Apakah hujan buatan jadi penyebab banjir di Dubai?

Banjir Dubai

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Orang-orang berjalan melintasi genangan banjir yang terjadi akibat hujan lebat, di Dubai, Uni Emirat Arab, 17 April 2024.
    • Penulis, Mark Poynting & Marco Silva, BBC News
    • Peranan, BBC News

Banjir melanda Dubai selama 24 jam terakhir. Peristiwa ini memicu spekulasi yang menyesatkan tentang penyemaian awan – atau lebih dikenal dengan hujan buatan.

Seberapa tidak normalnya curah hujan di kota itu dan kenapa intensitasnya bisa sebegitu ekstrem?

Seberapa ekstrem curah hujan tersebut?

Dubai terletak di pantai Uni Emirat Arab (UEA) dan kota ini biasanya sangat kering. Di sisi lain, walaupun rata-rata curah hujan per tahunnya ada di bawah 100 mm, sesekali Dubai mengalami hujan lebat yang ekstrem.

Curah hujan di Al-Ain – kota yang berjarak lebih dari 100 kilometer dari Dubai – tercatat di 256 mm hanya dalam 24 jam.

Penyebab utamanya adalah sistem cuaca tekanan rendah "cut off" yang menarik udara hangat dan lembab serta menghalangi sistem cuaca lain untuk masuk.

"Wilayah ini dicirikan oleh periode panjang tanpa hujan dan curah hujan lebat yang tidak teratur.

"Meski begitu, tetap saja peristiwa curah hujan ini sangatlah langka," jelas Prof Maarten Ambaum, ahli meteorologi di University of Reading yang mempelajari pola curah hujan di wilayah Teluk.

Banjir Dubai

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Jalanan di Dubai tergenang Banjir saat Uni Emirat Arab mengalami curah hujan terbesar dalam 75 tahun, pada 17 April 2024.

Ahli meteorologi di Uni Emirat Arab (UEA) mengatakan ini adalah “peristiwa luar biasa” dalam sejarah iklim negara tersebut.

Sistem badai yang dimulai pada hari Minggu di wilayah Teluk Persia menghasilkan rekor curah hujan sepanjang hari Senin (15/04) hingga Selasa (16/04).

Dalam 24 jam lebih dari 254,8 mm air jatuh di kawasan Khatam al Shikla, sekitar 150 km selatan Dubai.

Jumlah tersebut setara dengan jumlah curah hujan yang biasanya turun di UEA sepanjang tahun. Pusat Meteorologi Nasional negara Arab tersebut menyebutkan, curah hujan tersebut merupakan yang tertinggi dalam 75 tahun terakhir.

Bagaimana peran perubahan iklim dalam peristiwa ini?

Masih belum bisa dipastikan secara pasti seberapa besar peran perubahan iklim di sini. Dibutuhkan analisis ilmiah yang lengkap terhadap faktor alam dan manusia – dan ini bisa memakan waktu beberapa bulan.

Namun, curah hujan yang memecahkan rekor ini konsisten dengan perubahan iklim yang sedang terjadi.

Sederhananya begini: udara yang lebih hangat dapat menampung lebih banyak uap air – sekitar 7% ekstra untuk setiap derajat Celcius. Akibatnya, intensitas hujan pun bisa naik.

Banjir Dubai.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Dubai diterjang banjir bandang pada Minggu (14/04) waktu setempat.

"Intensitas hujan yang memecahkan rekor ini konsisten dengan pemanasan iklim. Lebih banyak kelembaban yang memicu badai dan memperkuat hujan lebat serta banjir yang menyertainya," tutur Richard Allan, profesor ilmu iklim di University of Reading.

Studi terbaru menunjukkan bahwa curah hujan tahunan dapat meningkat hingga sekitar 30% di sebagian besar UEA pada akhir abad ini seiring dengan dunia yang terus memanas.

"Kalau manusia terus membakar minyak, gas, dan batu bara, iklim akan terus memanas, curah hujan akan semakin deras, dan orang akan terus kehilangan nyawa akibat banjir," ucap Dr Friederike Otto, dosen senior ilmu iklim di Imperial College London.

Banjir Dubai

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Sejumlah mobil terjebak di tengah banjir yang melanda Dubai, pada 17 April 2024.

Apa itu penyemaian awan dan apakah itu berperan dalam banjir Dubai?

Penyemaian awan – di Indonesia, lebih dikenal sebagai hujan buatan – merupakan teknik untuk memanipulasi awan yang ada supaya menghasilkan lebih banyak hujan.

Caranya dengan menggunakan pesawat untuk menjatuhkan partikel kecil (seperti perak iodida) ke dalam awan. Uap air kemudian dapat lebih mudah mengembun dan berubah menjadi hujan.

Teknik ini sudah ada selama beberapa dekade, dan UEA telah menggunakannya dalam beberapa tahun terakhir untuk mengatasi kekurangan air.

Beberapa jam setelah banjir menerjang, beberapa pengguna media sosial dengan keliru menyebut cuaca ekstrem tersebut disebabkan oleh penyemaian awan di UEA baru-baru.

Banjir Dubai

Sumber gambar, STRINGER/EPA-EFE/REX/Shutterstock

Keterangan gambar, Jalanan di Dubai tergenang Banjir saat Uni Emirat Arab mengalami curah hujan terbesar dalam 75 tahun, pada 17 April 2024.

Laporan Bloomberg sebelumnya melaporkan menunjukkan pesawat penyemaian awan dikerahkan pada Minggu (14/04) dan Senin (15/04), tetapi tidak pada hari Selasa (16/04) saat banjir terjadi.

Meskipun BBC belum dapat memverifikasi secara independen kapan penyemaian awan dilakukan, para ahli mengatakan bahwa paling banter hujan buatan hanya akan berdampak kecil terhadap badai.

Ahli-ahli menyebut memusatkan perhatian terhadap penyemaian awan dalam konteks ini adalah "menyesatkan".

"Bahkan kalaupun penyemaian awan mendorong awan di sekitar Dubai untuk menjatuhkan air, kemungkinan besar atmosfer sejak awal sudah membawa lebih banyak air untuk membentuk awan – akibat perubahan iklim," ucap Dr Otto.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Penyemaian awan biasanya dilakukan saat kondisi angin, kelembaban, dan debu tidak mencukupi untuk menghasilkan hujan. Sejak pekan lalu, prakiraan cuaca sudah memperingatkan risiko banjir yang tinggi di seluruh Teluk.

"Ketika sistem cuaca yang begitu kuat dan berskala besar diperkirakan terjadi, penyemaian awan – yang merupakan proses yang mahal - tidak dilakukan karena tidak perlu menyemai sistem yang kuat berskala regional seperti itu," ujar Prof Diana Francis, kepala Ilmu Lingkungan dan Geofisika di Universitas Khalifa di Abu Dhabi.

Ahli meteorologi BBC Weather, Matt Taylor, juga mencatat bahwa peristiwa cuaca buruk tersebut sudah diperkirakan sebelumnya.

"Sebelum kejadian tersebut, model komputer (yang tidak memperhitungkan efek potensial penyemaian awan) sudah memprediksi kisaran hujan pada periode satu tahun ke depan dalam waktu sekitar 24 jam," katanya.

"Dampaknya jauh lebih luas dari yang saya perkirakan dari penyemaian awan semata – banjir parah yang melanda area luas dari Bahrain hingga Oman."

Misi penyemaian awan di wilayah Emirat dijalankan oleh satuan tugas pemerintah: National Center of Meteorology (NCM).

Bagaimana kesiapan UEA menghadapi curah hujan ekstrem?

Mencegah hujan lebat berubah menjadi banjir mematikan membutuhkan pertahanan yang kuat untuk mengatasi hujan deras yang tiba-tiba.

Dubai – seperti yang kita tahu – sangatlah urban. Terdapat sedikit ruang hijau di kota metropolis itu untuk menyerap kelembaban. Fasilitas drainase Dubai pun tidak mampu menahan curah hujan yang begitu tinggi.

"Perlu ada strategi dan upaya adaptasi untuk menghadapi realitas baru ini [hujan yang lebih sering dan lebat],"tutur Prof Francis.

"Infrastruktur jalan dan fasilitas, misalnya, perlu diadaptasi. Perlu juga membangun reservoir untuk menyimpan air dari hujan musim semi dan persediaannya digunakan nanti pada tahun ini."

Pada bulan Januari, Otoritas Jalan dan Transportasi UEA membentuk unit baru untuk membantu pengelolaan banjir di Dubai.