Bagaimana publik sebaiknya menyikapi pendakwah Zakir Naik? – 'Isi ceramahnya memecah belah, tidak cocok untuk visi Islam di Indonesia'

Penceramah Islam asal India yang kontroversial, Zakir Naik, tiba dalam acara pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kuala Lumpur 2019 di Kuala Lumpur pada 19 Desember 2019.

Sumber gambar, Mohd RASFAN / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Pendakwah Islam asal India yang kontroversial, Zakir Naik.
Waktu membaca: 9 menit

Pendakwah asal India, Zakir Naik, untuk kedua kalinya bertandang ke Indonesia guna berceramah di sejumlah kota. Dia mengantongi izin berdakwah, walau sempat ada penolakan di Kota Malang, Jatim. Reputasinya yang penuh polemik membuat publik disarankan supaya bersikap proporsional dan kritis menyikapi isi dakwahnya, kata pengamat keagamaan.

Meski sempat diwarnai penolakan, Zakir Naik berceramah sesuai jadwal di Malang, Jawa Timur, pada Kamis (10/07) malam.

Ribuan simpatisan dai kontroversial itu sudah berbondong-bondong memenuhi Stadion Gajayana sejak sekitar pukul 16.00 WIB.

Salah satunya adalah Nana Sari.

Di tengah lautan perempuan berjilbab, Nana terlihat mencolok dengan rambutnya yang terurai. Dia duduk di bangku paling depan.

"Saya mengikuti Dr Zakir Naik sudah lama, sejak beliau viral di YouTube. Saya mengagumi keahlian beliau menghafal kitab-kitab agama di dunia," ujar Nana kepada BBC News Indonesia.

Zakir Naik terakhir kali melakukan safari dakwah di Indonesia pada tahun 2017. Pria yang saat ini tinggal di Malaysia itu dikenal sering kali memfokuskan topik ceramahnya pada perbandingan agama.

Di sejumlah negara, seperti Kanada dan Bangladesh, dakwahnya dilarang karena dianggap memicu kebencian.

Di Malang, Zakir Naik membahas Nabi Muhammad SAW dalam perspektif berbagai agama.

"Kita tidak bisa memaksa kaum non-Muslim untuk membaca Al-Qur'an dan untuk percaya bahwa Al-Qur'an adalah firman Tuhan," ujarnya pada awal dakwah.

Lebih lanjut, Zakir Naik mengatakan siapa pun—Muslim maupun non-Muslim—yang membaca Al-Qur'an dengan pikiran yang tidak bias dan terbuka "pasti akan setuju" bahwa kitab suci itu adalah "firman Allah SWT".

"Jadi hari ini kita akan mencoba membuktikan kepada kaum non-Muslim dari kitab suci mereka bahwa Nabi Muhammad SAW diutus oleh Tuhan sebagai rasul untuk seluruh umat manusia," ujarnya.

"Jika seorang non-Muslim percaya bahwa Al-Qur'an adalah firman Tuhan, maka semua masalah akan terselesaikan."

Zakir Naik, Malang

Sumber gambar, PUPUT PRASETYO

Keterangan gambar, Zakir Naik membawakan ceramah dengan tema Nabi Muhammad SAW dalam Perspektif Berbagai Agama di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur pada 10 Juli 2025.

Dalam dakwah sepanjang tiga jam tersebut, Zakir Naik juga membuka sesi tanya-jawab dengan audiens. Putra Zakir Naik, Farid Naik, juga menjadi penceramah dalam safari dakwah kali ini dan sempat menyerukan pembebasan Palestina.

Berdasarkan pantauan wartawan Putut Prasetyo yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, setidaknya ada dua orang yang mengucapkan kalimat syahadat setelah berdialog dengannya.

Meski begitu, Nana menyebut keputusannya memeluk agama Islam sudah dipikirkannya secara matang dan bukan karena Zakir Naik.

"Kalau niat mualafnya dari diri sendiri," ujarnya.

Zakir Naik sebelumnya memberikan ceramah di Solo pada Selasa (08/07). Dia juga dijadwalkan melakukan dakwah Bandung, Jawa Barat, pada 12 dan 13 Juli, kemudian di Jakarta pada 18 dan 19 Juli.

Namun, kedatangan Zakir Naik ke Malang sempat memunculkan keberatan dari sejumlah kelompok masyarakat.

'Tidak sejalan dengan semangat toleransi'

Pada Selasa (08/07), komunitas Arek Malang Bersuara memasang spanduk di depan gedung DPRD Kota Malang yang menyuarakan penolakan terhadap ceramah Zakir Naik.

Selain spanduk, mereka juga menemui perwakilan rakyat untuk menyampaikan keberatan.

"Zakir Naik adalah pembicara yang dalam orasi ceramahnya kerap menimbulkan kontroversi, terutama terkait isu-isu sensitif antar umat beragama," ujar juru bicara Arek Malang Bersuara, Abdul Aziz Masrib.

"Beberapa pernyataan dan pandangannya di masa lalu telah dianggap memecah belah dan tidak sejalan dengan semangat toleransi serta kerukunan lintas agama yang selama ini dijunjung tinggi di Indonesia, khususnya di Kota Malang."

Meski pihaknya "memahami pentingnya kebebasan berpendapat dan berdakwah", Abdul Aziz mengatakan kebebasan tersebut haruslah "disertai dengan tanggung jawab untuk tidak menyebarkan kebencian, diskriminasi, bersinggungan dengan pemeluk agama yang berbeda."

Ribuan simpatisan datang ke ceramah akbar Dr Zakir Naik dan putranya, Syekh Farid Naik di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur dalam rangka tur dakwah di Indonesia.

Sumber gambar, PUPUT PRASETYO

Keterangan gambar, Ribuan simpatisan datang ke ceramah akbar Zakir Naik dan putranya, Farid Naik di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur pada 10 Juli 2025.

Terpisah, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Kota Malang, Gus Isroqunnajah, mengatakan pihaknya berharap panitia dapat memitigasi potensi gesekan sosial di tengah masyarakat.

Dia khususnya menyoroti sesi tanya jawab dengan Zakir Naik yang terlalu panjang dan bisa menimbulkan risiko kegaduhan.

"Saya kira cukup satu jam saja. Orang kalau sudah pegang mikrofon bisa bicara di luar konteks," jelasnya.

Adapun Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Malang, Abdul Haris, menghimbau agar masyarakat "tidak berasumsi negatif dulu" dan menyerukan sikap terbuka dan toleransi.

"Kegiatan ini jangan sampai menjadi konflik atau memperkeruh suasana," ujarnya.

Baca juga:

Ditemui sebelum acara berlangsung, perwakilan panitia, Hakim, mengatakan dakwah Zakir Naik tidak mengandung unsur provokatif yang dapat berpotensi menimbulkan gejolak sosial.

"Skema [acara] kami lebih teratur dan tidak menyinggung pihak manapun," kata Hakim.

Hakim mengatakan pihak panitia telah berkoordinasi dengan Zakir Naik untuk tidak mengadakan debat kusir dalam dakwahnya—termasuk pembahasan yang berbau kontroversi.

"Tidak ada debat kusir terkait prinsip agama, kami sudah sampaikan dan beliau insya Allah menyetujui," ujarnya.

Sementara Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Malang, Ahmad Taufik Kusuma, mengatakan pihaknya sudah berpesan kepada panitia agar tetap menjaga Malang tetap kondusif.

"Dengan membatasi dan menyeleksi sisi tanya jawab dengan tema yang meneduhkan," ujarnya.

Putra Zakir Naik, Farid Naik

Sumber gambar, PUPUT PRASETYO

Keterangan gambar, Putra Zakir Naik, Farid Naik, juga menjadi penceramah dalam safari dakwah di sejumlah kota di Pulau Jawa.

Meskipun sempat ada penolakan, Nana bersyukur dakwah akbar Zakir Naik tetap bisa terlaksana.

Menurut Nana, apabila ceramah itu dibatalkan, maka ini akan menimbulkan gejolak yang lebih besar di masyarakat. Ia pun menyayangkan penolakan yang disebutnya adalah bentuk intoleransi dari segelintir masyarakat.

"Saya lebih menyayangkan kenapa yang menolak itu salah satunya adalah tokoh dari Muslim itu sendiri. Harusnya sesama Muslim itu sama-sama toleransi. Kenapa dengan agama lain saja tidak bisa toleransi. Ini, kan, dengan sesama agama," tegasnya.

Di Solo, Muhammad Al Amin, 54 tahun, yang mengikuti dakwah Zakir Naik di Universitas Muhammadiyah Surakarta pada Selasa (08/07) turut menyayangkan penolakan di Malang.

"Menurut saya sama sekali tidak ada yang ujaran kebencian atau intoleransi. Tidak ada paksaan," ujarnya.

Siapa Zakir Naik dan bagaimana rekam jejaknya?

Lahir di Mumbai, 59 tahun silam, Zakir Naik dikenal menyampaikan dakwah dengan gaya debat yang tegas dan mencoba membuktikan kebenaran Islam berdasarkan kitab suci agama lain.

Ketenarannya meluas secara global, tetapi dia juga menjadi figur kontroversial yang memicu perdebatan sengit di berbagai negara.

Pada 2016, Zakir Naik mengasingkan diri di Timur Tengah, setelah dituduh "mempengaruhi" pelaku penyerangan sebuah kafe di Dhaka, Bangladesh, yang menewaskan 22 orang.

Stasiun TV miliknya, Peace TV, dilarang di beberapa negara seperti India dan Kerajaan Bersatu. Dia juga menghadapi tuduhan di India atas penyebaran kebencian serta pencucian uang.

Setelah masuk daftar buron di India pada tahun 2016, Zakir Naik menetap di Malaysia.

Protes, India, Malaysia, Zakir Naik

Sumber gambar, Sonu Mehta/Hindustan Times via Getty Images

Keterangan gambar, Aktivis Sudarshan Vahini memprotes penceramah Zakir Naik dan pemerintah Malaysia, di Teen Murti Bhawan di New Delhi, India pada 8 Juli 2018. Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad kala itu mengatakan Malaysia tidak akan mendeportasi Zakir Naik kecuali dia menimbulkan masalah di negara tersebut
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Di Malaysia, Zakir Naik juga sempat menuai kontroversi dalam pernyataannya pada tahun 2019 yang dinilai memicu rasisme di negara itu.

Saat itu, Zakir Naik dilaporkan menyarankan agar "tamu lama" seperti etnis China di Malaysia pergi lebih dulu sebelum "tamu baru" seperti dirinya diusir.

Dia juga dilaporkan mengeklaim umat Hindu di Malaysia lebih mendukung PM India Narendra Modi daripada PM Malaysia Mahathir Mohamad.

Zakir Naik kemudian meminta maaf atas kontroversi tersebut dan menyebut pernyataannya dikutip di luar konteks.

Pada tahun 2017, Zakir Naik berada di Indonesia untuk memberikan ceramah di sejumlah kota, termasuk Bandung, Yogyakarta, Ponorogo, Bekasi dan Makassar.

BBC News Indonesia pada tahun itu melaporkan dalam ceramahnya di Yogyakarta, Zakir Naik antara lain ditanya soal pemimpin non-Muslim dari peserta dengan jawaban, "harus memilih pemimpin Muslim" untuk negara mayoritas Muslim.

Meski sempat memunculkan kekhawatiran dan penolakan dari kelompok lintas agama, kedatangan Zakir Naik pada tahun itu disambut antusias oleh simpatisan yang memadati lokasi ceramahnya, terutama karena popularitasnya melalui media sosial dan YouTube.

Apa yang membuat dakwah Zakir Naik dinilai kontroversial?

Pengamat keagamaan dan peneliti pluralisme Universitas Paramadina, Budhy Munawar Rachman, mengatakan dakwah Zakir Naik secara umum "tidak cocok dengan visi Islam Indonesia yang mengedepankan moderasi beragama".

"Pendekatan [Zakir Naik] itu terlalu melihat agama, dalam hal ini Islam, sebagai satu-satunya kebenaran, dan tidak ada kebenaran di agama yang lain," tutur Budhy ketika dihubungi BBC News Indonesia pada Kamis (10/07).

"Di dalam masyarakat yang eksklusif, Zakir Naik itu sangat disukai. Tapi dalam masyarakat yang lebih moderat dan plural, sebenarnya dia tidak disukai karena itu akan memecah belah."

Zakir Naik, Malaysia

Sumber gambar, MOHD RASFAN/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Zakir Naik di sebuah acara di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 19 Desember 2019.

Di sisi lain, Budhy mengakui bahwa eksklusivisme Zakir Naik justru bukan persoalan besar bagi masyarakat Indonesia secara umum.

Ini karena, menurut Budhy, sebagian besar pemeluk agama di Indonesia juga cenderung eksklusif dalam pandangan akidah mereka.

"Orang seperti Zakir Naik di Indonesia juga banyak," ujarnya.

Meski dirinya tidak menyetujui gaya dakwah Zakir Naik, Budhy menekankan pada akhirnya Zakir Naik bukanlah "sosok yang menganjurkan kekerasan".

"Dia bukan radikal, hanya eksklusif, cenderung intoleran," ujarnya.

Terpisah, pengamat terorisme, Al-Chaidar, mengatakan dakwah Zakir Naik kerap memunculkan orang-orang non-Muslim yang kemudian memeluk agama Islam atau menjadi mualaf.

"Misalnya setelah kalah berdebat kemudian masuk ke agama Islam. Dan itu selalu dipublikasikan secara sangat bombastis," ujarnya,

Namun, Al-Chaidar mengatakan meski nama Zakir Naik kerap dikaitkan dengan kelompok militan, pendakwah itu sebetulnya tidak setuju dengan tafsiran radikal.

"[Sosoknya] sangat sederhana, sangat lembut, dan tidak radikal sama sekali," ujarnya.

Al-Chaidar melihat dakwah komparatif ini sebagai bagian dari "rasionalisme beragama," sebuah pergeseran dari pendekatan spiritual atau psikologis ke arah logika dan ilmu pengetahuan.

Meski dakwah Zakir Naik kerap diselingi cerita konversi agama, Al-Chaidar menyebut banyak pula orang menikmati debat logis yang ditawarkan Zakir Naik tanpa mengubah keyakinan mereka.

Mengapa penolakan terhadap Zakir Naik kali ini tidak sebesar tahun 2017?

Budhy mengomentari suara penolakan dari kelompok masyarakat terhadap Zakir Naik pada kunjungan kali ini yang tidak sebanyak tahun 2017.

"Mungkin karena Zakir Naik itu sudah tidak dianggap berbahaya seperti dulu," ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa kategori 'berbahaya' di Indonesia umumnya dikaitkan dengan radikalisme yang mendorong kekerasan dan melawan negara.

Zakir Naik, menurut Budhy, bukan tipe penceramah seperti itu.

"Zakir Naik tidak dianggap radikal," tegas Budhy.

Baca juga:

Sementara Al Chaidar menduga bahwa panitia kali ini lebih dulu berkomunikasi dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di daerah-daerah.

"Umumnya panitianya mungkin sudah mampu lebih dulu berkomunikasi dengan FKUB," ujarnya.

Ketua FKUB Kota Malang, Taufik, mengakui pihaknya sudah bertemu dengan panitia safari dakwah Zakir Naik pada Selasa (08/07).

Sementara Ketua FKUB Solo, Mashuri, yang dihubungi terpisah mengakui memang ada kekhawatiran dari sejumlah kelompok mengenai kedatangan Zakir Naik.

Pihak FKUB Solo, kata dia, berusaha meredam kekhawatiran.

"Kita berusaha meredam. [Ke mereka kita bilang:] 'Sudahlah, enggak usah didengarkan'," ujarnya.

Penolakan, Zakir Naik

Sumber gambar, DETIK

Keterangan gambar, Spanduk penolakan ceramah Zakir Naik di depan gedung DPRD Kota Malang pada 8 Juli 2025.

Terpisah, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama, Muhammad Adib Abdushomad, menyatakan kehadiran Zakir Naik di beberapa kota mengindikasikan dia sudah diberikan "lampu hijau" untuk masuk ke Indonesia dari instansi terkait.

"Kita berharap kehadiran Zakir Naik justru memperkuat hubungan antarumat beragama, tidak justru sebaliknya yang dikhawatirkan," tambahnya.

Indikator lain yang dianggap PKUB sebagai tanda positif adalah penerimaan Zakir Naik untuk berceramah di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

"Muhammadiyah terkenal sebagai ormas besar dan moderat," ujarnya.

Bagaimana publik sebaiknya menyikapi pendakwah kontroversial?

Menyikapi pendakwah yang terkenal tetapi juga kontroversial, publik sebaiknya bersikap proporsional dan kritis, ujar Budhy dari Universitas Paramadina.

"Tanpa terjebak pada dua ekstrem: terlalu memuja atau terlalu membenci," ujarnya kepada BBC News Indonesia.

Menurut Budhy, publik sebaiknya mengedepankan pemahaman yang kritis terhadap isi ceramah Zakir Naik.

"Jangan menelan mentah-mentah, tapi juga jangan langsung menolak tanpa mendengarkan," tuturnya.

Menurut Budhy, sikap yang terlalu keras terhadap kedatangan Zakir Naik bisa memberi kesan adanya pembungkaman terhadap kebebasan berbicara.

Di Malang, juru bicara Arek Malang Bersuara, Abdul Aziz Masrib, mengatakan pihaknya tidak akan bertindak radikal ketika ceramah Zakir Naik tetap dilakukan.

"Setidaknya kita sudah bersuara untuk menjaga kota Malang agar tetap aman, tidak ada perpecahan," pungkasnya.

Fajar Sodiq di Solo, Jawa Tengah, dan Puput Prasetyo di Malang, Jawa Timur berkontribusi atas artikel ini.