Kelompok ekstremis sayap kanan merobek Al-Qur'an di depan KBRI Belanda, apa itu Pegida?

Edwin Wagensveld, Pegida

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Edwin Wagensveld merobek Alquran di depan Kedutaan Besar Turki di Den Haag, Belanda.

Dalam setahun terakhir, beragam aksi demonstrasi anti-Islam dilakukan oleh kelompok-kelompok ekstremis sayap kanan di Eropa, dari melakukan penghinaan, perobekan, hingga pembakaran Al-Qur'an.

Terbaru, pada Sabtu (23/09), seseorang bernama Edwin Wagensveld melakukan perobekan Al-Qur'an di depan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Den Haag, Belanda. Tindakan serupa juga dilakukan di depan Kedubes Turki dan Pakistan.

Dalam aksinya, pemimpin Patriotic Europeans Against the Islamization of West (Pegida) tersebut dilaporkan merobek sejumlah halaman Al-Qur'an, membuangnya ke tanah, lalu menginjak-injaknya. Dalam aksinya itu, dia disebut mendapat pengamanan dari kepolisian Belanda.

KBRI di Belanda telah menyampaikan nota protes kepada pemerintah Belanda.

“Dubes kita di Den Haag juga sudah menggalang dubes-dubes OKI di Den Haag untuk melakukan demarche [menyampaikan keprihatinan bersama] kepada Kemlu Belanda,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Lalu Muhammad Iqbal, Selasa (26/09).

Aksi anti-Islam ini bukan yang pertama dilakukan oleh Wagensveld. Dalam tahun ini saja, setidaknya dia sudah berulang kali beraksi.

Bukan hanya di Belanda, aksi anti-Islam juga terjadi di negara lain seperti Swedia dan Denmark.

Apa itu Pegida? Mengapa mereka merobek Al-Qur'an di depan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Belanda? Dan, apakah gerakan anti-Islam meningkat di Eropa?

Apa itu Pegida?

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Islam Internasional Indonesia, Syafiq Hakim, menilai Pegida merupakan salah satu kelompok sayap kanan terbesar anti-Islam atau Islamofobia di Eropa.

“Tidak hanya di Belanda, tapi di Jerman kelompok ini bisa mengerahkan puluhan ribu orang untuk demo dan memprotes Islamisasi di Eropa. Ini bukan kelompok kecil,” kata Syafiq, Selasa (26/09).

Keterangan video, Al-Qur'an dirobek dan diinjak, kenapa gerakan anti-Islam meningkat di Eropa?

“Pegida ini gerakan sistematis, terus menerus dan diisi oleh orang-orang anti-imigran dan akhirnya menjadi anti-Islam,” ujar Syafiq.

Kelompok ini mulai aktif melakukan demonstrasi anti-Islamisasi di kota Dresden, Jerman bagian timur sejak tahun 2014.

Sebanyak 25.000 orang pernah menghadiri pawai demonstrasi Pegida di Dresden pada 12 Januari 2015.

Kelompok ini disebut bermula dari grup Facebook yang diinisiasi oleh Lutz Bachmann, 41 tahun, seorang koki yang beralih menjadi desainer grafis.

Jumlah pengikut pun membengkak melalui media sosial dan bahkan menarik pengikut sayap kanan lain seperti kelompok neo-Nazi yang memuji Pegida.

Rangkaian aksi anti-Islam di Eropa

Wagensveld melakukan aksi anti-Islam sejak awal tahun 2023. Pada 22 Januari dia melakukan unjuk rasa tunggal di Den Haag, Belanda.

Lalu dia melakukan aksi kembali di Utrecht, Belanda, pada Februari dan Agustus hingga terakhir Sabtu lalu.

Selain aksi-aksi yang dilakukan oleh Pegida di Belanda, serangan terhadap Al-Qur'an juga terjadi di Swedia dan Denmark.

Edwin Wagensveld merobek Al-Qur'an di depan Kedutaan Turki di Den Haag, Belanda.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Edwin Wagensveld merobek Al-Qur'an di depan Kedutaan Besar Turki di Den Haag, Belanda.

Di Swedia, politisi sayap kanan pemimpin Partai Stram Kurs, Rasmus Paludan, melakukan berkali-kali pembakaran Al-Qur'an di sepanjang tahun 2022 hingga awal 2023.

Masih di Swedia, seorang imigran Irak Salwan Momika membakar Al-Qur'an pada Juni dan September 2023, hal yang sama juga dilakukan imigran Iran Bahrami Marjan.

Di Denmark, aksi pembakaran Al-Qur'an dilakukan selama tiga hari berturut-turut oleh kelompok anti-Islam, Danske Patrioter di depan Kedutaan Besar Turki di Kopenhagen.

Mengapa gerakan anti-Islam meningkat di Eropa?

Pengamat HI, Syafiq Hakim, mengatakan bahwa kelompok ekstremis itu memandang bahwa Eropa berada dalam "ancaman aneksasi nilai dan kultur Islam sehingga melakukan perlawanan".

Syafiq menilai pandangan itu diawali oleh kehadiran para imigran Muslim, baik yang datang secara tradisional melalui pekerjaan, kemudian akibat perang Syriah, hingga generasi ketiga imigran yang tiba di Eropa usai Perang Dunia Kedua.

“Kelompok Islam ini kemudian sukses di Eropa, mengembangkan bisnis, menjabat pekerjaan yang baik seperti dokter, apoteker, dan lainnya."

“Keberadaan Muslim ini membuat Eropa akhirnya mau tidak mau semakin dekat dengan praktik keagamaan yang dilakukan oleh orang Islam, seperti makanan halal, hingga lembaga pendidikan,“ ujar Syafiq.

Ratusan umat Islam berkumpul untuk memprotes penyobekan Alq secara provokatif oleh Edwin Wagensveld.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ratusan umat Islam berkumpul untuk memprotes penyobekan Al-Qur'an secara provokatif oleh Edwin Wagensveld.

"Jumlah Muslim pun semakin banyak dan kehadiran mereka dianggap sebagai ancaman tersendiri,“ ujar Syafiq.

Dosen HI dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, memandang, faktor-faktor yang meningkatkan tindakan ekstremis anti-Islam di Eropa juga dipengaruhi oleh kondisi perekonomian warganya yang sulit akibat harga bahan makanan dan energi melambung tinggi.

Kemudian, tambahnya, hal itu juga dipengaruhi oleh kepuasan masyarakat ke pemerintah yang terus menurun, dan terkurasnya tenaga negara-negara Eropa dalam menyelesaikan perang Rusia-Ukraina.

“Perang itu menyebabkan anggaran negara-negara Eropa untuk pemberdayaan dalam negeri berkurang. Nah, kelompok-kelompok ini mencari perhatian dengan melakukan aksi-aksi itu,“ kata Rezasyah.

Apakah aksi Pegida berpotensi memunculkan aksi balasan?

Sekelompok perempuan Muslim di Indonesia melakukan demonstrasi menentang pembakaran Al-Qur'an oleh politisi sayap kanan Rasmus Paludan di Swedia.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Sekelompok perempuan Muslim di Indonesia melakukan demonstrasi menentang pembakaran Al-Qur'an oleh politisi sayap kanan Rasmus Paludan di Swedia.

Pengamat kajian terorisme dari Universitas Indonesia, Muhammad Syauqillah, melihat aksi-aksi ekstremisme anti-Islam yang terjadi di Eropa berpotensi memunculkan terjadinya aksi retaliasi atau pembalasan.

“Di satu sisi, orang melihat itu sebagai bentuk ekspresi. Tapi di negara lain dengan agaman lain kan berbeda. Perbedaan itu mungkin membuat terjadinya pembalasan,“ kata Syauqillah.

Syauqillah mengatakan, walau aksi ekstremisme itu terjadi di Eropa, tindakan retaliasi bisa muncul dimana pun, tidak mengenal batas negara.

“Dan kelompok-kelompok [retaliasi] ini pasti mencari argumen melakukan tindak kekerasan. Memang aksi ekstremisnya terjadi Eropa, tapi tidak menutup kemungkinan dibalas di wilayah lain yang menyasar agama tertentu,” kata Syauqillah.

Untuk itu dia meminta agar setiap negara termasuk Indonesia melakukan peningkatan keamanan untuk meminimalkan potensi pembalasan.

Baca juga:

Kelompok Pegida melakukan aksi demonstrasi.
Keterangan gambar, Kelompok Pegida melakukan aksi demonstrasi.

Secara umum, Syauqillah mengatakan, ekstremisme adalah sikap berlebihan yang memandang kelompoknya atau pandangannya sebagai sesuatu yang paling benar.

Ekstremisme dalam konteks pemahaman memunculkan sikap intoleransi, dan sikap tersebut pada titik tertentu berpotensi menimbulkan kekerasan.

Sikap ekstremisme muncul karena disebabkan oleh beragam faktor, mulai dari ideologi, politik, ekonomi dan lainnya.

“Saat faktor-faktor itu berkumpul jadi satu akan memunculkan sentimen-sentimen jika residensi masyarakat tidak kuat. Akhirnya muncul kelompok kecewa yang mewujudkannya dalam bentuk ekstremisme,” tambah Syauqillah.

Secara global, Syauqillah memandang sikap ekstremisme telah mengalami penguatan dalam beberapa tahun terakhir dari Eropa hingga Amerika Serikat dengan supremasi putihnya.

Mengapa mereka melakukan itu di depan KBRI Belanda?

Edwin Wagensveld merobek Alquran di sejumlah kedutaan besar di Den Haag, Belanda.
Keterangan gambar, Edwin Wagensveld merobek Al-Qur'an di sejumlah kedutaan besar di Den Haag, Belanda.

Pengamat Syafiq Hakim memandang dua kemungkinan mengapa kelompok anti-Islam itu melakukan aksinya di depan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Belanda.

Pertama adalah karena Indonesia dianggap sebagai negara Muslim terbesar yang memiliki kekuatan untuk mengirimkan pesan kepada masyarakat Muslim dan negara-negara Islam dunia.

“Saya melihat ini sebagai sebuah pesan ke Indonesia agar disampaikan ke negara-negara Muslim yang lain ‘kami tidak mau melihat Islam terlalu hadir di ruang publik Eropa,” kata Syafiq.

Analisis kedua, katanya, adalah karena salah satu imigran terbesar di Belanda berasal dari Indonesia. Imigran terbesar selanjutnya berasal dari Maroko.

“Sehingga ini pesan langsung ditujukan ke orang Indonesia di Belanda, walau kemungkinan ini hampir kecil karena muslim Indonesia dikenal sebagai moderat, inklusif, dan terbuka.”

Apa reaksi pemerintah Indonesia?

Pengamat HI Unpad, Teuku Rezasyah, mengatakan KBRI di Belanda harus segera mengambil tindakan untuk merespons aksi ekstremis tersebut.

Dari sisi internal, tindakan itu bertujuan untuk meyakinkan dan menenangkan publik dalam negeri bahwa pemerintah bertindak responsif.

“Dengan pesan [ke masyarakat Indonesia] bahwa demonstrasi di Belanda adalah hal yang lazim, dan mereka tidak menimbulkan kerusakan untuk menenangkan masyarakat Indonesia,” kata Rezasyah.

Juru bicara Kemlu RI, Lalu Muhamad Iqbal, mengatakan, aksi perobekan Al-Qur'an di depan KBRI Belanda dilakukan oleh pelaku-pelaku yang sama dengan aksi-aksi sebelumnya.

Edwin Wagensveld merobek Al-Qur'an di depan Kedutaan Indonesia di Den Haag, Belanda.

Sumber gambar, Facebook Pegida

Keterangan gambar, Edwin Wagensveld merobek Al-Qur'an di depan Kedutaan Indonesia di Den Haag, Belanda.

“Tampaknya publik Belanda juga sudah lebih memahami, terbukti aksi tersebut tidak mendapatkan perhatian publik maupun media,” kata Iqbal.

Lebih lanjut, Iqbal menjelaskan bahwa di hari kejadian perobekan Al-Qur'an itu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi juga langsung melakukan komunikasi dengan Menteri Luar Negeri Belanda untuk menyampaikan keprihatinan mendalam atas berulangnya kejadian serupa.

“KBRI sudah sampaikan nota protes kepada Pemerintah Belanda. Dubes kita di Den Haag juga sudah menggalang dubes-dubes OKI di Den Haag untuk melakukan demarche [menyampaikan keprihatinan bersama] kepada Kemlu Belanda,” kata Iqbal.

“Masyarakat [Indonesia] tidak perlu terlalu reaktif. Sikap kita sudah terwakili oleh respon cepat Menlu RI dan Dubes kita di Den Haag,” ujarnya