Hampir 80 orang tewas saat pembagian sedekah Ramadan di Yaman

Sumber gambar, AFP
- Penulis, George Wright
- Peranan, BBC News
Gagalnya pengendalian massa kembali menelan korban jiwa. Di Sanaa, ibu kota Yaman, sedikitnya 78 orang tewas dalam kericuhan saat mengantre pembagian sedekah Ramadan, kata pejabat lokal.
Sebuah tayangan televisi menunjukkan, kerumunan orang berimpit-impitan hingga tidak dapat bergerak di daerah Bab al-Yaman, Kota Sanaa.
Pengendalian kerumunan yang gagal sampai menyebabkan banyak orang meninggakl dunia bukan kali pertama terjadi.
Di Indonesia, 135 orang tewas akibat terinjak-injak hingga kesulitan bernafas di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Oktober 2022 - dipicu tembakan gas air mata yang dilepaskan aparat keamanan.
Beberapa pekan kemudian, lebih dari 150 orang tewas ketika ribuan orang terjebak di jalan-jalan sempit saat pesta Halloween di Korea Selatan.
Sebelumnya, pada 2015, sekitar 2.300 orang tewas saat berdesak-desakan saat beribadah haji di Mekkah, Arab Saudi.
Lalu, Oktober 2013, setidaknya 115 orang tewas dalam festival keagamaan Hindu di Madhya Pradesh, India, di mana sebagaian besar korban terinjak atau tenggelam.
Apa yang terjadi di Yaman?

Sumber gambar, Reuters
Ratusan orang dilaporkan berdesak-desakan saat mengantre di sebuah sekolah pada Rabu malam (19/04) untuk menerima sedekah sebesar Rp13.400 (US$9) per orang.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Video yang diunggah ke media sosial memperlihatkan, orang-orang berteriak saat puluhan individu tampak jatuh dan tidak bergerak.
Di tengah kepanikan itu, sekelompok orang terlihat berusaha membantu.
Di sisi lain, dua pengusaha lokal yang mengadakan acara sedekah tersebut telah ditangkap dan penyelidikan sedang dilakukan, kata Kementerian Dalam Negeri.
Seorang juru bicara kementerian menyalahkan bahwa kericuhan itu disebabkan oleh "distribusi acak" dana tanpa koordinasi dengan pejabat setempat.
Banyak orang juga terluka dengan 13 orang dalam situasi kritis, kata seorang pejabat kesehatan di Sanaa.
"Perempuan dan anak-anak termasuk di antara yang tewas," ujar seorang pejabat keamanan kelompok Houthi yang menguasai Sanaa sejak 2015 kepada kantor berita AFP.
Kantor berita Associated Press mengutip keterangan dua saksi mata yang mengatakan bahwa pasukan Houthi telah melakukan tembakan ke udara dalam upaya pengendalian massa.
Namun tembakan itu mengenai kabel listrik yang menyebabkan ledakan sehingga kemudian menimbulkan kepanikan masyarakat, tambah mereka.
Usai kejadian berdarah itu, kelompok Houthi kemudian menutup sekolah dan melarang orang-orang, termasuk wartawan, untuk mendekat.
Houthi dilaporkan setuju untuk membayar sekitar Rp29 juta ($2.000) kepada setiap keluarga yang kehilangan kerabatnya, sementara bagi yang terluka akan mendapatkan sekitar Rp5,9 juta ($400).


Kondisi di Yaman
- Negara Yaman telah hancur akibat konflik yang eskalasinya meningkat sejak 2015, ketika kelompok Houthi merebut sebagian besar negara. Di sisi lain, koalisi pimpinan Arab Saudi ikut campur tangan untuk mendukung pemerintah Yaman
- Lebih dari 150.000 orang tewas dalam konflik tersebut, yang secara luas dipandang sebagai perang proksi antara Arab Saudi dan Iran
- Lebih dari 23 juta orang - tiga perempat populasi - membutuhkan bantuan
- Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional sekarang berbasis di Aden


Sumber gambar, Reuters
Kericuhan itu terjadi pada hari-hari terakhir bulan suci Ramadan.
Pekan lalu, terjadi pertukaran tahanan antara pihak yang bertikai di Yaman. Hal ini dilihat sebagai bagian dari peningkatan upaya mengakhiri konflik delapan tahun yang menghancurkan negara itu.
Mohamed Ali al-Houthi, kepala Komite Revolusi Tertinggi Houthi, menyalahkan kericuhan Rabu lalu sebagai akibat dari krisis kemanusiaan di negara itu.
"Kami menganggap negara-negara agresi bertanggung jawab atas apa yang terjadi dan atas kenyataan pahit yang dialami rakyat Yaman karena agresi dan blokade," katanya di Twitter.














