'Saya dicekik saat berhubungan seks' - Praktik asfiksia seksual yang mengancam nyawa dan berbahaya bagi kesehatan

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Cecilia Barria
- Peranan, BBC News
Asfiksia seksual adalah perilaku seksual ketika salah satu pasangan dicekik sehingga mengalami sesak nafas, dan dalam beberapa kasus menyebabkan kematian.
“Kami mencintaimu, teruslah berdansa dengan para malaikat.”
Kata-kata itu diucapkan oleh ibu dari Georgia Brooke saat keluar dari pengadilan di Inggris.
Beberapa hari sebelumnya, pengadilan menetapkan Georgia yang berusia 26 tahun itu tak sengaja dicekik hingga tewas oleh pacarnya saat berhubungan seksual.
“Terlalu sering hal ini berakhir dengan akibat yang fatal,” kata seorang pejabat peradilan forensik ketika menggambarkan bahaya dari praktik asfiksia seksual.
Kegiatan seksual ini dilakukan dengan menghalangi pernapasan pasangan atau diri sendiri sampai batas tertentu (autoasfiksia erotis) untuk memperoleh kenikmatan seksual.
Meski biasanya tidak berakibat fatal, namun praktik hubungan seksual ini dapat menimbulkan konsekuensi secara fisik, kognitif, hingga psikologis, kata para ahli.
Hanya ada sedikit penelitian ilmiah di dunia yang didedikasikan untuk menganalisis fenomena seksual ini, namun beberapa penelitian menjelaskan bagaimana perilaku ini terjadi di berbagai negara.

Sumber gambar, Keluarga
Praktik umum di kalangan kaum muda
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Para peneliti dari Universitas Hamburg dan Universitas Teknik Ilmenau menerbitkan penelitian pada 2024 tentang praktik seks dengan kekerasan atas dasar suka sama suka di Jerman – termasuk tindakan seperti memukul, mencabut rambut, atau mencekik.
Mereka menemukan bahwa sekitar 40% orang dewasa di bawah usia 40 tahun telah menggunakan beberapa praktik ini saat melakukan hubungan seksual. Dan, laki-laki biasanya yang berperan secara aktif.
Studi lain yang dilakukan Universitas Reykjavik, Islandia pada 2023, menemukan bahwa 44% responden melaporkan pernah mengalami asfiksia seksual.
Kebanyakan dari mereka berusia di antara 18 hingga 34 tahun.
Temuan ini menunjukkan bahwa generasi muda adalah kelompok yang paling banyak melakukan pencekikan saat berhubungan seksual.
Sebuah studi pada 2024 yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas Melbourne dan Universitas Queensland mencatat bahwa sekitar 50% mahasiswa di Australia pernah melakukan asfiksia seksual.
'Seks penuh kekerasan di kalangan muda dan remaja'
Salah satu peneliti tentang perilaku seksual terkemuka di Amerika Serikat, Debby Herbenick, mendeteksi terjadinya peningkatan pesat praktik asfiksia seksual di kalangan kaum muda di negaranya.
“Ini sangat mengkhawatirkan,” kata akademisi di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indiana yang telah menerbitkan lima buku serta lebih dari 200 penelitian dalam wawancara dengan BBC Mundo.
Dalam sebuah penelitian nasional, Herbenick dan timnya menemukan bahwa 40% perempuan Amerika berusia antara 18 dan 24 tahun mengalami asfiksia seksual saat melakukan hubungan seksual.
Dan dalam sebuah penelitian yang berfokus secara khusus pada mahasiswa baru – mereka yang berada di tahun pertama sekolah, 42% melaporkan mengalami asfiksia seksual saat melakukan hubungan seksual.
Salah satu temuan paling menarik dari penelitian ini adalah, pada kasus mahasiswi, hampir 60% mengaku mengalami sesak napas.
Praktik ini dulunya jarang terjadi, kata Herbenick, namun kini telah berubah.
“Dengan adanya pornografi online, seks menjadi lebih penuh kekerasan di kalangan anak muda dan remaja,” kata Herbenick.

Sumber gambar, Getty Images
Herbenick menjelaskan, asfiksia seksual adalah bagian dari pornografi, tetapi itu juga ada di jejaring sosial seperti TikTok, Instagram, dan Snapchat, bahkan dalam lirik lagu.
Namun, karena cara kerja algoritma di internet, kemungkinan besar orang lanjut usia tidak akan melihat konten ini di jejaring sosial mereka.
Hal ini membuat praktik ini tidak terlihat, jelas Herbenick, namun asfiksia seksual pasti hadir di kalangan kaum muda.
“Bukan berarti pornografi tidak ada, tapi sekarang konten tersebut sangat mudah diakses,” komentar peneliti.
Tahun lalu sebuah laporan yang dirilis menunjukkan bahwa rata-rata usia anak-anak yang mengakses pornografi adalah 12 tahun.
“Memang benar beberapa menemukannya secara tidak sengaja, tapi ada juga yang mencarinya,” tambah penulis buku Yes, Your Kid: What Parents Need to Know About Today's Teens and Sex.
Baca juga:
Herbenick mengatakan orang tua perlu tahu tentang remaja masa kini dan aktivitas seks mereka.
Herbenick mengatakan praktik seks dengan kekerasan bukanlah sesuatu yang umum dilakukan pada 20 tahun lalu.
“Generasi sebelumnya tidak tumbuh dengan ponsel pintar, atau media sosial, atau berbagi foto telanjang.”
Pakar mengemukakan bahwa di masa lalu asfiksia seksual biasanya dipraktikan oleh sekelompok kecil orang untuk meningkatkan kenikmatan seksual.
Namun saat ini, banyak anak muda yang melakukannya karena beranggapan bahwa hal itu lumrah, dan jika semua orang melakukannya, maka mereka juga harus melakukannya.
“Suka atau tidak, mereka mengira seperti itulah seks,” kata Herbenick.

Sumber gambar, Getty Images
Dampaknya terhadap kesehatan
Meskipun asfiksia seksual jarang menyebabkan kematian dan tindakan pencegahan dapat dilakukan untuk membuatnya seaman mungkin, praktik ini dapat menimbulkan konsekuensi serius seperti kerusakan otak, masalah kognitif, dan gangguan kesehatan mental.
Mereka yang mempraktikkannya mengalami kekurangan oksigen di otak (hipoksia) yang dapat menyebabkan kerusakan saraf.
Semakin lama manusia tanpa oksigen, semakin besar kerusakan yang ditimbulkan pada tingkat otak.
Jika kekurangan oksigen berlangsung sangat lama, warna biru akan muncul pada kulit, biasanya paling terlihat pada bibir dan ujung jari.
Banyak yang percaya bahwa bahaya sebenarnya terjadi ketika seseorang kehilangan kesadaran selama asfiksia seksual.
Mereka yang mengalami asfiksia seksual juga dapat mengalami cedera otak traumatis meskipun dalam keadaan.
Dalam jangka panjang, masalah kognitif yang berkaitan dengan memori atau kemampuan untuk membedakan mungkin muncul.
Pada tingkat psikologis, mereka yang mengalami kekurangan oksigen di otak dapat menunjukkan gejala depresi, kecemasan, dan jenis gangguan mental lainnya.
Masalah paling umum yang disebabkan oleh asfiksia seksual biasanya adalah sakit kepala, nyeri leher, hingga telinga berdenging.

Sumber gambar, Getty Images
Kesulitan penglihatan, kurangnya kendali atas gerak, agitasi, kebingungan, kantuk, kontraksi otot bahkan kejang juga dapat terjadi.
Penting untuk diingat, para ahli saraf memperingatkan, bahwa sel-sel otak mulai mati beberapa menit setelah oksigen terganggu.
Beragam konsekuensi kesehatan ini menjadi alasan yang cukup untuk membuktikan bahwa asfiksia seksual bukanlah suatu permainan.
'Mereka mencekik saya saat berhubungan seks'
Saat berusia 23 tahun, Anna mengaku menjadi korban tindakan kekerasan yang tidak diinginkan saat melakukan hubungan seksual suka sama suka, dalam tiga kesempatan terpisah dan dengan pria berbeda.
Seperti yang dia ceritakan kepada BBC pada 2019 silam, pada suatu kesempatan, seorang pria menampar dan melingkarkan tangannya di lehernya dengan maksud untuk mencekiknya.
"Saya terkejut," katanya.
"Saya merasa sangat tidak nyaman dan terintimidasi. Jika seseorang menampar Anda atau mencoba mencekik Anda di jalan, itu adalah sebuah serangan."

Salah satu pasangannya, ingatnya, mencengkeram tangannya begitu keras hingga meninggalkan bekas dan rasa sakit selama berhari-hari.
“Saya tahu beberapa perempuan akan mengatakan mereka menyukainya. Yang menjadi masalah adalah ketika pria berasumsi bahwa semua perempuan menyukainya.”
Baru setelah Anna membicarakan hal ini kepada teman-temannya, dia menyadari betapa umum situasi ini.
Bekerja sama dengan BBC, perusahaan riset Savanta ComRes melakukan penelitian terhadap 2.000 perempuan di Inggris berusia 18 hingga 39 tahun.
Hasilnya, yang dipublikasikan pada akhir 2019, menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga (38%) responden mengatakan bahwa mereka disumpal (mulutnya), diludahi, dicekik, atau ditampar saat melakukan hubungan seksual atas dasar suka sama suka.
Perempuan yang mengalami salah satu tindakan ini, baik atas dasar suka sama suka maupun tidak, sekitar 20% mengatakan merasa tidak nyaman atau takut.
Setelah survei tersebut dipublikasikan, Pusat Keadilan Perempuan mengatakan kepada BBC bahwa angka itu menunjukkan terjadinya "peningkatan paksaan terhadap perempuan muda untuk menyetujui tindakan kekerasan, berbahaya dan merendahkan martabat".
“Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh ketersediaan yang luas, normalisasi, dan penggunaan pornografi ekstrem,” tambah organisasi tersebut.
Studi tersebut juga menunjukkan bahwa, dari perempuan yang pernah mengalami kekerasan seks, 42% merasa tertekan, terpaksa atau dipaksa untuk melakukannya.

Sumber gambar, Getty Images
Akibat temuan tersebut, seorang psikoterapis spesialis seks dan hubungan romantis Steven Pope mengatakan bahwa dalam menjalankan praktiknya ia harus terus-menerus menghadapi dampak negatif dari meningkatnya tindakan semacam ini.
"Ini adalah epidemi yang diam-diam. Orang-orang melakukannya karena mereka pikir itu adalah hal yang normal, namun ini bisa sangat berbahaya."
Dalam banyak kasus, tambahnya, hal ini memperburuk hubungan dan, dalam kasus yang terburuk membuat 'kekerasan menjadi dapat diterima'.
“Orang-orang datang kepada saya ketika pencekikan atau kekurangan nafas melampaui batas dan mereka tidak sadarkan diri untuk waktu yang lama,” kata Pope.
Situasi seperti ini dapat menimbulkan konsekuensi yang sangat serius.
Oleh karena itu, para ahli menyarankan, sebaiknya hindari asfiksia seksual saat melakukan hubungan seksual.












