Menyelamatkan informasi dan pengetahuan yang terperangkap dalam disket tua

Seorang perempuan tersenyum dengan tangan terlipat duduk di depan disket-disket yang berserakan di atas meja. (Kredit: Perpustakaan Universitas Cambridge)

Sumber gambar, Cambridge University Library

    • Penulis, Christian Kriticos
  • Waktu membaca: 9 menit

Ceramah Stephen Hawking hingga sejarah keluarganya tersimpan dalam disket tua. Menyelamatkan 'harta karun sejarah' ini adalah perlombaan melawan waktu.

Beberapa dokumen paling berharga di dunia dapat ditemukan jauh di dalam arsip Perpustakaan Universitas Cambridge.

Ada surat-surat dari Sir Isaac Newton, buku catatan milik Charles Darwin, teks-teks Islam langka, dan Papirus Nash, fragmen lembaran dari tahun 200 SM yang berisi Sepuluh Perintah Tuhan dalam bahasa Ibrani.

Naskah-naskah langka ini disimpan dengan aman di lingkungan ber-AC. Para staf dengan penuh kasih merawatnya, untuk mencegah halaman-halaman yang rapuh, hancur dan tinta terkelupas.

Namun, ketika perpustakaan menerima 113 kotak kertas dan kenang-kenangan dari kantor fisikawan Stephen Hawking, mereka menghadapi tantangan yang tidak biasa.

Di samping surat-surat, foto, dan ribuan halaman yang berkaitan dengan karya Hawking di bidang fisika teoretis, terdapat benda yang kini jarang terlihat: disket.

Disket ini merupakan hasil adopsi awal Hawking untuk komputer pribadinya. Berkat modifikasi dan perangkat lunak, dia dapat menggunakannya meskipun mengidap sklerosis lateral amiotrofik, suatu bentuk penyakit neuron motorik.

Koleksi disket milik Hawking itu bisa jadi berisi berbagai macam informasi yang terlupakan atau wawasan yang sebelumnya tidak diketahui tentang kehidupan Hawking.

Para arsiparis pun tercengang.

Disket-disket itu, kini menjadi bagian dari proyek di Perpustakaan Universitas Cambridge untuk menyelamatkan pengetahuan tersembunyi yang terperangkap di dalamnya.

Proyek Nostalgia Masa Depan mencerminkan meluasnya tren 'banjir informasi' dalam arsip perpustakaan di seluruh dunia.

"Sebagian besar donasi yang kami terima berasal dari orang-orang yang sudah pensiun atau meninggal dunia," ujar Leontien Talboom, pemimpin proyek ini. "Semakin banyak hal yang kita lihat dari era komputasi personal."

Plastik tahan lama pada disket, yang populer pada 1970-an hingga 1990-an, mungkin tampak lebih aman daripada manuskrip yang rapuh.

Profesor Stephen Hawking menyampaikan pidatonya pada peluncuran 'Bulletin Ilmuwan Atom' pada 17 Januari 2007 di London, Inggris. Sekelompok ilmuwan yang menilai bahaya yang mengancam peradaban telah memajukan Jam Kiamat dua menit lebih dekat ke tengah malam sebagai indikasi dan peringatan akan ancaman perang nuklir dan perubahan iklim.

Sumber gambar, Bruno Vincent/Getty Images

Keterangan gambar, Profesor Stephen Hawking menyampaikan pidatonya pada peluncuran 'Bulletin Ilmuwan Atom' pada 17 Januari 2007 di London, Inggris.

Tidak ada lagi masalah kertas membusuk, tinta memudar, dan luntur. Bahan sintetis dapat bertahan lebih lama.

Namun, informasi digital yang disimpan di dalam disket kaku ini ternyata lebih rentan.

Oksida besi yang menyelimuti lapisan tipis plastik di dalamnya, dapat terdegradasi dan kehilangan daya magnetnya seiring waktu. Ini berarti data tersebut dapat hilang selamanya.

Oleh karena itu, perangkat disket menghadirkan kerumitan serius bagi para arsiparis. "Buku, berapa pun usianya tetap bisa dibaca," kata Talboom.

Namun, disket perlu peralatan khusus untuk mengakses isinya. Bahkan dengan peralatan itu pun, isinya kemungkinan tidak dapat dibaca.

"Anda juga perlu tahu banyak tentang sistem tempat disket ini diformat," kata Talboom.

Penggunaan komputer personal oleh Stephen Hawking selama puluhan tahun menghasilkan banyak materi digital.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Penggunaan komputer personal oleh Stephen Hawking selama puluhan tahun menghasilkan banyak materi digital.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan arsiparis, sejarawan, dan arkeolog.

Mereka menyebut generasi mendatang mungkin akan menghadapi semacam "zaman kegelapan digital" ketika mereka melihat kembali materi dari sekitar 50 tahun terakhir.

Layaknya Abad Kegelapan Eropa yang terjadi setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi. Bukan berarti tidak ada yang terjadi, tetapi jika tidak ada catatan dari masa itu, maka mustahil untuk mengetahui bagaimana kehidupan orang-orang, apa yang mereka pikir, dan rasakan.

Untuk mengatasi tantangan ini, proyek Nostalgia Masa Depan mencoba menyatukan potongan-potongan perangkat keras komputer kuno untuk membaca disket yang langka dan tidak biasa.

Bahkan ketika mereka sudah punya perangkat kerasnya, tim harus bersusah payah menentukan bagaimana disket diformat agar mereka dapat membacanya dengan benar.

Talboom juga berhati-hati membersihkan jamur dari permukaan tipis disk magnetik tersebut agar tidak tergores.

"Jika disimpan di garasi atau loteng, disket itu bisa berjamur," katanya.

Disket dan komputer tua

Sumber gambar, Getty Images/lechatnoir

Keterangan gambar, Informasi digital yang tersimpan dalam disket bisa jadi lebih rentan dibanding buku dan naskah kuno.

Konten yang telah Talboom dan timnya pulihkan sejauh ini menawarkan wawasan yang menarik tentang beragam materi yang ada di luar sana.

Di Perpustakaan Universitas Cambridge saja, ia telah memproses disket yang berisi segala hal mulai dari tulisan dan daftar abstrak karya penyair Nicholas Moore hingga artikel dari perkumpulan paranormal.

Namun, disket Hawking adalah favoritnya. "Saya merasa terhormat bisa mengerjakannya," kata Talboom.

Perpustakaan menerima disket Hawking beserta materi lain dari kantornya melalui skema Penerimaan Pengganti, yang memungkinkan objek dan arsip bersejarah penting dibuka untuk umum.

Di samping kertas, surat, dan cetakan, terdapat cukup banyak materi digital, kata Talboom.

Disket-disket Hawking tiba dalam dua gelombang. Gelombang pertama adalah cakram 5,25 inci dari komputer berformat DOS.

"Pada dasarnya Windows awal," kata Talboom. "Cukup sulit menentukan usia disket karena orang-orang sudah menggunakan sistem ini sejak lama," lanjutnya.

Arsiparis dan koleksi disket

Sumber gambar, Getty Images/janiecbros

Keterangan gambar, Mengungkap informasi dan data dalam disket tua membutuhkan perangkat khusus.

Cakram-cakram pertama ini diyakini sebagai kumpulan awal dalam koleksi Hawking. Sebagian besar isinya masih diteliti, tetapi Talboom mengungkapkan bahwa cakram-cakram tersebut berisi surat-surat yang ditulis oleh Hawking.

Talboom juga mengungkapkan bahwa mereka juga menemukan gim di beberapa cakram Hawking, sekilas mengungkap sisi riang sang ilmuwan.

Batch kedua terdiri dari disket 3,5 inci yang lebih umum. Cakram ini tampaknya berasal dari periode selanjutnya dan dikaitkan dengan komputer Mac awal.

"Cakram-cakram ini sebagian besar berisi materi kuliah," kata Talboom. "Dari sudut pandang teknis, cakram ini sangat menarik karena kuliahnya begitu banyak, sehingga ia harus membaginya ke dalam beberapa disket."

Hawking diketahui menulis pidato dan menyimpannya ke dalam cakram untuk nantinya bisa disampaikan melalui synthesizer suaranya.

Berkas digital Hawking mungkin juga berisi folder yang didalamnya memuat teks biasa tentang berbagai isu penting baginya, yang membuatnya bisa memilih bagian-bagian yang akan dikirim ke synthesizer suara selama percakapan atau sebagai tanggapan atas pertanyaan.

Setidaknya beberapa cakram juga berisi perangkat lunak yang digunakan oleh ilmuwan tersebut.

disket tua

Sumber gambar, Perpustakaan Universitas Cambridge

Keterangan gambar, Koleksi disket tua milik mendiang fisikawan Stephen Hawking

Materi Hawking berada dalam berbagai macam jenis disket, dan dibutuhkan berbagai macam perangkat lunak pula untuk mengaksesnya. Ini adalah hal yang umum terjadi pada masa awal disket.

"Tidak ada satu sistem pun yang mendominasi pasar," jelas Talboom. "Saat itu pasarnya agak liar."

Bagi para arsiparis saat ini, itu berarti ada puluhan mesin berbeda yang dibutuhkan untuk membaca disket dengan berbagai ukuran dari sistem yang berbeda.

Dan seringkali perlu pencarian yang mendalam untuk melacak perangkat kuno ini. Mereka harus 'berburu' perangkat keras itu di berbagai tempat, mulai dari lelang pembersihan rumah hingga pasar kolektor.

"Saya membeli drive delapan inci dari eBay," kata Chris Knowles, seorang peserta dalam proyek Future Nostalgia. "Sungguh ajaib bahwa alat itu masih bisa digunakan."

Knowles menggunakan drive tersebut untuk mengekstrak konten dari hampir 200 disket delapan inci untuk Churchill Archives Centre.

"Itu adalah format tertua dalam koleksi kami," kata Knowles tentang disket-disket delapan inci langka, yang dulunya dimiliki oleh Neil Kinnock, pemimpin Partai Buruh di Inggris antara tahun 1983 dan 1992.

"Awalnya, kami mengira cakram itu hanya berisi pidato, yang sebenarnya sudah kami miliki dalam format lain. Namun, dalam pengujian kami, ditemukan setidaknya beberapa di antaranya merupakan korespondensi dengan konstituennya."

Pada kesempatan ini, Knowles beruntung menemukan drive yang berfungsi untuk format cakram langka. Namun, Talboom yakin akan semakin sulit menemukan peralatan yang dibutuhkan untuk membuka data yang terperangkap di dalam disket.

"Data ini tidak akan bertahan selamanya," katanya. "Sepuluh tahun yang lalu, mungkin akan lebih mudah. ​​Namun, kini perangkatnya sudah banyak yang menghilang."

Leontien Talboom dari Perpustakaan Universitas Cambridge dan rekan-rekannya mengumpulkan peralatan dari seluruh dunia untuk mengakses informasi dari disket yang diberikan kepada mereka.

Sumber gambar, Perpustakaan Universitas Cambridge

Keterangan gambar, Leontien Talboom dari Perpustakaan Universitas Cambridge dan rekan-rekannya mengumpulkan peralatan dari seluruh dunia untuk mengakses informasi dari disket yang diberikan kepada mereka.

Di antara cakram yang ditemukan dalam koleksi Perpustakaan Universitas Cambridge terdapat disket tiga inci yang unik, yang sempat populer di Inggris untuk sementara waktu sebelum akhirnya tergeser oleh disket 3,5 inci yang menjadi ukuran standar.

"Mereka lebih menantang karena drive-nya lebih sulit diperoleh," kata Talboom. "Sistem voltase mereka berbeda. Jadi, ada banyak hal aneh yang perlu dilakukan agar mereka berfungsi."

Talboom dan rekan-rekannya harus mencari drive disk khusus buatan Amstrad, membuat konektor baru, dan memasang kabel daya untuk mengakses disket tersebut.

Bukan hanya perangkat kerasnya saja yang menjadi semakin langka. Informasi tentang perangkat lunak disket juga menghilang.

"Banyak orang yang bekerja di sistem ini sudah pensiun atau meninggal dunia," kata Talboom. "Jadi, pengetahuan itu mulai hilang."

Cakram Neil Kinnock adalah contohnya. "Materinya sangat sulit didapatkan," kata Knowles.

"Materinya ditulis dengan sistem Diamond Word. Tidak banyak informasi tentang sistem itu di luar sana. Ada banyak komunitas penggemar di sekitar sistem apa pun yang memiliki gim, dan para arsiparis sering meminjam alat mereka. Tetapi jika tidak ada, lebih sulit."

Artinya, meskipun data dapat dikeluarkan dari disket, seringkali diperlukan upaya signifikan untuk membuatnya dapat dibaca di perangkat modern.

Peter Rees, seorang arsiparis di Cambridge History of Innovation Project, mengibaratkan proses ini seperti sebuah bentuk penerjemahan. "Para filolog membaca bahasa Latin kuno dan menerjemahkannya ke dalam teks yang dapat kita baca di masa kini," ujarnya.

"Itulah yang dilakukan proyek Nostalgia Masa Depan dengan kode yang sulit dibaca ini. Kita harus menggunakan perangkat teknis untuk menguraikannya dan kemudian membuatnya dapat dibaca."

Tahap ini seringkali merupakan yang paling sulit. Itulah sebabnya beberapa data yang telah dipulihkan oleh proyek Nostalgia Masa Depan dari disket belum tersedia bagi para peneliti.

"Dengan materi Stephen Hawking, bagian selanjutnya dari proses ini adalah akses," kata Talboom.

Kesulitan menjalankan perangkat lunak lama pada perangkat modern berarti "menantang untuk membuatnya dapat diakses dengan baik oleh pengguna", katanya menambahkan.

Perangkat keras komputer lama.

Sumber gambar, Getty Images/Soeren Schulz

Keterangan gambar, Hal paling sulit dalam mengakses informasi dari disket adalah menemukan perangkat keras yang sesuai.

Knowles mencatat, bagi para arsiparis yang bekerja dengan perangkat lunak kuno, proses penggunaan perangkat modern dapat sedikit mengubah tampilan atau nuansa materi asli.

"Kami berusaha meminimalkan seberapa banyak kami mengubah sesuatu," ujarnya.

Untuk saat ini, Talboom yakin pekerjaan terpenting adalah mengekstrak dan menyimpan data dari disket, sebelum terlambat.

"Banyak disket berusia 40 atau 50 tahun," ujarnya. "Materi magnetik tempat data tersebut ditulis mulai rusak. Jadi, kita harus menyelamatkannya secepat mungkin."

Selain pekerjaan teknis untuk komunitas arsiparis, Talboom juga melibatkan publik dalam upaya menyelamatkan informasi terlupakan yang terperangkap di disket.

Pada 9 Oktober 2025, ia menyelenggarakan lokakarya disket di Perpustakaan Universitas Cambridge, di mana masyarakat dapat membawa disket lama yang mereka miliki di rumah untuk melihat isi yang terkunci di dalamnya.

Bagi Knowles, keterlibatan publik dalam pelestarian disket sangatlah penting.

"Jelas ada minat yang sangat besar terhadap sejarah keluarga," ujarnya. "Jadi, ini adalah cara bagi orang-orang untuk menemukan kembali hal-hal yang mereka pikir telah hilang, untuk belajar dari apa yang disimpan oleh anggota keluarga mereka."

Rees berharap mungkin juga dapat menemukan lebih banyak karya ilmuwan dari Cambridge dan sekitarnya.

"Email dan kalender kerja lama mungkin tidak tampak seperti dokumen sejarah," ujarnya. "Bahkan mungkin tampak biasa saja. Tapi begitulah surat-surat Newton atau Darwin 200 tahun yang lalu. Sekarang, semuanya menjadi sumber daya menarik yang memberi kita jendela ke masa lalu."

Sangat sulit untuk mendapatkan informasi di dalam disket langka seperti cakram Amstrad tiga inci ini.

Sumber gambar, Perpustakaan Universitas Cambridge

Keterangan gambar, Sangat sulit untuk mendapatkan informasi di dalam disket langka seperti cakram Amstrad tiga inci ini.

Sedangkan Talboom, ia sangat tertarik mengakses informasi dalam cakram berukuran 5,25 inci, salah satu format cakram paling awal dan favorit pribadinya.

"Disket sangat mahal saat itu. Orang-orang akan menggunakannya kembali dan menimpanya. Jadi, kita tidak pernah tahu apa yang bisa didapatkan dalam cakram berukuran 5,25 inci. Labelnya mungkin berisi satu hal, tetapi bisa saja ada hal lain di dalamnya."

Misteri itulah yang menurut Talboom menjadi daya tarik bekerja dengan disket-disket ini.

"Layaknya halaman arsip materi kertas, mungkin sudah dibolak-balik," kata Talboom.

"Tapi disket ini diberikan begitu saja kepada kita. Saya merasa takjub bahwa seseorang menyimpan disket 40 tahun yang lalu dan saya menjadi orang pertama yang melihatnya lagi. Rasanya seperti menemukan sesuatu."

Di era saat informasi digital mudah diakses di mana pun di dunia, Rees setuju bahwa ada sesuatu yang istimewa dalam bekerja dengan disket berisi perangkat lunak dan informasi yang telah terbengkalai selama beberapa dekade.

"Anda mungkin berpikir bahwa ada banyak hal tidak banyak berubah sejak 30 atau 40 tahun yang lalu," katanya.

"Tapi disket menunjukkan betapa asingnya masa lalu. Kita memiliki ingatan yang lebih baik berkat disket."

Anda dapat membaca versi asli artikel ini dalam Bahasa Inggris dengan judul A digital dark age? The people rescuing forgotten knowledge trapped on old floppy disks di BBC Future.