Covid varian Arcturus dipastikan masuk ke Indonesia, kata Kemenkes

Kenaikan kasus Covid-19

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Kasus positif Covid-19 meningkat di beberapa negara, termasuk Indonesia, di tengah munculnya Omicron varian Arcturus.

Kementerian Kesehatan memastikan Covid-19 varian Arcturus atau Omicron XBB.1.16 telah masuk ke Indonesia.

Dalam keterangannya kepada media, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi, mengatakan pihaknya mencatat dua pasien kasus Arcturus asal Jakarta.

"Sampelnya ditemukan positif Maret minggu keempat. Keduanya dari Jakarta," kata dr Siti Nadia Tarmizi kepada Detik.com.

Nadia menyebutkan dua kasus itu seorang laki-laki berusia 54 tahun dan seorang perempuan berusia 33 tahun.

Pasien laki-laki mengeluhkan gejala batuk, pilek, hingga nyeri otot. Sementara gejala pada pasien perempuan masih ditelusuri lebih lanjut.

Secara terpisah, Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dr Ngabila Salama, mengungkap pasien varian Arcturus yang terdeteksi di Jakarta memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri.

Salah satu pasien, yang berjenis kelamin laki-laki, melakukan perjalanan dari India dan tiba di Jakarta pada 16 Maret 2023.

Pasien itu telah menjalani isolasi mandiri pasca-teridentifikasi positif pertengahan Maret dan dinyatakan sembuh awal April 2023.

Terkait dengan status vaksinasi, kedua pasien positif varian Arcturus memiliki riwayat vaksin lengkap hingga dosis ketiga.

Baca juga:

Kasus Covid-19 naik lagi di Indonesia

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Masuknya varian Arcturus atau Omicron XBB.1.16 ke Indonesia terjadi ketika kasus Covid-19 kembali naik.

Pada 11 April, konfirmasi kasus positif nasional mencapai 944 kasus dalam sehari. Meski masyarakat diimbau “tidak perlu khawatir”, para ahli mengatakan pemakaian masker tetap diperlukan untuk “melindungi kelompok rentan”.

Kenaikan kasus infeksi Covid-19 tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di sejumlah negara, seperti India, Korea Selatan, Jepang, Rusia, Jerman, Malaysia, Amerika Serikat, dan Prancis. Jumlah penambahan kasus di negara-negara itu dalam sehari, 11 April 2023, berada di rentang 1.000-12.000 kasus positif.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sedang memantau Omicron varian XBB.1.16 yang dikatakan menyebabkan lonjakan kasus Covid di India dan telah terdeteksi di lebih dari 20 negara.

Epidemiolog Masdalina Pane mengatakan varian itu “mestinya sudah masuk” ke Indonesia.

Namun, dia mengatakan masyarakat “tidak perlu terlalu khawatir” karena varian itu tidak ganas.

“Tetapi bukan berarti kita tidak waspada karena pada mereka-mereka yang berisiko tinggi, yang komorbid, usia lanjut, kelainan imun, itu masih menimbulkan gejala berat. Karena itu, kematian juga akan meningkat, seiring dengan peningkatan kasus,” kata Masdalina kepada BBC News Indonesia, Rabu (12/04).

Meski masyarakat diimbau tidak perlu khawatir, peneliti keamanan dan ketahanan kesehatan global, Dicky Budiman, mengingatkan masyarakat dan pemerintah agar “jangan sampai keterlepasan, bebas sebebas-bebasnya” karena itu bisa memicu masalah besar.

Menurut Dicky, selain kelompok rentan, anak-anak juga masuk kelompok berisiko karena varian terbaru ini banyak ditemukan menginfeksi anak-anak di India.

“Artinya mereka juga harus dilindungi. Kalau mereka belum bisa menerima vaksin, ya orang di sekitarnya yang harus sudah booster [vaksin], berperilaku hidup bersih sehat,” ujar Dicky.

‘Setengah kelas izin sakit’

Pekan ini, Andhita dinyatakan positif Covid. Ini infeksi kedua yang dia alami dan gejalanya lebih ringan dibandingkan sebelumnya.

“Waktu itu rasanya lebih berat sampai enggak bisa mencium [aroma], enggak bisa makan, muntaber, sesak, saturasi juga 90, tapi sekarang enggak. Paling kemarin saja hari Senin dropbanget, sekarang tinggal [hidung] mampet,” kata Andhita kepada BBC News Indonesia, Rabu (12/04).

Perempuan berusia 39 tahun itu sudah merasa tidak enak badan sejak Sabtu (08/04), sebelum akhirnya dinyatakan positif Covid. Kondisinya semakin memburuk pada Senin (10/04) lalu, yang ditandai dengan demam 38 derajat Celsius dan sakit kepala terus-menerus.

Andhita menduga tertular Covid dari anak keduanya yang berusia tujuh tahun, meskipun sebenarnya anaknya tidak dinyatakan positif Covid karena tidak menjalani tes. Waktu itu anaknya mengeluh “sakit-sakit badan” dan mengalami demam selama dua hari.

“Soalnya di sekolahnya lagi pada sakit. Yang aku tahu di kelas satu itu kan muridnya 26, tadi yang aku hitung dari absensi itu yang masuk cuma 15 orang dan kalau lihat di grup sakitnya sama, demam katanya,” kata dia.

Kasus pada anak meningkat

Kenaikan kasus Covid-19

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, India mengalami lonjakan kasus positif Covid-19, termasuk pada anak-anak.

Di India, kasus positif Covid pada anak di bawah usia 12 tahun meningkat. Dokter spesialis anak di India, Dr. Vipin Vashishtha, mengatakan untuk pertama kalinya dalam enam bulan kasus Covid pada anak meningkat.

Hasil pengamatan sementara, gejala yang dialami anak-anak itu antara lain demam tinggi, batuk, dan mata merah (peradangan konjungtiva) yang gatal dan menyebabkan mata terasa lengket—ini juga merupakan gejala infeksi Adenovirus yang sedang menyebar di India.

Para orang tua yang memiliki anak dengan obesitas, asma, dan kelainan imunitas diminta tidak mengabaikan gejala-gejala tersebut.

Dalam beberapa pekan terakhir banyak kota di India mengalami peningkatan kasus yang tajam, tetapi lonjakan tersebut tidak menyebabkan peningkatan rawat inap.

Sementara itu, beberapa negara bagian mewajibkan penggunaan masker di tempat umum dan mengimbau warga untuk mengikuti protokol kesehatan.

Omicron menyerang saluran pernapasan bagian atas

Masdalina Pane, yang juga merupakan peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan virus Omicron dan berbagai variannya memiliki gejala infeksi batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan, yang biasa menyerang saluran pernapasan bagian atas.

“Tidak sampai ke pernapasan bagian bawah, ke alveoli, itu yang menyebabkan sesak, sudah bernapas karena ada cairan yang mengental sepeti ingus, tapi da di paru,” ujar Masdalina.

Gejala-gejala yang disebutkan itu biasa dialami orang-orang yang mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), tetapi untuk mengetahui apakah itu juga gejala Covid atau bukan, Masdalina mengimbau melakukan tes PCR.

Pakai masker tetap penting

Kenaikan kasus Covid-19

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Para ahli epidemiologi menilai penggunaan masker masih relevan untuk saat ini karena itu cara yang mudah dan murah untuk melindungi diri.

Pada awal Maret lalu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengizinkan masyarakat yang ingin melepas masker di angkutan umum, dengan syarat sehat, sudah disuntik vaksin dan vaksin booster.

Namun, Masdalina tidak sependapat dengan IDI karena “meminta masyarakat untuk berhenti menggunakan masker mudah, tapi meminta mereka untuk menggunakan kembali susah”.

“Enak sekali mereka mengatakan kita tidak perlu menggunakan masker. Ingat, euforia yang berlebihan itu berbahaya untuk masyarakat. Artinya masker itu masih cukup efektif, bukan cuma untuk mencegah Covid karena Indonesia ini kaya akan penyakit infeksi, ada difteri, tuberculosis, maka menggunakan masker masih relevan,” tegas dia.

Hanya saja, kata Masdalina, penggunaan masker saat ini bisa dilakukan secara lebih “rasional”, tidak dilakukan sepanjang hari.

Dia mengimbau masyarakat untuk memakai masker di tempat-tempat publik—yang tidak memungkinkan untuk menjaga jarak, seperti di kereta api, di mobil, dan pesawat, sarana layanan kesehatan, dan ketika “tingkat positif” tinggi seperti saat ini.

“3M itu cukup, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Tidak perlu 4M, 5M, 3M saja,” kata Masdalina.

Bagaimana melindungi kelompok rentan?

Kenaikan kasus Covid-19

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki cakupan vaksin terendah di Asia Tenggara.

Dicky Budiman juga menyoroti soal penggunaan masker. Kata dia, memakai masker karena itu salah satu cara yang paling murah dan mudah untuk melindungi seseorang dari virus.

“Jangan dinihilkan fungsi masker itu,” ujar Dicky.

Selain itu, dia mengatakan, hal yang perlu dikhawatirkan di tengah kenaikan kasus adalah bagaimana pemerintah berupaya melindungi kelompok-kelompok rawan.

Menurut dia, jika penanganan Covid menurun, itu “sama saja mengundang masalah”.

“Bagaimana sekarang upaya vaksinasi booster-nya? Sudah digencarkan terus atau engga? Bagaimana dengan vaksinasi primer pada anak-anak yang sudah memenuhi syarat, digencarkan enggak?” kata Dicky mempertanyakan.

Per 12 April 2023, target vaksinasi dosis lengkap atau dosis dua di Indonesia baru mencapai 74,52%. Cakupan vaksinasi itu, kata Masdalina, termasuk yang terendah.

“Cakupan vaksinasi kita itu terendah ketiga setelah Myanmar dan Timor Leste. Sama Laos dan Kamboja saja kita kalah, boro-boro kita mau booster satu, booster dua, [target] cakupan 70% saja di Desember 2021 saja tidak tercapai,” kata dia menjelaskan.

Untungnya, lanjut dia, “Omicron sudah memberikan kita imunitas yang alamiah”. Hal itu disimpulkan dari melihat jumlah imunitas yang dihasilkan per orang. Dia menyimpulkan imunitas orang-orang Indonesia bukan didapatkan dari vaksi, tapi karena telah terinfeksi.

Lebih jauh, Masdalina mengatakan, untuk melindungi kelompok rentan yang paling penting adalah menurunkan jumlah orang yang menderita penyakit-penyakit komorbid untuk Covid, seperti hipertensi, diabetes melitus, asma, tuberculosis, diabetes melitus, dan beberapa penyakit tidak menular lainnya.

“Itu artinya kita memiliki kegagalan dalam mengendalikan penyakit tidak menular. Ini yang menjadi PR kita karena kita tidak bisa mencegahnya hanya saat Covid datang, mencegahnya harus jangka panjang,” kata Masdalina.