'Kebanyakan perempuan mengalami orgasme melalui penetrasi adalah mitos'

orgasme perempuan

Sumber gambar, Getty Images

    • Penulis, Margarita Rodríguez
    • Peranan, BBC News Mundo

“Ibu tidak tahu klitoris itu di sebelah mana,” ucap seorang perempuan berusia 54 tahun kepada putrinya yang seorang mahasiswi.

Ibu dan anak itu sedang bercakap-cakap via Skype tentang berbagai mata kuliah semester ini, salah satunya adalah "Seksualitas Perempuan" yang diajarkan profesor dan penulis Emily Nagoski.

Mendengar pengakuan ibunya, si mahasiswi lantas mengirimkan bahan materi perkuliahan yang memperlihatkan foto vulva, diagram, dan ilustrasi.

Anekdot ini diceritakan sang dosen, Nagoski, dalam bukunya yang berjudul "Come as You Are: The Surprising New Science That Will Transform Your Sex Life", buku terlaris versi New York Times yang terbit pada tahun 2015.

Dalam bukunya, Nagoski menggali seksualitas perempuan dari sisi sains serta menantang berbagai konsep yang selama ini dianggap benar melalui kajian ilmiah dan pengalaman ribuan perempuan.

Nagoski memegang dua gelar pendidikan dari Universitas Indiana. Yang pertama adalah gelar doktor untuk Perilaku Kesehatan dengan spesialisasi dalam Seksualitas Manusia, dan gelar magister untuk Konseling Pendidikan. Keduanya ia peroleh dari Universitas Indiana.

Baru-baru ini, Nagoski menerbitkan buku berjudul "Come Together: The Science (and Art!) of Creating Lasting Sexual Connections".

perempuan tidur

Sumber gambar, Getty Images

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Sebagai pakar pendidikan seks, Anda bilang salah satu tujuan Anda adalah membongkar mitos-mitos seksual umum yang membuat perempuan "merasa tidak mampu di ranjang." Bisa Anda ceritakan beberapa mitos tersebut?

Wah, banyak! Misalnya saja mitos-mitos tentang orgasme.

Mitos: Kebanyakan perempuan mengalami orgasme melalui penetrasi.

Kenyataannya hanya sekitar 25% perempuan yang mencapai orgasme melalui penetrasi, sementara sisanya terkadang jarang atau bahkan tidak pernah mencapainya dengan cara itu.

Mitos: Perempuan akan mengalami orgasme saat pertama kali berhubungan seks.

Realitanya cuma sekitar 10% perempuan yang mencapai orgasme saat pertama kali berhubungan badan. Sebagian besar perempuan mengalami orgasme karena mereka menyentuh organ intim mereka sendiri.

Mitos: Orgasme adalah "puncak kenikmatan".

Ini bisa saja benar, tetapi ada banyak cara untuk mencapai kenikmatan seksual yang intens. Selain itu, tidak semua orgasme menyenangkan.

Mitosnya banyak, kalau saya sebut semuanya bisa memakan waktu seharian.

Emily Nagoski memberikan kuliah tentang kesehatan seksual perempuan

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Emily Nagoski memberikan kuliah tentang kesehatan seksual perempuan dan menulis buku tentang subyek ini.

Apa ada mitos yang sangat merugikan perempuan?

Mitos yang sangat berbahaya adalah pemikiran bahwa kita bisa tahu apa yang diinginkan atau disukai seseorang berdasarkan respons organ intimnya.

Respon genital sekadar mengindikasikan bahwa otak sedang memperhatikan sesuatu yang berhubungan dengan seks, tetapi itu bukan berarti orang tersebut menghendaki atau menyukai apa yang sedang terjadi.

Ini disebut "arousal mismatch" (ketidakcocokan gairah). Saya pernah memberikan ceramah TEDTalks tentang hal itu.

Cara kita salah selama ini dalam mengukur dan mengevaluasi pengalaman seksual? Apakah kita terlalu menilai orgasme sebagai tujuan utama dari pengalaman seksual? Sebagai perempuan, apakah kita memberi banyak tekanan pada diri sendiri untuk mencapai orgasme?

Penting atau tidaknya orgasme tergantung diri Anda sendiri. Kalau bagi Anda orgasme sangat penting, ya, bagus. Kalau tidak, itu juga tidak masalah.

Kalau Anda merasa orgasme penting, saya sarankan Anda mencari tahu jenis rangsangan dan dalam konteks apa Anda mengalami kenikmatan terbesar.

Jika orgasme tidak penting, saya sarankan untuk meningkatkan komunikasi dengan pasangan Anda supaya dia tahu bahwa orgasme bukanlah prioritas dan Anda lebih suka kenikmatan seksual dengan cara lain.

Komunikasikanlah hal ini dengan rasa percaya diri dan suasana hati yang baik. Bagaimanapun, ini soal tubuh dan seksualitas Anda. Andalah yang memutuskan bagaimana dan kapan mereka menyentuh Anda.

Baca juga:

Anda bilang ini bukan soal orgasme, jumlah orgasme yang dialami, seberapa sering kita berhubungan seks atau ingin melakukannya, melainkan tentang kenikmatan. Anda bilang "kenikmatan adalah ukurannya" dan "kenikmatan adalah yang terpenting". Bisa Anda jelaskan kenapa?

"Kenikmatan adalah ukuran" dari kesehatan seksual karena penelitian memang menunjukkan demikian.

Ketika para ilmuwan berbicara dengan mereka yang mengaku punya hubungan seksual yang luar biasa, orang-orang ini tidak berbicara tentang hasrat atau orgasme, tetapi soal keautentikan, kerentanan, empati, dan kenikmatan.

Kalau kita ingin menjadi seperti orang-orang yang kehidupan seksnya membuat banyak dari kita iri, maka kenikmatan harus menduduki peringkat pertama. Hasrat, orgasme, dan hal lainnya akan berjalan dengan sendirinya.

Memusatkan perhatian pada kenikmatan adalah jurus terjitu untuk memastikan Anda menikmati setiap aspek seks yang Anda lakukan.

Hasrat, meski kadang membuat kita bahagia, terkadang juga menyakitkan dan menjadi sumber rasa dan kepedihan. Kenikmatan, menurut definisi, tidak demikian.

Saya ingin hidup di dunia di mana kita hanya melakukan seks yang kita sukai dan tidak merasa buruk karena tidak melakukan seks yang tidak kita sukai.

Saya rasa inilah bagian yang sulit.

Anda menjelaskan tentang "tempat yang tepat, cara yang tepat, orang yang tepat, waktu yang tepat, keadaan eksternal yang tepat, dan keadaan internal yang tepat." Apa peran "konteks yang tepat" ketika kita memikirkan pengalaman seksual kita?

Kenikmatan lebih kompleks dan halus daripada yang selama ini kita yakini.

Secara neurologis, kenikmatan terletak di "kantong-kantong hedonis" kecil yang kurang lebih sensitif terhadap kenikmatan – tapi ini tergantung kondisi otak kita.

Ketika otak kita stres, pusat-pusat kenikmatan ini menginterpretasikan hampir semua sensasi sebagai ancaman potensial, bahkan sensasi yang – dalam konteks berbeda – adalah sesuatu yang perlu dieksplorasi dengan rasa ingin tahu.

ilustrasi organ kelamin perempuan

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Peneliti mengundang kita untuk memperdalam pengetahuan tentang tubuh dan apa saja yang memberikan kenikmatan.

Saat otak dalam kondisi penasaran, aman, dan/atau penuh keriangan, pusat-pusat kenikmatan itu akan disetel untuk menerjemahkan hampir semua sensasi sebagai hal yang menyenangkan.

Konteks neurologis ini menjelaskan kenapa rasa digelitik kadang-kadang terasa menyenangkan. Kalau sedang senang, tertarik, dan terhubung dengan pasangan yang menarik dan bisa dipercaya, gelitikan mereka mungkin membuat Anda merasa senang.

Tetapi bagaimana jika pasangan menggelitik tubuh Anda saat sedang bertengkar? Itu akan sangat menjengkelkan.

Sensasi gelinya sama, pasangannya sama, tetapi kondisi internalnya berbeda. Otak Anda pun menginterpretasikannya berbeda.

Itulah kekuatan konteks.

Ketika kita memikirkan seks, kita memiliki gagasan tentang sensasi, hormon, emosi, dan bagian tubuh yang spesifik. Kita jadinya lupa tentang yang paling penting: otak.

Anda mengatakan bahwa "seks lebih merupakan proses otak daripada proses genital," bahwa orgasme "diatur terutama oleh otak, bukan alat kelamin," mengapa itu penting untuk diingat?

Sekarang ini, para ilmuwan yang mempelajari orgasme akan melakukan pemindaian otak. Ini karena orgasme adalah fungsi otak – beda dengan ejakulasi yang merupakan refleks tulang belakang.

Apa yang Anda sebut tadi: sensasi, hormon, emosi, dan bahkan bagian tubuh, semuanya adalah sepenuhnya fungsi otak atau setidaknya sebagian.

Sensasi dirasakan otak, emosi adalah produk otak, hormon mempengaruhi otak, dan otak memegang peta-peta tubuh yang merasakan sensasi dan mengatur fungsi motorik.

Baca juga:

Tubuh Anda tidak merasakan sesuatu tanpa keterlibatan otak, fantasi, dan koneksi emosional.

Ketika seseorang mengalami kesulitan mencapai orgasme, itu hampir selalu karena ada suatu keadaan – baik eksternal maupun internal – yang menekan rem di otak.

Bicara tentang otak, dalam salah satu ceramah TEDTalks Anda, Anda menyarankan sebuah latihan kepada audiens: berdiri di depan cermin setelanjang mungkin dan menulis semua yang kita suka dari apa yang terlihat.

Anda menambahkan: "Tentu saja, otak Anda awalnya akan dibanjiri pesan-pesan yang dibangun secara budaya bahwa tubuh Anda tidak ideal." Bagaimana pemikiran tentang tubuh ideal ini mempengaruhi seksualitas kita?

Penelitian tentang ini sangat konsisten: citra tubuh mempengaruhi fungsi seksual.

Kritik diri terhadap tubuh dikaitkan dengan semua masalah seksualitas, mulai dari kenikmatan hingga gairah, hasrat, dan orgasme.

Untuk merasakan kenikmatan di tubuh Anda, Anda harus memusatkan perhatian pada tubuh Anda. Kalau ini memicu semua jenis kritik diri, itu akan memperlambat atau bahkan menghentikan respons seksual Anda.

Namun ketika kita mengarahkan perhatian ke tubuh kita dengan rasa penerimaan diri dan bahkan kebanggaan, maka itu dapat mengaktifkan percepatan seksual di otak kita.

Anda menyebut bahwa banyak dari kita, termasuk Anda sendiri, tumbuh besar dengan meyakini "narasi usang tentang bagaimana hasrat bekerja (...) yang tidak hanya salah, tetapi juga menyesatkan."

Misalnya, gagasan tentang "menjaga percikan atau gairah tetap hidup dalam hubungan jangka panjang adalah penyederhanaan yang berlebihan tentang seks dan evolusi yang berlebihan.”

Kenapa Anda mengatakan hal ini?

Kalau saya diminta menjelaskan tentang kenapa gagasan itu secara berlebihan menyederhanakan ilmu evolusi, maka saya bisa menulis buku baru.

Tetapi intinya begini: pemikiran bahwa seks seharusnya adalah semata-mata soal terangsang itu didasarkan dari konsep bahwa pengalaman jatuh cinta harus sama dengan pengalaman mencintai.

Baca juga:

perempuan di ranjang

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Nagoski ingin membantah mitos-mitos yang membuat perempuan merasa "gagal di ranjang".

Awalnyal dua orang bertemu dan saling jatuh cinta, mereka menghabiskan banyak waktu bersama untuk melakukan hal-hal yang seksi. Saking fokusnya ke seks, terkadang bahkan merugikan hal-hal lain dalam hidup mereka.

Tetapi ketika dua orang sudah saling mencintai dan memiliki hubungan yang mapan, mereka menghabiskan waktu bersama untuk menjalani kehidupan normal.

Hal ini bukanlah masalah ataupun sesuatu yang bisa dihindari,

Bagi orang yang menginginkan hubungan seksual jangka panjang dengan orang yang juga menjadi teman hidup dan membangun keluarga, justru itulah yang mereka mau.

Hubungan seksual Anda bisa menjadi pemicunya – sumber kesenangan bagi kualitas hidup Anda dan pasangan.

Tapi ini bukan berarti menginginkan atau menciptakan "percikan" adalah hal yang salah.

Berbagi kenikmatan seksual adalah bagian dari cara saya mengungkapkan cinta, jadi saya akan memastikan untuk meluangkan cukup waktu, energi, dan perhatian agar saya bisa berhubungan seks dengan pasangan saya.

Begitulah cara pasangan mempertahankan hubungan seksual jangka panjang yang kuat.

Saya cukup bijak untuk belajar dari pengalaman ini. Keadaan hubungan saya dan pasangan saat ini lebih baik setelah 13 tahun hidup bersama.

Narasi yang tersebar luas adalah setelah usia 50 tahun, "tampaknya semua hormon yang pernah kita miliki mengambang di lautan penuaan dan kita dibiarkan hidup tanpa seks dan dikebiri".

Gagasan Anda tentang kenikmatan sentral menjadi kian penting. Perimenopause dan menopause membawa tantangan tersendiri bagi banyak perempuan. Bagaimana cara menikmati seksualitas kita pada tahap ini?

Gagasan bahwa perubahan hormonal yang terkait dengan penuaan normal artinya seksualitas kita hancur adalah bagian dari mitos "hasrat yang tak terelakkan".

Ternyata tidak ada dampak langsung dari hormon seks pada fungsi seksual, termasuk hasrat dan kenikmatan seksual. Pengecualiannya cuma satu: kadar estrogen yang lebih rendah, membuat jaringan genital menjadi lebih rapuh dan dapat menyebabkan rasa sakit.

Pelumas secara mutlak diperlukan, tetapi jika Anda mengalami rasa sakit saat kontak genital, konsultasikan dengan dokter tentang krim estrogen. Krim ini dapat membantu pemulihan jaringan tersebut.

Baca juga:

Menurut Nagoski, mengasosiasikan penuaan dengan berakhirnya seksualitas adalah sekadar mitos.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Menurut Nagoski, mengasosiasikan penuaan dengan berakhirnya seksualitas adalah sekadar mitos.

Fungsi seksual saat bertambah usia sebenarnya lebih dipengaruhi oleh perubahan hidup yang hadir seiring bertambahnya umur. Termasuk perasaan kita tentang perubahan tubuh, seksualitas, dan hubungan kita.

Pada tahap ini, terjadi perubahan besar-besaran dalam benak banyak perempuan. Para perempuan ini menyadari bahwa semua aturan seksual yang selama ini mereka ikuti sudah tidak berlaku lagi. Mulai dari pribadi seksual mereka yang “seharusnya” atau bagaimana mereka “seharusnya” menjalankan hubungan badan.

Perempuan-perempuan ini mengeksplorasi keautentikan seksual diri mereka dan pasangan, serta bersama-sama berupaya menciptakan konteks yang memudahkan otak untuk mengalami kenikmatan.

Ketika kita membebaskan diri dari budaya kesucian dan norma gender, kita melepaskan bagian-bagian dari seksualitas yang kita kira harus disembunyikan. Kita pun memperluas akses kita ke kenikmatan seksual.