Bakteri pemakan plastik yang dapat membantu sampah terurai dengan sendirinya

Plastik, bakteri pemakan plastik

Sumber gambar, Getty Images

    • Penulis, Helen Briggs
    • Peranan, Koresponden lingkungan

Para ilmuwan telah mengembangkan “plastik yang dapat mencerna sendiri”, yang menurut mereka dapat membantu mengurangi polusi.

Poliuretan digunakan dalam segala hal, mulai dari sarung ponsel hingga sepatu olahraga. Sayangnya produk plastik tersebut sulit untuk didaur ulang dan sebagian besar berakhir di tempat pembuangan sampah.

Namun, para peneliti telah menemukan solusi layaknya fiksi ilmiah.

Dengan menggabungkan spora bakteri pemakan plastik, mereka telah mengembangkan plastik yang dapat terurai dengan sendirinya.

Spora tersebut tetap tidak aktif selama masa pakai plastik, namun kembali hidup dan mulai mencerna produk plastik ketika terkena nutrisi dalam kompos.

Ada harapan “kita dapat mengurangi polusi plastik di alam”, kata peneliti Han Sol Kim, dari Universitas California San Diego, La Jolla.

Bakteri pemakan plastik

Sumber gambar, Han Sol Kim

Selain itu, diperkirakan ada keuntungan tambahan karena spora meningkatkan ketangguhan plastik.

“Proses kami membuat material menjadi lebih kokoh, sehingga memperpanjang masa manfaatnya,” kata rekan peneliti, Jon Pokorski.

“Dan kemudian, ketika hal ini selesai, kita dapat menghilangkannya dari lingkungan, tidak peduli bagaimana cara pembuangannya.”

Plastik tersebut saat ini sedang dikerjakan di laboratorium tetapi mungkin akan ada di dunia nyata dalam beberapa tahun mendatang, dengan bantuan produsen, tambahnya.

Poliuretan

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Produk yang terbuat dari Poliuretan

Jenis bakteri yang ditambahkan pada plastik adalah Bacillus subtilis yang banyak digunakan sebagai bahan tambahan makanan dan probiotik.

Yang terpenting, bakteri tersebut harus direkayasa secara genetis agar mampu menahan suhu sangat tinggi yang diperlukan untuk membuat plastik.

Namun tidak semua orang yakin dengan gagasan untuk mengembangkan alternatif biodegradable dibandingkan plastik konvensional. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa lebih baik mengurangi jumlah penggunaan plastik.

poliuretan

Sumber gambar, Han Sol Kim

Keterangan gambar, Pelet poliuretan (kiri) dan bubuk spora (kanan) dilebur bersama pada suhu tinggi

PBB baru saja menggelar putaran keempat pembahasan mengenai perjanjian plastik untuk masa depan di Kanada, yang bertujuan untuk menyetujui kesepakatan global dalam mengatasi polusi plastik.

Prof Steve Fletcher, direktur Revolution Plastics Institute di Universitas Portsmouth, mengatakan cara paling efektif untuk mengatasi polusi plastik adalah dengan menyepakati pengurangan produksi plastik global yang mengikat secara hukum.

Ia mengatakan kepada BBC News: "Kehati-hatian harus diberikan terhadap solusi potensial semacam ini, yang dapat memberikan kesan bahwa kita tidak perlu terlalu khawatir terhadap polusi plastik karena plastik apa pun yang bocor ke lingkungan akan terurai dengan cepat, dan idealnya aman.”

“Namun, bagi masyarakat sebagian besar plastik, bukan itu masalahnya.”

Penelitian ini dipublikasikan di jurnal Nature Communications.