Konflik Sudan: Evakuasi tahap keempat, 107 WNI telah tiba di Jeddah dari Port Sudan

Sumber gambar, KBRI Khartoum
Sebanyak 107 WNI telah tiba di Pelabuhan Jeddah dari Port Sudan pada Senin (1/5) pagi. Proses evakuasi tersebut merupakan tahap keempat setelah 823 WNI berhasil dipulangkan ke Indonesia akibat konflik bersenjata di Sudan.
Duta Besar Indonesia untuk Sudan, Sunarko, mengatakan bahwa kloter tersebut merupakan tahap terakhir untuk evakuasi WNI dalam kelompok besar.
"Ke depannya tentu saja seluruh tim satgas KBRI saat ini juga masih ada di Port Sudan untuk antisipasi sekiranya dalam beberapa hari ke depan masih ada warga negara Indonesia yang memerlukan bantuan untuk evakuasi," kata Sunarko kepada BBC News Indonesia melalui sambungan telepon.
Sunarko menjelaskan bahwa masih ada sejumlah warga yang belum bisa pulang karena berbagai alasan.
“Kalau yang masih merasa aman, ya tentu saja kami tidak bisa juga memaksa mereka dengan pertimbangan tadi ada keluarga dan sebagainya. Dan yang paling kita pastikan, ya mereka dalam keadaan aman saja dan terus kontak dengan mereka,” ujarnya.
Selebihnya, Sunarko mengatakan dirinya dan sebagian dari staf KBRI Khartoum akan menetap di Port Sudan untuk memantau perkembangan dan membantu WNI yang ingin melakukan evakuasi.
“Namun mekanismenya tentu saja lain ya, karena kan ini hanya beberapa orang yang tertinggal dalam daftar kita ada lima atau enam orang, di samping satu yang sakit,” ungkap Sunarko.
Warga sakit yang dimaksud Sunarko merupakan salah satu WNI yang terluka akibat kecelakaan bus pada evakuasi tahap kedua, Rabu (26/4) kemarin.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Sunarko mengatakan bahwa selama proses evakuasi yang sudah berjalan dalam beberapa hari terakhir, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi tim evakuasi.
Salah satunya adalah konflik bersenjata yang tengah berlangsung di Sudan. Meskipun kedua pihak sudah sepakat untuk melakukan gencatan senjata sejak Minggu (30/4) sampai Jumat (2/5) ini, kesepakatan itu tidak sepenuhnya dilaksanakan.
“Kesulitan di lapangan tentu saja, memang proses evakuasi ini kan kita laksanakan pada saat perang masih terus berjalan. Walaupun ada gencatan senjata, tapi tidak secara penuh dipatuhi atau dilaksanakan,“ jelasnya.
Selain itu, titik-titik yang merupakan tempat perlindungan bagi WNI di Khartoum letaknya tidak jauh dari zona konflik.
“Gedung KBRI yang merupakan safe house atau rumah aman bagi warga negara Indonesia itu terletak sekitar 1,5 kilometer dari zona perang. Kemudian permukiman warga negara Indonesia itu juga ada yang dekat dengan kampus di mana mereka studi, itu juga dekat dengan base camp atau markas-markas dari pemberontak,“ kata Sunarko.
Sebanyak 823 WNI telah tiba di Indonesia

Sumber gambar, AFP
Sebanyak 75 WNI dari Sudan telah kembali ke Indonesia menggunakan pesawat TNI AU dalam evakuasi tahap ketiga, pada Senin (1/5), sebagaimana dilaporkan Kementerian Luar Negeri RI.
Sebagian besar yang dievakuasi merupakan pelajar dan tiga di antara mereka adalah pekerja migran.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia telah memulangkan 385 WNI pada 28 April 2023 dan 363 WNI pada 30 April 2023.
"Total WNI yang berhasil dievakuasi dari wilayah konflik di Sudan menuju tanah air sebanyak 823 orang yang terdiri dari 555 laki-laki dan 268 perempuan," sebut Kemlu RI dalam situsnya.

Sumber gambar, Kemlu RI
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan jumlah WNI di Sudan yang tercatat di KBRI Khartoum adalah 1.209 WNI.
"Namun, setelah dilakukan pemutakhiran data, total WNI yang dapat dikontak dan tercatat, jumlahnya adalah 937 WNI," kata Retno.
Menlu Retno Marsudi secara khusus berterima kasih kepada pemerintah Arab Saudi yang telah memfasilitasi jalur transportasi laut dari Kota Port Sudan menuju Jeddah.



Sejumlah negara mengevakuasi para diplomat dan warganya dari Khartoum

Sumber gambar, Militer Prancis
Langkah pemerintah Indonesia serupa dengan aksi sejumlah negara lainnya yang mengevakuasi diplomat dan warganya dari ibu kota Sudan, Khartoum.
Amerika Serikat dan Inggris mengumumkan telah menerbangkan para diplomat mereka keluar dari Sudan, pada Minggu (23/04).
Di hari yang sama, beberapa negara turut mengorganisir evakuasi warga mereka.
- Prancis. Presiden Emmanuel Macron mengonfirmasi sebuah pesawat telah tiba di Djibouti. Pesawat itu mengangku warga Prancis dan warga lainnya.
- Belanda. Sejumlah warga Belanda meninggalkan Khartoum dengan menumpang pesawat Prancis. Pemerintah Belanda berharap dapat mengangkut lebih banyak warga mereka mulai Minggu (23/04) malam.
- Jerman. Militer Jerman mengungkap bahwa pesawat pertama dari tiga pesawat yang dikerahkan, telah bertolak dari Sudan menuju Yordania dengan mengangkut 101 orang.
- Italia dan Spanyol. Beberapa pejabat dari kedua negara itu menyatakan evakuasi warga mereka sedang berlangsung.
- Kanada. Perdana Menteri Justin Trudeau mengatakan pemerintahannya telah mengevakuasi staf diplomat dari Khartoum.
Sejumlah negara lainnya telah mengevakuasi warga mereka pada Sabtu (22/04). Lebih dari 150 orang, yang sebagian besar berasal dari negara-negara Teluk ditambah Mesir, Pakistan, dan Kanada telah dievakuasi melalui jalur laut menuju Pelabuhan Jeddah, Arab Saudi.
Di Khartoum, banyak pelajar asing dari Afrika, Asia, dan Timur Tengah terjebak di kota berpenduduk enam juta orang itu. Mereka berseru agar dievakuasi dari sana.
Sementara itu, terdapat laporan bahwa koneksi internet telah putus di hampir seluruh Sudan sehingga bakal sangat menyulitkan koordinasi penyaluran bantuan atau evakuasi mereka yang terjebak di Khartoum dan kota lainnya.

Sumber gambar, Reuters
Konflik bersenjata antara tentara Sudan (SAF) dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) terus berlangsung di Khartoum sejak Sabtu (15/04) lalu.
Perebutan kekuasaan antara SAF dan RSF menyebabkan terjadinya pengeboman besar-besaran di ibu kota itu, yang menewaskan ratusan orang dan melukai ribuan lainnya.
Biden mendesak gencatan senjata

Sumber gambar, Getty Images
Seorang pejabat AS mengatakan kurang dari 100 orang AS dievakuasi pada Minggu pagi. Sebanyak tiga helikopter Chinook mendarat di dekat Kedutaan AS untuk menjemput mereka.
Usai evakuasi, Kedutaan Besar AS di Khartoum sekarang ditutup.
Sebuah cuitan di akun resmi Kedubes AS menyebut, pemerintah AS tidak dapat menyediakan layanan konsuler bagi warganya di Sudan, dan juga tidak cukup aman bagi pemerintah untuk mengevakuasi warga negara AS.
Kantor berita Reuters mengutip pejabat AS yang mengatakan, beberapa diplomat dari negara lain juga dievakuasi dalam operasi AS, dan pesawat AS tidak diserang selama aksi itu.
Bandara Khartoum telah berulang kali menjadi sasaran penembakan, sehingga penerbangan evakuasi dari sana tidak mungkin dilakukan.
Dalam pernyataannya, Presiden AS Joe Biden mengutuk peperangan di Sudan seraya mengatakan dua pasukan yang bermusuhan "harus menerapkan gencatan senjata segera dan tanpa syarat, mengizinkan akses kemanusiaan tanpa hambatan, dan menghormati keinginan rakyat Sudan".

Sumber gambar, Getty Images

Pertempuran sengit pecah di Khartoum pada 15 April.
Inti dari konflik itu adalah perebutan kekuasaan antara pasukan yang setia kepada panglima militer Sudan Abdel Fatteh al-Burhan dan saingannya RSF.
Penembakan dan pengeboman yang hampir terus-menerus terjadi di Khartoum dan di tempat lain telah menyebabkan terputusnya aliran listrik, akses yang aman ke makanan dan air bagi sebagian besar penduduk.
Beberapa upaya gencatan senjata yang tampaknya telah disetujui oleh kedua belah pihak diabaikan, termasuk jeda tiga hari untuk menandai hari raya Idulfitri, yang dimulai pada hari Jumat.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, pertempuran itu telah menewaskan lebih dari 400 orang dan melukai ribuan lainnya. Namun jumlah korban tewas diyakini jauh lebih tinggi karena sulitnya akses untuk menuju rumah sakit.

Sumber gambar, GLODY MURHABAZI/AFP













