Metode sederhana Jepang yang ampuh menata kulkas dan mengurangi limbah makanan

Lemari es rapi

Sumber gambar, Rachel Nuwer

Keterangan gambar, Pemborosan makanan rumah tangga adalah masalah global dengan proporsi yang mengejutkan.
    • Penulis, Rachel Nuwer
    • Peranan, BBC Future
  • Waktu membaca: 8 menit

Para peneliti di Tokyo menguji sejumlah teknik pengorganisasian sederhana untuk menghindari lemari es yang berantakan dan mengurangi pemborosan makanan. Teknik simpel ini hanya memerlukan beberapa selotip dan stiker.

Pernahkah Anda merasa cemas sewaktu membuka pintu kulkas? Barangkali tumpukan selai, acar, saus, dan bumbu setengah kosong membuat Anda kesulitan mencari makanan. Atau mungkin bingung menentukan makanan sisa mana dulu yang mesti dihabiskan karena semuanya terbungkus aluminium foil (kertas timah).

Anda bahkan mungkin pernah mengintip ke dalam wadah yang sudah lama terlupakan dengan isi yang begitu menjijikkan. Tanpa pikir panjang, Anda langsung membuangnya ke tempat sampah.

Jika hal ini terdengar familiar, Anda tidak sendirian.

“Seringkali makanan menjadi rusak dan terbuang karena Anda lupa sudah menyimpannya di lemari es. Begitu Anda menemukannya, tahu-tahu sudah membusuk,” ujar Kohei Watanabe, peneliti pengelolaan limbah di Universitas Teikyo di Tokyo.

Pemborosan makanan rumah tangga adalah masalah global dengan proporsi yang mengejutkan. Di Inggris, sekitar 60% dari semua limbah makanan berasal dari rumah tangga. Angka ini mencapai 40-50% di Amerika Serikat.

Di Jepang, statistik ini tidak berbeda jauh. Pada tahun 2021, sekitar 47% dari 5,2 juta ton limbah makanan yang dapat dimakan di Negeri Sakura berasal dari dapur pribadi.

Alasan di balik segala pemborosan rumah tangga ini beragam. Namun, terdapat sejumlah penyebab umum di berbagai budaya dan geografi.

Beberapa di antaranya adalah makanan “terlupakan” dalam kulkas; salah menafsirkan arti label tanggal makanan; membeli makanan secara impulsif dan perencanaan yang buruk saat belanja ke supermarket; dan kurangnya kesadaran umum tentang perlunya mengurangi pemborosan makanan.

Ibu-ibu belanja di supermarket

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Jepang mengimpor sebagian besar makanannya. Menghindari limbah makanan akan membantu menghemat biaya.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Hampir semua negara menyadari permasalahan ini dan banyak yang berupaya mengatasinya. Jepang menghadapi tekanan yang lebih besar untuk menemukan solusinya mengingat hampir dua pertiga makanan mereka diimpor.

Keadaan ini memperburuk dampak ekonomi dan lingkungan dari pembuangan produk makanan yang masih layak konsumsi.

“Jepang adalah negara yang sama sekali tidak mandiri dari segi pasokan pangan,” ujar Tomoko Okayama, peneliti pengelolaan sampah di Universitas Taisho, Tokyo.

“Bukanlah suatu gagasan yang baik untuk mengimpor lebih banyak makanan daripada yang kita butuhkan, kemudian sebagian besar dibuang begitu saja.

Sebagai dua peneliti terkemuka Jepang dalam bidang limbah makanan, Okayama dan Watanabe menyelidiki faktor-faktor utama yang menyebabkan makanan layak konsumsi berakhir di tempat sampah. Mereka kemudian mencoba menggunakan temuan tersebut untuk merancang intervensi berbasis bukti.

Proyek terbaru mereka adalah penerapan teknik penataan lemari es untuk mengatasi salah satu sumber utama pemborosan: lemari es yang berantakan.

Seperti kata Okayama, “Kalau kita bisa membantu orang-orang mengatur lemari es mereka, kita dapat mencegah mereka melupakan makanan di dalamnya.”

Dari kulkas masuk ke tong sampah

Pada tahun 2018, Okayama melakukan survei terhadap lebih dari 500 warga Tokyo untuk menyelidiki alasan mereka membuang makanan.

Bisa ditebak, responden seringkali berasumsi produk segar sudah basi, atau makanan olahan tidak lagi terasa enak. Kadang-kadang, makanan dilupakan begitu saja.

Namun, Okayama juga mengidentifikasi sumber kebingungan yang secara signifikan berujung pemborosan: banyak orang membuang makanan pada tanggal “best-by” alias “baik digunakan sebelum”.

Patut dicatat bahwa “best-by” dan “use-by” (“digunakan sebelum”) masing-masing memiliki makna berbeda. Menurut Watanabe, kedua label ini bukan selalu bermakna suatu produk tidak lagi baik, terutama dalam kasus makanan fermentasi.

“Makanan memang pada akhirnya akan rusak dan tidak aman untuk dimakan, jadi kita harus memastikan mengonsumsinya sebelum itu,” ujarnya.

Sampah makanan

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Banyak makanan yang masih bisa dikonsumsi malah berakhir menjadi limbah

Menurut Watanabe, produsen cenderung konservatif dalam perkiraan mereka. Jadi, Anda tidak perlu terlalu khawatir apabila makanan lewat dari tanggal “digunakan sebelum”.

Alih-alih membuang makanan berdasarkan label “baik digunakan sebelum” atau “best-by”, Watanabe menyarankan menggunakan indra-indra mereka untuk beberapa item berisiko rendah seperti bumbu, produk segar, makanan panggang, dan makanan fermentasi seperti yogurt dan keju.

“Ciumlah baunya, lalu lihatlah kondisinya,” katanya.

"Sebagian besar makanan masih baik [dikonsumsi] untuk jangka waktu yang cukup lama setelah tanggal kedaluwarsa.”

Perhatikan dengan sungguh-sungguh

Okayama dan Watanabe berpendapat bahwa strategi multi-aspek yang mencakup edukasi masyarakat dan teknik praktis mengatur isi kulkas dapat membantu pengurangan mengurangi limbah makanan,

Untuk menguji pendekatan ini, Okayama dan Watanabe mencari mitra pemerintah yang bersedia untuk diuji. Mereka menemukannya di Arakawa, satu lingkungan tempat tinggal di utara Tokyo yang berkomitmen mengurangi limbah makanan.

Sejak tahun 2008, Dinas Lingkungan dan Kebersihan Arakawa mempromosikan proyek bernama “Operasi Arakawa Mottainai”. Mottainai adalah ungkapan dalam bahasa Jepang untuk mengekspresikan rasa menyesal setelah melakukan pemborosan.

Yukiko Miyazaki, salah satu pejabat tinggi Dinas Arakawa, mengatakan pihaknya sudah mencoba berbagai strategi perubahan perilaku selama bertahun-tahun. Akan tetapi, Miyazaki mengakui efektivitas dari strategi-strategi ini sulit diukur.

Baca juga:

Tim penguji memilih dua kompleks apartemen di Arakawa. Satu untuk intervensi eksperimental, sementara satunya lagi sebagai kontrol.

Pertama-tama, Watanabe dan Okayama menghabiskan beberapa hari memilah sekitar satu ton limbah dari apartemen-apartemen tersebut. Mereka memisahkan, menimbang, dan mencatat semua makanan yang terkandung di dalamnya.

Watanabe dan Okayama menemukan sisa makanan bercampur dengan buah dan sayuran utuh, serta kemasan-kemasan mie, roti, makanan ringan, daging, saus, tahu, ikan, minuman, dan onigiri yang belum dibuka.

Kotak-kotak mewah berisi kue, cokelat, dan makanan manis lainnya yang tidak tersentuh atau hampir tidak dimakan adalah produk lainnya yang umum ditemukan. Menurut Okayama, makanan ini “diberikan sebagai hadiah, tetapi tidak ada yang makan”.

Tomoko Okayama dan penghuni apartemen

Sumber gambar, Rachel Nuwer

Keterangan gambar, Tomoko Okayama (belakang) berbincang dengan penduduk Sky Heights tentang limbah makanan

Tim peneliti juga mencatat banyaknya makanan fermentasi yang ditemukan, terutama yogurt. Watanabe mengatakan hal ini merupakan kesalahpahaman konsumen tentang makanan.

“Makanan fermentasi masih ‘hidup’, jadi mereka tidak mudah rusak.”

Selanjutnya, Okayama dan Watanabe mengadakan pertemuan sukarela dengan penghuni kompleks apartemen bernama Sky Heights untuk memperkenalkan proyek tersebut.

Keduanya memberikan kuliah singkat tentang limbah makanan, pemahaman tentang tanggal kedaluwarsa, dan memperkenalkan serangkaian “langkah kecil” yang diharapkan dapat secara halus mengarahkan orang menuju pilihan perilaku positif tanpa komitmen besar.

“Langkah kecil” ini antara lain termasuk teknik pengaturan kulkas yang lebih cerdas. Siapa saja yang ingin mengurangi limbah makanan bisa mencobanya.

Cara mengatur kulkas

Sebagai permulaan, Watanabe dan Okayama memberikan pita perekat berwarna merah-putih kepada para penghuni apartemen.

Pita ini digunakan untuk menandai bagian kulkas yang dikhususkan untuk makanan-makanan yang masa kedaluwarsanya cepat habis.

Pita ini juga bisa ditempelkan langsung di produk yang perlu segera dimakan supaya mencolok.

Watanabe dan Okayama juga membagikan baki plastik bening terbuka supaya makanan yang cepat basi bisa lebih mencolok dan gampang diambil.

Para peneliti juga membagikan stiker bergambar dua orang dengan tangan bersimpuh dengan pesan: “Aku tidak bisa memakanmu. Maaf sekali”.

Hiroko Sasaki dan kulkasnya

Sumber gambar, Rachel Nuwer

Keterangan gambar, Hiroko Sasaki, 82 tahun, telah berusaha untuk mengurangi limbah makanan sepanjang hidupnya.

Para peserta didorong untuk menempelkan salah satu stiker ini di semua makanan yang mereka buang lalu meluangkan waktu untuk merenungkannya.

Seperti kata Okayama, “Saya rasa penting untuk benar-benar memperhatikan.”

Dua pekan setelah pertemuan dengan penghuni Sky Heights, para peneliti kembali melakukan pemilahan sampah kemudian menganalisanya.

Hasilnya menggembirakan: mereka menemukan pengurangan limbah makanan sebesar 10% di area eksperimental, dan peningkatan limbah makanan sebesar 10% di area kontrol.

Dengan menggabungkan temuan ini, Watanabe menyimpulkan teknik intervensi mereka mengurangi limbah makanan sebesar 20%.

Watanabe dan Okayama menduga peningkatan di area kontrol sebagian dikarenakan bulan Desember adalah musim hot pot – hidangan yang hampir pasti menghasilkan limbah.

Garis

Cara mengurangi pemborosan makanan:

  • Buatlah rak atau bagian khusus untuk makanan yang masa kedaluwarsanya cepat habis, atau gunakan pita/stiker untuk memberi label.
  • Makanan yang cepat basi harus gampang terlihat dan mudah dijangkau. Lakukan ini dengan menggunakan nampan atau wadah transparan. Ini lebih baik daripada menyembunyikannya di bagian belakang kulkas.
  • Periksa tanggal "best-by" (atau "best-before") – berbeda dengan "use-by" – di makanan mungkin masih bisa dimakan.
  • Jika Anda perlu membuang makanan, lakukan dengan penuh kesadaran. Untuk mendorong hal ini, para peneliti di Tokyo bahkan menyarankan menambahkan stiker dengan pesan permintaan maaf kepada makanan yang tidak dimakan.
garis

Survei lanjutan dengan peserta Sky Heights menunjukkan 77% dari mereka menggunakan wadah plastik, sementara 18% menggunakan stiker, dan 13% menggunakan pita.

Sekadar berbincang tentang limbah makanan dan menjadikannya topik utama bagi orang-orang rupanya menjadi faktor penting untuk perubahan.

Pada bulan Maret, ketika Watanabe dan Okayama mempresentasikan temuan kepada 14 penghuni Sky Heights, Noriko Nozaki, 78 tahun, mengaku kampanye tersebut membuatnya menyadari “hal-hal yang biasanya tidak terpikirkan”.

Nozaki memang akhirnya malah menggunakan baki plastiknya untuk menyimpan kaleng bir Yebisu – bukannya produk makanan yang cepat habis masa berlakunya.

Baca juga:

Namun, dia sekarang lebih memahami relasi antara limbah makanan dari dapurnya dan masalah dunia yang lebih besar – seperti perubahan iklim dan kelangkaan sumber daya.

“Apa yang Anda pikirkan, sekalipun kecil, bisa memiliki efek besar dalam mengurangi limbah,” katanya.

Adapun Hiroko Sasaki, perempuan berusia 82 tahun yang dididik pada zaman pasca-perang untuk tidak pernah membuang makanan, mengaku “agak marah” melihat foto-foto makanan yang masih bisa dikonsumsi di tempat sampah kompleks apartemen.

“Akan tetapi, marah saja tidak akan menyelesaikan masalah. Membicarakan tentang masalah ini merupakan hal yang baik. Selain itu, bisa mendorong orang lain untuk berbuat lebih banyak,” katanya.

Semangat Mottainai: Penyesalan atas pemborosan

Watanabe dan Okayama tidak tahu sejauh mana temuan mereka di Arakawa dapat diterapkan di daerah-daerah lain di Jepang ataupun di luar negeri.

Namun, mereka tengah melakukan eksperimen lanjutan yang mereplikasi penelitian Arakawa di 520 rumah tangga di Nagai, sebuah kota di prefektur Yamagata.

Harapannya adalah eksperimen ini dapat memicu pemerintah-pemerintah daerah di seluruh Jepang untuk mencoba program serupa di komunitas mereka.

“Melakukannya tidak butuh biaya banyak,” kata Watanabe. “Kalau pemerintah daerah menyukai ide ini, mereka bisa dengan mudah menerapkannya secara lebih luas.”

Miyazaki dan rekan-rekannya sudah memikirkan cara-cara untuk menjangkau lebih banyak penduduk Arakawa, termasuk dengan mengadakan kampanye informasi dan mengajarkan anak-anak tentang pemborosan makanan.

Supermarket Jepang

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Jikalau toko-toko juga bisa mengurangi limbah makanannya, maka dampaknya akan terasa signifikan

“Tantangan kami adalah bagaimana membuat sebanyak mungkin rumah tangga menerapkan ‘langkah-langkah kecil’,” ujarnya.

“Kami ingin membantu menumbuhkan semangat mottainai.”

Para peneliti ini menekankan bahwa orang-orang tidak perlu menunggu intervensi pemerintah. Siapa saja bisa menggunakan baki plastik, selotip, dan stiker – tak peduli di negara mana mereka tinggal.

Okayama juga berharap orang-orang bisa lebih kritis dalam mempertanyakan kapan suatu produk makanan sebenarnya harus dibuang.

“Membuang makanan hanya karena tanggal kedaluwarsanya telah lewat adalah pemborosan sumber daya – dan juga uang Anda,” pungkasnya.

Rachel Nuwer adalah jurnalis sains lepas dan penulis yang berbasis di kota New York. Reportase dia di Jepang didukung oleh hibah dari Program Beasiswa Abe, yang dikelola oleh Dewan Riset Ilmu Sosial dan Japan Foundation New York.

Versi bahasa Inggris dari artikel ini, The simple Japanese method for a tidier and less wasteful fridge, bisa Anda simak di laman BBC Future.