'Sahabat saya meninggal tepat di depan saya' – Kesaksian seorang pelajar saat pesawat Angkatan Udara Bangladesh menabrak sekolah

- Penulis, Abul Azad, Sajal Das, Shahnewaj Rocky, dan Mukimul Ahsan
- Peranan, BBC Bangla, di Dhaka
- Waktu membaca: 6 menit
Farhan Hasan baru saja selesai ujian kemudian mengobrol dengan teman-temannya di luar kelas ketika sebuah pesawat tempur Angkatan Udara Bangladesh menabrak bangunan sekolahnya dan menewaskan sedikitnya 27 orang.
"Pesawat yang terbakar itu menghantam gedung tepat di depan mata saya," kata siswa Milestone School and College kepada BBC Bangla.
Rekaman video di pinggiran utara ibu kota, Dhaka, menunjukkan api besar dan asap tebal membumbung setelah pesawat menabrak bangunan berlantai dua.
Lebih dari 170 orang terluka dalam kecelakaan tersebut.
Militer Bangladesh mengatakan bahwa pesawat jet latih F-7 mengalami gangguan mekanis setelah lepas landas tepat setelah pukul 13.00 waktu setempat (14.00 WIB). Sang pilot, Letnan Penerbang Md. Taukir Islam, termasuk di antara mereka yang tewas.
Farhan, yang berbicara kepada BBC Bangla bersama paman dan ayahnya, menambahkan: "Sahabat saya, yang berada di ruang ujian bersama saya, meninggal tepat di depan mata saya.
"Di depan mata saya... pesawat itu melintas tepat di atas kepalanya. Banyak orang tua berada di dalam [sekolah] karena murid-murid yang lebih kecil pulang sekolah... pesawat itu turut merenggut nyawa sejumlah orang tua."
Seorang guru di sekolah tersebut, Rezaul Islam, mengatakan kepada BBC bahwa ia melihat pesawat "langsung" menghantam bangunan sekolah.
Seorang guru lainnya, Masud Tarik, mengatakan kepada kantor berita Reuters dirinya mendengar ledakan: "Ketika saya menengok ke belakang, saya hanya melihat api dan asap... Ada banyak orang tua murid dan anak-anak di sana."

Sumber gambar, Getty Images
Beberapa jam setelah kecelakaan, kerumunan orang berkumpul untuk melihat lokasi kejadian.
Ketika orang-orang berlarian ke segala arah, ambulans dan sukarelawan berusaha mencari jalan untuk membawa sejumlah korban luka dan jenazah keluar sekolah.
Setidaknya 30 ambulans terlihat mengantarkan para korban ke rumah sakit.
Seorang perempuan yang mencari informasi di tempat kejadian mengatakan kepada BBC bahwa putranya sempat meneleponnya setelah kecelakaan, namun ia tidak mendengar kabar darinya sejak saat itu.

Lebih dari 50 orang, termasuk anak-anak dan orang dewasa, dibawa ke rumah sakit dengan luka bakar, kata seorang dokter Institut Bedah Plastik dan Luka Bakar Nasional.
Banyak keluarga dan kerabat korban berada di dalam rumah sakit, termasuk Shah Alam. Dia merupakan paman seorang siswa Kelas 8, Tanvir Ahmed, yang meninggal dalam kecelakaan itu.
"Keponakan tercinta saya ada di kamar mayat sekarang," kata Alam sambil memeluk adik laki-lakinya—ayah Tanvir—yang berdiri terpaku.
Sebagian besar korban luka bakar di rumah sakit adalah anak di bawah umur—kebanyakan berusia antara sembilan dan 14 tahun.

Sumber gambar, Nur Photo via Getty Images
Bukan hanya rumah sakit luka bakar yang menerima korban luka-luka. Kementerian Kesehatan Bangladesh mengatakan bahwa tujuh rumah sakit di seluruh kota merawat para korban.
Bagaimana insiden ini bisa terjadi?
Angkatan Udara Bangladesh mengatakan pesawat jet F-7 tersebut mengalami kerusakan mekanis dan pilotnya, Letnan Penerbang Md. Taukir Islam, telah mencoba untuk mengarahkannya ke daerah yang tidak terlalu ramai. Dia termasuk di antara korban tewas.
Gambar-gambar dari tempat kejadian beberapa jam setelah kecelakaan menunjukkan sejumlah petugas tanggap darurat memilah-milah reruntuhan bangunan untuk mencari korban selamat.
Sebuah komite investigasi telah dibentuk untuk menyelidiki insiden tersebut, kata militer Bangladesh.
Siapa saja korban insiden ini?

Sumber gambar, Getty Images
Sebagian besar korban terdaftar di Milestone School and College, sebuah sekolah swasta yang memiliki sekitar 2.000 siswa, mulai dari tingkat pra-sekolah hingga sekolah menengah atas.
Setidaknya 17 dari korban meninggal adalah anak-anak, kata Kementerian Kesehatan pada Senin (21/07).
Seorang guru mengatakan kepada harian Dhaka Tribune bahwa kegiatan belajar-mengajar di kelas lima hingga tujuh sedang diadakan di sekolah saat pesawat jatuh.
"Meskipun kelas berakhir sekitar pukul 13:00, banyak siswa yang menunggu untuk mendapatkan bimbingan privat," ujar sang guru.
Dokter yang bertugas di Rumah Sakit Uttara Adhunik Medical College mengatakan banyak korban menderita luka bakar akibat bahan bakar jet.
Seberapa sering insiden pesawat jatuh di Bangladesh?

Sumber gambar, Getty Images
Kecelakaan pesawat relatif jarang terjadi di Bangladesh.
Terakhir kali terjadi pesawat besar jatuh berlangsung pada 1984, ketika semua 49 orang yang berada di dalam pesawat Biman—maskapai penerbangan nasional Bangladesh—tewas setelah pesawat tersebut jatuh ke rawa-rawa saat mendarat di dekat bandara di Dhaka.
Pada 2018, sebuah pesawat jatuh ketika mencoba mendarat di bandara di Kathmandu, Nepal, menewaskan 51 orang.
Pada tahun 2008, sebuah jet latih F-7 lainnya jatuh di luar Dhaka, menewaskan pilotnya.
Apa yang terjadi sekarang?

Sumber gambar, Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Kota ini masih terguncang akibat insiden yang menelan banyak korban jiwa. Upaya medis masih terus dilakukan.
Institut Bedah Plastik dan Luka Bakar Nasional dikerumuni oleh keluarga yang berusaha mencari sanak saudara mereka. Para sukarelawan turut antre untuk menyumbangkan darah kepada para korban luka. Sejumlah politisi juga terlihat mengunjungi para korban di rumah sakit.
Sebuah nomor telepon darurat telah diluncurkan untuk menjawab pertanyaan para keluarga korban kecelakaan tersebut, tulis Muhammad Yunus, pemimpin pemerintahan sementara Bangladesh, di X.
Yunus mengatakan bahwa jenazah yang dapat diidentifikasi akan diserahkan kepada keluarga mereka, sementara yang lainnya akan diidentifikasi melalui tes DNA.
Ia juga mengimbau masyarakat tidak berkerumun di sekitar rumah sakit agar lalu lalang tenaga medis tidak terganggu.
"Langkah-langkah yang diperlukan" akan diambil untuk menyelidiki penyebab insiden tersebut dan "memastikan semua jenis bantuan", katanya.
Insiden ini telah mengundang belasungkawa dari para pemimpin negara tetangga, termasuk Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, dan Perdana Menteri India, Narendra Modi.












