Bagaimana patung Tentara Terakota menyingkap misteri kehidupan kuno di China – Dari sepatu antiselip sampai zirah perang warna-warni

Prajurit terakota

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Salah satu prajurit terakota yang telah digali.
    • Penulis, Xiaoying You
    • Peranan, BBC Future
  • Waktu membaca: 7 menit

50 tahun setelah ditemukan, patung-patung tanah liat China yang kondang disebut sebagai 'Pasukan Terakota' mulai menyibak tabir misteri.

Walau tak berbicara dan bergerak, para prajurit terakota yang penuh teka-teki dari China ini adalah pendongeng yang luar biasa.

Sejak ditemukan secara tidak sengaja setengah abad lalu oleh sekelompok petani yang sedang menggali sumur, patung-patung tanah liat seukuran manusia ini telah mengungkap detail menarik tentang pasukan Qin—negara feodal yang menyatukan China, untuk pertama kalinya pada 221 SM di bawah kaisar pertama, Qin Shi Huang.

Setelah diteliti, patung-patung yang ditemukan terkubur di timur laut Xi'an di dekat makam kaisar ini ternyata mengungkap rahasia kehidupan pada masa Dinasti Qin kuno.

Di antaranya soal pakaian apa yang mereka kenakan hingga dari mana asal para prajurit ini.

Ketika melihat patung-patung berusia 2.200 tahun ini, tentu bukan sepatunya yang pertama kali menarik perhatian.

Yang tampak mencolok justru bagaimana mereka dipersenjatai dengan senjata sungguhan dan disusun dalam formasi militer untuk mengawal Qin Shi Huang di alam baka.

Namun, analisis awal terhadap alas kaki mereka menunjukkan bahwa aksesoris sederhana ini mungkin telah memainkan “peran penting” para tentara Qin.

Alas kaki yang mereka gunakan diyakini berkontribusi pada kemampuan para tentara meraih kemenangan demi kemenangan.

Dua peneliti China yang berada di balik penelitian ini—yang belum ditinjau peneliti lain atau hasilnya belum terbit dalam jurnal ilmiah—menganalisis sepatu milik pemanah yang sedang berlutut.

Ini adalah satu-satunya patung prajurit terakota yang menampakkan bagian tapak dari sepatu.

Mereka kemudian membuat replika alas kaki tersebut menggunakan teknik dan bahan pembautan sepatu yang diketahui digunakan oleh orang-orang Qin saat patung ini dibuat.

Tentara Terakota

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Alas kaki atau bagian sol sepatu yang diteliti menunjukkan aksesoris ini berkontribusi kemampuan prajurit terakota untuk menghadapi segala medan.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Studi ini membandingkan replika sepatu itu dengan dua pasang sepatu “seribu lapis” modern.

Mereka menemukan bahwa replika sepatu tersebut sangat fleksibel dan memberikan pengalaman berjalan yang “lebih nyaman, stabil, dan efisien” bagi penggunanya.

Bagian sol atau alas sepatu juga tahan terhadap selip dalam kondisi basah.

"Proses produksi sepatunya unik dengan keterampilan artistik luar biasa, sungguh menakjubkan,” kata Cha Na, salah satu penulis makalah sekaligus mahasiswa pascasarjana dari Sekolah Tinggi Ilmu dan Teknik Biomassa di Universitas Sichuan di Chengdu.

Yang paling mengejutkan Cha adalah bagian sol sepatunya.

Tapak sepatu ini dikenal sebagai sol “seribu lapis”, yang terdiri dari beberapa lapis lembaran rami yang direkatkan, dijahit, dan kemudian ditumbuk menjadi satu.

“Saat saya memegang replika modern yang mungkin dikenakan oleh tentara Qin lebih dari 2.000 tahun yang lalu, saya sangat terkesan dengan betapa indah sepatu itu,” kata Cha.

“[Saya] dapat dengan jelas melihat jahitan yang ditekan melalui sol 'seribu lapis' dan berbaris rapi. Solnya sangat lembut dan nyaman serta dapat ditekuk dengan mudah.”

Sol sepatu prajurit yang berlutut itu dibagi menjadi tiga bagian, dengan masing-masing memiliki jumlah lubang jahitan yang berbeda: bagian kaki depan memiliki pola terpadat, diikuti bagian tumit, dan bagian tengah paling sedikit.

Desain ini juga tercermin dalam replika para peneliti. Mereka mengatakan bahwa detailnya didasarkan pada kebutuhan kaki manusia dan bertujuan untuk memberikan “kenyamanan, dukungan, dan daya tahan yang optimal”.

Kain penyerap yang digunakan pada sol juga akan membantu para prajurit dalam kondisi basah atau lembab. Sepatu ini antiselip yang memungkinkan mereka bergerak dengan lincah di medan yang sulit.

“Meskipun sol sepatu berukuran kecil, bagian alas sepatu ini memainkan peran penting dalam [membantu kita] memahami gaya hidup, keahlian, dan budaya kuno,” kata Cha.

Zirah perang warna permen

Hal lain yang tak kalah menarik adalah zirah perang para prajurit: warnanya seperti permen.

Ketika patung-patung pasukan terakota diciptakan, mereka dicat dengan warna merah, ungu, dan hijau yang cerah. Warna-warna ini diyakini sesuai dengan corak pakaian yang dikenakan para prajurit Qin itu sendiri.

Dalam banyak kasus, catnya tidak dapat bertahan selama berabad-abad setelah patung prajurit tersebut terbakar atau terendam banjir.

Namun beberapa patung yang berhasil diangkat dari kuburnya, masih dilapisi warna asli yang sebagian besar masih utuh.

Pasukan terakota yang baru saja digali sering kali memiliki fitur wajah, rambut, dan pakaian yang berwarna cerah.

Tetapi begitu mereka terpapar lingkungan luar, catnya akan mengering dan terkelupas dalam hitungan menit, menyisakan tanah liat telanjang di lapisan bawahnya.

Sebuah studi pada tahun 2019 menemukan bahwa lapisan dasar pigmen pengikat cat berupa campuran berbasis protein seperti telur, lem hewan dan susu. Setelah itu tubuh mereka baru dicat—tujuannya agar cat lebih kuat.

Studi itu juga menunjukkan bahwa para pengecat kemungkinan besar menggunakan bahan-bahan lokal atau melakukannya dengan kebiasaan masing-masing selama proses produksi.

Pernis yang digunakan pada tanah liat yang dibakar sebelum dicat—terbuat dari getah pohon yang diproses—sangat sensitif terhadap perubahan kelembapan, sehingga mudah mengering dan mengelupas, dan catnya pun ikut terkelupas.

Tetapi para ilmuwan dan ahli konservasi telah mengembangkan cara merawat pola polikromatik ini.

Pengujian terhadap mikroskopis dan kimiawi terhadap cat yang ditemukan pada patung prajurit lainnya juga telah membantu memahami bagaimana wujud patung-patung ini sebelum terkubur.

Rekonstruksi berdasarkan penelitian ini tampaknya menunjukkan bahwa karakter mode orang-orang Qin—setidaknya di kalangan tentara—adalah membenturkan warna.

Baca juga:

Semua barisan prajurit mengenakan atasan dan bawahan dengan kombinasi warna yang mencolok, menurut Yuan Zhongyi, salah satu arkeolog pertama yang dikirim ke lokasi penggalian pada tahun 1974.

Yuan, yang dijuluki sebagai “bapak prajurit terakota” oleh media China, menjelaskan secara rinci warna-warna kostum para prajurit dalam sebuah makalah yang diterbitkan 2001.

Dia berkata bahwa seorang jenderal ditemukan mengenakan jubah dalaman panjang berwarna merah tua, mantel panjang berwarna ungu tua, dan celana panjang berwarna merah muda-hijau.

Pakaiannya dilengkapi dengan mahkota cokelat, sepatu hitam, ditambah baju besi warna-warni yang diikat dengan tali merah.

Seorang prajurit lain yang berlutut ditemukan mengenakan jubah hijau panjang dengan kerah merah tua dan manset merah tua.

Patung prajurit ini juga mengenakan celana panjang biru yang dilapisi pelindung kaki berwarna ungu, ikat kepala merah tua dan sepatu hitam kecoklatan, menurut Yuan.

pasukan terakota China

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Saat patung prajurit ini dibangun, pakaian mereka dicat dengan warna-warna yang beraneka ragam; beberapa figur masih mengisyaratkan semangatnya.

Yuan mengutip dua surat yang ditulis oleh dua prajurit Qin, yang digali di sebuah makam kuno di Provinsi Hubei saat ini.

Dua surat yang diukir di atas bilah bambu itu menunjukkan bahwa kedua prajurit tersebut—yang merupakan kakak beradik—meminta keluarganya agar mengirimkan uang dan pakaian.

Di antara lebih dari 10 warna yang ditemukan para arkeolog pada benda-benda peninggalan tersebut, warna yang paling misterius adalah ungu, karena ini merupakan warna sintetis yang kompleks.

Beberapa peneliti berpendapat bahwa para biksu Tao secara tidak sengaja menemukan pigmen “ungu China”—serta “biru China” yang juga ditemukan pada prajurit terakota—saat mereka membuat batu giok tiruan dari kaca.

Mereka meyakini, para biksu bereksperimen dengan menambahkan berbagai mineral yang mengandung tembaga ke dalam barium.

Pasukan Terakota China

Sumber gambar, Getty Images

Penelitian Yuan menunjukkan bahwa ungu adalah salah satu dari empat warna yang paling populer untuk pakaian di antara orang-orang Qin, selain hijau, merah dan biru.

Meskipun tidak ada catatan sejarah tentang keberadaan prajurit terakota—yang berarti mereka telah terlupakan di pusara Qin Shi Huang selama lebih dari dua ribu tahun—namun, ada petunjuk lain pasukan tanah liat yang terdiri dari 7.000 prajurit ini mungkin dibuat berdasarkan model dari orang sungguhan.

Sebuah studi yang meneliti 30 telinga patung-patung tersebut menemukan “variasi yang cukup besar” dalam bentuknya sehingga “tidak ada dua telinga yang benar-benar sama”.

Pada tahun 2022, sekelompok peneliti menganalisis bagian wajah dari 58 prajurit dan 29 kelompok etnis China modern, seperti Mongolia, Jingpo, dan Xibo. Mereka menemukan bahwa karakter prajurit “sangat mirip” dengan orang-orang China kontemporer, yang menurut para peneliti mengindikasikan patung-patung tersebut didasarkan pada potret asli.

Baca Juga:

Penelitian ini mengungkapkan, patung-patung tersebut paling mirip dengan orang-orang yang ditemukan di China bagian utara dan barat.

Li Xiuzhen, seorang arkeolog di University College London yang ikut serta dalam kedua penelitian tersebut, mengatakan orang Qin berasal dari bagian barat China.

Sebagian dari pasukan mereka dibentuk oleh orang-orang Rong, berbagai suku nomaden yang tinggal di barat laut yang telah ditaklukkan oleh Qin.

Suku Rong berperang bersama Qin untuk mengalahkan enam negara bagian saingannya, kata Li. “Oleh karena itu, banyak prajurit terakota yang memiliki fitur wajah suku Rong,” katanya.

Temuan-temuan tersebut memperkuat gagasan bahwa mausoleum yang luas di pasukan Xi'ian dibuat untuk mereplikasi angkatan bersenjata yang melayani Kaisar Qin semasa hidupnya, sehingga mereka dapat melindunginya di alam baka.

Banyaknya senjata perunggu, termasuk 40.000 mata panah, yang ditemukan di dalam kuburan bersama para prajurit, mendukung teori ini.

Meskipun hanya ada sekitar 2.000 prajurit terakota telah diangkat dari kubur sejauh ini, namun semakin banyak hal yang ditemukan setiap tahunnya.

Butuh waktu lama untuk menggali semua prajurit terakota, kata para arkeolog China.

Pasukan terakota China

Sumber gambar, Getty Images

Seiring dengan digalinya kuburan mereka, keberadaan mereka akan terus mengungkap wawasan baru soal kehidupan di China kuno pada masa Dinasti Qin.

Tapi sudah jelas bahwa keterampilan dan proses pengerjaan patung pasukan terakota sama hebatnya dengan kekuatan militer yang diwakili para prajurit yang tidak bergerak.

“Penelitian kami sekali lagi menunjukkan bahwa mereka yang membuat prajurit terakota bukan hanya sekedar pekerja, tetapi seniman yang menciptakan karya seni berdasarkan kenyataan,” kata Li.

Artikel versi Bahasa Inggris berjudul What do terracotta warriors tell us about life in ancient China? dapat Anda baca di BBC Future.