Israel akan buka jalur pengiriman bantuan via Pelabuhan Ashdod dan perbatasan Erez – Seberapa efektif jalur ini mengatasi krisis kelaparan di Gaza?

Sumber gambar, Reuters
- Penulis, Jemma Crew dan Tom Spender
- Peranan, BBC News
Israel mengaku akan membuka jalur perbatasan Erez ke Gaza utara, lokasi dengan tingkat kelaparan paling parah. Selain itu, Israel juga mengeklaim akan membuka Pelabuhan Ashdod. Namun belum ada rincian kapan atau bagaimana rute yang digunakan untuk mengirimkan bantuan ini akan beroperasi.
Rencana ini muncul menyusul pembunuhan tujuh pekerja bantuan oleh militer Israel pada tanggal 1 April silam. Amerika Serikat (AS) mendesak Israel untuk mencegah kerugian sipil dan penderitaan kemanusiaan jika ingin mempertahankan dukungan darinya.
Badan-badan bantuan internasional dan pejabat asing telah lama mendesak Israel untuk membuka lebih banyak jalur penyeberangan. Termasuk dengan mengizinkan penggunaan Pelabuhan Ashdod, dengan mengatakan bahwa hal ini dapat mengurangi kelaparan secara signifikan di Gaza.
Selain itu, Israel juga mengatakan akan mengizinkan lebih banyak bantuan dari Yordania untuk masuk ke Gaza.
"Saya pikir ini adalah titik balik," kata Jan Egeland dari Dewan Pengungsi Norwegia kepada BBC.
“Saya pikir sekarang bantuan akan mengalir dengan bebas, dan akan ada skema perlindungan bagi warga sipil, termasuk para pekerja bantuan, yang akan berhasil."
"[Presiden AS Joe] Biden kini telah mengatakan kepada [Perdana Menteri Israel Benjamin] Netanyahu untuk membuka diri dan sekarang mereka akhirnya mengalah."
Jumlah truk pembawa makanan yang masuk melalui dua penyeberangan yang sudah beroperasi di Gaza selatan telah meningkat tajam usai pengumuman Israel ini.

Sumber gambar, Reuters
Pada tanggal 8 April, 419 truk bantuan telah masuk ke wilayah Gaza, menurut pihak berwenang Israel, termasuk 330 truk yang membawa makanan.
Jumlah ini dua kali lipat lebih dari rata-rata 140 truk makanan dalam sehari pada Maret silam.
Namun penyeberangan Erez ke Gaza utara tetap ditutup. Para pejabat Israel belum memberikan indikasi kapan jalur itu akan dibuka seperti yang dijanjikan.
Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock, mengatakan Israel “tidak punya alasan lagi” untuk menunda bantuan masuk ke Gaza setelah Israel setuju untuk membuka rute baru.
“Kami mengharapkan pemerintah Israel untuk melaksanakan pengumumannya dengan cepat,” katanya.
Seberapa penting Pelabuhan Ashdod dan perbatasan Erez?
Pelabuhan Ashdod berjarak sekitar 32 km ke arah utara dari Gaza. Pelabuhan ini adalah satu dari tiga pelabuhan kargo utama Israel yang dapat menangani lebih dari 1,5 juta kontainer setiap tahunnya.
Hingga saat ini, Israel membatasi penggunaannya untuk pengiriman bantuan.
Pada bulan Februari, ketua UNRWA, badan PBB untuk Palestina, mengatakan Israel memblokir pengiriman bantuan Turki yang berisi pasokan makanan untuk satu juta warga Palestina di sana selama sebulan.

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Jalur perbatasan Erez antara Israel dan Gaza utara adalah yang paling dekat dengan Pelabuhan Ashdod.
Sebelum perang, penyeberangan ini menjadi satu-satunya titik persimpangan antara Israel dan Gaza.
Jalur ini digunakan oleh warga Palestina yang memiliki izin untuk bekerja di Israel.
Mereka yang disetujui untuk melakukan perjalanan adalah pekerja di bidang kemanusiaan, beberapa pelajar, olahragawan dan juga staf dari organisasi bantuan internasional.
Baca juga:
Namun, tempat ini diserang oleh Hamas pada tanggal 7 Oktober tahun lalu dan telah ditutup sejak saat itu.
Sejauh ini belum ada rincian mengenai waktu, jumlah, jenis dan cara pendistribusian bantuan yang akan diizinkan masuk ke Gaza lewat penyeberangan ini.
Ketika kondisi memburuk, pengiriman bantuan disertai dengan kekerasan yang mematikan.
Ada laporan rutin mengenai aksi penembakan terhadap warga Palestina yang berkumpul untuk menerima bantuan kecil saat tiba di Gaza utara.

Sumber gambar, Reuters
Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas di Gaza dan warga Palestina setempat menuduh pasukan Israel menembaki orang-orang yang putus asa itu.
Israel membantah terlibat, dengan mengatakan warga Palestina tewas karena terlindas, tertabrak truk dan ditembak oleh warga Palestina bersenjata.
Ketika pasukan Israel melepaskan tembakan, mereka mengarah ke orang-orang yang mereka anggap sebagai "tersangka".
'Kelaparan sebagai senjata perang'
PBB mengatakan anak-anak di Gaza utara hampir mati karena kelaparan dan bencana kelaparan akan segera terjadi.
Cara tercepat dan paling efektif untuk menyalurkan bantuan ke wilayah tersebut adalah melalui jalur darat.
Namun masuknya truk melalui dua penyeberangan di selatan Gaza sejauh ini belum dapat memenuhi kebutuhan pangan.
Badan-badan kemanusiaan, sekutu Israel dan negara-negara lain menuduh Israel tidak berbuat cukup untuk memastikan bahwa makanan sampai ke mereka yang membutuhkan.

Beberapa pihak bahkan menuduh Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata perang.
Semua bantuan untuk Gaza harus melewati pemeriksaan keamanan ketat Israel. Tujuannya untuk mencegah masuknya apa pun yang dapat digunakan oleh Hamas.
Namun kelompok bantuan mengatakan aturan itu membuat penyaluran menjadi rumit dan sewenang-wenang sehingga menyebabkan penundaan besar.
Israel membantah menghalangi masuknya bantuan ke Gaza dan menuduh organisasi bantuan lah yang gagal mendistribusikannya.
Baca juga:
Cogat, badan Israel yang mengoordinasikan bantuan kemanusiaan ke Gaza, menegaskan bahwa jumlah truk makanan yang memasuki Gaza jumlahnya lebih tinggi dibandingkan sebelum perang.
Terdapat 70 dari 500 truk harian yang memasuki Gaza membawa makanan khusus.
Namun pertempuran dan rusaknya tatanan sosial telah menghambat distribusi bantuan. Ditambah lagi, kemampuan Gaza untuk memproduksi makanan sendiri telah berkurang hingga hampir nol.
Pertanian, toko roti, dan pabrik telah dihancurkan atau tidak dapat berproduksi.

Sumber gambar, EPA-EFE/REX/Shutterstock
Israel juga melarang badan pengungsi Palestina milik PBB, UNRWA, memberikan bantuan ke Gaza utara.
Israel menuduh beberapa staf UNRWA ikut serta dalam serangan Hamas pada tanggal 7 Oktober yang memicu perang saat ini.
Cogat mengatakan Israel akan bekerja sama dengan organisasi-organisasi yang "tidak terlibat dalam teror".
Karena tidak cukupnya pasokan makanan yang menjangkau masyarakat melalui jalur darat, banyak negara mencoba jalur alternatif melalui udara dan laut.
Namun jalur ini juga dilanda beragam masalah.
Jalur udara
Amerika Serikat, Yordania, Mesir, Perancis, Belanda dan Belgia termasuk di antara negara-negara yang telah mengirimkan bantuan via udara ke Gaza.
Namun beberapa organisasi bantuan mengatakan teknik ini adalah pilihan terakhir yang tidak dapat memenuhi kebutuhan atas makanan.
Selain itu, setidaknya 20 warga Palestina dilaporkan tewas saat bantuan disalurkan lewat udara.
Lima orang tewas ketika parasut paket bantuan gagal dibuka dan menimpa orang-orang yang menunggu di bawah.
Korban lainnya tewas tenggelam saat mengambil paket bantuan yang jatuh ke laut.

Sumber gambar, Reuters
Pada akhir Februari, empat ton obat-obatan, bahan bakar dan makanan untuk pasien dan staf di rumah sakit Tal al-Hawa di kota Gaza dijatuhkan dari udara.
Bantuan tersebut didanai oleh Inggris dan dijatuhkan melalui udara oleh Angkatan Udara Yordania.
Bantuan pertama yang diberikan oleh AS pada tanggal 3 Maret, yang dilakukan bersama dengan Yordania, berisi cukup makanan untuk lebih dari 38.000 porsi makanan.
Pada tanggal 8 April, Komando Pusat AS, atau Centcom, mengatakan AS telah menjatuhkan total 742 ton bantuan kemanusiaan.

Sumber gambar, Getty Images
Jalur laut
Dari dua skema pengiriman makanan dan bantuan lainnya ke Gaza melalui laut, hanya satu yang mulai beroperasi namun kini dihentikan.
Militer Israel menyerang WCK, badan bantuan yang membongkar dan mendistribusikan bantuan dari dermaga yang dibangun dari puing-puing.
Bulan lalu, kapal pertama yang mencapai Gaza di bawah skema ini datang dari Siprus, negara Uni Eropa yang terdekat dengan Gaza.
Kapal ini menarik sebuah tongkang yang membawa sekitar 200 ton makanan yang disediakan oleh WCK.
Pada akhir Maret, bos WCK José Andrés mengatakan bahwa 67 dapur WCK beroperasi di Gaza, memberi makan 350.000 orang setiap hari.

Sumber gambar, EPA
Sementara itu, rencana militer AS yang terpisah sedang dipersiapkan.
Sebuah kapal angkatan laut AS sedang dalam perjalanan membawa material untuk membangun dermaga sementara dan terapung yang memungkinkan pasokan pada kapal kargo yang jauh lebih besar bisa sampai ke darat.
Menurut Departemen Pertahanan AS, pembangunan dermaga ini memungkinkan dua juta makanan bisa masuk ke Gaza dalam sehari.
Jumlah ini lebih banyak dibandingkan upaya yang bisa dilakukan saat ini melalui perbatasan Rafah dengan Mesir atau melalui pengiriman udara.
Namun dermaga itu diperkirakan belum siap selama berbulan-bulan ke depan.
Masuknya truk melalui darat
Konvoi pertama ke Gaza adalah 20 truk yang membawa bantuan dari PBB dan lembaga Bulan Sabit Merah Mesir.
Bantuan ini masuk pada tanggal 21 Oktober melalui penyeberangan Rafah di perbatasan dengan Mesir – dua minggu setelah Hamas menyerang Israel selatan, yang memicu perang saat ini.
Pada bulan November, Program Pangan Dunia (WFP) mengatakan hanya 10% dari pasokan makanan yang dibutuhkan telah masuk ke Gaza sejak dimulainya perang.
Sekitar 750 ton bantuan pangan tiba pada 20 Desember tahun lalu. Bantuan ini melewati jalur darat dari Yordania melintasi Israel dan melalui penyeberangan Kerem Shalom ke Gaza selatan untuk pertama kalinya.
Konvoi WFP terdiri dari 46 truk. Pengiriman kedua sebanyak 315 ton dilakukan pada Januari 2024.

Sumber gambar, Reuters
Selama bulan Januari, WFP mengatakan mereka hanya berhasil mengirim total empat konvoi ke Gaza – sekitar 35 truk berisi makanan, cukup untuk hampir 130.000 orang.
Bulan lalu, PBB mengatakan jalur darat baru telah digunakan untuk mengirimkan makanan ke Gaza utara.
Militer Israel mengatakan enam truk WFP menyeberang melalui gerbang di pagar perbatasan Gaza.
Pengiriman tersebut merupakan “bagian dari upaya untuk mencegah Hamas mengambil alih bantuan tersebut”, tambahnya.
Ini adalah pengiriman pertama PBB ke wilayah Gaza dalam tiga minggu, setelah WFP menghentikan pengiriman “sampai kondisi yang memungkinkan dilakukannya distribusi yang aman”.
Dalam insiden paling berdarah, lebih dari 100 orang dilaporkan tewas pada tanggal 29 Februari ketika konvoi tiba di Jalan al-Rashid di Kota Gaza.
Palestina menuduh Israel menembak mati orang-orang di konvoi tersebut.
Israel awalnya mengatakan sebagian besar tewas karena terinjak atau tertabrak konvoi.
Belakangan dikatakan bahwa tentara telah menembaki orang-orang yang dianggap “tersangka” sebagai ancaman.












