'Sepatu Bata' dan lima hal yang perlu diketahui di balik penutupan pabriknya di Purwakarta - Mulai 'kurang inovasi' hingga 'kendala bahan baku impor'

Toko sepatu Bata di Jalan Raden Intan II, Bandar Lampung yang sepi pembeli, Selasa (7/5).

Sumber gambar, KOMPAS.COM/TRI PURNA JAYA

Keterangan gambar, Toko sepatu Bata di Jalan Raden Intan II, Bandar Lampung yang sepi pembeli, Selasa (7/5).

Pembatasan impor bahan baku sepatu hingga kurangnya inovasi merek disebut sebagai penyebab utama di balik penutupan pabrik PT Sepatu Bata di Purwakarta. Apa langkah perusahaan alas kaki ini guna mengembalikan kinerja bisnis dan penjualannya?

Setelah penutupan pabriknya di Purwakarta, Jawa Barat, menyedot perhatian masyarakat, Kementerian Perindustrian menggelar dialog dengan pimpinan PT Sepatu Bata, Rabu (08/05) di Jakarta.

Dalam pertemuan itu, manajemen PT Sepatu Bata kembali menjelaskan ulang alasan penutupan pabriknya di Purwakarta serta upayanya fokus pada "bisnis retail" agar roda bisnis tetap jalan.

Sebelumnya, dalam beberapa tahun belakangan, perusahaan alas kaki ini mengalami penurunan produksi dan kerugian.

Apa yang dialami perusahan sepatu Bata ini memunculkan banyak pertanyaan di masyarakat, yaitu apa penyebab utama dari itu semua?

Bagi pengamat ekonomi Indef, Andry Satrio Nugroho, mengatakan apa yang dialami Bata tak terlepas dari kebijakan pemerintah tentang pembatasan impor bahan baku yang disebutnya merugikan perusahaan alas kaki. Kehadiran bahan baku impor itu sangat penting bagi industri mereka.

Jika pemerintah tidak merevisi peraturan itu hingga paling tidak pertengahan tahun, Andry memprediksi kinerja industri akan melambat hingga 4%.

Dihubungi secara terpisah, Juru bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif, mengatakan, tidak ada hubungan penutupan pabrik PT Sepatu Bata dengan kenaikan tarif impor.

"Kenaikan tarif impor lebih disebabkan karena penguatan Dollar AS dan bukan karena pemberlakuan lartas [larangan dan pembatasan] bahan baku impor," kata Febri dalam keterangan tertulis kepada BBC News Indonesia, Kamis (09/05).

Di sisi lain, pengamat pemasaran dan bisnis, Yuswohady, menyebut kurangnya inovasi pemasaran dan pengembangan merek, membuat merek Bata kesulitan menggaet generasi millennial dan Gen Z.

Dari ‘hadiah naik kelas’ hingga ‘sepatu orang tua’ - Cerita dua generasi tentang sepatu Bata

Dwi Budhi Rahayu, 42, mengenang momen masa kecilnya ketika orang tuanya mengajaknya pergi membeli sepatu Bata setelah mendapatkan nilai rapor saat SD. Biasanya ia dan keluarga pergi ke gerai Bata Sabang di Jalan Agus Salim, Jakarta Pusat.

“Jadi itu sesuatu yang ditunggu-tunggu, seperti motivasi untuk belajar. Begitu ambil rapot dan mendapatkan peringkat satu, orang tua akan mengajak kita pergi ke toko sepatu untuk memilih model yang mau dibeli,” ungkap Ayu kepada BBC News Indonesia.

Ayu masih mengingat betul model sepatu yang ia pilih saat itu, yakni sebuah pantofel hitam khusus perempuan yang terbuat dari kulit dan memiliki berbagai variasi seperti pita atau bunga.

Ia mengatakan bahwa semasa kecilnya, sepatu Bata selalu ada teriklan di majalah kanak-kanak Bobo, di surat kabar, dan bahkan teman-teman sekolahnya menggunakan sepatu Bata.

Foto ilustrasi: Seorang pembeli membawa kantong plastik bermerek dari toko Bata, sambil berjalan.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Foto ilustrasi: Seorang pembeli membawa kantong plastik bermerek dari toko Bata, sambil berjalan.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Orang tuanya pun selalu memilih Bata untuk alas kaki karena dianggap berkualitas dan tahan lama.

“Saya dan kakak saya bedanya setahun jadi kembar sepatunya karena sama-sama perempuan. Ada kebanggaan tersendiri, saat keluar dari toko dan menenteng sepatu Bata baru,” kata Ayu dengan nada riang.

Hingga kini pun, Ayu mengaku masih membeli sepatu model slip-on dari Bata, karena sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil.

Ia pun merasa kaget dan sedih ketika mendengar Bata menutup pabriknya yang ada di Purwakarta Jawa Barat karena di matanya, Bata masih “up-to-date” seperti di masa lalu.

Baca juga:

Namun, Raisyah, 23, memiliki pandangan berbeda. Ia terakhir kali membeli sepatu Bata saat SMP, tetapi sekarang ia merasa desain sepatu dan cara pemasarannya kurang menarik bagi generasinya.

“Bata bukan lagi pilihan saya. Tapi setelah saya lihat-lihat, desainnya lebih cocok untuk anak sekolah atau seseorang yang sudah jauh lebih tua umurnya,” kata Raisyah.

Meski begitu, ia menyatakan dirinya masih suka membeli sepatu-sepatu yang diproduksi dalam negeri, khususnya yang memiliki gaya kekinian dan inovatif. Terkadang, ia lebih memilih untuk membeli sepatu secara daring.

”Kalau saya melihat ada satu brand lokal yang memang paham banget dengan Gen Z, mereka benar-benar memberikan outlook yang segar. Sedangkan Bata tetap menggunakan sistem lama, seperti diskon-diskon. Atau mereka menempatkan tokonya di dekat baju ritel lokal,” ungkapnya.

Saat mendengar kabar penutupan pabrik Bata di Purwakarta, Raisyah merasa ”kaget tapi tidak terlalu”.

”Saya tidak menyangka merek yang sudah lama sekali berada di Indonesia bakal tergerus. Tapi pada akhirnya, balik lagi ke daya beli orang-orang. Mau beli produknya atau tidak,” ucap Raisyah.

Sejarah Bata di Indonesia dan penutupan pabrik Purwakarta

Bata merupakan salah satu merek sepatu tertua di Indonesia. Namun sebenarnya Bata bukan merek lokal melainkan asal Cekoslowakia.

Bata merupakan perusahaan yang didirikan pengusaha bernama Tomas Anna dan Antonin Beta pada 1894 di Zlin, Cekoslowakia.

Perusahaan tersebut melakukan ekspansi hingga ke benua Eropa, Asia, Afrika, Amerika Latin, hingga Amerika Utara. Produk-produk Bata menyebar sampai ke 50 negara dengan produsen yang berpusat di 26 negara.

Berdasarkan situs resminya, Bata sudah menjual sepatu di Indonesia bahkan sejak 1931, 14 tahun sebelum proklamasi kemerdekaan. Di kala itu, Bata bekerja sama dengan Netherlandsch-Indisch sebagai importir sepatu yang beroperasi di Tanjung Priok.

Kemudian pada 1937, Tomas Bata mendirikan pabrik sepatu di tengah perkebunan karet di daerah Kalibata, Jakarta Selatan. Pada 1940, Bata mulai memproduksi sepatu di Indonesia.

PT Sepatu Bata Tbk. terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada 24 Maret 1982. Pada 1994, konstruksi pabrik Sepatu di Purwakarta rampung. Tetapi tak disangka 30 tahun kemudian, pihak manajemen Bata memutusukan untuk menutup pabrik tersebut.

Penjual sepatu Colin Richards mengukur kaki seorang wanita muda di demonstrasi toko sepatu kelilingnya yang menjual sepatu Bata, sebelum berangkat ke Afrika dalam acara penjualan, London, September 1951

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Bata merupakan perusahaan asal Cekoslowakia yang berdiri pada 1894 dan mulai memproduksi sepatu di Indonesia pada 1940.

Corporate Secretary Bata, Hatta Tutuko, dalam keterangannya kepada BEI pada 2 Mei 2024 menyebut alasan dari penutupan pabrik di Purwakarta adalah perusahaan tak mampu lagi melanjutkan produksi di pabrik sepatu Purwakarta.

Ia menjelaskan permintaan pelanggan terhadap jenis produk yang dibuat di pabrik juga terus menurun.

"Sepatu Bata Tbk telah melakukan berbagai upaya selama empat tahun terakhir di tengah kerugian dan tantangan industri akibat pandemi dan perubahan perilaku konsumen yang begitu cepat," tulis Hatta dalam keterangannya.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan per 31 Desember 2023, Bata mencatat penjualan neto Bata Rp609,61 miliar pada 2023. Angka ini merosot dibandingkan tahun sebelumnya, yakni Rp643,45

BBC Indonesia telah berusaha menghubungi pihak PT Sepatu Bata Tbk melalui Corporate Secretary, Hatta Tutuko untuk meminta komentar dan penjelasan di balik alasan penutupan pabrik Bata di Purwakarta.

Hingga berita ini dinaikkan, Hatta Tutuko belum memberikan tanggapan.

Namun dalam beberapa tahun belakangan, perusahaan alas kaki ini mengalami penurunan produksi dan kerugian.

Pada 2018, mereka bisa mencetak 3,5 juta pasang alas kaki, tetapi terus mengalami penurunan hingga1,15 juta pasang sepanjang tahun lalu.

Ujungnya, mereka mengalami peningkatan kerugian setiap tahun hingga nilai asetnya menurun.

Dilaporkan, berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2023, PT Sepatu Bata tercatat mengalami rugi bersih sebesar Rp190,28 miliar.

Rugi itu membengkak hampir 80% dibandingkan periode sama 2022 sebesar Rp105,91 miliar.

Lalu, terungkaplah fakta bahwa mereka kemudian memutuskan menutup pabriknya di Purwakarta, Jabar, per 30 April 2024.

Pengamat pemasaran: Kurangnya inovasi merek membuat Bata mengalami ‘penuaan’

Pengamat Bisnis & Pemasaran Managing Partner Inventure, Yuswohady, mengatakan bahwa menurunnya penjualan sepatu Bata merupakan dampak dari penuaan merek.

“Proses penuaan itu sebenarnya sudah terjadi sejak lama, sejak 90-an itu sudah terjadi. Dan dia menarik, jarang ada merek yang bisa seperti Bata, karena brand global melokal itu tidak banyak,” ungkap Yuswohady kepada BBC News Indonesia.

Meskipun ia mengakui Bata sempat mengalami “masa kejayaan” pada era 70-an hingga 80-an, kini masa itu sudah berlalu. Akibatnya, Yuswohady menyebut ceruk pasar dari merek tersebut adalah mereka yang masih mengingat masa kejayaan itu, yakni Gen X dan Boomer.

Sementara, Gen X dan Boomer sudah mulai memasuki masa pensiun, sehingga daya beli mereka berkurang. Oleh karena itu, merek-merek harus bisa menggaet generasi-generasi dengan daya beli yang semakin meningkat, khususnya Milennial dan Gen Z.

“Pendapatan yang besar, adanya itu di Milennial. Ketika Milennial itu menguasai pasar, tetapi Bata tidak mampu melakukan regenerasi konsumen. Makanya dia penjualannya [menurun],” kata Yuswohady.

Pengamat pemasaran mengatakan para Milennial dan Gen Z lebih menyukai merek-merek lokal baru daripada Bata yang mereka anggap "ketinggalan zaman".

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pengamat pemasaran mengatakan para Milennial dan Gen Z lebih menyukai merek-merek lokal baru daripada Bata yang mereka anggap "ketinggalan zaman".

Ia menjelaskan Milennial kurang tertarik dengan Bata karena citranya sebagai merek “jadul atau ketinggalan zaman”.

Sementara, mereka lebih menyukai merek-merek lokal yang diproduksi oleh anak-anak muda sehingga memiliki desain dan gaya pemasaran yang kekinian.

“Semua yang merancang [merek-merek lokal baru] adalah orang-orang Milennial. Sehingga dia otomatis gaya sepatunya semua adalah gaya anak muda. Jadi setiap merek ada zamanya,” ujarnya.

Selain itu, Yuswohady juga menyoroti strategi pemasaran Bata yang lebih mengandalkan gerai atau toko fisik dibandingkan gaya pemasaran digital.

Meskipun Bata memiliki lini masa media sosial seperti Instagram dan TikTok, serta menjual pada situs-situs pemasaran, Yuswohady menilai channel-channel tersebut belum dioptimalkan secara maksimal oleh Bata.

“Ketika toko fisik terkena pandemi, orang sudah tidak lagi ke toko. Langsung dampaknya ke revenue dan pendapatan. Makanya empat tahun terakhir itu betul-betul kena,” ungkapnya.

Saat masa pandemi pada 2020, PT Sepatu Bata Tbk. mengumumkan telah menutup 50 gerai fisik atau offline-nya di Indonesia. Perusahaan berkode saham BATA tersebut memilih menggenjot penjualan produk-produknya secara daring.

Industri alas kaki semakin lesu di tengah tingginya tarif impor bahan baku

Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Firman Bakri, mengatakan bahwa sejak pandemi, industri alas kaki di Indonesia masih belum mampu kembali ke level normal.

“Walaupun belum sampai tembus 75%, tapi itu sudah bagus. Tetapi begitu selesai Lebaran 2023, kita masuk bulan Juli 2023, itu sudah mulai datar perdagangan. Itu kita sudah mewanti-wanti,” kata Firman.

Meskipun penjualan sempat meningkat pada Lebaran 2023, Lebaran tahun ini penjualan mengalami penurunan hingga 20%-30%. Hal ini kemudian, jelas Firman, berdampak pada permintaan karena para pengusaha sepatu harus bersaing dengan kebutuhan-kebutuhan pokok yang naik harga.

“Masyarakat menabung THR untuk beli beras. Takutnya beras naik atau mereka masih simpan. Mereka enggak mau belanja yang aneh-aneh. Karena takutnya harga pangan naik,“ ujarnya.

Menurut Firman, permasalahan utama terletak pada aturan pembatasan impor bahan baku yang diberlakukan pemerintah. Ia menyebut tarif impor yang tinggi membuat produsen dalam negeri sulit bersaing dengan harga-harga produk asing.

“Setidaknya untuk pelaku-pelaku yang berpotensi meningkatkan ekonomi nasional, menyerap tenaga kerja, seharusnya diberikan kemudahan untuk bahan baku.

“Pemerintah juga harus memikirkan bahan baku yang kompetitif untuk industri kita supaya bisa bersaing baik di tingkat domestik maupun di tingkat global,” kata Firman.

Baca juga:

Pengamat ekonomi Indef, Andry Satrio Nugroho, mengatakan bahwa pelarangan dan pembatasan impor bersifat merugikan bagi sektor yang harus mengimpor bahan baku dari luar negeri untuk memproduksi barang, salah satunya industri alas kaki.

“Bukannya diberikan insentif, tapi justru diberikan beban. Jadi ini masuknya ke biaya regulasi bagi mereka. Yang akan meningkatkan biaya input dari industri ini sendiri,” kata Andry.

Ia menjelaskan bahwa industri alas kaki masuk ke dalam kategori padat karya, yang artinya industri tersebut menyerap tenaga kerja manusia yang besar. Ketika industri semacam itu mulai lesu, maka banyak orang berpotensi kehilangan pekerjaan.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar pemerintah mengkaji ulang regulasi tersebut dengan melibatkan pihak pengusaha dan asosiasi terkait. Jika tidak, Andry mengatakan pertumbuhan ekonomi negara berpotensi melambat dibandingkan tahun lalu.

”Karena kita tahu di awal tahun, industri sudah mulai tertekan dengan adanya belanja komoditas. Sekarang sudah mulai tertekan juga dengan Permendag.

”Ini yang menurut saya seharusnya pemerintah sadar, bahwa kebijakan untuk pelarangan impor ini sama saja mematikan industri,” tegasnya.

Apa kata pemerintah soal keluhan pengusaha sepatu tentang pembatasan impor?

Dihubungi secara terpisah, Juru bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif, mengatakan, tidak ada hubungan penutupan pabrik PT Sepatu Bata dengan kenaikan tarif impor.

"Kenaikan tarif impor lebih disebabkan karena penguatan Dollar AS dan bukan karena pemberlakuan lartas bahan baku impor," kata Febri dalam keterangan tertulis kepada BBC News Indonesia, Kamis (09/05).

Dia menjelaskan, larangan dan pembatasan bahan baku impor (alas kaki) dan momentum penguatan Dollar AS seharusnya dimanfaatkan oleh industri alas kaki di Indonesia.

"[Yaitu] untuk mencari bahan baku dari dalam negeri kualitas bagus dan harga lebih murah dari harga bahan baku impor," kata Febri.

Dia mengeklaim, ada banyak industri dalam negeri yang bisa memproduksi bahan baku untuk industri alas kaki.

"Kalau kapasitas produksi industri penghasil bahan baku industri alas kaki masih rendah, maka ajak investor untuk investasi di sektor industri tersebut mumpung permintaan bahan baku masih tinggi," tambahnya.

Kementerian Perindustrian, menurut Febri, siap memfasilitasi pencarian bahan baku dalam negeri dan fasilitasi industri yang memproduksi bahan baku.

Dalam hasil dialog dengan Kemenperin, Rabu (08/05), PT Sepatu Bata Tbk mengatakan pabrik Purwakarta sebenarnya merupakan bagian kecil dari keseluruhan bisnis perusahaan, jika dibandingkan dengan produsen sepatu lainnya.

Oleh karena itu, menurut manajemen, penutupan pabrik Purwakarta merupakan langkah paling realistis.

Meski begitu, Kementerian Perindustrian menilai langkah yang diambil Bata kurang tepat.

Sebab, menurut Febri, saat ini kondisi industri sepatu nasional terus bertumbuh dengan kebijakan pengendalian terhadap impor barang jadi dan jaminan bahan baku.

“Kemenperin berharap setelah kondisi perusahaan membaik, suatu saat perusahaan bisa membuka kembali pabriknya di Indonesia dengan kapasitas yang lebih besar,” ucap Febri dalam keterangan tertulis.

Dia menganggap salah satu faktor yang menyebabkan penutupan pabriknya di Purwakarta adalah "inefisiensi produksi" dan "produk yang tidak memenuhi selera konsumen".

Sehingga, sambungnya, konsumen memilih untuk lebih fokus pada lini bisnis retail.

Produk-produk tas hingga sepatu yang dipajang di dalam sebuah gerai Bata.

Sumber gambar, Bata.com

Keterangan gambar, Produk-produk tas hingga sepatu yang dipajang di dalam sebuah gerai Bata.

Lebih lanjut, ia berharap pemberlakuan larangan dan pembatasan alas kaki jadi sesuai Permendag Nomor 36 tahun 2023 serta perubahannya dalam Permendag Nomor 7 tahun 2024 diharapkan dapat melindungi pasar dalam negeri dari serbuan barang impor.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki (ITKAK) Kemenperin, Adie Rochmanto Pandiangan, menegaskan bahwa larangan dan pembatasan impor diterapkan oleh pemerintah untuk meningkatkan produksi dalam negeri.

Sebab, menurut catatan Kemenperin, kinerja industri kulit dan alas kaki pada triwulan I 2024 mengalami peningkatan sebesar 5,9% secara year-on-year (yoy), peningkatan ekspor sebesar 0,95% yoy, dan penurunan impor hingga 1,38% yoy.

“Hal ini menunjukkan impor yang mengalami penurunan, disubstitusi oleh industri dalam negeri ditandai dengan konsumsi dan nilai tambah yang mengalami peningkatan dengan kenaikan PDB,” kata Adie.