Trump 'tak melihat' bagian video yang gambarkan keluarga Obama sebagai kera – 'Saya tidak melakukan kesalahan'

Sumber gambar, Reuters
- Penulis, Bernd Debusmann Jr
- Peranan, Wartawan di Gedung Putih
- Waktu membaca: 6 menit
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengaku bahwa dirinya "tidak melihat" bagian video rasis di media sosialnya yang menggambarkan Barack dan Michelle Obama sebagai kera.
Klip rasis, yang diiringi lagu "The Lion Sleeps Tonight", muncul pada bagian akhir video berdurasi 62 detik. Video itu sendiri berisi klaim tentang kecurangan pada pemilihan presiden 2020 lalu.
Setelah mendapatkan beragam kritikan, video itu kini telah dihapus.
Dalam keterangannya kepada wartawan pada Jumat (06/02), Trump menyatakan "Saya tidak melakukan kesalahan," saat ditanya apakah dirinya akan meminta maaf.
Trump mengklaim bahwa dia hanya melihat bagian awal dari video. Video tersebut kemudian diunggah oleh seorang stafnya.
Trump mengaku tidak mengetahui bahwa video itu memuat gambar keluarga Obama sebagai kera.
Senator dari Partai Republik, Tim Scott, telah mendesak Presiden Trump menghapus unggahan itu.
Scott menyebut konten itu sebagai "hal paling rasis yang pernah saya lihat dari Gedung Putih ini."

Sumber gambar, ROBERTO SCHMIDT/AFP via Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Staf kepresidenan di Gedung Putih awalnya membela video itu dengan menyebutnya sebagai "video meme internet" seraya meminta para kritikus untuk "menghentikan kemarahan palsu".
Namun, setelah mendapat kecaman keras, termasuk dari beberapa senator Partai Republik, unggahan itu dihapus dari akun Truth Social, milik Trump.
Seorang pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa seorang staf telah "secara keliru" mengunggah konten itu.
Klip tersebut mengingatkan kembali khalayak pada karikatur rasis yang membandingkan orang kulit hitam dengan kera. Karikatur itu tampaknya diambil dari sebuah unggahan di platform X, yang dibagikan oleh pembuat meme konservatif, Xerias, pada Oktober lalu.
Video itu juga menggambarkan beberapa tokoh terkemuka dari Partai Demokrat lainnya sebagai hewan, termasuk anggota DPR AS, Alexandria Ocasio-Cortez; Wali Kota New York, Zohran Mamdani; dan mantan Menteri Luar Negeri, Hillary Clinton.
Mantan Presiden Joe Biden juga digambarkan sebagai seekor kera yang sedang memakan pisang.
Mungkin Anda tertarik:
Hingga artikel ini diterbitkan, keluarga Obama belum memberikan komentar terkait video tersebut.
Video itu merupakan satu dari puluhan unggahan yang muncul di akun Truth Social milik Trump dalam semalam.
"Saya melihat ribuan hal," ujar Presiden saat berada di atas pesawat Air Force One pada Jumat.
Trump menambahkan bahwa setelah menonton hanya sebagian dari video tersebut, ia "memberikannya kepada orang-orang yang biasanya memeriksa keseluruhan konten."
Trump menyatakan bahwa dirinya menyukai pesan video itu mengenai kecurangan pemilih. Namun jika stafnya telah melihat video itu secara utuh, "mungkin mereka akan berpikir untuk tidak mengunggahnya."
"Kami segera menghapusnya begitu kami mengetahuinya," tambahnya.
Sejumlah kritik juga datang dari internal partai Trump sendiri, Partai Republik.
Salah satunya adalah Senator Scott, perwakilan Partai Republik dari South Carolina sekaligus sekutu Trump.
Scott menyatakan melalui unggahannya bahwa dirinya "berdoa agar hal itu palsu karena itu adalah hal paling rasis yang pernah saya lihat keluar dari Gedung Putih ini."
"Presiden harus menghapus itu," tambahnya.
Anggota dewan dari Partai Republik asal New York, Mike Lawler, menyebut unggahan itu "salah dan sangat menghina—baik itu disengaja maupun sebuah kesalahan."
Lawler lalu menyatakan bahwa konten itu "harus segera dihapus, yang disertai dengan permintaan maaf."
Kritik terus berlanjut bahkan setelah unggahan tersebut diturunkan.
John Curtis, Senator Republik dari Utah, menyatakan di media sosialnya bahwa video tersebut "sangat rasis dan tidak dapat dimaafkan."
Ia menulis, "Konten itu seharusnya tidak pernah diunggah atau dibiarkan tayang begitu lama."
Menurut laporan CBS, mitra BBC di Amerika Serikat, anggota DPR, Byron Donalds—pendukung lama Trump yang sedang mencalonkan diri sebagai gubernur—menghubungi Gedung Putih usai video tersebut diunggah.
Byron diberitahu bahwa hal itu merupakan kesalahan staf yang telah "mengecewakan presiden."
Pihak BBC telah menghubungi Gedung Putih untuk mengklarifikasi mengenai berapa banyak orang yang memiliki akses ke akun presiden dan bagaimana proses persetujuan untuk setiap unggahan.
Dalam sebuah pernyataan yang dikirimkan kepada BBC sebelumnya, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, sempat menyatakan bahwa klip tersebut berasal dari "video meme internet yang menggambarkan Presiden Trump sebagai Raja Hutan dan anggota Demokrat sebagai karakter dari The Lion King."
Leavitt menambahkan, "Mohon hentikan kemarahan palsu ini dan beritakanlah sesuatu yang benar-benar penting bagi publik Amerika hari ini."
Sebelum video itu dihapus, Derrick Johnson, Presiden National Association for the Advancement of Colored People (NAACP), menyebut video tersebut "menjijikkan dan sangat keji."
Johnson menuduh Trump sedang mencoba mengalihkan perhatian publik dari kasus Epstein dan "ekonomi yang merosot cepat."
Ben Rhodes, mantan wakil penasihat keamanan nasional di era pemerintahan Obama, menyatakan:
"Biarkan itu menghantui Trump dan pengikut rasisnya, bahwa warga Amerika di masa depan akan merangkul keluarga Obama sebagai tokoh yang dicintai, sementara melihat dia [Trump] sebagai noda bagi negara kita."
Dalam unggahan singkatnya, Gubernur Illinois JB Pritzker menyatakan bahwa "Donald Trump adalah seorang rasis."
Kantor Gubernur California, Gavin Newsom juga menulis di platform X, "Perilaku menjijikkan dari presiden. Setiap anggota Republik harus mengecam ini. Sekarang."
Pemimpin Minoritas DPR, Hakeem Jeffries—yang tahun lalu menuduh Trump melakukan rasisme usai Trump membagikan gambar AI yang menggambarkan Jeffries berkumis dan memakai topi sombrero (khas Meksiko)—menanggapi video terbaru ini dengan menyebut Trump sebagai sosok yang "keji, tidak stabil, dan berbahaya."
Ia menambahkan, "Setiap anggota Republik harus segera mengecam kefanatikan menjijikkan Donald Trump."
Klip mengenai gambar keluarga Obama muncul pada akhir dari video yang berdurasi satu menit.
Video itu menyertakan klaim tentang konspirasi pemungutan suara di Michigan pada pemilihan presiden 2020.
Klaim-klaim kecurangan itu telah terbukti tidak benar, sebagai bagian dari tindakan hukum sipil Dominion Voting System, yang memenangkan gugatan terhadap beberapa perusahaan media.
Trump juga memiliki riwayat panjang dalam mengkritik dan menyerang Obama.
Sebelum masa jabatan pertamanya sebagai presiden, Trump secara aktif melontarkan klaim palsu bahwa Obama, yang lahir di Hawaii, sebenarnya lahir di Kenya dan oleh karena itu tidak memenuhi syarat untuk menjadi presiden.
Trump kemudian mengakui bahwa Obama lahir di Amerika Serikat.





























