Polemik pemindahan makam Theys Hiyo Eluay: Dihendaki keluarga, ditolak banyak orang asli Papua

Papua, konflik, Theys Eluay

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Theys Eluay menghadiri seremoni milisi keamanan yang baru saja dibentuk dalam rangka apa yang mereka sebut "persiapan menuju kemerdekaan", di Jayapura, 27 Mei 2000.
    • Penulis, Abraham Utama
    • Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia

Rencana Pemerintah Kabupaten Jayapura memindahkan makam tokoh adat sekaligus penggerak pro-kemerdekaan Papua yang dibunuh tujuh anggota Kopassus, Theys Hiyo Eluay, menuai kontroversi. Alasan pemindahan demi perbaikan tata kota dianggap mengada-ada, merendahkan tatanan adat, dan sejarah bangsa Papua.

Meski pihak keluarga menghendaki relokasi makam itu, berbagai kalangan terus menyuarakan penolakan. Sebuah unjuk rasa di sekitar makam tersebut berlangsung, pada Kamis (16/05), untuk menolak pemindahan rumah abadi Theys “dengan alasan apapun”. Berdasarkan pemantauan di lapangan Kamis (16/05) pagi, kepolisian menyiagakan personel di sekitar makam Theys.

Penjabat Bupati Jayapura, Triwarno Purnomo, membuat klaim “sudah sejak lama” membahas rencana pemindahan makam itu dengan sejumlah pihak, termasuk keluarga mendiang Theys. Namun Kepala Sekretaris Daerah Kabupaten Jayapura berkata tidak pernah mengetahui rencana itu.

Apa sebenarnya rencana yang digagas pemerintah Jayapura? Bagaimana masyarakat asli Papua menanggapinya?

BBC News Indonesia berbincang dengan pemuka agama, figur adat, dan anak-anak muda Papua untuk mendapat perspektif lebih luas terkait persoalan ini.

Mengapa pemerintah membuat rencana pemindahan?

Triwarno Purnomo memaparkan rencana pemindahan makam Theys secara menyeluruh kepada pers di Jayapura pada 6 Mei lalu. Para jurnalis di Jayapura mengonfirmasi kabar yang sebelumnya beredar sebagai desas-desus tersebut.

Triwarno menyebut pemindahan makam Theys adalah bagian dari rencana penataan kota Sentani. Dia berkata, rencana ini adalah upaya pemerintah untuk membuat “wajah baru Sentani”.

“Kami ingin Kabupaten Jayapura, khususnya Kota Sentani, tampil dengan wajah baru yang lebih baik dan juga lebih menarik. Sehingga di dalam pemanfaatan ruang yang sesuai dengan rencana tata ruang itu kami harus benahi," ujar Triwarno ketika itu.

Papua, konflik, Theys Eluay

Sumber gambar, Engel Wally

Keterangan gambar, Makam Theys Eluay di Sentani, Jayapura, dipotret Selasa (14/05).
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Dalam wacana tata kota itu, Triwarno ingin memindahkan makan Theys yang berada di sebuah lapangan sepak bola di pertigaan lampu merah Bandara Sentani ke Obhe Heleybhey (Rumah Adat) Kampung Sereh.

Jarak antara dua lokasi itu sekitar tiga kilometer. Makam Theys saat ini berada di pinggir jalan besar Sentani, di hadapan akses masuk-keluar bandara tersibuk di Papua. Nama Theys diabadikan menjadi nama bandara tersebut sejak September 2019.

Adapun, Rumah Adat Kampung Sereh berada di dalam perkampungan, di bawah kaki Gunung Cycloop. Kampung ini merupakan wilayah adat yang dipimpin oleh keluarga Theys secara turun-temurun.

"Kami perlu taman kota. Kami juga perlu alun-alun kota dan semua yang sesuai dengan peruntukannya. Sehingga upaya-upaya itu sedang kami siapkan,” kata Triwarno.

"(Kontra) tidak apa-apa. Yang jelas, kami butuh dukungan dari semua pihak dalam rangka pelaksanaan pemindahannya.

"Pembicaraan (dengan pihak keluarga) sudah berlangsung lama dan kami sudah diskusikan itu semua," kata Triwarno.

Papua, konflik, Theys Eluay

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Theys Eluay dipotret ketika tiba di ajang Kongres Rakyat Papua di Jayapura, 30 Mei 2000.

Apa kata keluarga Theys?

Putra mendiang Theys, Yanto Khomlay Eluay, adalah perwakilan keluarga yang telah berbicara kepada pers terkait rencana pemindahan makam.

Merujuk pemberitaan kantor berita Antara, Yanto membenarkan seluruh penjelasan Triwarno. Yanto juga membuat klaim, pemindahan makam itu merupakan salah satu permintaan yang pernah diutarakan Theys.

“Makam akan dipindahkan ke obhe (Rumah Adat) Kampung Sereh, sebagaimana pesan terakhir bapak sewaktu masih hidup,” kata Yanto.

Yanto berharap rencana pemindahan makam ayahnya tidak memicu polemik.

Mengikuti jejak ayahnya, Yanto terjun ke politik dan masuk Partai Golkar. Dia saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah Kabupaten Jayapura di partai beringin.

Yanto juga mewarisi kedudukan ayahnya sebagai pemimpin adat (ondofolo) Kampung Sereh. Status kepemimpinan adat di Suku Sentani itu diestafetkan melalui garis keturunan.

Saat ditemui Senin (13/05), Yanto berkata belum akan mengeluarkan pernyataan lebih lanjut terkait rencana pemindahan makam Theys.

Papua, konflik, Theys Eluay

Sumber gambar, Engel Wally

Keterangan gambar, Makam Theys Eluay berada di akses jalan masuk-keluar Bandara Sentani.

“Karena jadi lokasi demo politik”

Wacana pemindahan makam Theys bukan kali ini muncul ke publik. September 2010, anak Theys, Yohanis Eluay, pernah mengutarakan rencana tersebut.

Melansir kantor berita Antara, Yohanis waktu itu menyebut berencana memindahkan makam Theys ke Kampung Sereh—persis dengan yang diutarakan Yanto baru-baru ini. Relokasi makam Theys ke Kampung Sereh, menurut Yohanis, sesuai dengan tatanan adat.

Kala itu Yohanis menyebut makam Theys harus dipindahkan karena kerap menjadi lokasi demonstrasi politik oleh Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan Dewan Adat Papua.

“Sadar atau tidak sadar, kegiatan tersebut tetap berdampak pada citra maupun pembangunan di wilayah Kabupaten Jayapura, jadi makam akan dipindahkan,” ujar Yohanis pada 27 September 2010.

Bagaimanapun, rencana pada tahun 2010 itu tidak terlaksana. Sebelum merelokasi makam Theys, Yohanis menyebut dibutuhkan kesepakatan para pihak, terutama para petinggi adat.

Papua, konflik, Theys Eluay

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Theys Eluay dipotret di dalam sebuah sel dalam proses persidangan di Jayapura. Dia didakwa melakukan makar karena menggagas Kongres Rakyat Papua.

‘Simbol kejahatan negara’

Tidak seperti Theys, dua putranya yang kini berkarier di politik, yaitu Yanto dan Yohanis, tidak pernah menuntut kemerdekaan Papua. Keduanya mengutuk kelompok pro-kemerdekaan dan meminta publik berhenti mengaitkan Kopassus dengan kematian Theys. Mereka menyatakan telah memaafkan para pembunuh Theys.

Sebaliknya, tidak sedikit orang asli Papua yang menanggap makam Theys sebagai ”simbol kejahatan negara”.

Makam Theys hampir selalu menjadi salah satu pusat peringatan pengibaran bendera Bintang Kejora pada 1 Desember. Di tempat itu pula, peringatan hari kematian Theys setiap tahunnya hampir selalu diadakan. Dua peristiwa ini kerap dipersoalkan, bahkan dibubarkan oleh kepolisian.

Ones Suhuniap, Juru Bicara Komite Nasional Papua Barat, sebuah organisasi politik yang mengampanyekan kemerdekaan Papua, menilai pemindahan makam Theys adalah upaya menghilangkan ”sejarah perjuangan bangsa Papua”.

Papua, konflik, Theys Eluay

Sumber gambar, Luhut Pandjaitan

Keterangan gambar, Luhut Binsar Pandjaitan melawat ke makam They Eluay pada Maret 2016 saat menjabat Menko Polhukam. Luhut membuat klaim bahwa Theys adalah kawan dekatnya.

Dengan merelokasi makam Theys, Ones menyebut pemerintah akan memutus “mata rantai hubungan antara generasi lama dan generasi baru Papua”.

”Sekalipun Theys berjuang untuk Papua merdeka, darahnya juga ada di Otsus yang dinikmati seluruh orang Papua dan non-Papua di Papua hari ini,” kata Ones dalam perbincangan di kanal Youtube Nelius Wenda, 13 Mei lalu.

”Jadi bentuk penghormatan terhadap perjuangan Theys, pemerintah Jayapura harus minta pendapat pada rakyat Papua dan pilar otsus, yaitu Majelis Rakyat Papua.

”Beliau dimakamkan di tanah itu atas kesepakatan bangsa Papua, bukan atas kesepakatan keluarga,” ujar Ones.

Petinggi pemerintah kabupaten enggan berkomentar

BBC News Indonesia menelusuri rencana pemindahan makam Theys kepada pejabat tinggi di lingkungan Pemkab Jayapura.

Kepala Bappeda Jayapura, Parson Harota, meminta BBC meminta penjelasan hanya kepada Triwarno atau Sekretaris Daerah Kabupaten Jayapura, Hana Salomina.

Merujuk Peraturan Bupati Jayapura 16/2017, dua tugas instansi yang dipimpin Parson antara lain mengoordinasikan penyediaan infrastuktur dan merumuskan kebijakan teknis di bidang perencanaan pembangunan.

Sementara itu, melalui pesan teks, Hana Salomina menyatakan “belum mengetahui rencana tersebut”.

“Saya ketua tim tanah belum membahas rencana itu,” kata Hana.

Papua, konflik, Theys Eluay

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Theys Eluay semasa hidupnya memimpin Lembaga Musyawarah Adat yang menaungi setidaknya 250 suku dari berbagai daerah di Papua.

Sebelum Triwarno dilantik menjadi Penjabat Bupati Jayapura oleh Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, pada 20 Desember 2022, Hana diserahi tugas sebagai pelaksana harian orang nomor satu di kabupaten tersebut.

Hana kini tengah membidik jabatan bupati Jayapura yang akan diperebutkan pada pilkada serentak, akhir November mendatang. Dalam beberapa pekan terakhir dia menggalang dukungan dari para ondofolo di Sentani.

'Berpotensi memicu murka adat'

Pastor Jhon Alberto Bunai, imam Katolik asli Papua sekaligus koordinator Jaringan Damai Papua, sebuah kelompok inisiatif yang berupaya memediasi dialog Jakarta-Papua, khawatir pemindahan makam Theys akan memicu persoalan besar.

Dari kaca mata tatanan adat, menurut Jhon, relokasi makam Theys adalah sebuah pelecehan terhadap seorang ondofolo yang dikebumikan di tanah yang dia pimpin. ”Adat di Papua tidak mengenal istilah memindahkan kuburan,” ujarnya.

”Ini sesuatu yang tidak baik—memindahkan seorang kepala suku dari tanahnya dengan alasan sepele ‘penataan kota’.

”Mengangkat seorang tokoh besar, seorang ondofolo dari tanahnya, secara adat bisa mendatangkan murka, bukan untuk orang non-Papua, tapi untuk kami,” kata Jhon.

Papua, konflik, Theys Eluay

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Polisi menggeledah tas seorang warga di Jayapura, 30 November 2000. Situasi di ibu kota Papua tersebut memanas pada saat itu seiring tuduhan makar yang disematkan kepolisian dan kejaksaan kepada Theys Eluay.

Jhon mempertanyakan maksud penataan tata ruang Sentani yang dia anggap problematis ini. Apalagi menurutnya, terdapat persoalan mendasar yang lebih penting untuk dituntaskan pemerintah—dari selokan penuh sampah dan jalan-jalan yang bolong.

Menurut Jhon, pemerintah harus menghentikan rencana pemindahan makam Theys. Dia berkata, penataan tata ruang kota, termasuk pembangunan taman dan alun-alun, harus berporos pada keberadaan kuburan Theys.

Kebijakan apapun terkait dengan makam Theys, kata Jhon, mesti selaras dengan kehendak orang-orang asli Papua. ”Sewaktu Theys meninggal, keluarganya sudah menyerahkan jenazahnya kepada orang Papua,” ucap Jhon.

Theys adalah panutan bagi seluruh ondofolo di Suku Sentani, kata Anderson Tokoro, ondofolo Kampung Simporo. Dia berkata, Theys adalah ondofolo terbesar.

Anderson heran karena makam Theys akan diangkat dari tanah adat yang dikuasainya sebagai kepala suku terbesar.

“Kami harus menjaga nama baiknya, bagaimanapun caranya, karena itu juga akan berdampak pada kami para onfolofo,” kata Anderson.

Apakah persoalan makam Theys masih relevan dengan anak muda Papua?

Yuli Makanuay lahir pada awal dekade 1990-an. Saat sosok Theys mencuat pada Kongres Rakyat Papua di awal tahun 2000-an, Yuli masih duduk di sekolah dasar.

Selama sekolah, Yuli tak pernah mendapat pengajaran tentang siapa dan peran Theys dalam sejarah dinamika politik Papua. Namun dalam kesehariannya saat itu, nama Theys kerap muncul dalam perbincangan Yuli dengan kawan dan orang tuanya.

“Waktu kuliah di Jayapura, bersama teman sebaya, kami berdiskusi tentang Bapak Theys. Ada yang pro dan kontra, tapi mereka yang mempelajari lebih dalam sejarah Papua akhirnya mendukung jasa Theys,” ujar Yuli.

“Sosok Theys bisa disebut sebagai pahlawan bagi kami orang asli Papua. Dampak perjuangannya berlaku sampai sekarang,” tuturnya.

Menurut Yuli, pemerintah Jayapura sebaiknya lebih fokus mengatasi persoalan mendasar di kabupaten itu, termasuk urusan pendidikan, ketimbang membuat program yang mengundang polemik.

Papua, konflik, Theys Eluay

Sumber gambar, AFP

Hal serupa juga diutarakan Simaron Busop, pemuda asal Yahukimo yang kini tengah merantau untuk mengejar pendidikan tinggi. Bukan di sekolah, dia mendapat informasi mengenai Theys dalam pergaulan sehari-hari.

Di antara sesama mahasiswa asal Papua, kata Simaron, sosok Theys dibicarakan dan dipelajari.

Saat persoalan Papua belum kunjung tuntas, dari permasalahan sosial-ekonomi hingga konflik bersenjata dan pengungsian warga sipil, rencana pemindahan makam Theys membuat Simaron bertanya-tanya.

“Ada apa di balik rencana itu? Apakah itu rencana pihak keluarga atau ada pihak tertentu yang memainkan isunya?” kata Simaron.

“Saya bingung dengan rencana pemindahan makam itu. Masih ada tanda tanya soal tujuannya. Jadi saya menolaknya,” tuturnya.

Siapa Theys?

Paskalis Keagop adalah jurnalis senior di Jayapura. Dia hadir untuk meliput Kongres Rakyat Papua pada tahun 2000, momen ketika Theys mendapat sorotan terbesarnya. Menurut Paskalis, sebelum kongres banyak keraguan muncul di kalangan orang asli Papua terhadap Theys.

Setelah menjadi satu dari 1.025 orang Papua yang mendapat hak untuk mengikuti Penentuan Pendapat Rakyat pada tahun 1969, Theys terjun ke politik. Dia pernah duduk sebagai anggota DPRD Irian Jaya. Theys tercatat sebagai anggota Partai Kristen Indonesia, sebelum bergabung ke Golkar.

“Banyak orang Papua yang ragu pada Theys karena selama hidupnya, dia setia pada NKRI,” ujar Paskalis.

Namun setelah Orde Baru tumbang, kata Paskalis, Theys mulai menyuarakan ketidakpuasan Papua terhadap pemerintah Indonesia. Kongres tahun 2000 yang dihadiri perwakilan kelompok suku dan marga dari seluruh Papua lantas membentuk Presidium Dewan Papua (PDP). Theys ditunjuk untuk duduk di pucuk pimpinan lembaga itu.

Paskalis berkata, kongres juga membentuk tim yang bertugas melakukan sosialisasi hasil rembuk berbagai kalangan di Jayapura tersebut. Pada masa itu, Paskalis merekam dan merasakan “rasa percaya diri orang-orang Papua bahwa mereka akan membentuk negara sendiri”.

Papua, konflik, Theys Eluay

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Arak-arakan masyarakat mengiringi jenazah Theys Eluay ke tempat duka di Sentani, Jayapura, 12 November 2001. AFP

Seluruh proses yang telah dimulai sejak Kongres Rakyat Papua itu menemukan titik akhirnya, menurut Paskalis, pada 10 November 2001. Pada peringatan Hari Pahlawan itu, berlangsung seremoni di markas Kopassus di kawasan Hamadi, Jayapura.

“Seluruh petinggi PDP diundang hadir ke acara itu, tapi tidak ada yang datang kecuali Theys,” kata Paskalis.

“Setelah acara, saat Theys pulang, dia diculik dan dibunuh. Jenazahnya dibuang di daerah Koya, sekitar 50 kilometer dari pusat Jayapura, dekat perbatasan Papua Nugini.

“Keesokan harinya jenazahnya ditemukan. Jenazahnya sempat dibawa ke Rumah Sakit Dok II, lalu ke Gedung DPRD, kemudian diarak sampai ke rumahnya di Sentani,” ujar Paskalis.

Jenazah Theys tetap berada di kediamannya di Sentani selama enam hari. Proses pemakaman, kata Paskalis, ditunda sampai seluruh perwakilan PDP dari berbagai penjuru Papua hadir.

“Di area pemakaman yang saat ini hendak direlokasi, saat itu seluruh ondofolo Sentani datang dan membuat pernyataan dan menyerahkan kawasan itu untuk menjadi Taman Makam Pahlawan Rakyat Papua,” ucap Paskalis.

Paskalis ingat, setelah ritual adat dan prosesi penyerahan tanah adat kepada PDP, barulah jenazah Theys dimakamkan.

Paskalis mengikuti setiap persidangan pembunuhan Theys. Dia menulis hasil reportasenya dalam buku berjudul Selamat Jalan Sang Pemimpin: Menguak Tabir Kematian Tokoh Papua, Theys Hiyo Eluay.

Tujuh pelaku divonis bersalah oleh pengadilan karena terbukti membunuh Theys. Empat di antaranya adalah Letkol Hartomo, Mayor Donny Hutabarat, Lettu Agus Supriyanto, dan Praka Achmad Zalfahmi.

Letkol Hartomo belakangan diperbincangkan karena meski terlibat kasus pembunuhan Theys, karier militernya terus melejit. Dia meraih pangkat mayor jenderal dan menjabat posisi penting seperti Gubernur Akademi Militer, Kepala Badan Intelijen Strategis TNI, sampai staf khusus Kepala Staf Angkatan Darat.

Tiga pelaku lainnya yang divonis bersalah adalah Kolonel AM Yamini, Kapten Rinardo, dan Sertu Asrial.

Papua, konflik, Theys Eluay

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Empat dari tujuh tentara yang terlibat pembunuhan Theys Eluay mencopot lencana mereka sebelum mengikuti persidangan di Pengadilan Militer Surabaya, 3 Januari 2003. Keempatnya adalah (dari kiri ke kanan) Letkol Hartomo, Kapten Rionardo, Sertu Asrisal, dan Praka Achmad Zulfahmi.

Jenderal Ryamizard Ryacudu, yang kala itu menjabat Kepala Staf Angkatan Darat dan menjadi Menteri Pertahanan periode 2014-2019, menyebut para pembunuh Theys sebagai pahlawan.

Sebagaimana dikutip Tempo, Ryamizard berkata pada Agustus 2003, “Okelah mereka dihukum, tetapi bagi saya mereka pahlawan.”

Meski sempat menjadi sosok yang kontroversial, Paskalis menyebut Kongres Rakyat Papua seperti menahbiskan Theys menjadi “Bapak Pemersatu Papua”. Alasannya, seluruh kelompok orang asli Papua pada saat itu bersedia hadir mengikuti dan berembuk dalam forum tersebut.

Sejumlah pernyataan dan sikap Theys semasa Kongres Rakyat Papua dapat didokumentasikan dalam film berjudulPapua Calls for Independence from Indonesia. Film yang disusun oleh media ABC Australia itu dirilis tahun 2000.

"Kalau saya hitung, keburukan Indonesia, mungkin Jepang lebih baik...Jerman era Hitler juga lebih baik. Pengalaman sewaktu Belanda menjajah kami, tidak pernah ada seorang pun ditembak di muka umum," kata Theys dalam film dokumenter tersebut.

"Saya belum pernah berpikir suatu saat saya akan pimpin perjuangan kemerdekaan. Rupanya Tuhan menghendaki itu. Sebagai alat, saya siap. Apapun yang Tuhan kehendaki, saya siap.

“Rakyat menghendaki saya sebagai pemimpin. Itulah tuntutan rakyat...Saya sudah berjanji kepada rakyat, nyawa saya pun sudah saya persembahkan untuk perjuangan ini," tuturnya.

Liputan tambahan oleh jurnalis di Jayapura, Engel Wally.