Fenomena meniru taktik kampanye Pilpres di Pilkada 2024 – ‘Tentu kami mengapitalisasi euforia kemenangan Prabowo-Gibran’

Prabowo (kanan) berjoget setelah hasil quick count Pilpres 2024 bermunculan, pada 14 Februari 2024.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Prabowo (kanan) berjoget setelah hasil quick count Pilpres 2024 bermunculan, pada 14 Februari 2024.
Waktu membaca: 9 menit

Nuansa kampanye sejumlah pasangan calon kepala daerah menjelang Pilkada 2024 dinilai mirip dengan gaya Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2024. Strategi ini dilatari upaya mendekatkan diri ke pemerintah pusat sekaligus mendistraksi para pemilih, kata para pengamat.

Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sumatra Utara, Bobby Afif Nasution-Surya, adalah salah satu kandidat yang dinilai punya kesamaan dari segi gaya kampanye dengan Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024 silam.

Di Maluku Utara, unsur kampanye yang dinilai mirip dengan pendekatan Prabowo-Gibran terletak pada pasangan calon gubernur-wakil gubernur Aliong Mus-Sahril Thahir yang diusung Golkar, Gerindra, Perindo, PBB, dan Partai Garuda.

Bagaimana para kandidat dalam Pilkada 2024 meniru taktik Prabowo-Gibran?

Pengamatan di lapangan memperlihatkan spanduk Bobby-Surya yang mengenakan setelan pakaian warna biru dan putih—identik dengan Prabowo-Gibran.

Pemanfaatan teknologi artificial intelligence atau AI juga memoles tampilan Bobby-Surya menjadi lebih ‘menggemaskan’ atau ‘gemoy’ seperti yang sebelumnya kentara pada kampanye Prabowo-Gibran.

Salah satu spanduk Bobby-Surya itu tampak berada di Jalan Sei Belutu, Kecamatan Medan Baru di Medan, Sumatra Utara.

Wakil Ketua Tim Pemenangan Pasangan (TPP) Bobby-Surya, Sugiat Santoso, mengakui pihaknya sengaja meniru gaya dan strategi kampanye Prabowo-Gibran saat memenangkan Pilpres 2024 lalu.

Harapannya, cara itu membuahkan hasil serupa pada Pilgub Sumut 2024.

“Tentu kami mengapitalisasi euforia kemenangan Prabowo-Gibran untuk memenangkan Bobby-Surya di Pilgub Sumut,” ujar Sugiat kepadaBBC News Indonesiapada Sabtu (09/11).

Spanduk pasangan calon Bobby-Surya pada kampanye Pilgub Sumut 2024

Sumber gambar, Nanda Fahriza Batubara

Keterangan gambar, Spanduk pasangan calon Bobby-Surya pada kampanye Pilgub Sumut 2024 terpajang di Jalan Sei Belutu, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, pada 8 November 2024.

Selain terbukti jitu, menurut Sugiat, penerapan gaya kampanye Prabowo-Gibran ini juga menjadi strategi Bobby-Surya untuk merepresentasikan diri sebagai “orang” Prabowo-Gibran di Sumut.

“Artinya, memang orang Prabowo-Gibran di Sumut itu, ya, Bobby-Surya. Kami akan mengimplementasikan program-program kerja pemerintah pusat,” kata Sugiat.

Di sisi lain, Sugiat menyebut gaya berpolitik santai dan riang gembira merupakan preferensi kebanyakan pemilih dari kalangan anak muda.

“Karena mereka seperti itu, tidak ingin yang berat-berat, maunya, ya, senang-senang saja,” ujarnya.

Menurut pengamat politik Sumut dari Universitas Sumatera Utara, Dadang Pasaribu, karakteristik pemilih di Sumut pada Pilkada 2024 cenderung sama seperti di provinsi lainnya, yaitu didominasi pemilih yang pragmatis.

Alat peraga kampanye Prabowo-Gibran pada masa kampanye Pilpres 2024 lalu.

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Alat peraga kampanye Prabowo-Gibran menggunakan AI pada masa kampanye Pilpres 2024 lalu.

Di samping itu, banyak pemilih di Sumut merupakan pemilih berusia muda seperti Generasi Milenial dan Gen Z memiliki karakter yang khas, antara lain menghindari politik.

Data Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatra Utara memperlihatkan signifikansi generasi muda dalam daftar pemilih tetap untuk Pilgub 2024.

Pemilih yang lahir pada rentang tahun 1981-1996 atau Milenial dan 1997-2012 alias Gen Z masing-masing persentasenya mencapai 33,95% dan 27,52%.

Jika dilihat di lapangan, kata Dadang, pasangan Bobby-Surya berupaya menjiplak gaya kampanye Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024 lalu.

“Bobby berupaya meng-copy paste apa yang dilakukan Prabowo dengan berbagai pendekatan yang identik. Seperti pakaian yang lebih mencerminkan anak muda, politik ‘gemoy’ dan riang gembira untuk memperoleh keuntungan yang sifatnya memorial,” ujar Dadang ketika dihubungi pada Rabu (6/11).

garis

BBC News Indonesiahadir di WhatsApp.

Jadilah yang pertama mendapatkan berita, investigasi dan liputan mendalam dari BBC News Indonesia, langsung di WhatsApp Anda.

garis

Hal ini, sambung Dadang, tidak lepas dari karakteristik pemilih di Sumatra Utara yang cenderung sama seperti pemilih di provinsi-provinsi lainnya: pragmatis.

“Banyak pemilih di Sumatra Utara yang tidak kritis,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Bobby yang merupakan menantu mantan presiden Jokowi menjabat sebagai wali kota Medan selama tiga tahun terakhir. Adapun Surya adalah politikus Golkar sekaligus Bupati Asahan dua periode.

Pasangan Bobby-Surya diusung 10 partai politik: Gerindra, Golkar, NasDem, Demokrat, PAN, PKB, PKS, Perindo, PPP dan PSI. Sebagian besar merupakan partai pengusung Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024 lalu yang disebut Koalisi Indonesia Maju atau disingkat KIM.

M Nanda Octavian, 38 tahun, relawan dan pendukung Bobby-Surya, tidak memungkiri adanya kemiripan gaya kampanye Bobby-Surya dengan Prabowo-Gibran.

Akan tetapi, kata Nanda, itu bukan alasan utamanya memilih Bobby.

“Gaya kampanyenya boleh dibilang sama, tapi secara pribadi dan organisasi, kami tidak melihat dari kemiripan itu dalam mendukung Bobby- Surya,” ujar Nanda di sela-sela Debat Pilkada Sumatra Utara pada Rabu (06/11).

Nanda yang ketika ditemui mengenakan rompi biru muda mengeklaim Bobby telah menerapkan berbagai kebijakan yang menguntungkan warga sebagai Wali Kota Medan.

Joget dan kartun jenaka

Di Maluku Utara, pasangan calon gubernur-wakil gubernur Aliong Mus-Sahril Thahir yang diusung Golkar, Gerindra, Perindo, PBB, dan Partai Garuda juga punya unsur kampanye yang dinilai mirip dengan pendekatan Prabowo-Gibran.

Sama seperti Bobby-Surya di Sumatra Utara, pasangan Aliong-Sahril juga mengenakan kombinasi pakaian berwarna biru dan putih.

Tampilan alat peraga kampanye dengan gaya kartun jenaka yang digunakan Aliong-Sahril juga memakai teknologi AI—mirip dengan taktik Prabowo-Gibran.

Begitu pula dengan orasi Aliong-Sahril yang dibungkus dengan gaya santai dan mengajak para simpatisan berjoget.

Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku Utara, Aliong Mus-Sahril Thahir

Sumber gambar, KOMPAS.com/AGUS SUPRIANTO

Keterangan gambar, Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku Utara, Aliong Mus-Sahril Thahir, mengenakan kemeja biru-putih dengan ilustrasi AI sebagai hiasan baju.

Berbeda dengan tim Bobby-Surya di Sumut yang dengan lugas mengakui meniru taktik kampanye Prabowo-Gibran, pihak Aliong-Sahril menyebut kesamaan konsep itu lebih bersifat alami.

“Sebenarnya bukan disamakan, ya, tapi itu terjadi secara natural,” ujar Zilmi Karim, Sekretaris Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Partai Golkar di Maluku Utara, ketika dihubungi pada Minggu (10/11).

Selain itu, Zilmi mengakui konsep kampanye Aliong-Sahril memang disesuaikan dengan wilayah Maluku Utara.

“Kita orang [Indonesia] Timur harus ada sedikit hura-huranya. Jadi, orang enggak bosan untuk datang [dan] mendengarkan visi-misi yang disampaikan,” ujar Zilmi.

“Sebenarnya kalau dibilang ikut-mengikut atau meniru, sebenarnya ini sudah konsep Partai Golkar sendiri sejak lama. Lalu, Pak Prabowo kebetulan sebelum mendirikan Gerindra, kan, di Golkar juga,” ujar Zilmi.

“Kita punya pesta demokrasi. Kita harus berpesta. Jangan menghadirkan sesuatu yang membuat masyarakat kita itu tegang-tegang lagi.”

Alat peraga kampanye pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Aliong Mus-Sahril Thahir menggunakan AI.

Sumber gambar, Dokumentasi tim Aliong-Sahril

Keterangan gambar, Alat peraga kampanye pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Aliong Mus-Sahril Thahir menggunakan AI.

Pengamat politik Maluku Utara dari Universitas Bumi Hijrah Tidore, Isra Muksin, menilai pasangan calon Aliong-Sahril berupaya "membawa nama besar koalisi KIM Plus" untuk mengambil hati masyarakat Maluku Utara.

KIM Plus sendiri merujuk ke koalisi Prabowo dengan tambahan PKS, PKB, PPP, Perindo, dan Nasdem.

Sejumlah partai anggota KIM Plus yakni NasDem, PPP, Partai Demokrat, PKB, PAN, Gelora, dan PSI mendukung pasangan Benny Laos-Sarbin yang merupakan rival Aliong-Sahril di kontestasi Pilgub Maluku Utara.

Benny, mantan Bupati Morotai, meninggal dunia setelah kapal yang ditumpanginya terbakar di Taliabu pada 12 Oktober.

Benny kemudian digantikan istrinya, Sherly Tjoanda.

Isra mengatakan kepemimpinan Aliong Mus selama menjadi Bupati Pulau Taliabu di Maluku Utara selama dua periode kerap menuai kritik.

“[Antara lain] tingkat kemiskinan cukup tinggi dan kesenjangan infrastruktur antar desa dan kecamatan belum memadai,” ujar Isra.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Isra menyarankan pasangan Aliong-Sahril untuk “percaya diri dalam menunjukkan jati dirinya” dan tidak fokus terhadap replikasi gaya kampanye Prabowo-Gibran.

“Muatan dan model kampanye harus berisi tentang pendidikan politik, salah satunya harus memaparkan visi dan misinya kepada pemilih agar pemilih memiliki referensi untuk menentukan pilihan pada Pilkada pada 27 November mendatang,” ujar Isra.

Menanggapi hal ini, Zilmi mengatakan keterlambatan pembangunan infrastruktur di Taliabung pada periode kedua Aliong Mus sebagai Bupati dikarenakan pandemi Covid-19.

“Kami selalu konsentrasi [pada] saat kampanye [untuk] menyampaikan visi-misi ke depan [dan] bukan mencari kesalahan-kesalahan pasangan calon yang lain. Tapi, kan, kami hanya diserang soal pembangunan infrastruktur jalan itu terus,” ujar Zilmi.

Survei Indikator per Oktober 2024 yang menyebut Sherly Tjoanda-Sarbin memiliki elektabilitas sebanyak 40,7% dalam pemilihan Gubernur Maluku Utara, diikuti Husain Alting-Asrul Rahasyid dengan 20,7%, M. Kasuba-Basri Salama (15,5%), dan Aliong-Sahril (10,4%).

Capaian Sherly-Sarbin melampaui angka yang diraih almarhum Benny dan Sarbin pada September 2024 yang mencapai 31,3%.

Sementara, survei yang dilakukan Lembaga survei Aliansi Anak Negeri (AAN) Research & Political Consultant pada 12-18 September 2024 menyebut elektabilitas Aliong-Sahril sebagai yang tertinggi dengan 29,1%, diikuti Husain Alting Syah-Asrul dengan 19,2%, Benny-Sarbin (14,1%) dan pasangan Muhammad Kasuba-Basri Salama (13,9%).

‘Jembatan identitas dengan Prabowo’

Kampanye politik ala Prabowo-Gibran saat Pilpres 2024 terbukti menarik perhatian masyarakat. Dengan begitu, sangat wajar apabila banyak calon kepala daerah yang saat ini tengah berlaga meniru model kampanye serupa.

Pendapat ini diutarakan analis politik sekaligus dosen di Universitas Paramadina, Hendri Satrio.

“Publik bisa saja lupa dengan kekurangan pasangan calon dan tertarik dengan gaya kampanye yang santai dan menyenangkan,” ujar Hendri pada Senin (04/11).

Hendri menilai hal ini “sah-sah saja” selama tidak menyalahi aturan dari KPU dan Bawaslu.

Di sisi lain, Hendri menyoroti upaya “menduplikasi identitas Prabowo” dari sejumlah pasangan calon di Pilkada. Hal ini dilakukan karena Prabowo dinilai berhasil meyakinkan publik.

“Para calon tentu mengharapkan limpahan elektoral untuk Pilkada dengan membangun jembatan identitas mereka dengan Prabowo,” kata Hendri.

Prabowo Subianto menari saat kampanye Pilpre

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Prabowo Subianto menari saat kampanye Pilpres di Jakarta, Indonesia, pada hari Sabtu, 27 Januari 2024.

Beberapa pasangan calon Pilkada lainnya yang disoroti Hendri mengenakan warna biru seperti Prabowo-Gibran antara lain terlihat di wilayah Bandung Barat dan Bekasi di Jawa Barat serta Lombok Barat di Nusa Tenggara Barat dan Banyuasin di Sumatra Selatan.

Berapa kandidat di Pilkada 2024 yang tidak didukung Partai Gerindra pun berupaya membangun narasi bahwa mereka didukung Presiden Prabowo Subianto dan pemerintah pusat.

Hal ini dikemukakan Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago.

Arifki mengamati upaya dari para kandidat membangun asosiasi untuk dekat dengan Prabowo-Gibran.

“Misalnya [pasangan Calon Gubernur-Wakil Gubernur] Mahyeldi-Vasko [Ruseimy] di Sumatra Barat dan lawannya Epyardi Asda-Ekos Albar. Dua-duanya merasa didukung Prabowo,” ujar Arifki pada Rabu (06/11).

Meniru gaya kampanye Prabowo-Gibran, selain menarik pemilih, juga menguntungkan kandidat khususnya petahana, kata Arifki.

Ini dikarenakan mereka tidak perlu memperkuat narasi kesuksesan mereka sebagai petahana.

“Cukup dengan viral,” ujar Arifki.

“Kita jarang melihat misi-misi program dari para kandidat dengan jelas.”

Walaupun mengakui hal ini sah-sah saja dilakukan untuk meraih sebanyak-banyaknya suara dalam Pilkada, Hendri Satrio menekankan pendidikan berpolitik kepada masyarakat tetap harus dikedepankan karena ini “menyangkut etika”.

“Merupakan tanggung jawab kita semua yang sudah memiliki pengetahuan dan nalar yang mungkin lebih dari saudara-saudara kita yang lain untuk bisa memberikan edukasi bagaimana memilih pemimpin yang baik dan tepat untuk kemajuan bersama,” pungkasnya.

Nanda Fahriza Batubara di Sumatra Utara dan Juanda Umaternate di Maluku Utara berkontribusi untuk liputan ini.