Cerita 'drag queen' Korea Selatan yang menyatukan komunitas: 'Saya seorang ratu yang berjenggot'

Drag queen Korea Selatan

Sumber gambar, KIM MOONYANG

Keterangan gambar, Heezy Yang tampil di acara-acara di Korea Selatan sebagai Hurricane Kimchi.

"Ketika saya pertama kali mencoba drag, saya tidak tahu akan seperti apa dan bagaimana saya nantinya. Drag memberi saya semacam pemberdayaan dan pembebasan," kata Heezy Yang.

Hurricane Kimchi adalah nama panggung Heezy Yang selama hampir satu dekade melakukan drag—berdandan atau tampil dengan gender yang berbeda dari keseharian untuk sebuah pertunjukkan.

Yang mengambil bagian dalam sejumlah acara, termasuk Seoul Pride di ibu kota Korea Selatan.

"Ada ribuan penonton di Seoul Pride dan saya merasa seperti superstar. Saya merasa geli sekaligus terpacu adrenalin," kata Yang kepada BBC.

"Saya menikmati berinteraksi dengan orang-orang dan mendapatkan energi dari kerumunan besar."

Dia mencoba drag untuk pertama kalinya setelah melihat teman-temannya melakukannya. Yang kemudian menyadari itu bisa menjadi alat untuk menggabungkan aktivisme dan kecintaannya pada seni.

Baca juga:

"Awalnya saya tidak punya agenda. Saya melakukannya untuk bersenang-senang," kata Yang.

"Semakin lama saya melakukan drag, semakin banyak saya tampil, saya bisa melihat bagaimana saya bisa menggunakannya dan bagaimana saya bisa menikmatinya."

Drag tidak umum di Korea Selatan dibandingkan dengan negara lain seperti Inggris dan AS. Yang bercerita, beberapa orang tampak terkejut ketika dia keluar di depan umum dengan pakaian Hurricane Kimchi.

“Terkadang saya pergi ke pertunjukkan drag dengan wajah yang sudah dirias dan di jalan orang-orang terlihat bingung,” katanya.

"Saya tidak pernah merasa terancam secara fisik saat berada di ruang publik, meskipun saya sadar bahwa orang mungkin berpikir negatif atau memandang saya dengan cara yang negatif."

Drag queen Korea Selatan

Sumber gambar, SANGSUK SYLVIA KANG

Keterangan gambar, Heezy terlibat dalam sejumlah acara untuk mewakili komunitas LGBT yang lebih luas.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Korea Selatan tidak memiliki undang-undang anti-diskriminasi yang melindungi orang-orang LGBT. Pernikahan sesama jenis juga tidak diakui.

Menjadi LGBT sering dipandang sebagai kecacatan atau penyakit mental. Beberapa gereja konservatif yang kuat menganggap gay atau trans sebagai dosa.

Sebuah laporan Human Rights Watch tahun lalu menemukan diskriminasi terhadap orang-orang LGBT di negara itu sudah "menjalar".

Budaya drag dan LGBT, kata Yang, masih baru dan membingungkan bagi generasi yang lebih tua, tetapi generasi muda Korea lebih sadar.

"Mereka tumbuh dengan menonton film Hollywood dan hal-hal seperti Ru Paul's Drag Race sehingga mereka sangat mendukung dan menerima. Bahkan jika mereka tidak tahu apa itu drag, mereka dengan cepat mempelajari banyak hal.

"Ada kesenjangan antar generasi, tetapi saya sangat yakin masa depan akan lebih baik," ujar Yang.

Dia melihat pengaruh positif dari drag ketika menghadiri acara pride dengan skala yang lebih kecil di kota-kota yang mungkin tidak memiliki skena LGBT yang mapan.

Jumlah orangnya lebih sedikit, tetapi itu berarti kaum muda dapat merasakan kemeriahan dan menjadi bagian dari komunitas LGBT.

"Bisa berada di sana dan tampil untuk mereka adalah hal yang sangat berarti buat saya," katanya.

Yang juga suka mengangkat isu LGBT menjadi perhatian masyarakat. Dia melakukan protes saat sedang drag dan memberi kesadaran tentang kebijakan pemerintah terhadap masyarakat.

Drag queen Korea Selatan

Sumber gambar, INCHEON QUEER CULTURE FESTIVAL

Keterangan gambar, Pertunjukkan drag Hurricane Kimchi lebih ke sisi politik, merujuk pada pekerjaan Heezy sebagai seorang aktivis.

"Saya seorang ratu yang memiliki jenggot dan saya tidak selalu melakukan pertunjukkan yang seksi dan trendi. Saya juga suka melakukan protes dan pertunjukan tentang politik.

"Penting juga bagi saya untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat dan mendukung orang lain di masyarakat," ujar Yang.

"Jika kita ingin mencapai sesuatu dan menyelesaikan sesuatu, kita harus tampil dan mengencangkan suara.

"Orang-orang harus menyadari bahwa kita ada di sini dan kita sama seperti mereka dan memiliki hak asasi manusia."

Kecintaan Yang pada drag dan ide untuk menampilkannya dalam skala yang lebih besar membuatnya terlibat dalam penyelenggaraan Seoul Drag Parade pada 2018.

"Saya pikir saya akan mengumpulkan mungkin 20 atau 30 orang dan kami hanya akan bersenang-senang dan berkumpul. Di penghujung malam, jumlah orang yang mengikuti perayaan sepanjang hari adalah sekitar 1.000 orang, sangat banyak, tapi itu bagus," kenangnya.

Selama pandemi, parade itu diadakan secara online, tetapi tahun ini diharapkan akan kembali ke acara tatap muka.

Yang berencana menyelenggarakannya di Itaewon, sebuah area di Seoul yang memiliki sejumlah bar milik LGBT.

Daerah tersebut terdampak secara finansial oleh pandemi dan baru-baru ini, kehancuran Itaewon yang menewaskan 159 orang.

Sejumlah bisnis LGBT berjuang secara finansial karena jumlah pengunjung berkurang.

Drag queen Korea Selatan

Sumber gambar, ARGUS PAUL

Keterangan gambar, Heezy Yang ikut membuat Seoul Drag Parade untuk menyoroti aksi drag.

Drag dan acara seperti Seoul Drag Parade telah "mendukung komunitas LGBT di Korea," kata Todd Henry, profesor sejarah di University of California, San Diego.

"Jika Anda bertanya kepada seseorang 20 tahun yang lalu tentang apa itu drag queen, saya tidak yakin mereka akan tahu apa yang Anda bicarakan. Mereka mungkin akan salah mengira orang itu sebagai transgender.

Dalam hal ini, kegiatan yang dipimpin oleh drag queen dan oleh komunitasnya telah memperluas pemahaman biner secara historis tentang gender dan seksualitas," katanya.

Dia menambahkan, di festival pride, sejumlah mitra muncul untuk mendukung aksi drag dan juga mendukung komunitas LGBT.

"Dalam beberapa tahun terakhir, orang-orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai 'minoritas seksual' (termasuk para drag queen) dan pendukung progresif mereka telah meningkat menjadi lebih dari 100.000 per tahun di Balai Kota atau di mana pun Festival Pride Seoul diselenggarakan. Saya optimistis dengan masa depan," katanya.

Bagi Yang, fokusnya adalah melanjutkan drag dan menyatukan komunitas.

"Terkadang di media sosial saya mendapat pesan dan komentar dari orang-orang yang berterima kasih kepada saya atas acara yang saya selenggarakan dan fakta bahwa saya membuat acara yang ramah dan mudah diakses.

"Saya suka berpikir saya membuka pintu untuk orang-orang dan mereka menghargainya. Itu membuat saya bahagia. "