Pencarian delapan korban yang terjebak di Banyumas dihentikan - 'Korban dinyatakan hilang' dan 'tidak boleh lagi ada penambangan'

Sumber gambar, Liliek Dharmawan
Setelah melakukan pencarian selama sepekan terakhir, dari Selasa (25/07) hingga Selasa (01/08), operasi pencarian dan pertolongan (SAR) di lubang tambang emas Desa Pancurendang, Banyumas, Jawa Tengah diputuskan untuk dihentikan.
Kepala Basarnas Cilacap Adah Sudarsa selaku SAR Mission Coordinator mengatakan, operasi dihentikan setelah ada kesepakatan bersama dengan semua pihak terkait yang ikut dalam pencarian di lubang tambang emas itu.
“Sesuai dengan SOP, apabila tanda-tanda korban tidak ditemukan, maka operasi bisa dinyatakan ditutup. Seandainya ada hal-hal yang di luar perkiraan kita, bisa saja operasi dibuka kembali,” kata Adah seperti dilaporkan wartawan Liliek Dharmawan untuk BBC News Indonesia, Selasa (01/08).
Adah menambahkan, delapan korban yang terjebak di dalam lubang tambang itu pun dinyatakan hilang.
“Berdasarkan evaluasi kita, korban dinyatakan hilang. Karena dari kondisi alam maupun tingkat kesulitan. Juga dari air dan bau, korban sendirinya seperti apa. Kami nyatakan korban hilang. Korban berada di kedalaman sekitar 45 sampai 60 meter. Tidak ada tanda-tanda korban dievakuasi,” lanjut Adah.
Senada, Danrem 071 Wijayakusuma Kolonel Czi Mohammad Andhy Kusuma mengatakan operasi SAR dihentikan karena tidak ada perkembangan yang signifikan dalam pencarian.
“Kendala utama adalah tantangan geografis, lubang tergenang air dan menyulitkan evakuasi dan keadaan akses tambang yang sangat sempit,”ujar Andhy.
Bahkan, katanya, upaya untuk menyedot air dan pembendungan sungai di sekitar lokasi tambang tidak berdampak secara maksimal.
‘Tidak boleh ada lagi penambangan’

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Idhad Zakaria
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Pascakejadian tersebut, Kapolresta Banyumas Kombes Pol Edy Suranta Sitepu menegaskan, segala kegiatan pertambangan di lokasi tersebut akan ditutup.
“Ke depan, di tempat ini, akan kami lakukan penjagaan. Lokasi ini akan ditutup dan bedeng (lapak) tambang bakal dirobohkan. Tidak boleh ada lagi yang melaksanakan penambangan di sini. Kita tidak mau ada korban lagi,” ujar Edy.
Dia juga meminta agar masyarakat proaktif melaporkan jika ada aktivitas penambangan kembali. Apalagi, tambahnya, penambangan yang ada di sini sangat jauh dari kaidah-kaidah penambangan yang ada. “Sangat berbahaya,” kata Edy.
Edy juga menyampaikan jika proses penyidikan terhadap para tersangka penambangan ilegal masih terus berlanjut. “Proses penyidikan segera selesai dan mudah-mudahan secepatnya bisa dilimpahkan,”ujarnya.
Di sisi lain, di lokasi tambang itu juga dilakukan beberapa kegiatan, seperti tabur bunga, salat gaib, dan juga didirikan sebuah papan prasasti yang bertuliskan,
”Di sini pada hari Selasa 25 Juli 2023, kami telah kehilangan 8 saudara kami di Desa Pancurendang, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas.”
Delapan penambang kemungkinan 'sudah meninggal', keluarga ikhlas

Sumber gambar, Basarnas
Sebelumnya, pada Minggu (30/7) atau hari kelima, Kepala Basarnas Cilacap Adah Sudarsa menyebutkan bahwa kemungkinan terburuk yang menimpa delapan penambang itu adalah meninggal dunia.
“Ini sudah memasuki hari kelima. Ambil pahitnya, korban sudah meninggal. Maka tentu perlu antisipasi terutama air, karena telah mengeluarkan hal-hal yang negatif.
"Meski demikian, operasi SAR masih akan berlanjut hingga hari ke tujuh mendatang,” kata Adah, Minggu (30/07), seperti dilaporkan wartawan Liliek Dharmawan untuk BBC News Indonesia.
Delapan penambang tersebut terjebak sejak Selasa (25/07) malam lalu. Adah memprediksi peluang para penambang itu untuk selamat kecil.
“Prediksi pada hari kelima, secara umum kalau ada yang terendam pada kedalaman 60 meter, bisa dibayangkan kondisinya. Bisa saja selamat kalau ada mukjizat. Tetapi peluang itu mungkin kecil,”ujarnya.
Adah meminta kepada para petugas SAR untuk terus berhati-hati, terutama karena airnya sudah makin berbahaya.
“Karena telah memasuki hari kelima, maka harus mempertimbangkan kondisi air itu sendiri.
"Kami mengimbau kepada tim SAR gabungan jangan sampai meminum air yang ada di sungai,” ujarnya.

Sumber gambar, Liliek Dharmawan
Hingga hari kelima, upaya yang dilakukan adalah penyedotan air dari lubang tambang terutama di lokasi yang bernama sumur Bogor itu.
“Penyedotan dengan banyak pompa cukup siginifikan untuk menurunkan volume air di dalam sumur Bogor,” katanya.
Berdasarkan data yang telah diukur, ketinggian air di sumur Bogor yang sebelumnya dari permukaan tanah adalah 11 meter, kini telah menjadi 13 meter.
Artinya, ada ketinggian dua meter yang airnya bisa disedot. Namun, jika pompa dihentikan, maka dengan cepat air bertambah.
“Karena itulah, tim SAR gabungan juga melaksanakan pembendungan air sungai. Jadi, sungai dibentuk dan dialirkan ke tempat lain.
"Tujuannya, mencegah supaya air dari sungai tidak masuk ke dalam sumur-sumur tambang,”ujarnya.
Adah mengatakan pihaknya telah menerima bantuan eskavator, namun dengan pertimbangan teknis, alat berat itu tidak digunakan sehingga upaya pembendungan sungai dilaksanakan secara manual.
Adah menambahkan, upaya pembendungan sungai dan penyedotan diharapkan dapat membuat volume air bisa jauh lebih berkurang.
Berdasarkan analisis dari Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Jateng, sumur-sumur tambang yang ada di Desa Pancurendang, Kecamatan Ajibarang, Banyumas itu sudah terisi air semuanya.
“Jadi, kalau pompa seluruhnya menyedot air, bisa berkurang volumenya. Namun, kalau salah satu pompa mandek, maka air dengan deras kembali masuk ke lubang tersebut,”ujarnya.
Adah menambahkan, kondisi medan di dalam sumur penambangan emas tersebut juga sangat berat. Apalagi di dalam sumur, tidak ada air saja yang merendam, tetapi juga ada longsoran-longsoran.
Keluarga telah mengikhlaskan

Sumber gambar, Liliek Dharmawan
Adah mengatakan pihaknya juga telah mengundang pihak keluarga korban para penambang yang terjebak di dalam perut bumi tersebut.
“Keluarga datang ke sini, untuk melihat langsung kondisinya. Kami juga memberikan paparan mengenai apa yang terjadi dan yang telah dilakukan oleh tim penyelamat,”kata Adah.
Perwakilan keluarga yakni Kepala Desa Kiarasari, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Ahyar Suryadi mengatakan, pihak keluarga telah ikhlas setelah mendengar paparan dari tim SAR gabungan.
“Saya berterima kasih banyak kepada semua pihak yang telah melakukan upaya pencarian. Saya mengapresiasi kerja bapak-bapak semuanya.
"Kami mengikhlaskan keluarga kami yang terjebak di dalam sumur. Kalau memang tidak ditemukan, kami sudah ikhlas,” ujarnya.

Sumber gambar, Liliek Dharmawan
Sementara Kepala Desa Cisarua, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Samid yang mewakili keluarga juga telah merelakan jika para penambang tidak ditemukan.
“Kami sudah melihat bagaimana perjuangan para penyelamat. Ini sudah lima hari dan kami mengikhlaskan. Boleh dikatakan begini, ingin rasanya memeluk gunung tapi apa daya tangan tak sampai. Manusia hanya bisa merencanakan,”katanya.
Sementara itu, Bupati Banyumas Achmad Husein mengatakan pihaknya kini hanya tinggal menunggu keajaiban saja, di tengah upaya yang terus dilakukan.
“Tim SAR gabungan telah berusaha secara keras selama lima hari, tetapi ternyata belum ada tanda-tanda menggembirakan. Kita akan sesuai SOP, berusaha untuk mengevakuasi hingga tujuh hari mendatang,” kata Bupati.
Bupati juga menegaskan kalau seluruh tambang emas ilegal yang ada di Banyumas ditutup.
“Tidak hanya di Pancurendang, Ajibarang saja, melainkan semuanya. Seluruhnya ditutup. Kita juga akan menindaklanjuti dengan rapat bersama dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) agar jangan sampai ke depan, kejadian seperti ini berulang,” tandasnya.
'Suplai oksigen sudah tidak ada lagi'

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Idhad Zakaria
Sebelumnya, pada Jumat (28/07), Kepala Basarnas Cilacap Adah Sudarsa telah mengatakan bahwa pipa plastik yang digunakan untuk menyuplai oksigen kepada delapan pekerja tambang "sudah tidak berfungsi" akibat terendam air.
"Karena kemasukan air, jadi blower [untuk menyuplai oksigen] bermasalah. Sehingga suplai oksigen tidak ada. Itu terjadi karena blower tidak berfungsi," kata Adah Sudarsa kepada wartawan di Banyumas, Jateng, Jumat (28/07).
Diduga lubang itu terendam air yang mengalir dari dua sungai di dekat lokasi pertambangan ilegal tersebut.
Tim penyelam juga belum bisa diturunkan, karena lubangnya "terlalu sempit," tambahnya.
Lubang tambang ilegal itu memiliki diameter 1x1 meter, tapi di dalam lubang diameternya antara 90cm x 70cm. Adapun kedalamannya mencapai antara 40 dan 60meter.
Padahal, menurut Adah Sudarsa, upaya penyelaman harus dilakukan secara tandem.
Karena terlalu sempit, upaya penyelamatan dengan menurunkan tim penyelam tidak mungkin dilakukan.
"Penyelaman jelas tidak mungkin bersama-sama, karena kondisi medan yang sempit," ujarnya, seperti dilaporkan wartawan Liliek Dharmawan untuk BBC News Indonesia.
Baca juga:
Upaya evakuasi 'terkendala air keruh'

Sumber gambar, Liliek Dharmawan
Pada Kamis (27/07), tim penolong telah menggunakan kamera inspeksi (borehole camera) untuk mengetahui kondisi "secara persis" di dalam lubang.
Diperkirakan kedalaman lubang tambang itu sekitar 70 meter.
Penggunaan kamera itu disebut sebagai salah-satu "ikhtiar" untuk menyelamatkan para korban.
"Kita juga berdoa untuk hasil terbaik," kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas ESDM Jateng Boedyo Dharmawan di lokasi tambang, Kamis, seperti dilaporkan wartawan di Banyumas, Liliek Dharmawan, untuk BBC News Indonesia.
Kamera itu sudah dimasukkan ke dalam lubang dan diperoleh gambaran bahwa sumur itu digenangi "air keruh" ungkapnya.
Langkah lainnya, menutup aliran air ke dalam lubang tambang, yang diduga dari dua sungai di sekitarnya, ujar tim SAR.
Delapan pekerja tambang tradisional yang terjebak itu adalah Cecep Suriyana (29), Muhammad Rama (38), Ajat (29), Mad Kholis (32), Marmumin (32), Muhidin (44), Jumadi (33) dan Mulyadi (40). Mereka berasal dari Bogor, Jabar.

Sumber gambar, Liliek Dharmawan

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Idhad Zakaria

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Idhad Zakaria
Apa yang terekam dari kamera inspeksi?

Sumber gambar, LILIEK DHARMAWAN
Kamera inspeksi itu telah dimasukkan ke dalam lubang.
Pada kedalaman sekitar 11 meter, kamera itu merekam lubang sudah dipenuhi "air keruh", kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas ESDM Jateng, Boedyo Dharmawan.
Dia menduga air keruh akibat aktivitas penyedotan air dari dalam lubang.
Boedyo lalu menyarankan agar penyedotan air dihentikan sementara, sehingga kamera itu dapat merekam lebih jelas.
Keputusan menghentikan penyedotan air disetujui Kepala Kantor Basarnas Cilacap, Adah Sudarsa.
"Nanti, akan dihentikan sementara agar air bisa jernih, sehingga kamera bisa mengambil gambar di dalam air,” kata Adah Sudarsa.
Di tempat yang sama, Bupati Banyumas, Achmad Husein, mengaku prihatin dengan peristiwa tersebut.
Ia mengatakan bahwa Tim SAR Gabungan "masih terus bekerja untuk melakukan evakuasi".
Terkait keberadaan penambangan ilegal, Bupati akan mengusulkan agar tambang itu ditutup.
"Karena kewenangan soal tambang tidak berada di tingkat kabupaten melainkan di provinsi dan pusat,” kata dia.
“Yang kita inginkan adalah jangan sampai peristiwa serupa terjadi lagi," tambahnya.
Kisah para penambang liar: 'Saya tetap menjalaninya, ini tuntutan ekonomi'

Sumber gambar, Liliek Dharmawan
Kejadian terjebak di dalam lubang di Desa Pancurendang, Banyumas, bukanlah yang pertama.
Namun sebagian penambang di sana mengaku hal itu adalah risiko yang harus dihadapi.
“Kalau masih ada tambang, saya tetap akan bekerja menambang. Tidak kapok,” ungkap Agus, 40 tahun.
Tuntutan ekonomi menjadi alasannya untuk melanjutkan sebagai pekerja tambang.
Dia sudah menjalani sebagai penambang sejak sembilan tahun silam, sejak ada tambang emas di Desa Pancurendang.
Menjadi pekerja tambang sudah jadi pekerjaan utama, kata Agus.
“Kalau dibandingkan dengan bertani, hasilnya jauh,”jelasnya.
Meski tidak secara spesifik menyebutkan penghasilannya, tetapi dia memberikan informasi kalau setiap pekannya dapat mengantongi Rp1 juta hingga Rp5 juta.
Itu semua tergantung dengan hasil tambang yang didapat.
“Jika warga sini, bekerja mulai jam 09.00 WIB hingga jam 15.00 WIB,” katanya.
Ia mengaku saat turun ke bawah, hanya berbekal senter saja.
Tidak ada helm, pakaian khusus atau alas kaki seperti sepatu.
“Kalau saya masuk ke dalam tambang ya pakai kaos gini saja. Saya juga tidak pakai sepatu.
"Jika mengenakan sepatu malah repot. Jadi ya begini saja. Saat turun ke bawah juga tidak ada tali pengaman, turun lewat tangga,”ujarnya.
Bahkan, lanjut Agus, di dalam perut bumi di Pancurendang itu, ada semacam goa besar yang bisa untuk parkir beberapa mobil.
“Luasannya kisaran 10 x 10 meter di dalam. Jadi seperti goa. Itu sengaja dilubangi, karena memang mengikuti urat emas yang ada,”katanya.

Penambang lainnya, Nino (40) mengaku pernah mengalami "mati lampu pada kedalaman 90 meter".
“Pada saat itu, paniknya luar biasa. Namun, karena penambang, maka risiko semacam itu harus dihadapi.
"Waktu itu saya tidak sendiri, ada beberapa penambang lainnya.
"Untungnya masih bisa sampai luar lagi, meski naiknya harus memakan waktu sampai 30 meter,” jelasnya.
Dikatakan Nino, berdasarkan pengalamannya, air di dalam tanah itu paling di atas 25 meter dan setelahnya akan kering.
“Kalau situasi yang terjadi sekarang, sepertinya ada air dari tempat lain, sehingga menutup lubang atau jalan turun ke lokasi tambang,”katanya.
Nino menambahkan para penambang ada yang dijuluki “Raja Tikus”.
Dia bertugas untuk menelusuri urat emas yang ada. Yang dia lakukan adalah membuat lubang kecil paling dengan diameter maksimal satu meter.
“Mereka masuk ke lubang-lubang kecil itu untuk menelusuri urat emas. Baru nanti di belakangnya ada tim yang menggali. Tetapi, “Raja Tikus” itu biasanya orang-orang Jawa Barat. Kalau orang sini tidak berani,” jelasnya.
Kondisi di dalam, lanjut Nino, sebetulnya nyaman.
Karena ada blower yang mengikuti di belakang. Jadi, pada saat menggali ke bawah atau ke dalam, ada blower dengan jarak satu meter di belakangnya.
“Bahkan di dalam, saya bisa merokok dan minum kopi. Tidak hanya itu, saya bisa tidur-tiduran. Lubangnya ketinggian 90 cm dan lebar sekitar 70 cm,”katanya.
Bahkan, Nino mengaku tidak takut di dalam meski pernah mengalami mati lampu dan blower mati.
“Kalau sudah di dalam itu pikirannya hanya “dapat” dan “selamat”. Dapat emas, tetapi juga bisa pulang dengan selamat,” tandasnya.
Apa yang terjadi di lubang tambang di Banyumas?

Sumber gambar, Liliek Dharmawan
Sebanyak delapan pekerja tambang tradisional terjebak di dalam lubang tambang emas di areal persawahan di Desa Pancurendang, Kecamatan Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah sejak Selasa (25/07) malam, pukul 20.00 WIB.
Tim Basarnas Cilacap bersama dengan aparat Polresta Banyumas dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas melakukan upaya evakuasi dengan menyedot air di dalam tambang emas.
“Ada delapan orang yang terjebak di dalam lubang tambang. Kami bersama dengan Basarnas Cilacap dan TNI melakukan upaya evakuasi terhadap pekerja yang terjebak di dalam. Menurut laporan yang ada, mereka mulai bekerja jam 20.00 WIB dengan masuk ke dalam lubang tambang,” kata Kapolresta Banyumas Kombes Edy Suranta Sitepu di lokasi kejadian pada Rabu (26/7/2023) sebagimana dilaporkan wartawan di Banyumas, Liliek Dharmawan, untuk BBC News Indonesia.

Sumber gambar, Liliek Dharmawan
Menurut Kapolresta, para penambang tersebut terjebak air dari lubang tambang sebelah yang masuk ke dalam lubang tambang tempat mereka bekerja. “Kami mendapat laporan Rabu jam 04.00 WIB dan langsung ke lokasi tambang,”katanya.
Di tempat yang sama, Koordinator Lapangan Basarnas Cilacap, Amir Riyanto, mengatakan pihaknya belum dapat masuk ke dalam lubang tambang untuk melakukan evakuasi.
“Paling awal, kami melakukan assesment di lokasi dengan menanyai para pekerja tambang. Kami ingin tahu mengenai kedalaman dan sumber bocoran air yang kemudian masuk ke dalam lubang tambang yang ada para pekerjanya,”ujarnya.
Para penambang tersebut masuk ke dalam lubang tambang dengan kedalaman yang diperkirakan mencapai 70 meter.
“Yang bisa dilakukan sekarang adalah menyedot air dari dalam lubang tambang. Kita akan lihat, apakah itu berhasil atau tidak. Jika tidak, maka ada cara lain dengan menyelam ke dalam lubang tambang,” kata Amir.
Berdasarkan pemantauan di lapangan, lubang tambang tersebut memiliki luas satu meter persegi. Di setiap sisi dibatasi dengan kayu-kayu seperti tangga yang berfungsi untuk turun sekaligus penguat dinding tanah supaya tidak longsor. Sementara di dalam lubang tersebut terlihat air yang menetes dari dinding tanah. Di dalam juga ada lampu-lampu yang dipasang.
Berdasarkan gambar denah lokasi tambang yang dirilis Basarnas Cilacap, lubang tersebut memiliki kedalaman antara 60 hingga 70 meter dengan beberapa tingkatan. Basarnas Cilacap memperkirakan para penambang terjebak di tingkat keempat.
Kondisi lapak tambang yang berada di areal persawahan di Desa Pancurendang tersebut terlihat kumuh. Lapak-lapak tambang hanya ditutup dengan dinding kayu semi permanen dengan atap seng.
Sementara ada kabel-kabel listrik dari pemukiman penduduk yang dialirkan ke dalam lapak-lapak tambang tersebut.
Salah seorang penambang yang enggan disebutkan namanya menjelaskan bahwa setiap dirinya masuk ke dalam lubang tambang dilengkapi dengan helm, lampu yang menempel helm, kaos tangan serta sepatu bot.
“Kalau masuk ke dalam tambang yang tidak boleh lupa adalah helm dilengkapi headlamp, kaos tangan dan sepatu bot. Kami masuk ke dalam lewat tangga kayu,”ujar laki-laki berusia 30 tahunan asal Bogor tersebut.
Tambang emas tak berizin

Sumber gambar, Liliek Dharmawan
Kapolresta Banyumas, Kombes Edy Suranta Sitepu, memastikan bahwa tambang emas yang beroperasi di areal persawahan di Desa Pancurendang, Kecamatan Ajibarang tersebut ilegal. “Jadi, tambang emas di sini tidak berizin. Kami sedang melakukan pendataan terhadap tambang-tambang yang ada di sini,” jelas Kapolresta.
Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polresta Banyumas, Kompol Agus Supriadi, mengatakan pihaknya telah melaksanakan pemeriksaan terhadap para saksi terkait dengan kasus terjebaknya delapan penambang emas di dalam lubang tambang.
“Kami telah memeriksa saksi-saksi, salah satunya adalah Kepala Dusun II Desa Pancurendang Karipto. Dia mengatakan bahwa tambang emas tersebut belum berizin dan mulai ada sejak tahun 2014 silam. Pertambangan rakyat tersebut merupakan mata pencaharian sebagian besar warga Desa Pancurendang. Saat pembukaan lahan tambang, ada kesepakatan antara pemilik lahan dengan penambang dengan persentase bagi hasil 20℅ untuk pemilik lahan, 20 % untuk pemodal dan 60 % untuk pekerja,”katanya.
Menurut Karipto, lanjut Kasat Reskrim, saat sekarang ada sebanyak 35 lapak tambang, 30 di antaranya aktif dan lima lainnya tidak aktif.
“Dari informasi Karipto, para penambang tersebut membentuk Koperasi Sela Kencana sebagai wadah penambang. Tahun 2021 lalu telah mengajukan izin tambang, tetapi hingga kini Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Jateng belum mengeluarkan izin,” ujarnya.
Kades Pancurendang, Narisun, mengatakan sejak dirinya menjadi kades tahun 2015 akhir, sudah ada pertambangan rakyat.
“Pemerintah desa hanya sebatas mengimbau saja, jangan diteruskan. Tetapi ya begitu, masih tetap jalan terus. Saya menyadari kalau itu sudah menjadi bagian dari ekonomi rakyat. Saya juga tidak pernah berani masuk ke sini,” tuturnya.
Narisun mengatakan para pekerja yang berasal dari desa setempat tidak terlalu banyak, hanya kisaran 50 orang saja. “Sebagian besar dari Jawa Barat. Saya tidak tahu dari mana saja. Warga di sini jarang yang berani masuk ke dalam,” jelasnya.
Lokasi penambangan emas tersebut berada di persawahan milik pribadi warga dengan luas sekitar dua hektare. “Umumnya, antara pekerja dan pemilik lahan akan bagi hasil.”









