Wolbachia: Inovasi cegah kematian akibat DBD, apakah efektif?

Wolbachia

Sumber gambar, Furqon Ulya Himawan

Keterangan gambar, Inovasi Wolbachia menjadi harapan baru untuk menghalau demam berdarah dengue

Demam Berdarah Dengue (DBD) telah menjadi penyakit endemik di Indonesia selama beberapa dekade terakhir. Inovasi Wolbachia menjadi harapan baru untuk menghalau penyakit yang bisa menyebabkan kematian tersebut. Namun, apakah efektif?

Pada awal Januari silam, setelah mengalami demam tinggi berhari-hari, seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun dilarikan ke suatu rumah sakit di Yogyakarta, sekitar dua jam perjalanan dari rumahnya di Semanu, Gunungkidul.

Ketika menjalani perawatan di rumah sakit, bocah itu mengalami apa yang disebut sebagai dengue shock syndrome (DSS), badannya demam tinggi.

“Kondisinya sudah syok, sehingga si adik tidak bisa tertolong,” ujar Yuyun Ika Pratiwi, pejabat Dinas Kesehatan Gunungkidul kepada Furqon Ulya Himawan, wartawan di Yogyakarta yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Jumat (11/08).

Pada kondisi DSS, aliran darah ke seluruh tubuh akan menurun sehingga terjadi kekurangan oksigen (hipoksia). Fase syok bisa menyebabkan kejang, kerusakan hati, jantung, otak dan paru-paru, penggumpalan darah, hingga kematian.

Dijelaskan oleh Yuyun, jika seseorang dengan DBD mengalami fase syok, akan sulit untuk menyelamatkan mereka.

Hasil penyelidikan epidemiolog yang dilakukan Dinas Kesehatan, menunjukkan satu warga lain yang tinggal di area yang sama juga terjangkit DBD. Mereka lalu melakukan fogging atau pengasapan.

Demam Berdarah Dengue

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Petugas melakukan pengasapan insektisida untuk membunuh nyamuk yang menyebarkan virus dengue di Banda Aceh, 30 Agustus 2022

Hingga Juli 2023, terdapat 22.888 kasus DBD di Daerah Istimewa Yogyakarta, 129 di antaranya meninggal dunia, dalam delapan tahun terakhir sejak 2005.

Penyakit ini sempat mewabah di provinsi itu pada 2016, dengan angka tertinggi di Kota Yogyakarta sebanyak 1.702 kasus, 13 orang di antaranya meninggal dunia. Wabah DBD yang terjadi kala itu adalah yang terparah dalam delapan tahun terakhir.

Sebagian besar korbannya adalah anak-anak, termasuk Ashilla Nasywa Haryanto, bocah perempuan berusia tujuh tahun.

Ayah Nasywa, Bambang Haryanto, menuturkan nyawa putrinya tak selamat setelah sempat dirawat di rumah sakit.

Bambang Haryanto

Sumber gambar, Furquon Ulya Himawan

Keterangan gambar, Bambang bersanding dengan satu-satunya foto putrinya, Ashilla Nasywa Haryanto.

Putrinya tak sendirian. Di permukiman tempat ia tinggal di Kricak, Tegalrejo, ada tujuh anak lain yang terjangkit DBD.

Setelah sehari menjalani perawatan di rumah sakit, Najwa akhirnya mengembuskan nafas terakhir.

Putri Bambang meregang nyawa karena kondisinya kala itu sudah dalam fase DSS. “Anak saya tak tertolong. Dia meninggal,” tutur Bambang.

Kasus DBD biasa mengalami peningkatan kala musim hujan yang biasa dimulai pada pertengahan tahun, hingga awal tahun. Pada periode itulah, nyamuk Aedes aegypti yang membawa vírus dengue bersarang dan bertelur di air yang menggenang.

Pada periode Januari – Mei 2023 saja, total 270 kematian akibat DBD di Indonesia, merujuk data Kementerian Kesehatan. Tertinggi adalah Jawa Tengah, dengan 68 kematian.

Pada periode yang sama, terdapat 35.694 kasus DBD di seluruh Indonesia.

Demam Berdarah Dengue

Inovasi Wolbachia

Tingginya kasus DBD di Yogyakarta pada 2016, menjadikan kota itu sebagai kota percontohan penerapan inovasi Wolbachia untuk mengendalikan kasus DBD.

Wolbachia adalah bakteri yang dapat tumbuh di tubuh serangga, termasuk nyamuk Aedes aegypti.

Wolbachia adalah inovasi yang dianggap mampu melumpuhkan virus dengue dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti, sehingga nyamuk itu tak bisa menularkan virus itu ke tubuh manusia.

Baca juga:

Inovasi ini merupakan hasil penelitian kerja sama antara Monash University di Australia dan Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.

Penelitian terkait Wolbachia sudah dimulai sejak 2011, dan lokasi uji coba pertama di dunia dilakukan di Queensland, Australia.

Eggi Arguni, peneliti laboratorium bidang diagnostik Wolbachia di World Mosquito Program (MWP) Yogyakarta menjelaskan bagaimana inovasi ini dilakukan.

WMP Yogyakarta

Sumber gambar, Furqon Ulya Himawan

Keterangan gambar, Eggi Arguni, bersama peneliti lain di WMP Yogyakarta

“Jadi kita perlu menyuntikkan Wolbachia, atau bakteri, ke dalam telur nyamuk Aedes aegypti,” ujar Eggi yang pernah menjadi project leader WMP di Yogyakarta.

Nyamuk Aedes aegypti jantan yang memiliki bakteri Wolbachia di dalam tubuhnya, ketika kawin dengan Aedes aegypti betina, sanggup memblok virus dengue yang ada pada nyamuk betina, kata perempuan berusia 49 tahun tersebut.

Jika nyamuk betina mengandung bakteri Wolbachia di tubuhnya, maka dia akan menurunkan bakteri itu ke telur-telurnya.

“Anak-anaknya semua akan punya Wolbachia,” ujar Eggy, yang juga berprofesi sebagai dosen di Fakultas Kedokteran UGM.

Apakah Wolbachia efektif?

Pada 2016 silam, telur nyamuk yang sudah mengandung Wolbachia dilepaskan di sejumlah lokasi di Yogyakarta.

Selama empat tahun terakhir, mereka mendata dan memonitor pasien dengan gejala demam yang datang ke layanan kesehatan yang menjadi lokasi ujicoba.

Hasilnya, nyamuk berwolbachia efektif bisa menurunkan sampai 77% infeksi dengue dan mencegah hospitalisasi hingga 83%.

“Artinya, orang bisa saja terkena infeksi dengue, tapi infeksinya ringan, bukan berat,” jelas Eggi tentang hospitalisasi.

Setelah melalui rangkaian uji coba, Wolbachia dianggap bisa mengurangi transmisi infeksi virus dengue ke tubuh manusia.

Ini merupakan terobosan, mengingat selama bertahun-tahun, penanganan kasus DBD masih menggunakan cara yang dikenal dengan istilah 3M, dan fogging.

Untuk melihat efektivitas Wolbachia secara detail, harus melakukan pengecekan di lokasi tempat rilis telur Aedes aegypti yang mengandung Wolbachia, kata Eggi.

Eggi Arguni

Sumber gambar, Furqon Ulya Himawan

Keterangan gambar, Eggi Arguni, peneliti laboratorium bidang diagnostik Wolbachia di WMP Yogyakarta

Di Yogyakarta, rilis nyamuk Wolbachia sudah 100% di semua wilayah. “Yang dulunya menjadi wilayah kontrol, juga telah mendapat rilis nyamuk ber-Wolbachia,” kata Eggi.

Sedangkan di Sleman dan Bantul, rilis mencapai 40% di masing-masing wilayah. Harapannya, nyamuk-nyamuk Wolbachia yang telah dirilis mampu meluas dan menyebar ke wilayah lain.

“Tapi saat ini belum ada monitoring lagi, jadi belum tahu sampai berapa persen luasannya,” imbuh Eggi.

Pemilihan uji coba di Yogyakarta, Bantul, dan Sleman, menurut Egi, karena teknologi wolbachia lebih efektif jika diterapkan di tempat yang kasus dan kepadatan penduduknya tinggi, seperti di tiga wilayah itu.

“Makanya kita tidak pilih Kulonprogo dan Gunungkidul, karena penduduknya tidak setinggi di Sleman, Bantul, dan Kota,” jelas Eggi.

Wolbachia untuk halau DBD

Kini, inovasi itu digunakan pemerintah setempat untuk mengatasi tingginya kasus DBD.

Endang Sri Rahayu dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mengungkapkan Wolbachia semula hanya diterapkan di dua wilayah yang menjadi lokasi ujicoba, tapi kini Dinas Kesehatan telah menyebar telur Aedes Aegypti ke seluruh wilayah Kota Yogyakarta.

“Semua di tempat yang kami sebari, kasusnya menurun,” kata Endang.

Baca juga:

Bambang Haryanto, yang putrinya meninggal akibat DBD mengaku melihat sendiri perubahan yang terjadi di tempat tinggalnya.

Sebelumnya, hampir setiap tahun ada anak yang dirawat di rumah sakit karena DBD.

“Waktu anak saya meninggal, belum ada [Wolbachia]. Setelah itu baru masuk Wolbachia di Kricak, katanya ada percobaan,” ujar Bambang.

Demam Berdarah Dengue

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Seorang ibu tampk menutup hidungnya ketika asap dari fogging DBD disemprotkan

Setelah Wolbachia dirilis di kampungnya, kasus DBD berkurang. Pengasapan yang kerap mengganggu pernafasan karena asapnya yang tebal, tak lagi dilakukan.

“Sampai sekarang tidak ada [kasus DBD]. Paling cuma sakit panas biasa, tidak sampai masuk rumah sakit,” kata Bambang.

Selain di Yogyakarta, teknologi Wolbachia juga diterapkan di Sleman untuk mengatasi kasus DBD.

Khamidah Yuliati dari Dinas Kesehatan Sleman, mengatakan teknologi ini telah dirilis di 39 desa di 13 kecamatan.

“2021, kita mulai menerapkannya di Kabupaten Sleman,” kata Yuliati.

Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dalam kurun waktu 8 tahun terakhir, kasus DBD tertinggi terjadi pada 2016 dengan 880 kasus, dan 9 orang meninggal.

Wolbachia dan perubahan iklim

Bakteri Wolbachia bisa bertahan selamanya dalam tubuh Aedes aegypti dan bisa diturunkan pada generasi nyamuk seterusnya.

Ini terbukti pada hasil penelitian pertama yang dilakukan di Queensland, Australia.

“Sejak pertama dirilis, artinya sampai sekarang sudah 12 tahun, Wolbachia masih 100% bertahan di wilayah tersebut,” kata Eggi Arguni, peneliti laboratorium bidang diagnostik Wolbachia di MWP Yogyakarta.

Namun dengan adanya perubahan iklim, cuaca panas yang kadang tidak menentu dan begitu menyengat, bisa membuat frekuensi bakteri Wolbachia yang ada dalam tubuh nyamuk berkurang.

WMP Yogyakarta

Sumber gambar, Furqon Ulya Himawan

“Cuaca panas yang ekstrem itu bisa membuat frekuensinya turun,” kata Eggi.

Kondisi ini terjadi di Vietnam, yang juga menjadi tempat uji coba Wolbachia.

Menurut Eggi, suhu di Vietnam sangat ekstrem dan terjadi dalam jangka waktu tertentu. Imbasnya, jumlah bakteri Wolbachia berkurang atau mati.

“Suhunya itu bertahan sampai beberapa bulan, kering dan panas,” jelas Eggi.

Yang dilakukan para peneliti adalah dengan merilis ulang bakteri Wolbachia, lanjutnya.

Faktor iklim juga menjadi penentu efektivitas Wolbachia.

Fenomena El Nino yang sedang terjadi di Indonesia, diperkirakan akan membuat kasus DBD melonjak.

El Nino adalah fenomena pemanasan suku muka laut yang menyebabkan kekeringan dan curah hujan rendah di beberapa wilayah. Suhu yang lebih panas ini membuat nyamuk Aedes aegypti semakin ganas.

El Nino

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Kemarau berkepanjangan membuat warga di Jawa Tengah terpaksa mengais air di sumber mata air karena sungai telah mengering

Direktur pencegahan dan pengendalian penyakit menular Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, menjelaskan jika suhu udara di atas 30 derajat Celsius, frekuensi nyamuk menggigit akan meningkat 3-5 kali lipat.

Di sisi lain, curah hujan minim membuat genangan air dari hujan sebelumnya tak tergantikan, sehingga menjadi tempat berkembang biak nyamuk pembawa virues dengue tersebut.

“Pada 2023 ada El Nino, maka kekhawatiran kita akan terjadi lonjakan kasus. Daerah harus sudah siap terkait bagaimana pencegahan, bagaimana logistic cairan, obat-obatan, penanganan di faskes (fasilitas kesehatan) untuk mengantisipasi terjadinya peningkatan demam berdarah,” jelas Imran, seperti dikutip dari Kompas.com.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMK) memprediksi puncak fenomena iklim El Nino yang memicu cuaca panas ekstrem di Indonesia pada Agustus-Oktober 2023, diperkirakan akan berlanjut hingga awal 2024.