di Komunitas Bermain yang berkegiatan tiap Jumat malam di Parkir Timur, Gelora Bung Karno, Jakarta

Permainan yang dimainkan saat Friday Night Fun—sebutan kegiatan bermain tiap Jumat malam—pun dikembangkan. Dari ular naga, suit monopoli, gobak sodor, si kaya dan si miskin, sampai bentengan dimainkan sesuai kesepakatan dengan orang-orang yang berpartisipasi di hari itu. Biasanya, sekitar 75-100 orang yang datang bermain di hari Jumat tersebut.

Komunitas Bermain juga sesekali hadir di Car Free Day di kawasan Thamrin, Jakarta. Namun, jenis permainannya disesuaikan dengan ketersediaan lokasi.

Selanjutnya, tiap domisili kini juga memiliki koordinator yang disebut sebagai 'ketua kelas', mereka bisa menyelenggarakan kegiatan masing-masing di daerahnya sendiri.

Belakangan, Komunitas Bermain merambah ke Bandung, Yogyakarta, dan sebentar lagi sedang menjajaki peluang di Palembang.

Bahkan kini, Komunitas Bermain mulai dilirik oleh sejumlah jenama untuk ikut mengisi acara mereka. Misalnya, beberapa waktu lalu Uniqlo mengajak komunitas ini untuk melakukan kegiatan di acara yang diselenggarakan jenama pakaian asal Jepang ini.

"Kalau seperti itu, brand yang approach dan kami hanya datang mengisi saja," ungkap Kiko.

Dari awal didirikan, tujuan Kiko ingin punya wadah untuk main bersama dan bersenang-senang seperti masa kecil yang juga bisa menjadi sarana melepas penat dan membangkitkan kebahagiaan dengan bebas bergerak.

Seorang pria menjajal melompati karet

Sumber gambar, Dicky Kurniawan

Keterangan gambar, Seorang pria menjajal melompati karet saat bermain bersama Komunitas Bermain di Parkir Timur, Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (11/07)
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Sosiolog UGM, Oki Rahadian Sutopo, menjelaskan komunitas yang mengusung tema permainan ini menarik minat karena "dampak dari kultur kerja masyarakat urban yang minim sense of playing".

"Isinya kompetisi. Permainan ini, baik yang tradisional atau modern, sebenarnya juga berkompetisi karena ada menang dan kalah, tapi sensenya bermain. Seperti saat kecil, kalah ya enggak masalah. Bedanya dalam kultur kerja ini kompetisinya kan bukan sense of playing yang mendorong orang dewasa untuk terus bekerja," tutur Oki.

Hal ini yang kemudian mendorong individualisme yang tinggi pada orang-orang yang hidup di perkotaan. Menariknya, fenomena tren permainan tradisional yang dibangkitkan Komunitas Bermain ini menghidupkan individualisme ke arah kolektivisme.

Orang-orang yang tidak saling kenal, lanjut Oki, memiliki keresahan dan persoalan yang sama, lalu berkumpul melakukan kegiatan bersama untuk menemukan kembali sense of collectivity dari permainan tradisional yang memang menawarkan hal tersebut.

"Rasanya, ini bukan sekadar nostalgia atau kerinduan masa lalu, atau sekadar eskapisme dari gadget," ujar Oki.

Apa yang dicari kaum urban?

Kemunculan Komunitas Bermain menggarisbawahi kebutuhan warga urban untuk bebas bergerak di ruang terbuka publik yang terjangkau. Ini terbukti dari antusiasme para pengikut Komunitas Bermain. Dari para generasi 90-an, anak-anak generasi Z, sampai terlihat sejumlah generasi Alpha yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar ikut bermain.

"Kami memang enggak membatasi umur. Bahkan ada anak autis juga yang ikut, karena menjadi semacam terapi bermain dan bersosialisasi juga untuk dia dari penjelasan orangtuanya," ujar Kiko.

Komunitas lain berbasis olahraga yang tak memungut bayaran, seperti Skolari, juga masih diminati banyak orang. Novi Eastiyanto dari Skolari menyampaikan latihan tiap Kamis malam di Gate B GBK selalu ramai didatangi peminat. Ada saja anggota baru yang bergabung ke komunitas yang sudah berdiri sejak 2018 ini.

Kegiatan pound fit di Gelora Bung Karno, Jakarta yang digelar Rocca Space

Sumber gambar, Dokumen Rocca Space

Keterangan gambar, Kegiatan pound fit di Gelora Bung Karno, Jakarta yang digelar Rocca Space

Rocca Space yang dijalankan Julia Nurdin hampir 7 tahun ini juga masih diminati meski berbayar. Dari kelas pound fit, zumba, pilates, zumba, k-pop dance, hingga cardio dance diincar para pekerja usai merampungkan tugasnya di kantor. Keinginan untuk sehat dan melepas stres disalurkan melalui gerak tubuh.

Sosiolog UGM, Oki Rahadianto Sutopo, menyampaikan situasi ini relevan terjadi di masyarakat urban yang selama ini terbelenggu di gedung atau tempat tertutup. Bahkan tempat tinggalnya pun kerap tak menawarkan ruang terbuka yang memadai untuk melakukan aktivitas fisik yang leluasa.

"Hidupnya di apartemen, misalnya di kota besar. Mau main permainan tradisional seperti gobak sodor kan enggak mungkin. Atau kalau ada tempatnya, ngumpulin orangnya juga susah. Komunitas bisa jadi jalan keluar dan akhirnya bertumbuh kan belakangan," ujar Oki.

"Olahraga seperti lari, sepeda, aerobik, atau yoga di tempat terbuka juga laku karena menawarkan suasana yang berbeda. Kegiatan Car Free Day masih ada dan tetap diminati itu juga karena kebutuhan bergerak di ruang terbuka yang tinggi," imbuhnya.

Komunitas Skolari berlatih lari di Gelora Bung Karno, Jakarta

Sumber gambar, Instagram Skolari

Keterangan gambar, Komunitas Skolari berlatih lari di Gelora Bung Karno, Jakarta

Kiko yang sehari-hari tinggal di apartemen dan harus bertarung dengan kemacetan dari Thamrin menuju Sunter, Jakarta untuk bekerja membuat waktunya habis di perjalanan. Kesempatan untuk bersosialisasi menjadi terbatas. Kebetulan, rekannya, Iqbal yang sama-sama swifties—penggemar Taylor Swift-—memiliki ketertarikan yang sama sehingga Komunitas Bermain terwujud.

"Setelah dijalani, banyak juga orang yang merasakan hal yang sama, butuh bisa bermain bareng, butuh suasana ruang terbuka. Stres ya kalau lihat tembok terus. Ini berdampak juga ke mental health ternyata," ungkap Kiko.

Bagaimana aksesibilitas ruang terbuka di kawasan urban?

Berbicara mengenai ruang terbuka hijau di kawasan urban, Jakarta hingga saat ini masih berjibaku dalam pemenuhannya. Sesuai Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, wilayah perkotaan diatur memiliki ruang terbuka hijau minimal 30% dari luas wilayahnya.

Sejak adanya regulasi tersebut hingga kini, ruang terbuka hijau di Jakarta baru terpenuhi 5,44% dengan cakupan terluas berada di Jakarta Timur.

Peta ruang terbuka hijau Jakarta

Sumber gambar, jakartasatu.jakarta.go.id

Keterangan gambar, Peta ruang terbuka hijau Jakarta

Di tengah terbatasnya jumlah ruang terbuka hijau, warga juga terkendala dengan aksesibilitas. Salah satunya adanya pungutan yang diberlakukan sebagian tempat.

Beberapa waktu lalu, Komunitas Bermain sempat berhenti sementara karena mengaku dipatok tarif sebesar Rp1,9 juta untuk sekali menggunakan satu area di kompleks GBK. Kiko dan teman-teman mempermasalahkan hal ini mengingat kegiatan yang dilakukan bukan komersil dan tidak berbayar.

Mereka pun membandingkan dengan kegiatan Komunitas Bermain di kota lain yang tidak berbayar. "Di Bandung, kami hanya urus izin dan tidak ada bayaran. Kalau di Yogyakarta, malah bisa langsung saja, karena itu ruang terbuka yang bebas diakses publik ya," kata Kiko.

Belakangan, Komunitas Bermain mencoba untuk berpindah lokasi ke Lapangan Banteng, Jakarta. Namun, izinnya belum keluar hingga hari Jumat (04/07) sehingga pekan itu kegiatan Fun Night Friday ditiadakan sementara.

Saat ini, pascapertemuan Komunitas Bermain dengan pihak GBK, aktivitas bisa dilakukan lagi tanpa ada kewaijban dari komunitas untuk membayar iuran.

Melalui akun instagram @love_gbk, pihak GBK juga menyatakan tidak ada iuran yang dikenakan pada komunitas yang tidak bersifat komersil.

Akan tetapi, permintaan mengenai iuran ini pernah dibicarakan oleh sebagian komunitas. Novi Eastiyanto mengungkapkan Skolari juga pernah diminta semacam biaya sewa ini, tepatnya bulan lalu. Saat itu, ada permintaan sebesar Rp1 juta untuk sekali pemakaian di lokasi Gate B. "Tapi sekarang sudah enggak ada."

Suasana kawasan stadion utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan

Sumber gambar, Kompas.com/Hanifah Salsabila

Keterangan gambar, Suasana kawasan stadion utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan

BBC News Indonesia mencoba mengirimkan surat elektronik kepada pihak GBK untuk meminta daftar harga sewa sejumlah titik di GBK. Balasan dari pihak GBK hanya memberikan tautan reservation.gbk.id untuk mengetahui informasi lengkap mengenai biaya, venue, dan jadwal.

Ketika dicoba, hanya ada sejumlah tempat yang memasang harga secara pasti.

Untuk tempat terbuka, seperti Hutan Kota, Plaza Tenggara, Plaza Timur, Plaza Barat, Parkir Timur, dan sejumlah Gate tidak tersedia basis biaya. Di laman tersebut, tertulis, "Harga belum diatur. Silakan hubungi admin."

Julia Nurdin dari Rocca Space yang rutin menyelenggarakan aktivitas berbayar menjelaskan, penghitungan biaya sewanya dihitung per meter persegi. Dari pengalamannya, biaya per meter persegi sekitar Rp 17.500. Namun besaran penggunaannya bisa disesuaikan.

"Biaya sewa itu kan hitungannya untuk 24 jam. Kami kan pakainya sudah termasuk loading in dan loading out itu cuma sekitar empat jam. Ini kemudian ada kesepakatan untuk hitungan per meter perseginya dikurangi. Misal dari 300 meter persegi, bayar untuk 100 meter persegi aja," jelas Julia.

"Hitungan juga bisa berbeda saat ada brand yang kerja sama. Sistemnya bisa dari brand langsung atau dari kami juga bisa. Kami yang penting fair aja karena area yang kami pakai juga butuh biaya untuk operasional kan," tambah Julia.

Julia pun berpendapat banyak komunitas nonkomersil yang tumbuh karena pengaruh media sosial. Mereka memperoleh banyak pengikut hingga kesepakatan bisnis dari viral di media sosial.

Menurut Julia, ketika audience sudah terbentuk dan menarik minat jenama atau perusahaan untuk berbisnis dengan komunitas tersebut maka tidak adil jika pemilik tempat tidak memperoleh keuntungan juga.

"Sekalipun kegiatan sehari-harinya bisa saja tidak komersil, tapi karena mereka punya audience yang solid, maka pihak ketiga willing untuk bertransaksi dengan mereka sehingga yang semula tidak komersil, menjadi komersil.

Kendati demikian, Julia tetap mendorong ruang terbuka hijau yang mudah diakses, terjangkau, dan bebas dimanfaatkan oleh warga.

Bagaimana upaya pemerintah?

Tim transisi Pramono-Rano bidang Kebijakan Publik, Nirwono Joga, menjelaskan pentingnya komunitas untuk menghidupkan ruang terbuka hijau di kawan urban. Bahkan komunitas nonkomersil disebutnya berpotensi menghidupkan taman sehingga harus didukung dan difasilitasi. "Seperti yoga di taman itu kan bagus untuk menghidupkan taman."

Tahun ini, Nirwono menuturkan ada 21 taman yang dikerjakan oleh masing-masing suku dinas di lima wilayah Jakarta. Meski luasannya tergantung pada ketersediaan lahan.

Saat ini, lokasi yang masih bisa dikembangkan untuk menambah ruang terbuka hijau berada di Jakarta Timur dan Jakarta Barat. Untuk Jakarta Utara dan Jakarta Pusat, diakui ketersediaan lahan cukup menipis karena sudah penuh bangunan pemukiman.

Upaya penambahan kemudian melalui jalur hijau, seperti di koridor jalan atau tepi bantaran sungai. "Secara teknis, memang diharapkan dalam waktu singkat bisa bertambah perlahan sekitar 1%. Kami terus berdiskusi juga dengan suku dinas," ungkap Nirwono.

Informasi Ruang Terbuka Hijau Provinsi DKI Jakarta

Sumber gambar, jakartasatu.jakarta.go.id

Keterangan gambar, Informasi Ruang Terbuka Hijau Provinsi DKI Jakarta

Upaya membuka taman selama 24 jam juga diakuinya menjadi cara agar ruang terbuka hijau mudah diakses. Sejauh ini, ada Taman Menteng dan Taman Lapangan Banteng di Jakarta Pusat, serta Taman Ayodya, Taman Langsat, dan Taman Literasi Martha Christina Tiahahu di Jakarta Selatan.

Sejumlah taman seperti Taman Cattleya di Jakarta Barat, Taman Humaniora di Jakarta Timur, dan Taman Gorontalo di Jakarta Utara sedang dikembangkan. Mengenai keamanan, Nirwono menyebut kamera pengawas dan lampu penerangan dioptimalkan agar sudut-sudut taman terlihat dengan jelas.

Tujuan dari operasional selama 24 jam ini agar para pekerja juga bisa mengakses atau melepas penat di taman selepas bekerja. Nirwono mengambil contoh beberapa kota seperti Melbourne dan Singapura yang warganya memiliki akses ruang terbuka hijau secara mudah dan ada kegiatan terjadwal yang bisa diikuti.

"Kemudahan ini mencakup segala macam administrasi Tidak perlu ribet-ribet minta izin atau sampai harus membayar biaya keamanan. Ini yang menurut saya harus diutamakan. Karena kalau kita berhasil mendorong banyak komunitas, maka bisa dipastikan seluruh taman-taman yang ada itu akan hidup dan muncul budaya bertaman," tutur Nirwono.

Orang-orang tengah bermain di taman di Argentina

Sumber gambar, Getty Images/Frazao Studio Latino

Keterangan gambar, Orang-orang tengah bermain di taman di Argentina

Terkait persoalan keamanan, Julia Nurdin dari Rocca Space mengungkapkan ini menjadi sesuatu yang penting. Ia pun bercerita pihaknya pernah mengalami bentuk pelecehan terhadap peserta kegiatannya.

"Ada yang mengambil foto mereka yang sedang yoga. Dari yang memotret dari jarak jauh sampai benar-benar nontonin dan motret dari dekat sekali," beber Julia.

Kaitan ruang terbuka hijau dengan kebahagiaan warga

Berdasarkan pada laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bertajuk 'Green and Blue Spaces and Mental Health: New Evidence and Perspectives for Action', taman, hutan, padang rumput, dan ruang hijau perkotaan lainnya seperti alun-alun komunitas hijau atau jalan hijau dapat meningkatkan kesehatan mental.

Dari orang-orang yang diminta mengisi kuesioner, mereka lebih memilih ruang terbuka hijau yang menawarkan tingkat keterlibatan aktif sesama manusia. Rekomendasi dari WHO minimal tersedia 9 meter ruang hijau per kapita.

Sayangnya, di sejumlah kota besar di Indonesia, ini belum terpenuhi. Ruang terbuka hijau belum dianggap prioritas karena kalah oleh desakan ekonomi.

Merujuk pada Happy City Index 2025, terdapat sejumlah kota yang disebut paling bahagia. Antara lain, Kopenhagen di Denmark, Zurich di Swiss, Aarhus di Denmark, Singapura di Singapur, dan Antwerp di Belgia.

Dari data yang dihimpun, ruang terbuka hijau mencapai lebih dari 30% diikuti dengan kebijakan 'Copenhagen Tree Planting Policy' dan 'Green Planning Tool' untuk mendorong ruang terbuka hijau yang makin masif.

Luas wilayah Kopenhagen sendiri 178,9 kilometer persegi atau empat kali lebih kecil dibanding Jakarta yang luas wilayahnya sekitar 661,5 kilometer persegi. Jumlah penduduk Kopenhagen juga empat kali lebih sedikit dibandingkan Jakarta yang mencapai 11,5 juta jiwa.

Sementara itu, Zurich juga memiliki ruang terbuka hijau di atas 30% luas wilayahnya. Aarhus justru ruang terbuka hijaunya lebih dari 50% luas wilayahnya. Singapura dan Antwerp secara persentase ruang terbuka hijaunya masih minim tapi keberadaan ruang terbuka hijaunya cukup optimal dan terjangkau bagi warganya.

Reportase dilakukan oleh Riana A Ibrahim dan Dicky Kurniawan