Balita dan anak-anak di Aceh Tamiang makan mi instan belasan hari, apa dampaknya bagi kesehatan?

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
- Penulis, Raja Eben Lumbanrau
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
- Waktu membaca: 15 menit
Sekelompok balita hingga anak-anak terpaksa mengonsumsi mi instan selama belasan hari untuk bertahan hidup, usai bencana banjir bandang menghantam Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Bagaimana kisah dan kondisi mereka saat ini serta apa dampak mi instan bagi kesehatan anak?
Rindu Majalina, 39 tahun, tinggal di Dusun Melur, Desa Bukit Rata, Aceh Tamiang. Rumahnya terendam usai banjir bandang menyerang pada 26 November lalu.
Dia memboyong tiga anaknya untuk mengungsi sementara ke Kota Medan, Sumatra Utara. Pasalnya, lebih dari 20 hari pascabencana, rumahnya tak layak huni.
"Air tidak ada, PDAM mati, tangki air jarang datang. Orang MCK [mandi, cuci, kakus] pakai plastik dan dibuang sembarangan ke mana-mana. Saya mau bersihkan rumah tak bisa, apalagi saya ada anak kecil yang butuh air bersih, susah jadinya," kata Rindu, Rabu (17/12).
Rindu berkata, istrik baru beberapa hari terakhir mengalir, itu pun tak sepanjang hari.
"Setelah presiden datang, listrik hidup, presiden pulang langsung mati. Sekarang hidup-mati, hidup-mati, hidup-mati, masih belum stabil," ujarnya.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Walaupun listrik telah terhubung dan bantuan makanan berdatangan, Rindu mencemaskan kondisi lingkungan yang kotor: penuh sampah, debu berterbangan, dan juga serangan nyamuk.
Alasannya mengungsi keluar dari Aceh Tamiang dipicu pula kondisi fisik anak dan orang tuanya yang melemah.
"Anak-anak sempat diare dan sampai hari ini masih demam. Hilang timbul demamnya. Lalu muntah-muntah dan kemarin enggak mau makan lagi. Gatal-gatal juga. Orang tua juga gula dan tensinya naik. Jadi kami ambil keputusan mengungsi," ujar Rindu.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Makan mi instan belasan hari
Rindu melihat salah satu penyebab melemahnya kesehatan ketiga anaknya adalah karena asupan gizi yang minim, usai banjir bandang menghantam rumah dan permukiman mereka.
Rindu bercerita tentang memori buruk yang mengubah hidupnya itu.
Sebelum banjir bandang menghatam, hujan selama empat hari berturut-turut mengguyur kampung mereka.
Air perlahan mulai mengenangi rumahnya. Rindu bersama tiga anaknya lalu mengungsi ke sebuah masjid, bersama warga lainnya.
"Di masjid kami dapat makan mi dan telur. Dari hari itu sampai 11 hari ke depannya, anak-anakku setiap hari makan mi instan," kata Rindu.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
Satu hari usai mengungsi ke masjid, pada 26 November, banjir bandang menghantam Aceh Tamiang. Rumah Rindu ditelan air. Hanya atapnya yang tampak. Masjid tempatnya berlindung juga digenangi air.
"Enggak ada yang bisa dibawa, sendal pun tak bisa karena licin," kata Rindu.
Rindu lalu mengendong anak bungsunya yang berusia 11 bulan. Mereka melintasi air yang menenggelamkannya hingga setinggi dada.
Dua anaknya yang lain dipegang oleh adik dan tetangga Rindu.
Mereka bergegas naik ke atas bukit mencari tempat aman. Di sana, mereka menemukan sebuah rumah warga.
"Kami minta pertolongan, menangis mohon-mohon, sambil bawa anak. Ada ibu yang baik hati menampung kami, dan kasih kami makan, dan memang cuma ada mi instan," ujarnya.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Mungkin Anda tertarik:
Selama beberapa hari Rindu dan ketiga anaknya berlindung di atas bukit. Sinyal telepon putus dan mereka tidak bisa mengakses informasi dari luar.
Saat air perlahan surut, mereka berpindah-pindah ke tiga lokasi pengungsian lain.
Selama itu, Rindu terpaksa menyuapi ketiga anaknya mi instan. Tiga kali dalam sehari.

Sumber gambar, Rindu Majalina
Bukan hanya dirinya, dia bilang, hampir seluruh balita dan anak-anak di wilayahnya mengonsumsi mi instan.
"Penglihatan saya, tetangga semua makan mi instan karena enggak ada makanan lain. Dan keluar bintik-bintik merah, biduran," ujarnya.
Untuk memenuhi kebutuhan minum, Rindu berjalan kaki ke bukit. Di sana dia mengambil air dari sebuah sumur tua.
"Ada juga tetangga yang ambil air dari parit-parit untuk mandi bahkan ada untuk minum," katanya.
Artikel ini memuat konten yang disediakan TikTok. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca TikTok kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati TikTok pesan
Pada hari ke delapan, sebuah helikopter menurunkan bantuan. Isinya mi instan, air mineral dan roti.
"Saat bantuan turun warga kayak zombie lah berebutan makanan, karena pada kelaparan, sampai ada yang patah tangan, patah kakinya," katanya.
Rangkaian penyakit dari diare, demam, batuk, dan gatal-gatal pun mulai menyerang keluarganya dan warga lain, kata Rindu.
"Anak-anak sempat diare dan sampai hari ini masih demam, nanti hilang timbul demamnya. Lalu muntah-muntah dan kemarin enggak mau makan lagi. Gatal-gatal juga. Orang tua juga gulanya dan tensi naik. Jadi kami ambil keputusan mengungsi ke Medan dulu cari tempat lebih aman," ujar Rindu.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Hari demi hari berlalu. Akses menuju Aceh Tamiang mulai terbuka. Bantuan pun berdatangan.
Namun, katanya, penyaluran "sangat-sangat tidak merata karena masih banyak daerah terpencil yang sampai sekarang minim bantuan," katanya.
Rindu pun tak tahu sampai kapan dia akan mengungsi di Medan. Dia juga tak tahu butuh waktu berapa lama bagi Aceh Tamiang untuk bangkit.
"Semua kehidupan lumpuh total, dari pasar, kantor, air, hingga sekolah. Anak saya tidak tahu bisa sekolah lagi atau tidak," katanya.
Pemerintah pusat mengklaim akan memastikan anak-anak terdampak bencana Sumatra tetap belajar.
"Sekolah yang rusak berat dan tidak memungkinkan digunakan kembali akan direlokasi setelah mendapat pertimbangan dari BNPB terkait aspek keamanan. Untuk sekolah rusak sedang akan segera diperbaiki, sementara yang rusak ringan dibersihkan agar proses belajar-mengajar bisa kembali dilakukan," kata Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat Wamendikdasmen, pada Senin (15/12).
'Lebih parah dari tsunami 2004'
Rindu bilang banjir bandang yang menyerang Aceh Tamiang "sangat hebat" sehingga melumpuhkan semua aspek kehidupan masyarakat.
"Saya pikir setelah selamat dari banjir sudah suatu yang indah, sudah berhasil. Ternyata pascabencana lebih parah, jadi zombie masyarakatnya, sangat menyakitkan dan menyengsarakan," kata Rindu.
Menurutnya, dampak banjir bandang ini jauh lebih berat dibandingkan tsunami yang menyerang Aceh pada 2004.

Sumber gambar, Dimas Ardian/Getty Images
Pada tahun 2004, Rindu tinggal di rumah saudaranya di Banda Aceh. Dia baru tamat SMA dan saat itu berencana berkuliah di Banda Aceh.
"Saat tsunami, air laut datang sekejap mata menyapu dan menghancurkan semua memang. Begitu habis, airnya balik dan cepat surut," kata Rindu
"Kalau sekarang airnya lama turun. Tetangga yang enggak sempat mengungsi, bertahan di loteng-loteng, bayangkan tiga sampai empat hari tanpa air, tanpa minum. Mereka cuma minum air hujan."
"Lalu pas turun, lumpurnya setinggi betis hingga pinggang, jadi tidak bisa jalan kemana-mana," tambahnya.

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Usai tsunami menyerang Aceh pada 26 Desember 2004, dalam sehari pemerintah langsung menetapkan bencana nasional.
Pada 27 Desember 2004, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Keppres Nomor 112 tahun 2004.
Melalui regulasi itu, SBY menetapkan bencana gempa bumi dan gelombang tsunami di Aceh dan Sumatra utara sebagai bencana nasional dan hari berkabung nasional.
"Dampaknya, semuanya jadi beraksi dan cepat pemulihannya waktu habis tsunami. Tapi sekarang ini jauh lebih menderita lagi, pemerintah enggak mau ini jadi bencana nasional," kata Rindu.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Saat tsunami melanda Aceh, Wakil Presiden Jusuf Kalla tiba di Aceh keesokan harinya, yaitu pada 27 Desember 2004, dan SBY tiba pada 28 Desember 2004.
Sebagai perbandingan, Prabowo tiba pertama kali ke lokasi bencana Sumatra pada 1 Desember 2025, atau selang sekitar lima atau enam hari usai bencana.
Prabowo mengunjungi lokasi banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Selama tiga pekan sejak bencana, Prabowo telah mengunjungi lokasi bencana di Sumatra sebanyak tiga kali.
'Mi instan, satu piring buat empat orang'
Rindu dan tiga anaknya tidak sendirian. Susilawati, 50 tahun, juga terpaksa memberikan mi instan kepada anggota keluarganya yang masih anak-anak karena tak memiliki pasokan makanan.
Susilawati berkata rumah kerabatnya diterjang banjir. Sedangkan rumah dia selamat karena berada di atas bukti, di Aceh Tamiang.
"Setelah empat hari, empat malam enggak makan, enggak minum, mereka [kerabatnya] mengungsi ke rumah saya. Di antaranya lima cucu dari kakak saya," kata Susilawati.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
"Makan mi instan saja lah berhari-hari. Kadang mentah karena enggak bisa masak, gas juga enggak ada, terkadang dimasak juga pakai kayu. Kami bagi-bagi, satu piring sering buat empat orang," ujarnya.
Sementara untuk minum, katanya, ada sebuah sumur yang masih berfungsi.
"Cuma rumah kami dikelilingi banjir. Kami mau pergi keluar enggak bisa, dan orang dari luar enggak bisa masuk. Alhamdulillah sekarang udah surut," katanya.
Susilawati bilang, kini beberapa anak-anak kondisinya mengurus, batuk, pilek, dan diare.
Saat banjir perlahan surut, katanya, bantuan yang datang pun berupa mi instan lagi.
Dia mengaku tidak pernah menerima bantuan untuk balita dan anak-anak, seperti susu, makanan bayi, popok sekali pakai dan lainnya.
Selain itu, kenang Susilawati, selama berlindung, anak-anak juga bersedi, "kenapa makannya ini-ini saja, kapan air surut, kapan kami bisa sekolah lagi," katanya sambil menangis.
Susilawati bercerita, sekolah anak-anaknya kini telah hancur dihantam banjir.
Dia pun berharap pemerintah untuk memberikan bantuan perbaikan rumah dan infrastruktur yang hancur agar kehidupan masyarakat bisa bangkit.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, mengklaim kebutuhan spesifik untuk anak dan perempuan yang menjadi korban saat ini mulai terpenuhi.
"Kami melihat juga bahwa kebutuhan spesifik anak-anak dan perempuan sudah mulai tercukupi walaupun belum semuanya," ujar Arifatul, Senin (08/12).
Meski begitu, kata dia, pemerintah akan berusaha "agar segala kebutuhan korban bencana Sumatra terus terpenuhi, terutama untuk perempuan dan anak".
"Kebutuhan reproduksi perempuan karena itu kan berbeda dengan laki-laki ya seperti pembalut, pakaian dalam, kemudian makanan untuk anak-anak kan berbeda dengan untuk orang dewasa. Ini juga sudah di apa disediakan oleh pemerintah dengan berbagai upaya yang maksimal," kata Arifatul.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Presiden Prabowo Subianto saat berkunjung ke Aceh Tamiang, pada Jumat (12/12), sempat menyapa para pengungsi dan membagikan mainan ke anak-anak.
Prabowo meminta para korban tabah dan berharap situasi segera pulih.
"Ibu-ibu, anak-anakku sekalian, terima kasih hari ini saya diterima dengan baik. Saya datang sesuai janji. Kita tahu di lapangan sulit. Keadaan sulit jadi kita bersama, ya mudah-mudahan cepat pulih, cepat kembali normal," ujar Prabowo.
Koordinator Yayasan Geutanyoe, Nasruddin, bilang setidaknya timnya menemukan ada empat bayi yang mengonsumsi mi instan.
Situasi itu terjadi, kata Nasruddin, karena anak-anak itu harus bertahan hidup. "Mau bagaimana lagi, tak ada makanan, hanya sisa mi instan, dan masaknya pun pakai air hujan," ujarnya.
Nasruddin menuturkan, hampir semua anak-anak korban banjir di Aceh terpaksa mengonsumsi mi instan. Hanya yang beruntung, kata dia, yang bisa menambahkan ikan kaleng dan telur di piring berisi mi instan anak-anak itu.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Irwansyah Putra
Merujuk situasi itu, Nasruddin berharap pemerintah dan organisasi masyarakat untuk memprioritaskan bantuan bagi balita, anak-anak dan perempuan.
Nasruddin menyebut terdapat puluhan ribu anak-anak yang terdampak bencana bancir di Aceh. Hampir seratus ribuan anak-anak kehilangan tempat tinggal mereka.
"Anak-anak ini butuh perhatian. Mereka tidak tahu masa depannya ke mana, sekolah mereka rusak. Bahkan ada yang minta-minta, pegang kardus di jalan Medan ke Banda Aceh, bisa dilihat kasat mata lah."
"Kalau tidak jadi prioritas, masa depan ratusan ribu anak-anak ini akan terancam," katanya.
Apa dampak kesehatan bagi anak?
Dokter spesialis anak, dokter Reza Fahlevi membagi dampak kesehatan ini menjadi dua, yaitu bersifat akut (berlangsung singkat) dan kronis (berkembang lambat).
"Kalau akut, yang sering terjadi adalah gangguan saluran cerna, misalnya mual, muntah, diare, sakit perut, itu bisa muncul," kata Reza.
Penyebabnya karena mi instan yang seharusnya direbus (sesuai standar pengolahan) namun dimakan langsung, dan juga air untuk mengelola mi yang tak bersih.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Masalah kesehatan jangka panjang yang disebut Reza adalah pada pemenuhan kebutuhan nutrisi anak.
"Ada makronutrien, karbohidrat, protein, lemak. Ada mikronutrien, vitamin, dan mineral. Kalau mi instan tentunya itu tidak akan terpenuhi dengan baik, kebutuhan makron dan mikronutriennya," ujar Reza.
"Bukan berarti enggak boleh [konsumsi mi instan], tapi tentunya harus bervariasi dan dibatasi konsumsi makanan-makanan seperti mi instan.
"Ini yang bisa menjadi masalah jangka panjang pada anak ketika pemenuhan nutrisinya tidak terpenuhi dengan baik," tuturnya.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
Reza pun berharap pemerintah untuk menyediakan makanan-makanan yang sifatnya alami (real food) terhadap anak-anak yang terdampak bencana.
"Apalagi pada balita, karena balita itu ada seribu hari pertama kehidupan dan dia penting banget pemenuhan kebutuhan nutrisi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan otaknya," ujar Reza.
Reza juga bilang terdapat beberapa masalah kesehatan lain yang berpotensi menyerang anak yang jadi korban bencana, seperti infeksi saluran pernafasan, infeksi kulit, hingga masalah tumbuh kembang anak.
"Belum lagi nanti pelayanan kesehatan tidak optimal, imunisasi tidak dilakukan dengan optimal, maka ini juga ada potensi nanti misalnya penyakit-penyakit yang tadinya bisa dicegah dengan imunisasi juga akan berkembang kembali karena banyak imunisasi yang terganggu akibat kondisi bencana," ujarnya.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Senada, guru besar pangan dan gizi Institut Pertanian Bogor (IPB), Ali Khomsan berkata, dampak bencana terhadap gizi anak-anak tergantung pada lamanya mereka tidak bisa mengakses makanan yang baik dan berkualitas.
"Oleh karena itu ketika terjadi bencana ini sampai berbulan-bulan, dan konsumsi makanan anak kurang bagus maka akan terjadi proses di mana anak-anak mungkin pertumbuhan berat badannya akan terganggu," katanya.
Untuk itu, katanya, pemerintah perlu menyediakan bantuan-bantuan untuk balita dan anak-anak yang merupakan golongan rawan gizi, selain untuk ibu hamil dan menyusui.
Ahli gizi masyarakat, Tan Shot Yen, menyebut pemberian mi instan dalam waktu lama, katanya, akan berdampak pada dua hal.
"Pertama, anak bukan dewasa mini. Jadi jika kebutuhannya tersabotase, maka tentu akan berpengaruh dengan pertumbuhan, terutama berat badannya dalam jangka pendek," kata Tan.
"Kedua, bayi dan anak beradaptasi dengan rasa. Jika mereka malah 'kecanduan' dengan rasa-rasa instan maka sulit mengembalikan preferensi mereka ke kebutuhan tumbuhnya lagi," ujarnya.












