Kongres PSSI: 'Orang-orang lama' kembali jabat komite eksekutif - 'PR berat Erick Thohir yang ingin bersih-bersih'

Sumber gambar, ANTARA FOTO
Misi Erick Thohir untuk “bersih-bersih” setelah terpilih sebagai Ketua Umum Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) dinilai pengamat dan suporter sepak bola akan menghadapi "tantangan berat" setelah terpilih kembalinya sejumlah "orang-orang lama" pada posisi komite eksekutif.
Hasil Kongres Luar Biasa (KLB) pada Kamis (16/2) malam menunjukkan bahwa dari 12 orang komite eksekutif yang terpilih, enam di antaranya adalah “orang-orang lama” dari kepengurusan sebelumnya yang menurut pengamat sepak bola dari Save Our Soccer Akmal Marhali “semestinya bertanggung jawab” atas tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang.
Padahal rekomendasi Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) pun telah merekomendasikan mereka untuk mundur.
“Itu artinya kan bermasalah ketika tidak mundur malah maju lagi dan terpilih. Dari delapan [komite eksekutif] yang maju lagi, hanya dua yang gagal dan enam tetap masuk,” kata Akmal kepada BBC News Indonesia.
“Ini akan menjadi pekerjaan rumah berat bagi Erick Thohir yang ingin bersih-bersih dan ingin sepak bola berprestasi,” sambung dia.
Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) Ignatius Indro pun “menyesalkan masih adanya nama-nama lama” di dalam daftar komite eksekutif PSSI yang dia sebut “berpotensi menjadi duri dalam daging” untuk pembenahan sepak bola di Indonesia.
“Apalagi masih ada orang-orang seperti Ahmad Riyadh yang sebelumnya duduk sebagai Ketua PSSI Jawa Timur yang seharusnya bertanggung jawab juga terhadap tragedi Kanjuruhan,” ujar Indro.
Padahal pengurus PSSI yang baru memiliki sejumlah tugas berat, terutama mengembalikan kepercayaan publik setelah terjadinya tragedi Kanjuruhan yang “menggambarkan seluruh problematikan tata kelola sepak bola” di Indonesia.
Tugas berat lainnya adalah memberantas mafia sepak bola serta praktik pengaturan skor yang dianggap “masih mewarnai” kompetisi di dalam negeri.
Sementara itu, Erick Thohir dalam pernyataannya setelah terpilih menyatakan bahwa prioritas utamanya adalah “membangun sepak bola yang bersih dan berprestasi”.
Siapa saja yang terpilih dan bagaimana dinamikanya?

Sumber gambar, ANTARA FOTO
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Hasil Kongres Luar Biasa (KLB) yang digelar di Hotel Shangri-La Jakarta, menetapkan Erick Thohir sebagai ketua umum dalam pemilihan yang hanya berjalan selama 38 menit.
Gejolak dalam KLB muncul ketika pemilihan wakil ketua umum. Dari 16 calon Wakil Ketua Umum PSSI, hasil pemilihan mulanya menetapkan Zainudin Amali dan Yunus Nusi yang terpilih dengan perolehan 66 suara dan 63 suara.
Keduanya mengalahkan mantan Sekretaris Jenderal PSSI Ratu Tisha Destria yang ada pada urutan ketiga berdasarkan perolehan suara.
Namun hasil itu menuai protes keras dari para pemilih yang menilai “banyak suara yang hilang”. Salah satunya disuarakan oleh perwakilan Persiba Balikpapan Togar Simanjuntak.
Pemilihan waketum pun akhirnya diulang dengan hasil Ratu Tisha meraih 54 suara, Yunus Nusi mendapat 53 suara, dan Amali mengumpulkan 44 suara.
Belakangan, Yunus Nusi memilih mengundurkan diri sebagai waketum PSSI.
“Demi kita bersama, demi masa depan sepak bola. Niat baik saya ini mohon untuk diizinkan komite pemilihan,” kata Yunus.
Usai pengunduran diri itu, maka Ratu Tisha Destria dan Zainudin Amali dipastikan menjabat sebagai wakil ketua umum.
Sementara itu, 12 komite eksekutif yang terpilih yakni Eko Setiawan, Endri Erawan, Juni Rahman, Muhammad, Rudi Yulianto, Sumardji, Vivin Cahyani, Pieter Tanuri, Arya Mahendra, Khairul Anwar, Ahmad Riyadh, dan Hasnuryadi.
Pemilihan waketum yang diwarnai “kekisruhan” itu pun oleh Akmal dinilai “mengindikasikan manipulasi suara”.
Menurut dia, pemilihan suara ulang semestinya dilakukan begitu Yunus mengundurkan diri, namun yang terjadi justru Amali langsung didapuk sebagai Wakil Ketua Umum 2.
Meski Yunus dia pandang “memiliki rekam jejak buruk” dalam kepengurusan PSSI, menggantikannya tanpa pemilihan ulang pun “bukan solusi”.
“Karena pasti mundurnya karena tekanan, karena kalau dia mau mundur semestinya sebelum pemilihan. Ini harus disidik,” kata Akmal.
“Saya belum melihat harapan-harapan untuk perbaikan sepak bola itu ada karena masih hopeless dengan pemilihan ini, di mana pejabat negara ikut kontestasi, tapi pemilihannya tidak benar. Hasilnya pasti tidak akan benar.”
‘Sumber masalahnya ada pada pemilik suara’
Akmal Marhali menilai hasil kongres tersebut “tidak memberi harapan” akan perbaikan, dan menunjukkan bahwa “sumber masalahnya ada pada pemilik suara”.
“Kenapa sepak bola kita enggak maju, ya karena pemilik suaranya tidak mau maju. Mereka yang menentukan masa depan sepak bola kita dengan memilih kembali orang-orang yang bermasalah,” ujar dia.
Para pemilik suara itu terdiri dari 34 Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI, 18 klub BRI Liga 1, 16 tim Liga 2, 16 kesebelasan Liga 3, Federasi Futsal Indonesia, Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia, dan Asosiasi Pelatih Sepak Bola Indonesia.
Pendapat serupa juga diutarakan oleh Indro yang menyebut nama-nama lama itu akan menjadi “duri dalam daging”.
“Ini kan soalnya pemilihannya masih memungkinkan siapa yang kuat dan punya uang yang bisa menjadi anggota komite eksekutif, harus ada perubahan di dalam peraturan PSSI untuk bisa menempatkan orang-orang yang berkualitas dan mengelola sepak bola,” kata Indro.
Tugas terberat PSSI
Pengamat sepak bola Tommy Welly dan Akmal Marhali menuturkan bahwa tugas terberat yang harus dibuktikan oleh Erick Thohir adalah “mengembalikan kepercayaan publik terhadap PSSI dan pengelolaan sepak bola Indonesia”.
Namun melihat komposisi yang terbentuk usai KLB, mereka meragukan itu akan segera terwujud.
“Niat bersih-bersih itu harus tegak lurus dengan gerbong elite komite eksekutif lainnya. Berapa banyak sebelum era Erick Thohir ketua umum PSSI yang punya kapasitas cukup baik rontok dan tidak bisa menyelesaikan satu periode secara tuntas. Pangkostrad Edy Rahmayadi misalnya, gagal juga,” kata Tommy.
Senada, Akmal Marhali juga menyoroti kegagalan Mochamad Iriawan sebagai seorang purnawirawan jenderal polisi yang “belum bisa mengurai persoalan akut” sepak bola nasional.
Kasus pengaturan skor, misalnya, masih terjadi hingga masa kepengurusan Iriawan.
Kasus terakhir terungkap pada April 2022, setelah polisi menangkap lima orang tersangka kasus pengaturan skor Liga 3 zona Jawa Timur. Namun Akmal meyakini, praktik pengaturan skor “masih mewarnai kompetisi di dalam negeri” sampai saat ini.
"Jadi jangan terlalu berekspektasi tinggi dengan hasil yang ada ini untuk perbaikan," ujar Akmal.
Kemampuan Erick Thohir sebagai Ketum PSSI pun dia nilai baru akan mulai terlihat dalam 100 hari ke depan.
Tolak ukurnya dapat dilihat dari penepatan janji Erick untuk menggelar kembali kompetisi Liga 2 dan Liga 3 yang dihentikan oleh PSSI pada Januari 2022 lalu sebagai imbas tragedi Kanjuruhan.
Selain itu, juga dari kesuksesan Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggara Piala Dunia U-20 pada 20 Mei-11 Juni 2023.
‘Belum banyak perubahan’ sejak tragedi Kanjuruhan

Sumber gambar, ANTARA FOTO
Dari sudut pandang suporter, Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) Ignatius Indro meminta PSSI “tidak sebatas menjadikan suporter sebagai objek mencari keuntungan”.
“Kami tidak diperhatikan dalam jaminan keamanan pertandingan. Terus kurang diedukasi sehingga masih terjadi rivalitas yang dijawab dengan kekerasan. Untuk menuntaskan ini tidak bisa cuma diserahkan ke komunitas atau ke klub,” kata Indro.
“Tapi setiap ada kejadian apa-apa selalu yang disalahkan hanya suporter. Oke suporter memang salah, tapi edukasi dari mereka juga tidak dijalankan,” ujar dia.
Pasca-tragedi Kanjuruhan, Indro menilai belum banyak pembenahan dalam penyelenggaraan pertandingan sepak bola di Indonesia.
Bagi Indro, itu tercermin dari pengelolaan massa dalam sejumlah pertandingan Tim Nasional Indonesia dalam kompetisi Piala AFF yang digelar di Gelora Bung Karno pada Januari lalu.
“Belum diterapkan sistem satu tiket satu kursi, bahkan jangankan pindah tempat duduk, pindah gate [di stadion] saja masih bisa. Itu pengalaman saya ketika nonton di GBK, padahal ini sekelas GBK,” kata Indro.
Di stadion sudah mulai ada stewards, namun Indro mengatakan masih ada area-area yang luput.
“Seperti waktu itu ada suporter yang naik ke atas speaker, itu kan berbahaya tapi tidak ada stewards yang menindak, akhirnya ditegur oleh sesama suporter lainnya,” kata dia.
“Termasuk seperti yang terjadi di luar stadion ketika ada penimpukan terhadap Timnas Thailand,” kata dia.

Sumber gambar, ANTARA FOTO
Sebelumnya diberitakan, Erick Thohir berjanji untuk “membangun sepak bola bersih dan berprestasi”.
“Saya berharap ini [sepak bola bersih] menjadi tujuan utama, baru kita bicara prestasi. Tidak mungkin bicara prestasi tapi sepak bola tidak bersih,” kata Erick kepada wartawan.
Salah satu "tugas terberat sebagai Ketum PSSI", kata dia, adalah penyelenggaraan Piala Dunia U-20, mengingat Indonesia akan menjadi tuan rumah perhelalatan tersebut dalam 94 hari mendatang.
“Ini kita pertaruhkan, 94 hari lagi. Tentu untuk tim nasional saya akan berbicara pada pelatih dan pemain apa yang bisa kita support untuk mereka, mereka berikan yang terbaik. Tidak mudah, tapi kita coba berikan yang terbaik,” jelas Erick.
KLB PSSI ini digelar di tengah harapan untuk reformasi tata kelola sepak bola di Indonesia, terutama setelah terjadinya tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang pada 1 Oktober 2022.
La Nyalla, yang juga pernah menjadi Ketua Umum PSSI 2015-2016, menyatakan menerima kekalahannya kali ini dan akan mendukung pengurus PSSI yang baru.
“Saya berharap PSSI tetap akan berubah, harapan juga mudah-mudahan Mas Erick Thohir tidak melibatkan pengurus-pengurus lama yang kita tahu dia sebagai mafia bola. Kalau sampai mereka masuk lagi ke dalam kabinet Mas Erick, saya yakin tidak lama lagi akan terjadi KLB,” kata La Nyalla.
Sementara itu, Presiden Joko Widodo di tempat terpisah menyatakan berharap pengurus baru yang terpilih dapat melakukan “reformasi total”.
“Ini harapan dari kita sehingga persepakbolaan kita menjadi hidup dan bisa paling tidak ASEAN bisa step pertama bisa kita pegang dan Asia step yang kedua bisa kita pegang. Harapan pemerintah itu saja,” kata Jokowi kepada wartawan, Kamis (16/2).
Apa agenda pertama Erick Thohir sebagai Ketum PSSI?
Erick menyatakan akan mengadakan “sarasehan sepak bola” dalam dua minggu ke depan yang melibatkan seluruh pihak dari Liga 1, Liga 2, Liga 3, tim nasional, perwasitan, kepelatihan, dan lain-lain.
“Di situ saya akan melempar garis besar visi-misi yang kita sepakati bersama, bukan visi-misi saya, tapi visi-misi Liga 1 apa, visi misi tim nasional apa, visi-misi perwasitan apa,” tutur dia.
Setelah itu, Erick berjanji akan menyampaikan blueprint jangka pendek.
Erick juga akan menggelar konferensi pers pada 19 Februari yang akan dihadari oleh perwakilan FIFA dan “salah satunya akan membahas mengenai pengaturan skor”.
“Nanti kita coba tawarkan aturan, siapa yang main kita sepakati, tunggu tanggal 19,” kata Erick.
Sebelum kongres digelar, Erick juga telah menjanjikan sejumlah hal apabila terpilih sebagai Ketua Umum PSSI.
Pertama, mengelar kembali kompetisi Liga 2 dan Liga 3 yang dihentikan oleh PSSI pada 12 Januari 2023.
Kedua, mengejar ketertinggalan sepak bola Indonesia dari negara lain yang menurut dia, “kuncinya cuma satu, nyali, berani apa tidak.”
Ketiga, menggunakan teknologi Video Assistant Referee (VAR) untuk membantu wasit membuat keputusan di lapangan sehingga “mengurangi tuduhan wasit-wasit yang curang”.
Keempat, membenahi kualitas dan kesejahteraan wasit lokal.
Kelima, membangun pusat pelatihan untuk Timnas Indonesia yang ditargetkan akan rampung dalam satu tahun setelah terpilih sebagai Ketum PSSI.
Erick Thohir sendiri tidak memiliki pengalaman sebagai pengurus PSSI, namun dia memiliki rekam jejak di dunia sepak bola.
Dia pernah menjadi Wakil Komisaris Utama PT Bandung Bermartabat (PBB) pada 2009-2019.
Erick pernah menjadi Direktur Keuangan Persija Jakarta pada era 2000an, serta memiliki saham Persis Solo sejak 2021.
Di kancah sepak bola internasional, Erick pernah membeli mayoritas saham klub Italia, Inter Milan pada 2013.
Pada September 2022, Erick Thohir mengakusisi Oxford United bersama Anindya Bakrie.
Janjikan keterwakilan perempuan
Erick Thohir juga membuka peluang untuk mengubah Statuta PSSI. Salah satu contohnya, kata dia, terkait keterwakilan perempuan dalam kepengurusan PSSI.
“Contoh, kalau tadi lihat salah satu pemilihan Exco minimal satu perempuan. Peraturan dunia internasional olahraga, itu 30% perempuan. Artinya apa? Ada yang harus kita perbaiki.”
“Itu contoh salah satu yang saya usulkan, bahwa keterwakilan perempuan di dunia sepak bola [dan] di manajemen sepak bola 20 sampai 25%, bukan hanya satu. Wasit kenapa tidak kita coba wasit perempuan juga?” jelas dia.












