Pertobatan pembalak kayu di Amazon yang mempelajari nilai kehidupan dari pohon

Roberto Brito belajar cara menggunakan gergaji mesin untuk menebang pohon kala berusia 11 tahun.

Sumber gambar, Michael Dantas dan United Nations Foundation

    • Penulis, Christine Ro
    • Peranan, BBC Earth
  • Waktu membaca: 9 menit

Roberto Brito belajar cara menggunakan gergaji mesin untuk menebang pohon kala berusia 11 tahun. Kini, ia menggunakan pengetahuannya yang mendalam tentang pohon dan hutan hujan Amazon untuk memandu wisatawan menikmati keindahan alam desanya dengan sandal jepitnya.

Dulu ketika Roberto Brito melihat sebuah pohon, barisan angka langsung terlintas di benaknya: jumlah uang yang bisa dia peroleh dari menebang pohon.

Brito dan keluarganya, yang tinggal di sepanjang Rio Negro di Amazon Brasil, hanya melihat nilai uang dari pohon yang ditebang.

Dia belajar cara menggunakan gergaji mesin pada usia 11 tahun, dan merupakan generasi keempat dari keluarganya yang berkerja sebagai penebang pohon.

Pada awalnya Brito kesulitan untuk melihat keindahan dari sebuah pohon. Ia hanya tahu cara menghasilkan kayu yang baik untuk mendapatkan uang.

Menolak dorongan untuk menebang pohon sangat menyiksa baginya, seperti berhenti merokok, katanya.

Sekarang, ketika Brito melihat ke sebuah pohon, segalanya telah berubah.

“Kami berhenti memikirkan harga dan mulai memikirkan nilai [yang berbeda]," renungnya.

"Misalnya, saya melihat pohon cumaru (jati Brasil) yang indah, berumur 300 hingga 400 tahun, dengan diameter di atas satu meter, dan tinggi 15-20 meter. Saya masih menyentuhnya, tetapi dengan pola pikir yang berbeda,” ujarnya kemudian.

Transisi Brito dari pekerjaan sebagai penebang kayu melibatkan banyak orang lain dari desanya Tumbira.

Sumber gambar, Michael Dantas and United Nations Foundation

Keterangan gambar, Transisi Brito dari pekerjaan sebagai penebang kayu melibatkan banyak orang lain dari desanya Tumbira

“Ketika saya masih menjadi penebang pohon, saya akan menyentuh pohon seperti itu dan berkata, 'Saya akan menghabiskan tiga atau empat hari bekerja dan saya akan menghasilkan 800 [reais] (sekitar Rp2,5 juta)."

"Saya masih berpikir untuk menghasilkan uang, tapi mungkin saya bisa menghasilkan 700, 800, atau bahkan 1.000 reais melalui pendakian bersama 10 orang, misalnya."

Brito menambahkan "melalui hutan yang berdiri, saya memiliki akses terhadap pendidikan, teknologi, dan masa depan bagi generasi muda yang tinggal di sini, dan saya masih berkontribusi terhadap pelestarian planet kita dalam kaitannya dengan perubahan iklim."

Perubahan hidup yang dilakukan Brito, dari pembalak kayu di hutan menjadi pemandu pendakian, sangatlah dramatis.

Hal ini memerlukan dukungan dan keselarasan insentif keuangan, sosial dan lingkungan.

Keberhasilan Brito menunjukkan sebuah kombinasi yang tepat dari kemauan yang besar dan pemanfaatan pengetahuan serta keterampilan dari orang-orang yang bekerja di industri ekstraktif. Hali memungkinkan adanya jalan keluar bagi sebagian orang.

Cadangan baru

Tumbira, desa ribeirinho (penghuni sungai) yang menjadi tempat tinggal Brito, memiliki banyak bangunan yang tersebar di tengah pepohonan rimbun.

Untuk mencapai pusat komunitas tersebut, pengunjung melintasi tangga kayu dari pinggir perairan, dekat berang-berang yang sedang menjulurkan mulutnya ke atas permukaan air.

Pousada do Garrido, sebuah penginapan dengan lima kamar, adalah perhentian pertama bagi banyak orang yang memasuki Tumbira untuk pertama kalinya.

Ruang pertemuan utama penginapan ini memiliki atap dari logam dan lantai bersih rapi yang terbuat dari papan kayu. Terbuka ke samping, dengan mural hutan warna-warni membingkai dapur.

Anjing-anjing kurus berlarian ke mana-mana, sementara burung nasar berjaga-jaga di tiang gawang di lapangan sepak bola terdekat.

Tambira telah lama menjadi tempat yang terpencil dan tenang.

Ilustrasi: penebangan hutan Amazon dengan menggunakan gergaji mesin.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi: penebangan hutan Amazon dengan menggunakan gergaji mesin.

Namun hal ini telah diubah dalam beberapa tahun terakhir, dengan diperkenalkannya pariwisata yang mengutaman keberlanjutan.

Pada 2008, pemerintah negara bagian Amazonas di Brasil mendirikan Cagar Alam Pembangunan Berkelanjutan Rio Negro, untuk melestarikan alam dan mendukung masyarakat yang tinggal di dalamnya.

Rita Mesquita, ahli ekologi di National Institute of Amazonian Research (INPA), mengatakan bahwa dibandingkan era sebelumnya, terdapat kemajuan besar dalam pengakuan hak masyarakat atas tanah di mana mereka berada.

Meskipun pembentukan cagar alam jenis lain di Brasil dapat menyebabkan perpindahan penduduk yang telah tinggal di sana selama beberapa generasi, cagar alam pembangunan berkelanjutan menghargai para penghuninya.

“Kita perlu melihat orang-orang ini sebagai mitra dan partner dalam konservasi,” kata Mesquita.

Sikap ini, katanya, menciptakan hubungan layaknya pasangan seumur hidup.

Pemandangan Udara hutan Amazon, Brasil.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pemandangan Udara hutan Amazon, Brasil.

Namun, cagar alam yang berkelanjutan memang melibatkan pembatasan ekstraksi sumber daya dari hutan. Mata pencaharian Brito, yang sudah melelahkan secara fisik, menjadi lebih sulit.

Badan-badan lingkungan melakukan inspeksi dan menangkap pembalak kayu. Harga kayu semakin berkurang. Begitu pula dengan pohon-pohon itu sendiri, yang memicu persaingan di antara para penebang.

Brito mengakui, dengan nada blak-blakan, bahwa awalnya ia terus melakukan penebangan liar. “Saya harus mempunyai penghasilan,” katanya.

“Saya sangat membela ekstraksi kayu karena saya tidak berpikir untuk bekerja dengan hal lain. Saya katakan saya tidak akan pernah berhenti melakukan penebangan.”

Namun dalam beberapa tahun berikutnya, Brito mulai melihat adanya perubahan di desanya, Tambira, tempat ia menjabat sebagai ketua komunitas.

Misalnya, penetapan kawasan cagar alam pembangunan berkelanjutan membuat organisasi-organisasi termasuk Foundation for Amazon Sustainability (FAS) mendirikan proyek-proyek pendidikan dan kesehatan di sana.

Pendidikan formal adalah sesuatu yang sangat ia inginkan bagi kedua putranya yang masih remaja. Ia sendiri hanya mengenyam pendidikan selama lima tahun.

Perubahan lainnya adalah wisatawan dari negara bagian Brasil lainnya mulai mengunjungi proyek konservasi di cagar alam tersebut.

Mereka tidak mau menginap karena tidak ada tempat bagi mereka untuk tidur; sebaliknya mereka naik perahu kembali ke kota terdekat, Manaus, yang berjarak beberapa jam perjalanan.

Dari penebang jadi penjaga hutan

Brito mengenang suatu hari Virgilio Viana, direktur jenderal FAS, menyarankan agar dia bekerja di bidang pariwisata berbasis komunitas.

"Saya memandangnya, heran, dan berkata, 'Apa yang akan saya lakukan terhadap orang-orang dari luar [hutan]'? Ada penghalang yang sangat besar."

Tapi Brito memutuskan untuk mencobanya.

“Saya mulai menerima orang-orang di rumah saya sendiri untuk mengetahui seperti apa pengalaman itu,” kata Brito.

Uji coba ini sukses. Ia menyadari bahwa ia memperoleh penghasilan lebih banyak dalam seminggu ketimbang yang pernah ia peroleh ketika dia menebang pohon selama tiga bulan.

Pada tahun 2011—tiga tahun setelah pembentukan cagar alam pembangunan berkelanjutan dan lebih dari dua dekade sejak ia menebang pohon pertamanya—Brito membuka penginapan alamnya.

Dan, dia meletakkan gergaji mesinnya.

Berjalan di tengah hutan Amazon, Brasil.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Berjalan di tengah hutan Amazon, Brasil.

Pondok milik Brito, Pousada do Garrido, menjadi penginapan pertama yang lulus dari Inkubator Bisnis Hutan FAS, yang memberikan akses terhadap kredit, pelatihan dan sumber daya lain yang bermanfaat bagi bisnis masyarakat Amazon.

“Pariwisata berbasis komunitas yang sangat bergantung pada jasa ekosistem, kami anggap [FAS] sebagai bagian dari bioekonomi,” kata Viana.

“Kemungkinan besar saya atau Anda di London mengonsumsi makanan secara berlebihan dan membuat planet ini tertekan secara berlebihan dibandingkan yang mereka lakukan.”

Transisi selama tiga tahun yang dilakukan Brito untuk berhenti melakukan penebangan hutan mencerminkan pendekatan bertahap yang dilakukan yayasan ini dalam membangun kepercayaan dan mengidentifikasi kebutuhan prioritas dari masyarakat.

Melindungi habitat yang berharga tidak harus berarti mengecualikan masyarakat lokal.

Sumber gambar, Michael Dantas and United Nations Foundation

Keterangan gambar, Melindungi habitat yang berharga tidak harus berarti mengecualikan masyarakat lokal.

Pada awalnya, terdapat banyak penolakan dari masyarakat yang ragu bisa mencari nafkah tanpa menebang, kata Viana.

“Ini adalah kesempatan untuk berbicara tentang pentingnya peningkatan kapasitas dan pendidikan,” katanya, seraya menambahkan bahwa hal ini terjadi atas kemauan warga sendiri.

“Saya tidak pernah bermimpi bekerja di bidang pariwisata,” kata Brito.

Namun sebagai seorang wirausaha, ia mampu menerapkan pengetahuannya yang mendalam tentang hutan untuk pariwisata dibandingkan penebangan kayu.

Hal ini tidak hanya mengubah pekerjannya, namun juga hubungannya dengan hutan.

“Saya menyadari bahwa memakan buah dari sebatang pohon setiap tahun jauh lebih baik daripada menebang pohon sekaligus dan mengambil seratus potong kayu.”

Pemandangan hutan Amazon, Brasil.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pemandangan hutan Amazon, Brasil.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Ada pasang surut dalam bisnis ini. Yang paling utama disebabkan oleh kekeringan.

Pada 2023, kekeringan yang berkepanjangan menghadirkan tantangan besar bagi desa yang hanya dapat diakses melalui sungai.

Saat sungai mengering, begitu pula reservasi di penginapan. Pemesanan 111 pengunjung harus dibatalkan, kata Brito.

Ia menjelaskan, hal ini berdampak langsung pada 15 keluarga di Tumbira yang pekerjaannya terkait dengan usaha, seperti membuat kerajinan, memancing, dan kebersihan.

Meski begitu, kata Brito, pariwisata di kawasan cagar alam yang dibangun secara berkelanjutan adalah bisnis yang lebih baik dibandingkan penebangan kayu.

Hal ini juga membawa kualitas hidup yang lebih baik: ia dapat tidur di rumah di samping istrinya, komunitasnya memiliki akses terhadap layanan kesehatan dan teknologi.

Dan terutama adalah rasa bahagia yang besar saat mengetahui bahwa pepohonan dan sumber daya lingkungan akan tetap ada untuk beberapa generasi mendatang.

Meningkatkan skala perubahan

Sebagai mantan ketua komunitas, dan salah satu dari 10 bersaudara, Brito memiliki pengaruh sosial yang besar. Beberapa saudara laki-lakinya juga bertransisi dari penebang kayu ke dunia pariwisata berkelanjutan.

Penularan sosial semacam ini dapat menjadi kekuatan yang besar bagi lingkungan.

Anne Toomey, profesor studi lingkungan hidup di Pace University, AS, merujuk pada penelitian yang menunjukkan bahwa seringkali, "kita memerlukan redundansi dalam jaringan sosial kita" untuk menyebarkan perubahan sosial.

Dengan kata lain, perubahan lingkungan terasa terlalu berisiko kecuali banyak orang di jaringan sosial melakukan hal yang sama.

Ketika perubahan gaya hidup terjadi di suatu wilayah, seperti banyak orang memasang panel surya, hal ini dapat meluas ke wilayah sekitarnya.

Namun, ada bahaya investasi yang tidak merata, yang dapat menimbulkan kesenjangan dan kebencian, kata Toomey.

Transformasi desa Tumbira menjadi pusat ekowisata membutuhkan upaya terkoordinasi dari banyak pihak.

Hal ini belum tentu mewakili banyak komunitas ribeirinho Amazon lainnya.

Namun, perubahan di Tumbira menunjukkan apa yang tidak mungkin dapat mungkin terjadi.

Dan inspirasi Tumbira telah menyebar ke desa-desa tetangga, menurut Viana.

Pelajaran lainnya adalah "tidak menyalahkan atau mempermalukan individu" dapat membawa lebih banyak orang ke dalam gerakan lingkungan hidup, kata Toomey.

Begitu juga dengan menghargai pengalaman masyarakat sebelumnya, misalnya Brito yang memanfaatkan pengalamannya selama puluhan tahun menebang hutan sambil memandu pengunjung berkeliling hutan dengan menggunakan sandal jepitnya.

Cagar Alam Pembangunan Berkelanjutan Rio Negro mencakup sekitar 103.086 hektare.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Cagar Alam Pembangunan Berkelanjutan Rio Negro mencakup sekitar 103.086 hektare.

Toomey yakin, sudah terlalu lama gerakan lingkungan berupaya mengubah ideologi masyarakat, ketika tindakan pada akhirnya lebih penting daripada kemurnian ideologi.

“Ada kekuatan dalam menciptakan definisi yang lebih luas tentang seperti apa seorang aktivis lingkungan hidup,” katanya.

Penelitiannya—mengenai apa yang pada akhirnya memotivasi perubahan untuk konservasi—menunjukkan bahwa pandangan yang lebih pragmatis dapat membantu.

Misalnya, insentif keuangan “dapat bersinergi dengan jenis insentif lainnya”.

Bagi Brito, keberlanjutan adalah tentang tindakan dan bukan 'pidato yang indah'.

“Saya bukan aktivis lingkungan atau aktivis radikal. Saya hanya membela apa yang berhasil di komunitas kita dan apa yang memperkuat komunitas secara keseluruhan,” kata Brito.

“Keberlanjutan adalah kata yang sangat panjang dan sulit untuk diucapkan, namun tidak sulit untuk dicapai. Anda hanya perlu dukungan, dan masyarakat lokal juga perlu menginginkannya. Itulah yang kami lakukan.”

--

Versi bahasa Inggris dari artikel ini, 'The logger who learned the value of living trees' dapat Anda baca di laman BBC Future.