Kapal perang, hiu, dan buaya – Benarkah ada pertempuran laut dalam pertarungan gladiator di Colosseum?

Paul Mescal, pemeran utama film Gladiator II

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Paul Mescal, pemeran utama film Gladiator II
    • Penulis, Gregory Wakeman
    • Peranan, BBC Culture
  • Waktu membaca: 10 menit

Gladiator II, sekuel epik karya sutradara Ridley Scott yang dibintangi Paul Mescal dan Denzel Washington menuai kritik karena dianggap tak akurat dengan fakta sejarah. BBC bertanya kepada pakar sejarah Romawi untuk menjelaskan mana fakta dan fiksi dalam film tersebut.

Peringatan: Artikel ini mengandung spoiler untuk Gladiator II.

Banyak orang dengan bercanda mengatakan orang dengan pekerjaan tersulit selama penggarapan film Gladiator II adalah Alexander Mariotti.

Dia adalah konsultan sejarah dalam naskah film tersebut, yang berarti tugasnya adalah menasihati sutradara Sir Ridley Scott, ketika naskahnya menyimpang dari sejarah.

Sebelumnya, sutradara kawakan Ridley Scott dengan tegas mengatakan bahwa ia tidak peduli jika film-filmnya tidak akurat secara historis, meskipun film-film tersebut berdasar pada orang dan kisah nyata.

Pada 2023, setelah sejarawan Dan Snow menunjukkan beberapa ketidakakuratan dalam film Napoleon, Scott mengatakan Snow harus 'lebih banyak bersenang-senang'.

Namun, Mariotti, yang juga bekerja sebagai sejarawan dan kerap menjadi pembicara tentang pertempuran dan persenjataan para gladiator, tahu apa yang akan terjadi padanya.

"Sejak awal saya berkata kepada mereka: 'Saya tahu kita di sini bukan untuk membuat film dokumenter. Saya selalu tahu bahwa kita di sini untuk membuat film dan bertujuan menghibur penonton'," kata Mariotti kepada BBC.

Sir Ridley Scott

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Sir Ridley Scott, sutradara Gladiator II, yang dikritik karena karyanya tidak akurat secara historis

Namun, hal itu tidak menghentikan para ahli untuk menunjukkan ketidakakuratan dalam film tersebut.

Ketika trailer pertama Gladiator II dirilis pada Juli silam, para sejarawan langsung mengungkap bahwa arsitektur di film tersebut salah.

Selain itu, mereka mengatakan bahwa orang Romawi tidak membaca koran, dan tidak bertemu di kafe, dua hal yang muncul dalam adegan film tersebut.

Gladiator II

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Alur cerita Gladiator II berpusat pada Lucius (Paul Mescal)—putra Lucilla (Connie Nielsen) dan Maximus (Russell Crowe)—yang saat masih kecil dipaksa meninggalkan Roma.

Alur cerita Gladiator II berpusat pada Lucius (Paul Mescal)—putra Lucilla (Connie Nielsen) dan Maximus (Russell Crowe)—yang saat masih kecil dipaksa meninggalkan Roma.

20 tahun setelah kematian Maximus—tokoh sentral dalam film pertama Gladiator, tentara Romawi menyerbu kota tempat Lucius tinggal ketika dewasa, Numidia.

Mereka membunuh istrinya, dan menjadikannya sebagai budak.

Setelah dibeli oleh Macrinus (Denzel Washington), Lucius menjadi seorang gladiator.

Namun, saat Lucius berjuang untuk bertahan hidup, berhadapan dengan hewan buas, pasukan di atas kapal, dan gladiator lain di dalam Colosseum, Macrinus berencana untuk menggulingkan kaisar muda Romawi, Caracalla (Fred Hechinger) dan saudara kembarnya Geta (Joseph Quinn), agar dia bisa menjadi penguasa Roma.

Poster film Gladiator II

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Sejarawan menyoroti banyak ketidakakuratan historis dalam film Gladiator II

Mariotti mengungkapkan, jika film tersebut benar-benar akurat sesuai sejarah, maka kata "Colosseum" bahkan tidak akan diucapkan.

Nama asli Colosseum adalah Amfiteater Flavia, yang diambil dari nama dinasti yang berkuasa saat bangunan megah itu dibangun.

Orang-orang baru mulai menyebutnya Colosseum beberapa abad kemudian, sekitar tahun 1000 M.

garis

BBC News Indonesia hadir di WhatsApp.

Jadilah yang pertama mendapatkan berita, investigasi dan liputan mendalam dari BBC News Indonesia, langsung di WhatsApp Anda.

garis

Alasan utama mengapa Mariotti tidak terlalu khawatir dengan kesalahan ini adalah dampak besar yang ditimbulkan film seperti Gladiator terhadap penonton dan sektor pariwisata.

"Ada banyak sekali kesombongan dari dunia akademis terhadap film," kata Mariotti.

"Saya benar-benar bingung dengan hal itu, karena selama 20 tahun terakhir [film] Gladiator memiliki dampak yang besar."

"Sebelum film tersebut, hanya sedikit yang datang ke Colosseum. Tahun berikutnya [setelah Gladiator rilis], orang-orang datang berbondong-bondong."

Colosseum, Roma

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Sebelum film Gladiator, hanya sedikit orang yang datang ke Colosseum. Setelahnya, turis datang berbondong-bondong.

Meskipun Gladiator II memiliki banyak ketidakakuratan historis, setidaknya beberapa adegan di antaranya berdasarkan kenyataan.

Tak lama setelah ditangkap, Lucius harus bertahan hidup dari serangan kawanan babun.

Kemudian ketika ia tiba di Colosseum, ia dan rekan-rekan gladiatornya menghadapi serangan badak.

Faktanya, meskipun diyakini bahwa babun dan badak dibawa ke Colosseum dan dipamerkan kepada orang Romawi, mereka tidak akan melawan gladiator.

Sebaliknya, gladiator harus melawan singa, macan, dan gajah.

Sebagian sejarawan meyakini bahwa seekor badak hadir pada pembukaan Colosseum pada tahun 80 M, untuk bertarung melawan banteng, beruang, kerbau, singa, dan bison.

"Mereka akan mendatangkan hewan-hewan aneh dari seluruh kekaisaran untuk bertarung," kata Paul Belonick, seorang profesor di UC Law San Fransisco yang juga menulis buku Restraint, Conflict, and the Fall of the Roman Republic.

Namun, tidak ada catatan tentang badak yang ditunggangi oleh seorang prajurit Romawi.

Ilustrasi gladiator melawan hewan buas di Colosseum

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi gladiator melawan hewan buas di Colosseum

Ketika Kaisar Titus mengadakan permainan selama 100 hari di Colosseum untuk menandai pembukaannya, Belonick memperkirakan bahwa sekitar 10.000 hewan dibunuh hanya dalam beberapa hari.

"Mereka dibunuh dengan berbagai cara yang kreatif," kata Belonick.

"Orang-orang melemparkan tombak ke arah mereka, menangkap mereka dengan jaring. Pemanah sangat populer. Ini seperti menonton penembak jitu."

"Mereka akan melepaskan rusa kecil yang berlarian.

Ilustrasi pertunjukkan perburuan hewan di Colosseum

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi pertunjukkan perburuan hewan di Colosseum

"Seorang pemanah akan berdiri di tempat tertentu, lalu menembak para rusa, dan orang-orang akan bersorak saat rusa-rusa itu mati."

Terkadang mereka yang hadir akan marah pada kematian hewan-hewan tertentu.

Dio, sejarawan Romawi, menulis tentang sekelompok orang yang menjadi sangat sedih saat gajah-gajah terbunuh.

Ia mencatat bahwa kelompok orang itu menjadi berempati saat melihat gajah yang terluka "mengangkat belalai tinggi ke langit", sebelum berjalan goyah dan roboh ke tanah.

Hiburan di atas akurasi sejarah

Bisa dibilang rangkaian aksi terbesar dalam Gladiator II adalah penyimpangan terbesar dari sejarah.

Ketika Lucius dan beberapa gladiator lainnya dipaksa untuk ambil bagian dalam simulasi pertempuran laut, Scott tampaknya ingin membuat adegan itu dengan sangat berlebihan.

Faktanya, jika seorang kaisar ingin mengalahkan pendahulunya, ia akan mengadakan simulasi pertempuran laut yang pada saat itu dikenal sebagai naumachia.

Peristiwa ini menampilkan amfiteater yang penuh air, lalu kapal-kapal didatangkan, dan kemudian para pemain memerankan kembali peristiwa-peristiwa bersejarah.

"Mereka biasanya akan merekonstruksi pertempuran laut Yunani melawan Persia," kata David Potter, Profesor Sejarah Yunani dan Romawi di Universitas Michigan.

"Para awak kapal di simulasi pertempuran tersebut adalah para budak yang mendapat hukuman mati," lanjutnya.

Sementara film Gladiator II membuat simulasi pertempuran tersebut tampak nyata dengan kapal-kapal yang bergerak cepat dan laut yang cukup dalam untuk menampung hiu, faktanya amfiteater Romawi hanya bisa diisi dengan sedikit air.

Kapal-kapal dalam simulasi tersebut tidak bisa bergerak cepat hingga saling bertabrakan, karena dasar kapal-kapal tersebut dibuat datar sehingga mudah dikendalikan.

Ditambah lagi, naumachia terakhir diyakini terjadi di Colosseum pada tahun 89 M, lebih dari 100 tahun sebelum peristiwa dalam film tersebut.

Kurangnya air juga berarti bahwa tidak pernah ada hiu yang berenang di Colosseum, menunggu orang-orang jatuh untuk dimangsa.

Ilustrasi naumachia, simulasi pertempuran laut di Colosseum

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi naumachia, simulasi pertempuran laut di Colosseum

Meskipun beberapa sejarawan percaya bahwa buaya merupakan bagian dari perburuan hewan pada era itu, mereka tidak yakin apakah buaya juga termasuk dalam simulasi pertempuran laut.

Di sisi lain, ada cukup banyak catatan tentang simulasi pertempuran laut yang membuat para sejarawan percaya bahwa pertempuran itu memang terjadi di Roma, namun masih ada beberapa hal yang tidak diketahui tentang bagaimana dan di mana pertempuran itu terjadi.

Belonick berpendapat bahwa pertempuran itu kemungkinan besar terjadi di Circus Maximus, yang lokasinya jauh lebih rendah dibanding Colosseum dan lebih dekat ke sungai Tiber.

"Akan lebih mudah memasukkan air ke dalamnya, ditambah lagi jika Anda melihat bentuknya, itu seperti mangkuk."

"Colosseum punya banyak terowongan bawah tanah. Saya tidak tahu bagaimana mereka akan menutupnya."

"Beberapa orang hanya berpikir bahwa mereka membanjiri bagian tengah, bukan seluruh bagiannya."

Mariotti mengatakan karena Colosseum dibangun di lokasi danau buatan, maka mungkin saja membuatnya menjadi "tiruan lautan".

"Mereka membangun sistem drainase yang luar biasa dari sungai untuk mengalirkan air ke atas dan kemudian mengurasnya."

Penggambaran pertarungan gladiator dalam film sekuel ini juga dianggap tidak akurat.

Berlangsung pada sore hari setelah eksekusi, Potter menegaskan bahwa pertarungan itu tidak sebrutal yang diceritakan dalam film Gladiator dan kisah epik Romawi lainnya.

Colloseum

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Sejumlah turis berfoto di Colloseum pada Oktober 2024

Pertama-tama, tidak semua gladiator adalah budak atau tawanan perang.

"40% gladiator mungkin adalah orang-orang yang menjadi gladiator untuk menghasilkan uang," kata Potter.

Alih-alih bertarung hingga mati, Belonick membandingkan pertarungan gladiator tak ubahnya seperti menonton WWE atau UFC.

"Sering kali pertarungan gladiator berhenti saat ada salah satu yang berdarah, atau salah satu menyerah."

"Dulu, dalam sembilan dari 10 pertarungan, tidak ada gladiator yang tewas."

Bahkan ada wasit yang turun tangan untuk memisahkan para gladiator, jika pertarungan sudah terlalu sengit.

Tapi, tetap saja orang-orang akan bertaruh untuk gladiator jagoan mereka, pasalnya menurut Potter, orang Romawi sangat gemar berjudi.

Ilustrasi pertarungan gladiator

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Seorang ahli sejarah menyebut pertarungan gladiator sebenarnya tidaklah sebrutal yang digambarkan di film-film.

Ketika seorang gladiator terluka, maka dokter akan langsung memberikan perawatan.

Galen, dokter paling terkenal di era Romawi kuno, memulai kariernya sebagai dokter gladiator.

Intinya, tujuan utama dari kontes gladiator adalah untuk melihat berbagai gaya pertarungan satu lawan satu.

"Kita bisa melihat bagaimana seorang pria dengan jaring dan triton melawan seseorang dengan perisai dan pedang," kata Potter.

"Seseorang dengan baju besi seadanya melawan seseorang dengan baju besi lengkap yang berat".

Geta, Caracalla

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Geta dibunuh oleh Caracalla di pelukan ibunya Jiulia Domna (212 M)

Seperti pendekatannya terhadap pertandingan di Colosseum, beberapa karakter yang terlibat dalam film Gladiator II berdasar pada tokoh nyata, tetapi apa yang terjadi pada mereka dalam film tersebut adalah fiksi.

Pada tahun 211 M, Caracalla dan Geta menjadi penguasa bersama Roma.

Caracalla kemudian diyakini telah membunuh Geta. Geta bahkan diperkirakan meninggal di pelukan ibu mereka.

Caracalla menjadi kaisar yang sangat tidak populer, dengan Potter menggambarkannya sebagai "orang yang kejam dan jahat".

Caracalla meninggalkan kota itu pada tahun 216 M untuk berperang melawan Kekaisaran Parthia, tetapi dia tewas dibunuh oleh salah satu prajuritnya sendiri pada tahun 217 M.

Patung Kaisar Romawai Constantine I di Milan

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Menjadi kaisar di era Romawi kuno, disebut sejarawan sebagai pekerjaan yang sangat berbahaya.

Macrinus diduga merekrut prajurit yang kemudian membunuh Caracalla. Ia menjadi Kaisar Roma pada 11 April 217, tiga hari setelah kematian Caracalla.

"Ia adalah orang pertama yang menjadi kaisar, tanpa pernah menjadi anggota Senat Romawi," kata Potter.

Macrinus sendiri dieksekusi setahun kemudian, pada Juni 218, setelah bibi Caracalla melancarkan pemberontakan untuk mengangkat cucunya, Elagabalus, sebagai kaisar baru, meskipun ia baru berusia 14 tahun.

"Menjadi kaisar merupakan pekerjaan paling berbahaya yang mungkin bisa Anda lakukan," kata Potter.

Dan, selama 100 tahun berikutnya setiap orang yang duduk menjadi kaisar Romawi, hanya memerintah untuk waktu yang singkat.

Nominasi penghargaan

Kendati tidak akurat secara historis, Gladiator II memperoleh dua nominasi Golden Globe, salah satunya nominasi aktor pria pendukung terbaik untuk penampilan Denzel Washington di film itu.

Washington mengukir sejarah sebagai artis kulit hitam yang paling banyak dinominasikan di Golden Globe Awards dengan 11 nominasi.

Dengan pengerjaan naskah untuk Gladiator III yang sudah dimulai, penonton bisa kembali menikmati film epik yang terinspirasi dari sejarah Romawi kuno.

Kendati kerap mengabaikan keakuratan sejarah, Mariotti tidak menganggapnya sebagai masalah, karena menurutnya, itu memang yang dilakukan seniman sepanjang sejarah.

"Apa yang dilakukan Ridley tidak berbeda dengan Shakespeare atau Michelangelo," kata Mariotti.

Ilustrasi pertarungan gladiator di Colosseum

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Bagi orang-orang di era Romawi Kuno, menonton pertarungan gladiator di Colosseum sama seperti orang modern menonton film di bioskop.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

"Bahkan lukisan Pollice Verso karya Jean-Léon Gérôme, yang mengilhami Ridley untuk membuat film pertama—semuanya tidak akurat secara historis."

"Ini tentang menggunakan sejarah untuk menceritakan sebuah kisah dan memberi kita pelajaran," tegasnya.

"Itulah mengapa kita tertarik untuk menontonnya, karena pada dasarnya, itu adalah cerita tentang kita," ujar Mariotti kemudian.

Lebih dari itu, Mariotti meyakini film seperti Gladiator II bisa menghubungkan penonton dengan sejarah.

Terutama adegan di Colosseum, karena orang Romawi kuno menghadiri acara tersebut untuk alasan yang sama seperti orang modern menonton film ke bioskop.

"Itu adalah bioskop bagi mereka. Di sanalah mereka melarikan diri dari kehidupan."

"Di sana, selama beberapa jam, mereka berubah menjadi pemburu atau gladiator pemberani dan diperlihatkan bagian-bagian dunia yang belum pernah mereka lihat."

"Itulah yang terjadi ketika orang-orang menonton Gladiator II. Mereka melakukan hal yang sama persis dengan tujuan dibangunnya Colosseum."

Versi bahasa Inggris dari artikel ini, Did ships really battle in the Colosseum? The bizarre true stories that inspired Gladiator II bisa Anda simak di laman BBC Culture.