Alireza Akbari: Eksekusi mati mantan wakil menteri oleh Iran usai disiksa 3.500 jam picu kemurkaan

Alireza Akbari

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Alireza Akbari.
    • Penulis, Aoife Walsh & Caroline Hawley
    • Peranan, BBC News & BBC Persian

Eksekusi mati pria Inggris-Iran, Alireza Akbari, ditanggapi dengan kecaman secara luas. Akbari memiliki kewarganegaraan ganda setelah mendapatkan naturalisasi oleh Inggris. Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah menangkap dan menghukum puluhan warga dengan kewarganegaraan ganda, sebagian besar atas tuduhan mata-mata dan keamanan nasional.

Mantan wakil menteri Kementerian Pertahanan Iran ini ditangkap pada 2019 dan diputus bersalah atas tuduhan menjadi mata-mata untuk Inggris. Tuduhan ini sebelumnya telah disangkal oleh Akbari.

Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak berkata eksekusi ini adalah “tindakan yang tak punya perasaan dan pengecut, dilakukan oleh rezim barbar”.

Prancis memanggil diplomat tinggi Iran di Paris, memperingatkan bahwa pelanggaran berulang negara ini atas hukum internasional tidak bisa diabaikan.

Sementara itu, Inggris menjatuhkan sanksi kepada Jaksa Penuntut Umum Iran, mengatakan rezim harus bertanggung jawab untuk “pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan”.

“Sanksi ini menggarisbawahi betapa jijiknya kami atas eksekusi Alireza Akbari,” kata Menteri Luar Negeri Inggris James Cleverly.

Langkah diplomatik lainnya dari Inggris adalah menarik sementara duta besar Inggris untuk Iran, Simon Shercliff, “untuk konsultasi lebih lanjut”.

Kantor berita resmi Iran, Mizan, pada Sabtu melaporkan bahwa Akbari, 61 tahun, telah dihukum gantung. Laporan ini tidak menyebutkan secara spesifik kapan eksekusi dilakukan.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Iran merilis sebuah video di awal pekan ini, di mana Akbari terlihat membuat pengakuan secara terpaksa, dan setelah itu, kementerian intelijen negara tersebut menyebut ia sebagai “salah satu agen terpenting dari badan intelijen Inggris di Iran”.

Baca juga:

Pada Rabu, BBC Persia menyiarkan pesan suara dari Akbari yang mengatakan dia telah disiksa dan dipaksa mengakui kejahatan yang tidak dia lakukan di depan kamera.

Keluarga Akbari juga telah diminta untuk melakukan “kunjungan terakhir” di penjara untuknya pada Rabu. Istrinya berkata, saat itu Akbari telah dipindahkan ke ruang isolasi.

Keponakannya, Ramin Forghani, berkata kepada BBC ia merasa sangat terkejut akan eksekusi pamannya, dan lebih lanjut mengatakan ini adalah tanda-tanda rezim yang “putus asa”.

Dia berujar, pamannya adalah patriot Iran yang setia kepada negaranya - veteran perang Irak-Iran, konsultan untuk pemerintah Iran dalam negosiasi nuklir dengan Barat dan mantan wakil menteri pertahanan.

Alireza Akbari mengatakan dia disiksa dan dipaksa mengakui kejahatan yang tidak dia lakukan

Sumber gambar, Twitter

Keterangan gambar, Alireza Akbari mengatakan dia disiksa dan dipaksa mengakui kejahatan yang tidak dia lakukan

Sebelumnya, pemerintah Inggris telah meminta akses konsuler yang mendesak, namun, pemerintah Iran tidak mengakui kewarganegaraan ganda bagi warganya.

Dalam pesan audio dari Akbari yang disiarkan BBC Persia, Akbari menjelaskan dia tinggal di luar negeri selama beberapa tahun yang lalu.

Kemudian, dia diundang untuk mengunjungi Iran atas permintaan seorang diplomat top Iran yang terlibat dalam pembicaraan nuklir dengan kekuatan dunia.

Sesampai di sana, tambahnya, Akbari dituduh memperoleh rahasia intelijen dari Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Shamkhani, "dengan imbalan sebotol parfum dan kemeja".

Akbari pernah bertugas di bawah pimpinan Shamkhani yang menjabat menteri pertahanan selama kepresidenan Mohammad Khatami, seorang reformis yang menjabat selama dua periode antara tahun 1997 dan 2005.

Hentikan X pesan
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: BBC tidak bertanggung jawab atas konten situs eksternal

Lompati X pesan

Akbari, dalam pesan audio itu, mengatakan bahwa dia "diinterogasi dan disiksa" oleh agen intelijen "selama lebih dari 3.500 jam".

"Selama 3.500 jam itu, yang memakan waktu lebih dari 10 bulan, mereka merekam pengakuan saya dengan 10 kamera untuk membuat film bergaya Hollywood," katanya, menambahkan bahwa dia juga diberi "obat psikedelik".

"Dengan menggunakan metode [penyiksaan] fisiologis dan psikologis, mereka menghancurkan keinginan saya, membuat saya gila dan memaksa saya untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan. Dengan kekuatan senjata dan ancaman pembunuhan, mereka membuat saya mengakui klaim palsu dan korup."

Akbari juga menuduh Iran berusaha "membalas dendam pada Inggris dengan mengeksekusi saya".

Beberapa jam setelah pesan audio disiarkan, kantor berita pengadilan Iran, Mizan, mengkonfirmasi untuk pertama kalinya bahwa Akbari dinyatakan bersalah melakukan spionase, dan bahwa Mahkamah Agung telah menolak bandingnya.

Kantor itu juga mengutip pernyataan Kementerian Intelijen Iran yang mengatakan, Akbari telah menjadi "salah satu penyusup paling penting dari pusat-pusat sensitif dan strategis negara" untuk Badan Intelijen Rahasia Inggris, yang lebih dikenal sebagai MI6, dan bahwa ia telah "menyusun dan secara sadar mentransfer data sensitif informasi".

Kementerian itu mengeklaim bahwa agennya mengungkap mata-mata Akbari dengan memberinya informasi palsu.

Alireza Akbari

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Alireza Akbari mengaku pulang ke Iran atas permintaan mantan atasannya.

Akbari pindah ke Inggris dengan visa investor dan mendapatkan naturalisasi sebagai warga negara.

Namun Forghani berkata pamannya kembali ke Teheran dari Inggis karena permintaan mantan atasannya, Ali Shamkhani, sekretaris Dewan Keamanan Tertinggi Iran.

Berbicara kepada BBC dari Luxembourg, Forhani berkata, “Dia setia kepada negara, itulah kenapa dia pulang.”

“Dia terlibat dengan sistem negara sejak pendiriannya, dan tidak akan pernah berpikir untuk menghancurkan rezim maupun warga Iran.

“Saya hanya bisa berspekulasi bahwa ada perebutan kekuasaan di level tertinggi di pemerintahan, dan mereka membuat plot ini untuk paman saya.”

Forhgani mengaitkan waktu eksekusi ini dengan rencana Inggris untuk menyatakan IRGC - Korps Garda Revolusi Iran, sebuah kelompok yang kuat di negara itu - sebagai organisasi teroris.

“Ini tidak mungkin tidak berkaitan,” katanya.

Kelompok HAM Amnesty International meminta Inggris untuk menyelidiki klaim bahwa Akbari disiksa sebelum kematiannya. Mereka menuduh Iran menunjukkan “penghormatan yang sangat kecil” terhadap nyawa manusia.

Dr Sanam Vakil, seorang ahli permasalahan internasional di lembaga think-tank Catham House, berkata kematian Akbari akan digunakan oleh rezim Iran sebagai alasan adanya “tangan-tangan kuat dari luar” di belakang protes anti-pemerintah. 

Protes masyarakat akan dikaitkan dengan tuduhan bahwa negara-negara Barat mencoba untuk “mendestabilisasi Republik Islam”.

"Mempertahankan narasi keterlibatan Barat adalah cara untuk menjaga persatuan di antara lembaga politik," katanya kepada program Today di BBC Radio 4.

Hubungan antara Inggris dan Iran telah memburuk dalam beberapa bulan terakhir sejak London memberlakukan sanksi terhadap polisi moralitas Iran dan tokoh keamanan tinggi lainnya, sebagai tanggapan atas tindakan keras negara itu terhadap pengunjuk rasa anti-pemerintah. 

Gambar-gambar perempuan Iran yang menolak mengenakan jilbab telah menjamur di media sosial

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Gambar-gambar perempuan Iran yang menolak mengenakan jilbab telah menjamur di media sosial

Pada akhir November, media pemerintah Iran melaporkan bahwa pihak berwenang telah menggantung empat orang yang dihukum karena "bekerja sama" dengan intelijen Israel.

Empat pria lainnya juga telah dieksekusi sejak Desember setelah dijatuhi hukuman mati terkait dengan protes anti-pemerintah yang menyerang negara itu.

Alicia Kearns, Ketua Komite Urusan Luar Negeri Dewan Rakyat Inggris, mengatakan berita dari keluarga Akbari adalah "mengerikan".

"Sayangnya, ini adalah contoh mengerikan lainnya dari rezim Iran - karena mereka merasa terpojok, karena ada tekanan signifikan dari sanksi terhadap mereka – menjadikan negara Inggris sebagai senjata dan melakukan penyanderaan," katanya kepada program PM Radio BBC 4.

Kearns berspekulasi bahwa Akbari mungkin dipilih oleh kelompok garis keras untuk melemahkan Shamkhani, yang dia gambarkan sebagai "suara moderat... [yang] telah menyerukan diskusi dan dialog" sebagai tanggapan atas protes yang melanda Iran.

Para pemimpin Iran saat ini menggambarkan para demonstran sebagai "perusuh" dan menindak mereka dengan kekerasan mematikan.

Iran telah menangkap puluhan warga Iran dengan kewarganegaraan ganda atau warga asing yang tinggal permanen dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar atas tuduhan mata-mata dan keamanan nasional.

Warga negara Inggris-Iran, Nazanin Zaghari-Ratcliffe dan Anoosheh Ashoori dibebaskan dan diizinkan meninggalkan Iran tahun lalu setelah Inggris melunasi hutang lama ke Iran.

Namun, setidaknya dua warga Inggris-Iran lainnya tetap ditahan di samping Akbari, termasuk Morad Tahbaz, yang juga memegang kewarganegaraan Amerika Serikat.