Satu keluarga WNI di Gaza berhasil dievakuasi, tiga WNI memilih bertahan membantu RS Indonesia

Wni Gaza

Sumber gambar, Kemlu RI

Keterangan gambar, Keluarga WNI yang terdiri dari Muhammad Husein (kedua kiri), kedua anaknya yang juga WNI, serta istrinya yang adalah warga Palestina (pertama kiri) telah dievakuasi dari Gaza, pada Minggu (12/11).

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi kembali mengumumkan keberhasilan evakuasi satu keluarga WNI dari Gaza, yang menjadi pusat pertikaian antara militer Israel dan kelompok Hamas Palestina.

Keluarga WNI yang terdiri dari Muhammad Husein, kedua anaknya yang juga WNI, serta istrinya yang berkewarganegaraan Palestina berhasil dievakuasi dari Gaza selatan pada Minggu (12/11) waktu setempat melalui pintu Rafah yang berbatasan dengan Mesir.

“Sekitar pukul 18.00 WIB, saya memperoleh laporan bahwa mereka berhasil dievakuasi. Saat ini, beliau-beliau ini sudah berada di wilayah Mesir dan sudah bersama dengan tim evakuasi KBRI Mesir,” ujar Retno melalui video pernyataan yang ia kirimkan dari dalam pesawat kepresidenan, ketika mendampingi Presiden Joko Widodo untuk kunjungan kerja ke Washington DC, AS.

Setelah berhasil dikeluarkan dari Gaza, Muhammad Husein dan keluarganya akan dibawa ke Kairo sebelum dipulangkan ke Indonesia.

"Dengan sudah keluarnya keluarga Pak Hussein dari Gaza maka dua keluarga Indonesia sudah berada di luar Gaza dan menyisakan tiga WNI yang tinggal di sekitar RS Indonesia,"kata Menlu Retno Marsudi dalam rilis yang disampaikan Kemlu RI.

"Sampai saat ini, beliau bertiga memutuskan untuk tetap tinggal di Gaza. Kementerian Luar Negeri terus melakukan komunikasi dengan ketiga WNI tersebut dan juga dengan perwakilan MER-C di Jakarta untuk memastikan kondisi mereka dalam keadaan baik," tambahnya.

Keluarga Abdillah Onim, salah satu keluarga WNI di Gaza yang telah dievakuasi.

Sumber gambar, Kemlu RI

Keterangan gambar, Keluarga Abdillah Onim, salah satu keluarga WNI di Gaza yang telah dievakuasi.

Sebelumnya, Kemlu RI melalui tim Kedutaan Besar RI di Kairo, Mesir, berhasil mengevakuasi empat WNI dan satu orang istri WNI keluar dari Gaza, Palestina.

Menlu Retno Marsudi menyampaikan hal tersebut dalam jumpa pers di kantor Kemlu, Jakarta Pusat, 3 November lalu.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Retno mulanya menyampaikan proses evakuasi empat WNI dan satu istri WNI tersebut tidak gampang lantaran terjadi serangan-serangan.

"Perjalanan evakuasi empat WNI dan satu istri WNI ini bukan hal yang mudah, sekali lagi bukan hal yang mudah," kata Retno.

Retno menuturkan upaya evakuasi semula dilakukan pada Rabu (1/11) waktu setempat. Namun, upaya tersebut gagal lantaran Gaza terus dibombardir Israel. Upaya evakuasi pun kembali dilakukan pada Kamis (2/11) pagi hari waktu setempat, tapi gagal lagi karena pengeboman di Gaza.

Pada Kamis (2/11) siang, empat WNI dan satu istri WNI tersebut berhasil dibawa keluar dari Gaza menuju ke Kairo, Mesir.

"Untuk ketiga kalinya, di tanggal 2 November siang hari, evakuasi dicoba kembali, dan alhamdullillah berhasil. empat WNI dan satu istri WNI sudah berhasil dievakuasi," ungkap Retno.

Baca juga:

BBC News Indonesia menerima pesan suara dari salah satu relawan MER-C di Jalur Gaza, Fikri Rofiul Haq, yang memutuskan bertahan di Gaza.

"Kami relawan MER-C di Gaza tidak akan evakuasi (keluar dari Gaza) untuk membantu mensupplai makanan serta obat-obatan untuk warga Gaza, terkhusus di RS Indonesia,” ujar Fikri, pada Jumat (03/11).

Berdasarkan catatan Kemlu RI, terdapat 10 WNI di Jalur Gaza. Dari 10 WNI tersebut, tujuh orang sudah dievakuasi dan tiga orang memilih bertahan.

rafah

Apa saja kesulitan proses evakuasi?

Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, mengatakan situasi evakuasi di Gaza perlu waktu panjang untuk menciptakan koridor evakuasi.

"Penjelasan saya mengenai upaya 1 November, 2 November pagi, itu merupakan bukti bahwa perlu upaya yang sangat sulit untuk menciptakan koridor aman evakuasi," papar Retno dalam rilis Kemlu RI, Jumat (03/11).

Dia menambahkan, proses administrasi untuk dapat meninggalkan Gaza juga sangat ketat dan melibatkan banyak pihak kunci di Gaza.

"Jadi nama-nama itu harus mendapatkan approval dari banyak pihak yang ada di Gaza, dan ini tidak kita alami di proses evakuasi yang sebelumnya."

Retno mengatakan dirinya berharap pintu perbatasan Rafah tetap dibuka agar keluarga WNI bisa dievakuasi.

"Harapan kita hari ini hari Jumat, di mana di negara-negara Arab adalah hari libur, pintu Rafah tetap dibuka. Harapan dan permintaan ini sudah saya sampaikan ke Menlu Mesir semalam. "

"Saya sudah berkomunikasi dengan Menlu Mesir untuk menyampaikan permintaan agar pintu Rafah yang di bagian Mesir dapat dibuka di hari libur hari Jumat ini."

Bagaimana kondisi di Gaza?

Serangan yang dilakukan oleh Israel ke wilayah Jalur Gaza telah berlangsung hampir sepekan, sejak Sabtu 7 Oktober 2023 lalu.

Aksi itu merupakan respons atas serangan ratusan milisi Hamas ke wilayah bagian selatan Israel.

Kini Jalur Gaza berada dalam ‘pengepungan total’ oleh militer Israel. Mereka memutus aliran listrik serta memblokade bantuan makanan, bahan bakar, dan kebutuhan lainnya.

Relawan medis MER-C Indonesia di Jalur Gaza, Fikri Rofiul Haq.

Sumber gambar, Fikri Rofiul Haq

Keterangan gambar, Relawan medis MER-C Indonesia di Jalur Gaza, Fikri Rofiul Haq.

Fikri Rofiul Haq, seorang WNI yang menjadi relawan medis MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) di Rumah Sakit Indonesia, di Jalur Gaza, merasakan dampak besar dari pengepungan total Israel.

Sebuah bom yang dijatuhkan pesawat tempur Israel jatuh tidak jauh dari Rumah Sakit Indonesia, Senin (30/10), kata Fikri.

"Banyak serpihan pasir dan besi yang terpental masuk ke kompleks Rumah Sakit Indonesia," ujar Fikri melalui layanan pesan singkat.

Sebelumnya, kata Fikri, sebuah rumah susun warga Gaza yang berada beberapa ratus meter dari Wisma Jose Rizal hancur dibom. Di gedung yang biasa disebut Wisma Indonesia itulah Fikri, dua rekannya, dan para pekerja medis Rumah Sakit Indonesia selama ini tinggal.

"Akibat bom itu, banyak warga Gaza yang mengungsi ke Rumah Sakit Indonesia, jumlah sekitar 2000 orang," ucapnya.

Relawan dari Nusantara Palestina Center, Abdillah Onim.

Sumber gambar, Abdillah Onim

Keterangan gambar, Relawan dari Nusantara Palestina Center, Abdillah Onim.

Fikri dari MER-C menjelaskan, kini hampir 80% pasokan listrik di Jalur Gaza telah padam. Pasokan makanan dan bahan kebutuhan dasar lain juga semakin menipis.

“Para WNI di Jalur Gaza mengalami kesulitan pasokan pangan dan air yang sudah sedikit dan juga tentunya kesulitan berkomunikasi karena jaringan internet hampir semua terputus, dan hanya bisa mengandalkan kartu lokal yang berkecepatan 2G,” kata Fikri.

Sekitar 80% populasi di Gaza menggantungkan kebutuhan pokok mereka dari bantuan internasional.

Sementara untuk pasokan listrik, hampir dua pertiganya berasal dari Israel, dan sisanya berasal dari Pembangkit Listrik Gaza (GPP). Namun, pasokan gabungan listrik tersebut hanya memenuhi kurang dari setengah permintaan.

Baca juga:

Sebelumnya, WNI lain yang menjadi relawan, Abdillah Onim, mengatakan, kelangkaan pasokan bahan makanan, air, dan obat-obatan itu disebabkan oleh aksi Israel yang memblokade masuknya bantuan dari luar.

Dia pun menyebut kondisi di Jalur Gaza seperti “kota mati, tidak ada pergerakan. Reruntuhan rumah dan bangunan menutupi jalan raya membuat evakuasi korban yang tertimpa reruntuhan semakin sulit,” kata Onim.

“Kami tidak bisa ke mana-mana karena di luar seperti hujan bom,” ujar Onim.

Jalur Gaza.

Bagaimana kondisi Rumah Sakit Indonesia di Gaza?

Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza.

Sumber gambar, Abdillah Onim

Keterangan gambar, Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza.

Kondisi Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza disebut mengalami kerusakan parah, namun terus memberikan pelayanan kesehatan.

Fikri menjelaskan banyak plafon bangunan itu yang hancur akibat suara dentuman rudal di sekitar RS.

Selain bangunan yang rusak, Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad, mengatakan, RS Indonesia juga mengalami kekurangan bahan medis di tengah membeludaknya jumlah pasien yang berdatangan.

“Rawat inap tidak ada lagi tempat. Pasien di selasar RS, yang penting masuk saja. Yang meninggal tidak lagi bisa masuk ke kamar mayat karena sudah penuh semua. Obat bius, alat bedah, infus, dan segala obat semakin menipis,” kata Sarbini.

“Apalagi sekarang pasokan listrik mati, bahan makanan kurang. Jadi pasien cari makan sendiri. Ini sangat memprihatinkan,” lanjutnya.

Pasien membeludak di RS Indonesia di Jalur Gaza.

Sumber gambar, MER-C Indonesia

Keterangan gambar, Pasien membeludak di RS Indonesia di Jalur Gaza.

Bagaimana eskalasi konflik ke depan?

Asap mengepul selama serangan udara Israel di Jalur Gaza pada Kamis (12/10).

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Asap mengepul selama serangan udara Israel di Jalur Gaza pada Kamis (12/10).

Pengamat politik Timur Tengah, Hasibullah Satrawi, mengatakan, eskalasi konflik antara Israel dan Hamas berpotensi semakin meningkat ke depannya.

Konflik ini akan mencapai titik puncak jika Israel melancarkan serangan darat, walaupun hal itu tidak akan mudah dilakukan.

“Israel ini melakukan serangan balasan dengan nama apapun. Sesi puncaknya adalah serangan darat. Artinya jika serangan darat dilakukan berarti mencapai puncak konflik karena Israel masuk ke dalam wilayah Hamas,” kata Hasibullah.

Sementara itu, pengamat politik timur tengah dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi, menganalisis, perang Israel dan Hamas ini akan berlangsung lebih lama dari konflik-konflik sebelumnya.

Ditambah lagi, Yon melihat ada potensi pihak eksternal yang akan terlibat dalam konflik ini. Siapa mereka?

Pertama adalah kelompok Hizbullah yang salah satunya berada di Libanon, berbatasan langsung dengan Israel.

Hizbullah adalah kelompok milisi Syiah yang mendapat sokongan dari Iran.

Warga Palestina mengemudikan kereta kuda di tengah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di Rafah, Jalur Gaza selatan, Kamis (12/10).

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Warga Palestina mengemudikan kereta kuda di tengah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di Rafah, Jalur Gaza selatan, Kamis (12/10).

Kedua adalah Iran “karena Hamas sebagai kekuatan perlawanan mendapat banyak dukungan dari pelatihan hinggan finansial dari Iran,” kata Yon.

Ghazi Ahmad, juru bicara Hamas, berkata pada BBC bahwa kelompok itu mendapat dukungan langsung dari Iran – yang berjanji untuk "berdiri bersama pejuang Palestina hingga pembebasan Palestina dan Jerusalem – untuk melakukan serangan.

“Selain Hizbullah dan Iran, ada juga milisi di Suriah hingga milisi Houthi di Yaman yang berpotensi memperluas dan memperpanjang perang ini,” kata Yon.

Selain itu, terpecahnya sikap negara-negara besar dunia juga turut mempengaruhi penyelesaian konflik ini.

“Amerika dan beberapa negara Eropa pro dengan Israel. Tapi Rusia dan China mengkritik dan menyalahkan dunia barta atas apa yang terjadi,” ujar Yon.

Jika konflik semakin luas dan berkepanjangan, Yon menilai, proses evakuasi WNI akan semakin sulit. Dia pun meminta pemerintah Indonesia untuk bergerak cepat menyelamatkan WNI tersebut.