Persaingan tiga perempuan Nahdliyin di Pilkada Jawa Timur – Apakah Risma dan Luluk akan ‘gerogoti‘ suara Khofifah?

Bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim yang diusung PDIP dan Hanura, Tri Rismaharini (kedua kiri) dan Zahrul Azhar Asumta (kiri) bersama Bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim yang diusung PKB Luluk Nur Hamidah (kedua kanan) dan Lukmanul Khakim (kanan) menjawab pertanyaan wartawan sebelum menjalani pemeriksaan kesehatan di Gedung Soetomo Transplant Organ Center (STOC) RSUD Dr Soetomo, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (31/8/2024).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Rizal Hanafi

Keterangan gambar, Tri Rismaharini (kiri) dan Luluk Nur Hamidah (kanan) akan bersaing dalam Pilkada Jawa Timur 2024.
    • Penulis, Raja Eben Lumbanrau Lubis
    • Peranan, BBC News Indonesia
  • Waktu membaca: 13 menit

Kehadiran Tri Rismaharini dan Luluk Nur Hamidah dalam pemilihan gubernur Jawa Timur disebut akan ‘menggerogoti‘ suara pasangan petahana Khofifah Indar Parawangsa dan Emil Elestianto Dardak, yang diusung oleh koalisi ‘gemuk‘.

Pengamat politik dari Universitas Airlangga, Kacung Marijan, menilai pasangan Tri Rismaharini dan Zahrul Azhar Asumta akan mengoptimalkan dukungan di wilayah Arek (bagian tengah Jatim) dan Mataraman (barat Jatim), yang menjadi basis terkuatnya dan partai pengusung, PDI Perjuangan (PDIP).

Pasangan Luluk Nur Hamidah dan Lukmanul Khakim yang diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pimpinan Muhaimin Iskandar disebut akan mengamankan suara-suara basis pendukungnya di wilayah Pantura hingga tapal kuda, bagian timur Jatim.

“Baik Risma maupun Luluk, dua-duanya akan menggerogoti [pemilih] Khofifah di basis-basis massa mereka. Jadi, yang awalnya Khofifah itu relatif bisa mudah terpilih kembali, sekarang saya kira tidak, karena ada irisan [pemilih] satu sama lain,“ kata Kacung saat dihubungi wartawan BBC News Indonesia, Raja Eben Lumbanrau, Jumat (30/08).

Terkait dengan potensi suara petahana yang disebut berpotensi ‘digerogoti‘ itu, partai pengusung Khofifah-Emil mengaku tidak khawatir karena pasangannya memiliki kekuatan hampir di seluruh wilayah Jawa Timur.

“Kami sangat-sangat optimis… Kami memiliki koalisi banyak partai yang memiliki ceruk pemilih yang berbeda, tentu resource itu perlu dikolaborasikan dengan baik. Banyaknya relawan dari seluruh penjuru Jatim [Mataraman, Arek, Madura, Pandalungan] akan kami gerakkan maksimal,“ kata Wakil Bendahara DPD Partai Demokrat Jatim, Mahathir Mohamad.

Bakal calon Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (kedua dari kiri) bersama bakal calon Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak (kedua dari kanan) berpose sebelum menjalani pemeriksaan kesehatan di Gedung Soetomo Transplant Organ Center (STOC) RSUD Dr Soetomo, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (29/8/2024)

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Didik Suhartono

Keterangan gambar, Bakal calon Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama bakal calon Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak.

BBC News Indonesia mewawancarai beberapa warga di beberapa wilayah di Jawa Timur, provinsi paling luas di Pulau Jawa.

Seorang warga di Madura dan Kabupaten Kediri mengaku akan memberikan pilihannya ke Khofifah, namun tidak bagi seorang pendukung di Sidoarjo yang mendukung Risma.

Di tengah pertarungan yang diprediksi akan kompetitif itu, Pilkada Jawa Timur juga disebut menampilkan kemoderatan politik, yang ditunjukkan melalui fakta bahwa semua calon gubernur adalah perempuan.

“Akhirnya, rekam jejak ketiga yang akan menjadi konsiderans bagi konstituen [Jawa Timur] untuk menentukan pilihan politiknya," kata akademisi sosiologi politik dari Universitas Muhammadiyah Malang, Wahyudi Winaryo.

Ragam suara pemilih di Jawa Timur

Terdapat tiga bakal pasangan calon (bapaslon) dalam Pilgub Jawa Timur, yaitu Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak yang didukung KIM Plus (minus PKB). Lalu pasangan Tri Rismaharini dan Zahrul Azhar Asumta yang didukung PDIP, Partai Hanura dan Partai Ummat.

Terakhir adalah pasangan Luluk Nur Hamidah dan Lukmanul Khakim, dua kader murni dari PKB.

Ketiga bacalon gubernur adalah perempuan.

BBC News Indonesia pun mencoba mewawancarai beberapa warga Jatim untuk melihat calon pemimpin mereka.

Choiron, 30 tahun, warga Kabupaten Gresik, yang juga alumnus salah satu pesantren di Lamongan, mengatakan tidak mempermasalahkan jika gubernurnya kembali perempuan.

Sumber gambar, Choiron

Keterangan gambar, Choiron (paling kanan), 30 tahun, warga Kabupaten Gresik.

Choiron, 30 tahun, warga Kabupaten Gresik, yang juga alumnus salah satu pesantren di Lamongan, mengatakan tidak mempermasalahkan jika gubernurnya kembali perempuan.

Warga Jatim, menurutnya, sudah cukup dewasa menyikapi gender, termasuk di kalangan Nahdliyin sendiri.

"Parameternya enggak lagi berdasarkan jenis kelamin. Yang penting kapasitas dan kapabilitasnya dalam memimpin," ujarnya.

Karena alasan itulah, Choiron mengaku cenderung memberikan kesempatan kepada Khofifah untuk kembali memimpin Jatim.

"Jam terbangnya sebagai gubernur lebih tinggi dari lainnya. Di struktur NU, Ibu Khofifah pasti populer sebagai Ketua Umum Muslimat," katanya singkat.

Nur Hayati pun menjatuhkan pilihannya kepada Tri Rismaharini agar bisa menjadi gubernur Jatim ke depan.

Sumber gambar, Nur Hayati

Keterangan gambar, Nur Hayati pun menjatuhkan pilihannya kepada Tri Rismaharini agar bisa menjadi gubernur Jatim ke depan.

Lain halnya dengan seorang warga Kabupaten Sidoarjo, Nur Hayati, 55 tahun.

Sebagai jemaah dari salah satu majelis taklim (pengajian) ibu-ibu yang diampu seorang kiai di Sidoarjo, dirinya berpendapat warga Jatim sangat realistis dan terbuka.

"Kita bisa menerima semuanya punya kesempatan menjadi pemimpin. Apalagi sudah banyak perempuan yang sukses menduduki jabatan strategis kan," tukasnya.

Nur Hayati pun menjatuhkan pilihannya kepada Tri Rismaharini agar bisa menjadi gubernur Jatim ke depan.

"Yang penting kinerjanya nyata untuk Kota Surabaya, meskipun saya penduduk Sidoarjo saya melihatnya bagus. Cara membina warganya khas banget emak-emak di Jawa Timur," seloroh Nur Hayati.

Raihan mengaku akan memberikan suaranya ke Khofifah.

Sumber gambar, Mustofa

Keterangan gambar, Raihan mengaku akan memberikan suaranya ke Khofifah.

Dari Pulau Madura, Raihan Febriyanto, 23 tahun, juga menyambut baik kehadiran tiga perempuan pada Pilgub Jawa Timur mendatang.

Warga dari Kota Pamekasan itu mengatakan sepanjang ketiganya punya kualitas dan kapasitas maka tidak ada masalah jika provinsinya kembali dipimpin perempuan.

Raihan pun mengaku dengan mantap akan memberikan suaranya ke Khofifah.

”Jelas Ibu Khofifah karena kinerjanya sudah terbukti ya, dari yang kemarin, baguslah beliau,” ungkap Raihan yang merupakan alumnus IAIN Madura itu.

Risma dan Luluk ‘gerogoti’ dukungan Khofifah

Pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur Tri Rismaharini (kiri) dan KH Zahrul Azhar Asumta (kanan) melambaikan tangan saat pendaftaran di Kantor KPU Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (29/8/2024). Tri Rismaharini dan KH Zahrul Azhar Asumta mendaftarkan diri sebagai peserta Pilgub Jatim 2024 dengan dukungan dari PDIP.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Rizal Hanafi

Keterangan gambar, Pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur Tri Rismaharini (kiri) dan KH Zahrul Azhar Asumta (kanan) melambaikan tangan saat pendaftaran di Kantor KPU Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur.

Profesor ilmu politik dari Universitas Airlangga, Kacung Marijan, berkata kehadiran Risma dan Luluk akan menjadi tantangan besar bagi pasangan petahana Khofifah dan Emil.

“Baik Risma maupun Luluk, dua-duanya akan menggerogoti [pemilih] Khofifah. Jadi, yang awalnya Khofifah itu relatif bisa mudah untuk terpilih kembali, sekarang saya kira tidak karena ada irisan [pemilih] satu sama lain,“ kata Kacung.

Kacung mencontohkan, Risma dan wakilnya berupaya mengoptimalkan suara di wilayah Arek dan Mataraman, yang menjadi basis terkuat mereka dan partai pengusung, PDIP.

Wilayah Arek adalah adalah sebutan atas kawasan yang menjadi pusat kebudayaan masyarakat yang berada di bagian tengah Provinsi Jawa Timur, dari Surabaya hingga Malang.

Lalu, wilayah Mataraman adalah area yang dekat dengan kultur Kerajaan Mataram yang letaknya di bagian barat Jawa Timur, dari sekitar Bojonegoro hingga Pacitan.

Pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur Luluk Nur Hamidah (kiri) dan Lukmanul Khakim (kanan) berpose saat mendaftar di Kantor KPU Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (29/8/2024). Pasangan Luluk Nur Hamidah dan Lukmanul Khakim mendaftarkan diri sebagai peserta Pilgub Jatim 2024 dengan dukungan dari PKB.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Rizal Hanafi

Keterangan gambar, Pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur Luluk Nur Hamidah (kiri) dan Lukmanul Khakim (kanan) berpose saat mendaftar di Kantor KPU Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur.

Kemudian, tambahnya, pasangan Luluk dan Lukmanul memiliki kekuatan di basis-basis struktural PKB-nya Cak Imin, yaitu di sekitar wilayah Pantura hingga Pandulungan, yaitu kawasan di wilayah timur Jawa Timur atau dikenal tapal kuda.

“Di wilayah ini Luluk dan Lukmanul akan berusaha maksimal, dan Khofifah harus bekerja keras,” kata Kacung.

Namun, kata Kacung, Khofifah-Emil sebagai petahana juga tidak akan berdiam dukungan mereka yang menyebar di seluruh Jatim digerogoti.

Khofifah yang menjabat sebagai Ketua Umum PP Muslimat NU disebut akan menggerakan jaringan Nahdliyin-nya dan juga mesin-mesin dari banyak partai yang mengusungnya.

“Di atas kertas memang Ibu Khofifah lebih diuntungkan karena beliau petahanan dan memiliki jaringan Muslimat yang kuat, tapi suara itu akan coba direbut oleh pasangan lain,” katanya.

Ketua KPU Jatim Aang Kunaifi (kanan) menerima surat pernyataan visi, misi, dan program bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (tengah) dan Emil Elestianto Dardak (kiri) saat pendaftaran di Kantor KPU Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (28/8/2024). Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak resmi mendaftarkan diri sebagai peserta Pilgub Jatim 2024 dengan dukungan 15 partai yakni Gerindra, Golkar, Demokrat, NasDem, Perindo, PAN, PKS, PPP, PSI, PKN, PBB, Partai Gelora, Partai Buruh, Partai Garuda, dan Partai Prima.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Rizal Hanafi

Keterangan gambar, Khofifah Indar Parawansa (tengah) dan Emil Elestianto Dardak (kiri) saat pendaftaran di Kantor KPU Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur.

Di balik pertarungan itu, Kacung mengatakan tidak ada dari tiga pasangan itu yang merepresentasikan wilayah Madura.

“Padahal diaspora Madura itu sampai 30% di Jawa Timur. Mereka kurang jeli melihat suara penting dari orang Madura.”

Senada, pengamat politik Universitas Trunojoyo Madura, Surokim Abdussalam, memprediksi Pilgub Jatim akan berlangsung kompetitif dan menarik.

Dia melihat ketiga bapaslon itu memiliki irisan yang hampir mirip, yaitu perempuan, wakilnya berasal dari milenial, dan memiliki relasi kuat dengan NU.

“Kendati ya harus diakui bahwa sejauh ini petahana masih punya banyak cukup surplus elektoral ya terutama dukungan dari rezim terpilih pilpres, Prabowo Subianto. Tapi dinamika politik itu kan bisa berubah dengan cepat,” katanya.

Konflik PBNU-PKB, ke mana suara NU kultural?

Para peserta tampak berdoa dalam doa bersama di Stadion Utama Gelora Bung Karno dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Nahdlatul Ulama (NU), di Jakarta, beberapa tahun lalu.

Sumber gambar, Getty Images

Selain berdasarkan peta dukungan wilayah, Surokim mengatakan faktor lain yang juga akan menentukan kemenangan adalah siapa yang berhasil merebut suara warga Nahdliyin kultural, yang suaranya sangat menentukan.

Surokim memprediksi pertarungan di ruang ini akan terjadi sengit antara Khofifah dan Luluk.

"Dalam pandangan saya, rasanya Ibu Khofifah masih bisa leading di pemilih NU kultural karena punya pendukung tradisional kultural Nahdliyin, khususnya perempuan. Tapi kalau saya lihat PKB struktural, sepertinya akan ada mobilisasi untuk dukungan kepada Ibu Luluk sama Mas Hakim," ujar Surokim.

Akademisi Sosiologi Politik Universitas Muhammadiyah Malang, Wahyudi Winaryo, juga memandang bahwa konflik "politis" antara PBNU dan PKB tidak akan mempengaruhi pilihan warga NU.

"Warga NU itu saya kira sangat cair dan independen soal memilih pemimpin. Ya memang ada tensi atau ketegangan, tapi enggak akan terjadi permusuhan secara fisik.”

“Malah nantinya, dengan adanya Risma akan memberikan ruang tersendiri bagi Nahdliyin yang ada di antara Khofifah [pengurus PBNU dan Muslimat] dan Luluk [fungsionaris PKB]," ucap Wahyudi.

Bagaimana karier politik dan elektabilitas Khofifah, Risma, dan Luluk?

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Dalam 15 tahun terakhir, Khofifah mewarnai kontestasi Pilgub Jatim. Di pesta demokrasi pada 2008 dan 2013 lalu, Khofifah kalah. Dia terpilih dan memimpin provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 40 jiwa itu pada 2018.

Khofifah memulai karier politiknya sebagai wakil rakyat sejak Orde Baru sebagai kader Partai Persatuan Pembangunan, lalu pindah ke PKB usai reformasi.

Selain di kursi legislatif, dia juga pernah menjabat sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Menteri Sosial.

Dalam Pilkada Jatim 2024, Khofifah didukung oleh koalisi yang disebut gemuk dengan jumlah 14 partai politik, yaitu PAN, Gerindra, Golkar, Demokrat, PPP, PSI, PKS, Perindo, Nasdem, Partai Buruh, Partai Gelora, PBB, PKN, dan Partai Garuda.

Sosok selanjutnya adalah Risma, yang menjabat sebagai Wali Kota Surabaya pada 2010 hingga 2020. Namun belum tuntas tugasnya sebagai wali kota, Risma diangkat oleh Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Sosial.

Risma dan wakilnya diusung oleh PDIP, Partai Hanura dan Partai Ummat.

Terakhir adalah Luluk Nur Hamidah dari PKB.

Dia adalah anggota DPR periode 2019-2024 dari dapil di Jawa Tengah. Luluk diusung oleh PKB untuk menantang Khofifah dan Risma.

Petugas mengenakan kostum maskot Pilkada Jawa Timur 2024 Si Jali (Jatim Memilih) berkeliling saat sosialisasi di kawasan Kota Lama Surabaya, Jawa Timur, Jumat (23/8/2024). Sosialisasi yang dilakukan KPU Jawa Timur itu untuk mengajak masyarakat menggunakan hak pilihnya pada Pilkada 2024 yang digelar 27 November 2024.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Didik Suhartono

Keterangan gambar, Petugas mengenakan kostum maskot Pilkada Jawa Timur 2024 Si Jali (Jatim Memilih) berkeliling saat sosialisasi di kawasan Kota Lama Surabaya, Jawa Timur.

Kemudian, bagaimana hasil beragam survei memetakan elektabilitas mereka dalam Pilgub Jatim?

Merujuk hasil survei Accurate Research And Consulting Indonesia (ARCI) pada Juli 2024, dengan simulasi delapan nama cagub, Khofifah memiliki elektabilitas 49,7%, jauh lebih tinggi dibandingkan Risma sebesar 13,4%.

Saat dikerucutkan dalam simulasi dua nama, survei itu menunjukkan elektabilitas Khofifah menguat menjadi 54,3% dan Risma di angka 23,8%.

Lalu, hasil survei Litbang Kompas Juni 2024 memetakan elektabilitas Khofifah mencapai 26,8% dan Risma 13,6%. Namun, sebanyak 51% responden masih tidak menjawab atau menjawab tidak tahu.

“Dengan masih banyaknya responden yang belum menentukan pilihan, artinya masih terbuka luas bagi kandidat lain [selain Khofifah]. Kalau melihat dari elektabilitas yang kuat ada Risma di posisi kedua, yang paling memiliki pontensi,” kata peneliti Litbang Kompas Yohan Wahyu.

Kemudian, dalam survei oleh Proximity Indonesia, elektabilitas Khofifah mencapai 55,8%, sedangkan Risma di angka 21,8%.

Dalam tiga survei tersebut tidak ada disebutkan elektabilitas dari Luluk untuk dilakukan perbandingan dengan Khofifah maupun Risma.

Persaingan 'srikandi Nahdliyin', mengapa ketiga calon perempuan?

Kehadiran tiga calon perempuan menurut pengamat politik Surokim menunjukkan bahwa politisi perempuan di Jatim “sudah naik kelas“.

Dia menambahkan, hal itu juga menampilkan bahwa masyarakat Jatim sudah teredukasi dan terliterasi dengan baik terkait pemahaman mereka aatas gender.

“Kalau dulu itu kan masih berkutat perempuan tidak layak jadi pemimpin. Sekarang sudah enggak laku isu-isu itu. Kehadiran srikandi itu dalam rangka mensejajarkan derajat kepemimpinan perempuan dalam politik yang sejauh ini belum masif dan masih maskulin,“ kata Surokim.

Surokim melihat kemunculan para penantang perempuan tidak lepas dari jejak Khofifah yang memenangi pilkada dan memimpin Jatim.

“Kehadiran Ibu Khofifah memunculkan dan membuka pintu politisi-politisi perempuan lain. Ditambah naiknya tren kepemimpinan feminisme yang dipandang lebih mengayomi, dan berempati,“ ujarnya.

Pengamat politik Kacung Marijan bahkan melihat pertarungan ketiga bacalon ini sebagai “perempuan versus perempuan, NU versus NU, dan wakilnya semua laki-laki“.

Fenomena ini, kata Kacung, menunjukkan bahwa gender tidak menjadi kendala untuk menjadi pemimpin politik di Jatim. ”Memang sebagian kiai masih ada yang kurang sreg dengan pemimpin perempuan, tapi saya kira jumlahnya menurun, apalagi Khofifah menunjukkan bisa memimpin,” katanya.

Senada, Wahyudi Winaryo dari UMM, memandang NU saat ini telah mampu membawa warganya menuju ke moderasi cara beragama, termasuk diskursus soal kepemimpinan perempuan.

Yang akan dilihat warga Jatim termasuk dari Nahdliyin, ujarnya, bukan lagi persoalan gender melainkan memori-memori kinerja politik dari ketiganya.

"Ibu Risma track record-nya bagus sebagai wali kota di Surabaya dan sebagai Menteri Sosial terjun langsung ke masyarakat. Meski cenderung emosional, tetapi sejauh ini terhindar dari isu-isu mendasar di Indonesia, misalnya korupsi.

”Bu Luluk juga bagus saya kira. Dia wakil rakyat perempuan yang berani bersuara sangat keras sesuai dengan pilihan politiknya. Ibu Khofifah juga sepertinya terlihat tenang-tenang tapi menghanyutkan. Tapi semua orang tahu dia itu bekerja keras 24 jam.”

”Rekam jejak ketiganya itu yang akan menjadi konsiderans bagi konstituennya untuk menentukan pilihan politiknya masing-masing," paparnya.

Bagaimana strategi partai pengusung?

Wakil Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jatim, Yordan Batara Goa mengeklaim secara internal pihaknya sudah solid memenangkan Risma dan Zahrul atau dikenal Gus Hans di Pilkada Jatim.

"Kita ambil Gus Hans bukan karena Golkar-nya. Tetapi semata dia di kalangan NU dikenal sebagai tokoh muda NU yang dekat semua kalangan. Jadi enggak masalah," kata Yordan.

Selain kaum nasionalis dan wong cilik yang menjadi basis massa loyal PDIP, ceruk pemilih muda Nahdliyin dan kelompok lintas agama di Jawa Timur, dikatakan Yordan akan disasar pasangan Risma dan Gus Hans.

Maskot Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Surabaya 2024 bernama Si Mbois beraksi saat peluncurannya di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (26/7/2024). Komisi Pemilihan Umum Kota Surabaya mengenalkan maskot itu dengan akronim Siap Memilih dan Berdemokrasi Untuk Surabaya (Si Mbois) yang menjadi sarana sosialisasi kepada masyarakat untuk menyukseskan Pilkada Surabaya 2024.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Didik Suhartono

Keterangan gambar, Maskot Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Surabaya 2024 bernama Si Mbois beraksi saat peluncurannya di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (26/07).

PDIP juga tidak kendor memenangkan Risma walau dikepung oleh mayoritas parpol yang mengusung petahana. "Kami tidak ingin terkotak-kotak dengan masa lalu. Pertimbangan politiknya bukan karena persaingan politik di skala nasional. Tapi kami melihat figur Risma yang kami yakin mampu menjadi gubernur yang sesuai dengan tagline Resik-resik Jawa Timur," ucap Yordan.

Rasa optimisme juga datang dari partai pendukung Luluk, PKB yang yakin bisa merebut suara NU di Jatim.

Bendahara DPW PKB Jawa Timur, Fauzan Fuadi mengatakan partainya akan memaksimalkan mesin politik yang ada dari tingkat wilayah hingga anak ranting. "Hanya PKB yang selama ini konsiten mengurus basis NU," kata Fauzan.

Fauzan juga yakin jagoannya bisa bersaing di Pilkada Jatim 2024. Meskipun sejumlah lembaga survei lebih mengunggulkan Khofifah dan Risma daripada Luluk. "Nanti kita lihat hasilnya, siapa yang menang. Sebelum Pileg 2024 kemarin, PKB juga diremehkan bisa menang di Jatim, nyatanya menang," tegasnnya.

Senada, para partai pendukung Khofifah, termasuk Demokrat, akan memaksimalkan semua sumber daya yang dimiliki untuk bisa menggaet dukungan di seluruh wilayah Jawa Timur.

Wakil Bendahara DPD Partai Demokrat Jatim, Mahathir Mohamad pun percaya diri bahwa Khofifah dan Emil kuat di semua wilayah.

"Kami memiliki koalisi banyak partai yang memiliki ceruk pemilih yang berbeda, tentu resource itu perlu dikolaborasikan dengan baik. Banyaknya relawan dari seluruh penjuru Jatim [Mataraman, Arek, Madura, Pandalungan] akan kami gerakkan maksimal untuk menyapa langsung masyarakat," kata Mahathir.

Di balik pertarungan antar srikandi NU itu, pengamat politik Kacung melihat pasangan yang menang di Pilkada Jatim adalah mereka yang mampu memperkuat dan memperluas jaringan dalam waktu singkat.

Ditambah lagi, ujarnya, mereka yang mampu berkolaborasi dengan calon-calon bupati (cabup) dan wali kota dalam memperoleh dukungan.

“Jika cagub, cabup, cawakot berkolaborasi saling memenangkan, saling mengisi, pasangan itu yang akan memenangkan Pilkada Jatim,” ujarnya.

Wartawan Roni Fauzan di Surabaya dan Mustofa El Abdy di Madura berkontribusi dalam artikel ini.