Kemenhub larang Boeing 737 Max 9 milik Lion Air usai pintu Alaska Airlines copot di udara, apa yang terjadi?

Sumber gambar, REUTERS
Kementerian Perhubungan menghentikan sementara pengoperasian tiga armada Boeing 737 Max 9 milik Lion Air mulai Sabtu (06/01), sehari setelah insiden pintu pesawat Alaska Airlines copot di udara.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, M. Kristi Endah Murni, mengatakan bahwa keputusan ini diambil setelah koordinasi dengan Lion Air.
"Berdasarkan review dan evaluasi oleh Ditjen Perhubungan Udara dan koordinasi dengan Lion Air, diputuskan untuk memberhentikan pengoperasian sementara pesawat Boeing 737-9 Max sejak tanggal 6 Januari 2024 sampai perkembangan lebih lanjut," ucapnya, seperti dikutip Kompascom.
Kristi mengatakan bahwa penghentian ini dilakukan sebagai tindak lanjut atas keputusan Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA).
Tak lama setelah insiden Alaska Airlines pada 5 Januari lalu, FAA melarang operasional seluruh pesawat Boeing 737 Max 9 yang memiliki mid exit door plug.
Saat ini, Boeing dan pihak berwenang Amerika Serikat sendiri masih melanjutkan penyelidikan setelah mereka menemukan satu komponen penting, yaitu panel pintu darurat yang copot.
Panel tersebut ditemukan di pekarangan rumah salah satu guru di Portland pada Minggu (07/01). Panel tersebut diduga copot dan jatuh tak lama setelah pesawat itu lepas landas dari bandara di Portland.
Salah satu pintu keluar darurat yang tak terpakai itu meledak ketika pesawat masih dalam posisi menanjak.
Para penumpang pesawat pun harus menempuh perjalanan dengan salah satu bagian pintu mengangga.
Akibatnya, pesawat itu kehilangan tekanan udara secara tiba-tiba. Namun, pesawat itu akhirnya dapat mendarat darurat dengan selamat.
Mengapa dampaknya tak terlalu parah?
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Dampak dari kejadian ini sedikit teredam karena dua faktor kunci. Pertama, insiden terjadi saat pesawat dalam fase lepas landas, sehingga penumpang masih diwajibkan memakai sabuk pengaman.
Kedua, peristiwa itu juga terjadi ketika pesawat masih berada di ketinggian 16.300 kaki, jauh dari posisi terbang stabil yang berada di sekitar 38.000 kaki.
Jika peristiwa ini terjadi pada ketinggian terbang stabil, tekanan udara di dalam dan luar pesawat akan berbeda jauh.
Kalau pintu itu copot ketika pesawat sudah di ketinggian terbang normal, perubahan tekanan udara yang begitu besar bisa membawa dampak jauh lebih berbahaya, apalagi jika penumpang sudah tak lagi wajib memakai sabuk pengaman.
"Penumpang yang duduk di sebelah [pintu darurat itu] atau di kursi di sekitarnya dan tak memakai sabuk pengaman dapat tertarik keluar dari pesawat," ujar konsultan sekaligus mantan penyelidik kecelakaan pesawat, Tim Atkinson.
"Saya rasa kemungkinan terburuknya adalah satu baris penumpang dan beberapa penumpang lainnya juga ikut terseret [keluar dari pesawat]."

Sumber gambar, Instagram/@strawberrvy via REUTERS
Selain itu, suhu udara di pesawat juga akan turun drastis, bisa mencapai sekitar -57 derajat Celsius.
Dalam keadaan itu, para penumpang dan kru hanya bisa bergantung pada oksigen darurat. Tanpa tabung oksigen, para penumpang akan langsung kehilangan kesadaran.
Insiden jendela rusak pernah terjadi sebelumnya
Pada 2018, kejadian serupa juga pernah menimpa pesawat Boeing 737 model sebelumnya yang dioperasikan oleh maskapai Southwest Airlines.
Kala itu, pesawat tersebut mengalami kerusakan mesin. Puing dari kerusakan mesin itu menghancurkan salah satu jendela ketika pesawat sedang terbang di ketinggian 32.000 kaki.
Pesawat itu pun mengalami penurunan tekanan udara drastis. Salah satu penumpang sampai-sampai terhempas keluar jendela dan meninggal dunia.
Armada Southwest Airlines itu merupakan Boeing 737 biasa, bukan tipe Max seperti Alaska Airlines. Namun, kejadian serupa yang terjadi pada pesawat produksi Boeing memicu kekhawatiran publik.
Baca juga:
Kekhawatiran semakin tinggi karena pintu darurat pada Alaska Airlines itu seharusnya terpasang kokoh dengan bantuan empat baut.
Pesawat tersebut juga baru berusia dua bulan sehingga sangat kecil kemungkinan insiden itu terjadi karena alasan-alasan kerusakan terkait pemakaian yang sudah lama.
Lantaran kejadian ini, Alaska Airlines akhirnya menghentikan sementara penggunaan armada Boeing 737 Max 9.
FAA lantas mengikuti jejak Alaska Airlines dengan menghentikan sementara operasional 171 pesawat Boeing 737 Max 9 untuk inspeksi lebih lanjut.
"Bisa jadi karena desainnya, atau masalah manufaktur, atau kombinasi keduanya. Atau bisa juga sesuatu yang lain, yang belum diketahui," ucap Atkinson.
Masalah lini Boeing 737 Max
Bagi Boeing, masalah lebih pelik lagi. Pesawat yang dipakai Alaska Airlines itu merupakan lini produksi 737 Max.
Boeing 737 Max merupakan generasi keempat dari lini produksi pesawat Boeing 737. Dalam beberapa tahun belakangan, reputasi keamanan jenis pesawat itu memang tercoreng.
Pada 29 Oktober 2018, Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 yang menggunakan pesawat Boeing 737 Max 8 jatuh 13 menit setelah lepas landas, menewaskan 189 penumpang dan kru di dalamnya.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya 10 Maret 2019, Ethiopian Airlines yang menggunakan jenis pesawat sama juga mengalami kecelakaan dan menewaskan 157 orang.
Kedua kecelakaan tersebut terjadi akibat kerusakan pada perangkat lunak pengendali penerbangan yang menyebabkan pesawat itu jatuh menukik walau pun pilot sudah melakukan berbagai upaya penyelamatan.
Rentetan insiden itu memicu penghentian penggunaan Boeing 737 Max di seluruh dunia selama lebih dari 18 bulan selagi pengecekan menyeluruh dilakukan.
Pemimpin FAA saat itu menyebut desain Boeing 737 Max sebagai "pesawat transportasi paling banyak diselidiki sepanjang sejarah."

Sumber gambar, EKO SISWONO TOYUDHO/ANADOLU AGENCY/GETTY IMAGES
Namun, setelah itu Boeing 737 Max kembali diperbolehkan terbang. Sejak saat itu, tetap muncul laporan-laporan permasalahan dalam program 737 Max, mulai dari kesalahan elektrik hingga masalah pada sistem pengendalian.
Sejumlah pengamat juga sudah menyerukan kekhawatiran mereka terhadap beberapa laporan malfungsi sistem pesawat 737 Max yang diizinkan terbang.
Kekhawatiran kian parah ketika pada Desember lalu, Boeing meminta maskapai-maskapai penerbangan untuk memeriksa sistem kemudi pesawat mereka.
Permintaan itu disebar setelah Boeing menerima laporan satu baut di salah satu sistem kemudi pesawat mereka hilang. Mereka menyatakan peringatan ini dikeluarkan sebagai bentuk "kewaspadaan."
Setelah serentetan insiden ini, Boeing dihujani kritik yang menyatakan bahwa perusahaan itu lebih mementingkan keuntungan ketimbang keselamatan penumpang.
Sejumlah saksi pelapor menuding Boeing menekan karyawan mereka untuk memproduksi terlalu banyak pesawat dalam waktu sempit. Alhasil, kondisi di pabrik mereka sangat kacau.
Namun, Boeing berdalih bahwa kondisi perusahaan mereka saat ini sudah berbeda. Kepala eksekutif Boeing, David Calhoun, berulang kali menekankan komitmennya untuk menjamin standar tertinggi dalam sistem keamanan, kualitas, dan integritas.
Kendati demikian, sejumlah kritikus tetap meragukan klaim ini.
Kemungkinan masalah sudah diwanti-wanti
Jauh sebelum dua kecelakaan di Indonesia dan Ethiopia, seorang mantan manajer senior Boeing, Ed Pierson, sebenarnya sudah mewanti-wanti kemungkinan masalah pada produksi 737 Max.
Kini, ia mengepalai Yayasan Keamanan Penerbangan, organisasi yang sangat vokal mengkritik rekam jejak Boeing 737 Max.
Menurutnya, kondisi di dalam pabrik-pabrik Boeing belum berubah. Ia juga menganggap para regulator AS tak efektif dalam meminta pertanggungjawaban dari Boeing.
"Ini merupakan pengingat besar. Mungkin ini merupakan berkat besar karena insiden yang terjadi sangat terlihat, sehingga mereka harus mengakui memang ada masalah serius," katanya.
Meski kejadian terus berulang, Boeing secara konsisten membantah segala tuduhan yang diarahkan terhadap mereka.
Setelah insiden teranyar ini, Boeing hanya merilis pernyataan berbunyi, "Keamanan merupakan prioritas utama kami dan kami sangat menyesali dampak kejadian ini terhadap pelanggan kami dan penumpangnya."
"Kami sepakat dan mendukung penuh keputusan FAA untuk menggelar inspeksi segera terhadap pesawat-pesawat 737-9 dengan konfigurasi yang sama dengan pesawat itu."
Walau demikian, Boeing sampai saat ini masih terus menggenjot produksi 737 Max agar pelanggan mereka tak terlalu lama menunggu.








