Tupperware ajukan kebangkrutan, ibu-ibu di Indonesia mengenang masa kejayaannya – ‘Suami sampai trauma dimarahi karena menghilangkan kotak makan’

Produk Tupperware.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Produk Tupperware.
Waktu membaca: 5 menit

Produsen wadah makanan Tupperware akhirnya mengajukan kebangkrutan setelah megap-megap karena penjualan terus anjlok. Padahal, selama bertahun-tahun ia berhasil menjadi merek favorit kaum ibu di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Pada Selasa (17/9), jelang tengah malam waktu AS, Tupperware mengumumkan telah mengajukan kebangkrutan pada Pengadilan Kepailitan AS untuk Distrik Delaware.

Perusahaan itu mengatakan akan meminta persetujuan pengadilan untuk memulai proses penjualan bisnisnya dan untuk bisa tetap beroperasi selama proses hukum berlangsung.

Setelah berdiri selama kurang lebih 78 tahun, Tupperware begitu identik dengan tempat penyimpanan makanan sehingga banyak orang menggunakan namanya saat merujuk wadah plastik apa pun.

Dalam beberapa tahun terakhir, Tupperware sebenarnya telah berusaha melakukan penyegaran terhadap produk-produknya dan memosisikan ulang dirinya untuk khalayak lebih muda. Namun, tetap saja, wadah itu kalah saing dengan kompetitornya.

Tahun lalu, perusahaan tersebut telah memperingatkan para investor bahwa ada “keraguan besar” soal kemampuannya untuk terus beroperasi bila mereka tidak bisa dengan cepat menggalang dana baru.

Pekan ini, harga saham Tupperware sempat anjlok lebih dari 50% setelah muncul sejumlah laporan bahwa mereka berencana mengajukan kebangkrutan.

Saat pandemi Covid-19, penjualan Tupperware sempat naik sesaat karena banyak orang yang memasak di rumah dan membutuhkan produk-produk mereka untuk menyimpan makanan. Namun, setelahnya penjualan kembali turun.

Penjualan Tupperware 2018-2022.

Sumber gambar, Viriya Singgih

Biaya bahan baku yang meningkat, ditambah upah karyawan dan biaya pengiriman yang lebih tinggi, menggerogoti margin keuntungan perusahaan.

“Selama beberapa tahun terakhir, posisi keuangan perusahaan sangat terdampak oleh lingkungan ekonomi makro yang menantang," kata CEO Tupperware, Laurie Ann Goldman.

Dari pesta hingga arisan

Tupperware didirikan pada 1946 oleh Earl Tupper, yang merancang dan mematenkan segel kedap udara yang fleksibel.

Tupperware merupakan penemuan besar karena ia memanfaatkan jenis plastik baru untuk menjaga makanan tetap segar lebih lama. Temuan ini sangat berharga mengingat saat itu kulkas masih dirasa terlalu mahal bagi banyak keluarga.

Namun, Tupperware baru benar-benar tenar setelah perempuan bernama Brownie Wise mengembangkan konsep pesta rumahan untuk memasarkan produk plastik ini.

Brownie Wise di salah satu pesta Tupperware pada 1950an.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Brownie Wise di salah satu pesta Tupperware pada 1950an.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Agen penjual yang biasanya perempuan bakal mengundang para perempuan lain datang ke rumahnya untuk melihat dan membeli berbagai produk Tupperware.

Pesta Tupperware ini lantas tak hanya jadi model pemasaran langsung yang efektif, tapi juga acara sosial yang populer. Imbasnya, produk-produk Tupperware berhasil mendominasi rumah tangga di AS dan bahkan dunia.

Kini, Tupperware mengeklaim berhasil menjual produknya di 70 negara berbeda.

Baca juga:

Di Indonesia, bisa dikatakan Tupperware memiliki tempat tersendiri di hati para ibu rumah tangga.

Yel Fitria, 42 tahun, sempat mengikuti arisan Tupperware pada periode 2013-2014 saat masih menjadi guru di sebuah sekolah swasta di Jakarta Timur.

Ada 10 guru di sekolah tersebut yang menjadi peserta arisan dan mesti membayar Rp100.000 per bulan. Alih-alih mendapat uang tunai, pemenang arisan bakal membawa pulang berbagai produk Tupperware dengan nilai total Rp1 juta.

“Jadi sebenarnya kita beli Tupperware dengan mencicil,” kata Fitria pada BBC News Indonesia. “Ini sebenarnya trik dagang.”

“Terserah kita mau pilih produk apa, pokoknya senilai Rp1 juta maksimal. Kalau kurang dari itu boleh.”

Saat menang arisan, Fitria memilih berbagai produk berbeda, termasuk empat piring, enam kotak camilan berbeda ukuran, satu tempat makan anak-anak, dua botol minum besar, dan dua botol minum anak-anak.

Padahal, sebelum mengikuti arisan itu, Fitria tidak pernah memakai Tupperware. Ia hanya tahu itu merek terkenal dan ada “prestise” tertentu bila memiliki produknya.

Makanan disimpan di wadah Tupperware.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi makanan disimpan di wadah Tupperware.

Masalahnya, ia tidak tahu harus membeli Tupperware di mana. Karena itu, saat ditawari ikut arisan Tupperware, ia tertarik ikut.

Setelah selesai arisan, Fitria pun ketagihan. Ia mulai rajin membeli produk Tupperware lainnya, entah di situs lokapasar daring ataupun pasar pagi.

Ia dan tetangga rumahnya yang sesama ibu-ibu bahkan jadi bersaing satu sama lain.

“[Tetangga] sudah punya yang ini. Aku belum punya. Besoknya beli,” kata Fitria sembari tertawa.

“Padahal, pas sudah punya, dipakai juga enggak. Jadi pajangan.”

Baca juga:

Karena merasa “sayang”, apalagi mengingat harganya yang relatif mahal, Fitria bilang memang banyak produk Tupperware di rumahnya yang ujung-ujungnya tak terpakai dan hanya tersimpan rapi di lemari.

Hanya satu atau dua barang yang rutin digunakan, misalnya kotak bekal untuk anaknya sekolah.

Apalagi, suaminya sempat menghilangkan satu kotak bekal Tupperware.

“[Suami] pernah trauma kayaknya. Pernah saya marah-marahin gara-gara ngilangin tempat makan. Harganya Rp265.000 satunya,” kata Fitria.

“Habis itu kalau bawa makan, dia bawanya pakai kotak plastik yang sekali pakai.”

Ibu-ibu lain pun disebutnya bersikap sama. Misal, saat piknik, mereka yang membawa bekal pasti akan menjaga ketat kotak Tupperware-nya. “Supaya enggak hilang,” kata Fitria.

Makanan disimpan di wadah Tupperware.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi makanan disimpan di wadah Tupperware.

Wanty Sumarta, ibu beranak tiga di Jakarta Selatan, juga sempat melalui satu masa saat produk Tupperware begitu digandrungi.

Kira-kira 10-15 tahun silam, teman-teman sekantornya disebut rajin betul mengoleksi produk-produk Tupperware dengan harga relatif mahal.

“Kalau lagi arisan, ibu-ibu itu pas ngobrol ngebanggain lemarinya isinya produk Tupperware satu warna semua,” kata Wanty, 62 tahun.

“Kan dulu iklannya begitu. Buka lemari, satu warna semuanya, dengan berbagai bentuk [produk].”

Saat itu, menurutnya memiliki Tupperware memang menjadi satu “kebanggaan” tersendiri, makanya banyak orang jadi “tergila-gila”.

Namun, belakangan, Wanty bilang trennya telah berubah. Sudah ada semakin banyak pilihan produk bermerek lain dengan desain lebih beragam dan harga lebih terjangkau.

“Sekarang udah enggak segitunya ya,” kata Wanty.

'Pesta telah usai'

“Beberapa waktu terakhir, pestanya telah usai bagi Tupperware,” kata Susannah Streeter, analis dari perusahaan jasa keuangan Hargreaves Lansdown.

Ada beberapa hal yang jadi alasan. Kesalahan pelaporan keuangan Tupperware yang sempat terjadi untuk tahun 2021 dan 2022, misalnya, disebut berdampak buruk pada perusahaan.

Di luar itu, Streeter mengatakan ada perubahan perilaku konsumen yang membuat wadah plastik tidak populer lagi.

“Konsumen mulai mengurangi ketergantungan pada plastik dan mencari cara yang lebih ramah lingkungan untuk menyimpan makanan,” ujarnya.

Baca juga:

Makanan disimpan di wadah Tupperware.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi makanan disimpan di wadah Tupperware.

Kartini Florentina, ibu beranak satu di Jakarta Pusat, menyampaikan hal senada.

Saat pertama mendengar kabar bahwa Tupperware mengajukan kebangkrutan ke pengadilan di AS, Kartini merasa tak terlampau kaget karena menurutnya peminat Tupperware sudah tak sebanyak dulu.

Kartini bilang banyak orang sekarang beralih dari produk plastik ke yang berbahan lain, misalnya stainless steel, yang dirasa lebih ramah lingkungan.

“Kalau kotak bekal, mungkin masih banyak orang pakai yang plastik, tapi kalau botol minum orang-orang sudah carinya yang stainless steel,” kata Kartini, 34 tahun.

Sebelumnya, hasil riset Tetra Pak, perusahaan pengolahan dan pengemasan makanan dan minuman asal Swiss, pun menunjukkan mayoritas konsumen kini cenderung membeli produk dari perusahaan yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan.

Karena itu, produk plastik kian ditinggalkan, termasuk Tupperware yang sempat menjadi penjaga gengsi ibu-ibu Indonesia.