Kakak dan adik tersesat setelah kabur dari rumah, 13 tahun kemudian bertemu ibu

Sumber gambar, NARESH PARAS
Geeta Pandey
BBC News, Delhi
Pada suatu hari yang panas di bulan Juni 2010, dua anak di India kabur setelah kesal lantaran dipukuli.
Rakhi, 11 tahun, dan adiknya Bablu, 7, ingin tinggal dengan nenek dari ibu mereka yang rumahnya berjarak hanya satu kilometer dari kediaman orang tua mereka. Tetapi karena salah belok beberapa kali, Rakhi dan Bablu tersesat.
Butuh lebih dari 13 tahun bagi kedua bersaudara ini untuk kembali bertemu dengan ibu mereka, Neetu Kumari – berkat bantuan besar dari pegiat hak asasi anak-anak.
“Setiap hari rasanya kangen sama ibu,” ujar Bablu yang tumbuh besar di panti asuhan kepada saya via telepon. “Senang rasanya bisa kembali bersama keluarga.”
Cuplikan video reuni keluarga pada akhir Desember silam memperlihatkan Neetu menangis sesenggukan saat menyambut kepulangan Bablu.
Dipeluknya Bablu erat-erat selagi berterima kasih kepada Tuhan atas “kesempatan untuk kembali memeluk anak laki-lakiku.”
Bablu kemudian memeluk Rakhi, yang pulang ke rumah dua hari sebelumnya. Walaupun sudah saling berkomunikasi dalam beberapa tahun terakhir, ini adalah pertemuan fisik yang pertama setelah lebih dari satu dekade terpisah.
Terpisah
Bablu dan Rakhi tinggal di kota Agra di utara India bersama orang tua mereka: Neetu Kumari dan Santosh – keduanya bekerja sebagai buruh harian.
Tanggal 16 Juni 2010, Neetu, yang tidak berhasil mendapat pekerjaan pada hari itu, melampiaskan rasa frustasinya kepada Rakhi dan memukul putrinya itu dengan penjepit makanan yang terbuat dari logam.
Saat Neetu sedang keluar rumah, Rakhi dan Bablu memutuskan untuk kabur.
“Ayah juga kadang-kadang memukuli saya kalau malas belajar, jadi ketika Rakhi mengajak saya untuk tinggal sama nenek, saya mau ikut,” ujar Bablu.
Setelah keduanya tersesat, seorang penarik becak memberi mereka tumpangan ke stasiun kereta api.

Sumber gambar, NARESH PARAS
Di atas kereta, seorang perempuan yang bekerja di yayasan untuk anak-anak memergoki Rakhi dan Bablu.
Begitu kereta api tiba di Meerut, kota yang terletak 250 kilometer dari rumah mereka, perempuan itu mengantar Rakhi dan Bablu ke kantor polisi – polisi kemudian membawa ke rumah yatim piatu milik pemerintah.
“Kami sudah bilang kami ingin pulang, kami berupaya untuk memberitahu mereka tentang orang tua kami, tetapi pihak kepolisian dan rumah yatim piatu tidak mencari keluarga kami,” tutur Bablu.
Setahun kemudian, kakak dan adik ini juga terpisah – Rakhi pindah ke rumah singgah khusus anak-anak perempuan yang dijalankan LSM di dekat Delhi. Beberapa tahun kemudian, Bablu dipindahkan ke rumah yatim piatu milik pemerintah lainnya di Lucknow, ibu kota Uttar Pradesh.
Tali kasih yang kembali tersambung
Setiap kali ada pejabat penting, pekerja sosial, atau wartawan datang berkunjung ke panti asuhan, Bablu bercerita kepada mereka tentang Rakhi dengan harapan mereka bisa kembali dipersatukan.
Baru pada tahun 2017 upaya ini berhasil – salah satu pengurus panti memutuskan untuk membantunya dengan bercerita bahwa Rakhi dikirim ke yatim piatu khusus remaja perempuan di dekat Delhi.
“Dia menghubungi semua panti di Noida dan sekitarnya [pinggiran kota Delhi] dan bertanya apakah ada anak bernama Rakhi dan akhirnya dia berhasil,” kata Bablu.
“Saya ingin bilang sama pemerintah bahwa sangatlah kejam untuk memisahkan saudara-saudara kandung. Kakak dan adik seharusnya ditempatkan di panti-panti yang dekat satu sama lain. Tidaklah adil untuk memisah-misahkan mereka,” tambahnya.

Sumber gambar, NARESH PARAS
Sejak itu, Rakhi dan Bablu sering mengobrol di telepon. Tiap kali memasuki topik tentang mencari keluarga mereka, Rakhi ragu-ragu.
“Tiga belas tahun adalah waktu yang lama dan harapan saya kecil kita bisa menemukan ibu,” ujarnya kepada saya.
Berbeda dengan Rakhi, Bablu justru optimis. “Saya sangat senang bisa menemukan Rakhi. Saya juga percaya diri saya bisa menemukan ibu kami.”
Bablu mengaku di salah satu panti, para pengurus dan anak-anak yang lebih tua sering memukulinya. Dia sudah dua kali berusaha kabur, tetapi kemudian rasa takutnya membuatnya kembali ke panti.
Sementara Rakhi mengatakan LSM yang menaungi pantinya merawatnya dengan baik.
Saya bertanya ke Rakhi apakah menurutnya hidupnya akan berbeda apabila dia tetap tinggal di rumah.
“Saya yakin apa pun yang terjadi adalah untuk yang terbaik dan barangkali hidup saya lebih baik karena jauh dari rumah,” ucapnya.
“Saya bukan anak kandung mereka tetapi saya dirawat dengan baik. Tidak ada yang memukul saya dan saya diperlakukan dengan baik. Saya sekolah di tempat yang bagus. Akses ke layanan kesehatan baik juga fasilitas-fasilitas lain yang terjadi karena dekat dengan kota besar,” imbuhnya.
Sang aktivis yang mempersatukan mereka
Pada 20 Desember, Naresh Parash, seorang aktivis hak asasi anak-anak yang berbasis di Agra, mendapat telepon dari Bablu yang kini tinggal dan bekerja di Bengaluru.
“Anda berhasil mempersatukan banyak keluarga, bisakah Anda menolong saya?” tanya Bablu kepadanya.
Paras, yang sudah bekerja dengan anak-anak sejak 2007, mengatakan ini bukanlah tugas yang mudah.
Bablu dan Rakhi tidak ingat nama ayah mereka dan kartu Aadhar (KTP orang India) mereka menunjukkan nama yang berbeda untuk si ayah.
Mereka tidak tahu negara bagian atau kecamatan asal mereka. Catatan panti asuhan menunjukkan mereka datang dari Bilaspur, sebuah kota di dekat Chhattisgarh.
Upaya Paras menghubungi panti-panti dan pihak kepolisian di Bilaspur berbuah kosong.

Sumber gambar, NARESH PARAS
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Titik terang akhirnya muncul ketika Bablu ingat melihat sebuah lokomotif pendorong di luar stasiun kereta api yang dinaikinya 13 tahun silam bersama.
"Saya tahu pasti itu stasiun Agra Cantonment,” ujar Paras.
Dari catatan kepolisian, Paras menemukan kantor polisi Jagdishpura di mana ayah Bablu dan Rakhi membuat laporan pada Juni 2010.
Namun, ketika Paras datang ke sana, ternyata keluarga Rakhi dan Bablu tadinya tinggal di rumah sewaan dan sekarang sudah pindah.
Rakhi kemudian mengatakan kepada Paras dia ingat nama ibunya adalah Neetu dan ada bekas luka bakar di lehernya.
Paras kemudian pergi ke aula bursa kerja di Agra tempat para buruh harian berkumpul setiap pagi untuk mencari sesuap nasi. Dia tidak berhasil menemukan Neetu, tetapi beberapa buruh harian di sana mengaku kenal dengannya dan bersedia dititipi pesan.
Begitu Neetu Kumari memperoleh kabar bahwa anak-anaknya berhasil ditemukan, dia pergi ke polisi. Pihak yang berwajib kemudian menghubungi Paras.
Reuni – setelah 13 tahun
Saat Paras mengunjungi Neetu, perempuan itu memperlihatkan foto-foto kedua anaknya dan salinan laporan polisi. Paras kemudian menelpon Bablu dan Rakhi dan, lewat panggilan video, mereka saling mengenal satu sama lain.
Neetu Kumari mengaku “menyesal sudah memukul Rakhi” kepada Paras. Dia juga bercerita tentang segala usahanya untuk mencari Rakhi dan Bablu.

Sumber gambar, NARESH PARAS












