Duet Anies-Muhaimin 'banyak perjudiannya', apakah bisa merebut suara warga NU?

Sumber gambar, ANTARA FOTO
Sosok Muhaimin Iskandar, atau yang akrab disapa Cak Imin, dinilai tidak terlalu kuat mendongkrak elektabilitas Anies Baswedan di daerah basis massa pemilih Nahdlatul Ulama (NU), yaitu Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Alih-alih mendukung elektabilitas satu sama lain, pengamat menyebut pasangan bakal capres dan cawapres itu “lebih banyak perjudiannya”. Apakah pasangan Anies-Cak Imin (AMIN) bisa merebut suara warga NU?
Menurut pengamat politik, Anies Baswedan membutuhkan suara besar dari warga NU, atau yang sering disebut dengan Nahdliyin, untuk mendongkrak jumlah pemilihnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Dibandingkan dengan dua bakal capres lainnya, Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto, popularitas Anies memang rendah di daerah yang mayoritas anggota NU itu - menurut hasil beberapa survei.
Untuk mendongkraknya, Anies memerlukan sokongan Muhaimin Iskandar.
Masalahnya, berdasarkan hasil jajak pendapat beberapa lembaga survei, tidak semua warga NU memilih Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang diketuai Cak Imin. Bahkan pengamat politik Adi Prayitno juga mengatakan “tidak semua pemilih PKB memilih Muhaimin” atau Cak Imin.
Tidak hanya soal elektabilitas, pengamat politik Bawono Kumoro mengatakan pasangan Anies-Cak Imin juga dikhawatirkan “kontraproduktif”.
Sebab, dalam Koalisi Perubahan, yang mengusung bakal capres dan cawapres itu, ada dua partai politik Islam yang berbeda— PKB dengan Islam yang moderat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang dinilai cenderung konservatif.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
“Bukan salah [strateginya] ini lebih banyak perjudiannya. Dari segi basis massa Islam, perbedaan jenis keberislaman [antara NU dan Anies Baswedan yang didukung PKS] itu juga berbeda,” kata Bawono kepada BBC News Indonesia, Senin (04/09).
Sementara itu di akar rumput, suara pendukung NU tidak tunggal. Ada Nahdliyin yang mengaku mengikuti arah gerak Cak Imin, ada juga yang tidak.
Menurut hasil survei Litbang Kompas, warga NU memberikan sinyal bahwa pilihan mereka “tidak serta merta tunggal kepada partai politik tertentu”.
Usai deklarasi bakal capres-cawapres Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar, pada Sabtu (02/09), Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, kembali menyatakan sikap organisasi yang tidak mendukung pasangan capres dan cawapres manapun dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.
“Tidak ada [bakal capres-cawapres]atas nama NU. Kalau ada klaim bahwa kiai-kiai PBNU merestui, itu sama sekali tidak benar,” kata Yahya kepada media.
Keesokan harinya, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengeluarkan imbauan untuk masyarakat agar tidak memilih pemimpin yang memecah belah umat.
"Kita lihat calon pemimpin kita ini pernah menggunakan agama sebagai alat untuk memenangkan kepentingannya atau tidak. Kalau pernah, jangan dipilih," kata Yaqut di depan peserta tablig akbar di Garut, tanpa merujuk kepada pencalonan Anies-Muhaimin.
Pada gelaran Pemilihan Kepada Daerah (Pilkada DKI) 2017 lalu, Anies Baswedan dituding menggunakan politik identitas saat bertarung melawan Basuki Tjahaja Purnama, dengan menggerakan kelompok Muslim untuk mendukung kemenangan.
Seberapa besar pengaruh Muhaimin untuk pemilih NU?
Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, mengatakan berdasarkan data, PKB memang memiliki kekuatan politik di Jawa Timur.
Namun, yang menjadi masalah, seringkali pemilih yang memilih partai tertentu tidak serta merta memilih calon yang direkomendasikan oleh partai. Para pemilih itu disebut “split voters”.
“Di atas kertas mestinya suara yang kuat di Jawa Timur harus menjadi suara pendukung Anies dan Muhaimin, tapi orang NU kalau bicara tentang pilpres itu jawabannya bukan Anies atau Cak Imin, tapi ada figur-figur lain. Ini tantangan terbesar bagi duet ini,” kata Adi kepada BBC News Indonesia, Senin (04/09).
Selain Muhaimin, ada beberapa tokoh NU lainnya yang namanya sempat disebut-sebut dalam bursa bakal cawapres, yaitu Khofifah Indar Parawansa dan Yenny Wahid.
Berdasarkan hasil Pemilu Legislatif 2019 lalu, tidak semua orang yang terafiliasi dengan NU memilih PKB, kata Adi Prayitno.
Pada saat itu, PKB hanya mendapatkan 9,6% suara, sementara total suara warga NU di Indonesia disebut Adi mencapai 45% dari total penduduk Muslim di Indonesia.
Dari angka 9,6% itu pun tidak semuanya memilih Muhaimin Iskandar. Itu terlihat dari elektabilitas ketua umum PKB itu yang hanya berada di angka 1-2%, menurut Adi—yang juga merupakan direktur lembaga survei Parameter Politik Indonesia.
“Jangankan pemilih NU ini mau pilih Anies Baswedan. Yang memilih Gus Muhaimin saja itu tidak signifikan. Oleh karena itu, tugas terpenting dari Muhaimin Iskandar ke depan adalah bagaimana mengkonversi suara yang 9,6% pada 2019 yang lalu itu menjadi suara duet Anies-Muhaimin,” tegas Adi.
Jika Muhaimin sukses meyakinkan pemilih NU, Adi memprediksi duet AMIN akan menjadi “duet yang sangat meyakinkan dan sangat potensial”.
‘Tidak menyelesaikan masalah’

Sumber gambar, ANTARA FOTO
Pengamat politik dari lembaga survei Indikator Politi,k Bawono Kumoro, mengatakan pemikiran Partai NasDem untuk menjodohkan Anies dengan figur berlatar belakang NU seperti Muhaimin Iskandar bisa dipahami jika ingin “menutupi kelemahan elektoral Anies” di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Bawono Kumoro menyebut strategi Anies dan koalisinya “tidak menyelesaikan masalah”.
Selain soal elektabilitas Cak Imin yang dikatakan “tidak kompetitif” dibandingkan tokoh-tokoh NU lainnya, Bawono menyoroti perbedaan “keberislaman” antara PKB dan PKS yang berada dalam satu koalisi pendukung pasangan Anies-Muhaimin.
“Jangan lupa Anies ini berangkat dari kekuatan politik Islam yang bisa dibilang konservatif dan kanan, sedangkan pemilih PKB, Cak Imin, adalah pemilih Islam moderat, tradisional NU, yang kalau dihadapkan dengan Islam konservatif kanan itu agak kurang cocok. Itu juga jadi pekerjaan rumah,” Bawono menjelaskan.
Dia menduga pemilih PKB yang cenderung Islam moderat enggan memilih Anies– yang selama ini merupakan representasi simbol dari kekuatan politik Islam kanan yang konservatif– sekalipun Muhaimin maju sebagai cawapresnya.
Ke mana suara akar rumput?
Deklarasi Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar sebagai bakal capres dan cawapres ditanggapi berbeda oleh para kyai dan warga NU yang berada di Madura, Jawa Timur.
Menurut laporan wartawan Ahmad Musthofa Azany di Madura, warga NU yang menjadikan Muhaimin Iskandar sebagai patron cenderung mengikuti arah dukungannya.
“Kalau atas nama organisasi, NU itu netral, tidak ada mengatakan apa-apa. Tapi atas nama pribadi warga, [duet Anies-Muhaimin] itu sangat baik menurut saya… Banyak teman-teman saya di Madura juga oke lah sama duet Muhaimin dan Anies,” kata Kyai Haji Nuruddin, wakil ketua tanfidziyah Pengurus Cabang NU Sampang, yang mengaku kaget dengan pencalonan AMIN.
Dia yakin pencalonan Anies-Muhaimin akan menambah suara Cak Imin di Madura. Menurut Kyai Nuruddin, keduanya juga akan menimbulkan dampak positif berupa penambahan “medan dakwah”.
Respons berbeda datang dari Kyai Haji Itqon Busyiri, ketua Pengurus Cabang NU Sampang. Sikapnya seperti Pengurus Besar NU (PBNU), yang tidak secara gamblang mendukung tokoh NU tertentu yang bertarung dalam kontestasi politik.
“Rahasia dong, karena saya kan ditokohkan oleh warga NU. Kalau saya menentukan pilihan atau vulgar [mengumbar] pilihan, nanti ada perbedaan di antara teman-teman kita, kita memberikan pilihan bebas lah,” kata Kyai Itqon.
Dia mengatakan belum ada warga yang menyampaikan respons terhadap duet Anies-Muhaimin, begitu juga dengan para kyai.
“Kalau nggak komen, sementara ini kiai-kiai diam, berarti setuju. Cuma politik belum tentu. Besok lusa bisa ada perubahan dan seterusnya,” ujarnya.
Kyai Itqon mengatakan pihaknya masih menunggu bagaimana keputusan akhir.
Dia mengingatkan bahwa dalam pilpres sebelumnya Mahfud MD yang digadang-gadang bakal menjadi cawapres Joko Widodo digantikan oleh Ma’ruf Amin di detik-detik pendaftaran ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Baca juga:
Bagi Ali Hamdan, warga Desa Tlambah, Karangpenang, Sampang, pencalonan Anies-Muhaimin “sangat berpengaruh” baginya. Apalagi tokoh-tokoh NU yang menjadi panutannya juga mendukung AMIN.
“Untuk saat ini saya mau tetap satu arah untuk Anies Baswedan karena memang kita lihat potensi dan juga kita melanjutkan tradisi guru menjadi presiden seperti Gusdur sebelumnya,” kata Ali kepada wartawan Ahmad Musthofa Azany yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.
Lain halnya dengan Musliman, warga Desa Pangereman, Sokobanah, Sampang. Pasangan Anies-Muhaimin “tidak akan mempengaruhi” pilihannya karena dia lebih mempertimbangkan visi misi capres dan cawapres pada Pilpres 2024 nanti.
“Saya tidak melihat soal ketokohannya, yang penting adalah apa yang akan dia perbuat untuk Indonesia di tahun-tahun berikutnya, lima tahun ke depan,” ujarnya.
PKB dan Anies bukan favorit warga NU

Sumber gambar, ANTARA FOTO
Pada Mei 2023 lalu, hasil survei Litbang Kompas menunjukkan pemilih dari kalangan NU lebih banyak menjatuhkan pilihan ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dengan 22,6%.
Sumbangan elektoral pemilih NU pada PDI-P tercatat naik dari hasil survei sebelumnya, yang digalang pada Januari 2023 dengan hasil 19,9%.
Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) juga tercatat mendapatkan tambahan dukungan dari responden warga NU. Pada Januari 2023, partai yang dipimpin Prabowo itu mendapatkan poin 11,5% dan pada Mei angkanya menjadi 19,6%.
Sementara posisi PKB ada di rentang poin 6-7% dalam periode yang sama, masih di bawah Partai Golongan Karya (Golkar) yang berada di rentang poin 7%.
Litbang Kompas berkesimpulan, potensi elektoral PKB di mata warga NU ini memberikan sinyal bahwa “pilihan dari warga NU tidak serta merta tunggal kepada partai politik tertentu”.
Masih dalam survei yang sama, pada Mei 2023, Prabowo Subianto meraih elektabilitas tertinggi di kelompok pemilih nahdliyin, dengan angka 25,8%, naik sekitar 7% dibandingkan survei Januari 2023.
Prabowo berhasil menggeser Ganjar Pranowo yang pada Januari 2023 lalu mendapat angka tertinggi dengan 27,1%. Pada Mei, Ganjar berada di bawah Prabowo dengan angka 24,7%.
Sementara angka yang didapatkan Anies Baswedan tercatat memiliki jarak yang cukup jauh dibandingkan Prabowo dan Ganjar dengan angka di bawah 15% antara Januari-Mei 2023.
Pada Januari 2023, Anies meraih 11,5% dan pada Mei 2023 angkanya menjadi 12,3%.
Litbang Kompas mengatakan angka itu relatif terjaga di lima survei terakhir yang mereka lakukan.
Bagaimana elektabilitas Muhaimin dibanding tokoh NU lain?

Sumber gambar, ANTARA FOTO
Meski suara semua poros koalisi Pilpres 2024 “membutuhkan suara NU”, menurut survei pada Juni lalu yang digelar oleh Parameter Politik, tidak ada nama yang kuat dari segi elektabilitas secara personal.
Dari tiga nama yang memiliki latar belakang NU, yaitu Muhaimin Iskandar, Khofifah Indar Parawansa, dan Yenny Wahid, pengamat politik Adi Prayitno menyebut elektabilitas mereka “rendah” dibandingkan nama-nama besar bakal cawapres lain, seperti Agus Harimurti Yudhoyono, Sandiaga Uno, dan Erick Thohir.
Hasil survei itu juga sama dengan yang dilakukan oleh Indikator Politik.
Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin, juga dikatakan memiliki elektabilitas yang rendah, “masih di kisaran angka satu ataupun dua persen”, dengan Khofifah muncul sebagai kader NU yang memiliki elektabilitas tertinggi.
Lembaga Survei Indonesia (LSI) dalam jajak pendapat terbaru merilis pasangan capres yang paling banyak dipilih masyarakat.
Dalam survei yang dilakukan 3-9 Agustus lalu, LSI menempatkan nama AHY pada posisi teratas, dengan poin 22%, dan dianggap "paling pantas" mendampingi Anies Baswedan.
Di posisi berikutnya ada Sandiaga Uno dengan 21,4%, Khofifah sebanyak 9,2%, Susi Pudjiastuti 5,4%, dan Airlangga Hartarto dengan 2,8%.
Cak Imin berada di posisi ke-6 dalam dengan poin 2,6%.
Mengapa tokoh-tokoh NU menjadi rebutan?
Pada 1955, Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu partai politik terbesar di Indonesia. Pada saat itu, NU sudah memiliki kursi di parlemen.
Meski pada 1984 NU memutuskan keluar dari politik praktis dan berubah menjadi organisasi keagamaan, massa pendukung NU tidak pernah hilang.
Pengamat dari Indikator Politik, Bawono Kumoro, mengatakan hingga saat ini NU masih menjadi organisasi masyarakat (ormas) dengan jumlah pengikut “terbesar” yang tersebar di seluruh Indonesia.
Itulah sebabnya suara warga Nahdliyin “menjadi seksi” di mata setiap kandidat dalam pemilu.
Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, mengatakan tokoh-tokoh NU diyakini mampu mengorganisasi atau mengakumulasi “kekuatan politik Nahdliyin”.
Secara khusus, NU juga dikatakan memiliki “kantong suara” di Jawa Timur, provinsi kedua dengan jumlah populasi terbanyak di Indonesia.
Suara yang besar dari Nahdliyin, lanjut Adi, dibutuhkan oleh Anies Baswedan yang lemah di Jawa Timur dan lemah di kalangan NU.
Tidak hanya dari kuantitasnya, secara kualitas NU juga diyakini “tidak pernah kehabisan kader yang unggul” dan bisa “dipromosikan” di level kepemimpinan nasional.
Sejak pemilihan presiden digelar untuk pertama kalinya pada 2004 hingga sekarang, Bawono mengatakan selalu ada tokoh berlatar belakang NU yang menjadi kontestan di ajang pilpres.
Dalam Pemilu 2004 saja misalnya, ada tiga kader NU yang berpartisipasi, mereka adalah Kyai Haji Salahuddin Wahid yang berpasangan dengan Wiranto, Kyai Haji Hasyim Muzadi yang berpasangan dengan Megawati Soekarnoputri, dan Hamzah Haz yang berpasangan dengan Agum Gumelar.
Pada Pemilu 2019, ada Kyai Haji Ma’ruf Amin yang menjadi calon wakil Presiden Joko Widodo dan akhirnya memenangkan kontestasi politik itu.









